Mas Akbal, Terimakasih banyak atas apresiasinya. Cerpen ini mencoba menghubungkan dua dunia, dunia faktual (yang ditunjukkan oleh berita Kompas) dan dunia impian, maya, atau subyektif atau apapun yang dialami Yunus...
Apapun fakta yang ada, Yunus akhirnya mencapai semua kebahagiaan yang ia inginkan... Ketika kita dalam kebahagiaan, semua yang lain tidak penting... Salam, Satrio --- anb99 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > mas satrio, > saya menikmati cerpen mas, > paling tidak sebelum sadar bahwa di bawahnya > disertakan berita yang > menjadi 'inspirasi' penulisan cerpen ini. dan terus > terang, > kenikmatan membaca menjadi gugur. > > saya tidak tahu apakah waktu dikirim ke kompas, > mas satrio juga menyertakan attachment seperti > posting seperti ini. > sebab kesan saya, seluruh bangunan imajinasi yang > dicoba > (dikesankan) tentang seorang muhammad yunus yang > mengalami amnesia > setelah mengalami tabrakan, menjadi buyar kembali > dengan adanya > berita itu. > > dengan menyertakan berita yang menjadi sumber > inspirasi cerpen, > keleluasaan pembaca untuk mengembangkan imajinasinya > jadi > terkungkung dan diarahkan pada satu pengertian > tunggal yang > diharapkan oleh pengarang. aspek denotatif seperti > ini, hemat saya, > bukan karakter sebuah cerpen yang baik. seharusnya > pembaca dibiarkan > menafsirkan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan > yang dimilikinya, > tentang sebuah dunia rekaan yang dikonstruksikan > pengarang, meskipun > sang pengarang menuliskannya berdasarkan sebuah > kisah faktual. > > itu saja 2 kepeng dari saya. > > salam, > > akmal n. basral > > --- In [email protected], Satrio Arismunandar > > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Cerpen ini pernah saya kirim ke Kompas. Tapi > > dikembalikan... Tapi mudah-mudahan ada gunanya > dibaca > > buat Anda sekalian. Ada latar belakang kehidupan > > aktivis, media massa/jurnalisme-nya, serta > keterpautan > > dua dunia, dst.... > > > > Satrio > > ============================================ > > > > > > IMPIAN KEABADIAN > > Oleh Satrio Arismunandar > > > > Pertama kali kubuka mata, yang tampak adalah > sebuah > > kamar tidur yang > > mewah. Aku terbaring di atas ranjang berukuran > besar. > > Seprainya tebal, > > terbuat dari bahan kualitas terbaik, berwarna biru > > muda. Selimutnya > > lembut, berbulu halus, dan harum. Di samping > ranjang, > > ada bufet kecil dengan > > vas bunga di atasnya. Mawar merah segar yang ada > di > > vas itu memberi > > suasana menyegarkan. > > Dinding ruangan ini terkesan kokoh dan anggun, > > dilapisi kertas tembok > > mengkilap. Selain sebuah cermin besar, ada > sejumlah > > lukisan tergantung > > di dinding. Salah satu lukisan menggambarkan > seorang > > laki-laki dan > > perempuan, duduk bersanding mesra. Mereka > tersenyum, > > seperti pasangan > > suami-istri yang berbahagia. Yang laki-laki > terlihat > > gagah dan tampan, di > > usianya yang kutaksir sekitar awal 40-an. > Sedangkan > > yang perempuan > > berambut panjang terurai, sangat jelita, berumur > > kira-kira sepuluh tahun lebih > > muda dari pasangannya. Selain itu, ada tiga foto > > terpisah, yang > > menunjukkan tiga gadis kecil dengan usia yang > > berbeda-beda. Mungkin ini tiga > > putri dari pasangan tersebut. > > Tubuhku terasa nyaman dan enteng, seperti baru > bangun > > dari tidur lelap > > yang panjang. Baru kuperhatikan kemudian, ternyata > aku > > memakai piyama > > dari bahan katun halus. Aku pun bangkit dari > > pembaringan, dan duduk > > bersila di ranjang. Ada perasaan aneh yang tak > > kupahami. Aku tak tahu > > sedang berada di mana, dan bagaimana bisa sampai > di > > ruangan ini. Yang lebih > > membingungkan lagi, aku bahkan tak ingat siapa > diriku > > ini. Apakah aku > > sedang bermimpi? > > Pintu kamar terbuka. Seorang perempuan masuk, > membawa > > segelas teh > > hangat dengan tatakan. Wajahnya persis perempuan > di > > lukisan tersebut. > > Bibirnya menyunggingkan senyum, ketika melihatku > sudah > > bangun. "Ah, selamat > > pagi, Mas Yunus! Sudah bangun rupanya. Ini > kubawakan > > teh aroma melati > > kesenanganmu," ujarnya, seraya meletakkan segelas > teh > > itu di meja kecil > > di samping tempat tidur. > > "Mas Yunus? Kamu bicara denganku?" Aku masih > tertegun > > menatapnya. > > "Ya, tentu saja. Dengan siapa lagi?" sahutnya, > sambil > > duduk di sisi > > tempat tidur. Tanpa canggung, ia memegang > tanganku, > > lalu meraba dan > > mengusap dahiku. Seolah memeriksa, apakah aku > > menderita demam. > > "Yunus? Namaku Yunus?" > > "Tentu saja. Lengkapnya, Muhammad Yunus." > > "AkuÂ…aku tak ingat siapa diriku," ucapku, > > terbata-bata. Nama itu terasa > > asing di telingaku. Seperti nama dari sebuah dunia > > lain yang jauh. > > Perempuan itu tersenyum, menenangkan. "Mas Yunus > tak > > usah bingung. > > Dokter sudah memberitahu, sejak kecelakaan itu, > Mas > > Yunus mengalami shock, > > sehingga menderita amnesia atau lupa ingatan untuk > > sementara. Namun, > > kata dokter, berangsur-angsur ingatan itu akan > pulih > > seperti sediakala. > > Jadi, Mas tenang saja. Yang penting, Mas harus > menjaga > > kesehatan dan > > banyak beristirahat." > > "Kecelakaan? Kecelakaan apa?" > > "Sedan yang Mas tumpangi ditabrak bus, di kawasan > > perbukitan, dan masuk > > ke jurang. Pak Nabil Basalamah, sopir kantor yang > > menyetir mobil Mas, > > meninggal. Mas Yunus sendiri beruntung, hanya > > menderita luka ringan. > > Tapi Mas mengalami shock, yang berdampak pada > > kehilangan ingatan untuk > > sementara." > > "Begitukah? Mengapa aku tidak dirawat di rumah > sakit?" > > "Mas sempat dirawat di sana. Waktu itu mungkin Mas > > belum sadar betul. > > Kata dokter, untuk memulihkan ingatan dan > mempercepat > > penyembuhan, > > suasana rumah di tengah keluarga justru lebih > baik. > > Itulah sebabnya Mas > > dipindahkan ke sini." > > Sebagian hal mulai jelas bagiku, tetapi banyak > > pertanyaan lain belum > > terjawab. "Maaf, tapi aku tak mengenalmu. Siapakah > > kamu?" tanyaku. > > "Aku Dian, Mas. Dian Kencana Dewi, istrimu. Kita > sudah > > menikah selama > > tujuh tahun, dan punya tiga orang putri," sahut > > perempuan berkulit > > kuning langsat itu. Aura wajahnya seperti > bersinar. Ia > > memiliki sejenis > > kecantikan alami yang membuatku terpana. > > "Betulkah?" Kutatap mata Dian yang bening hitam > itu. > === message truncated === __________________________________ Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005 http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now. http://us.click.yahoo.com/T8WM1C/KbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

