Judul koran itu mengalihkan masalah dari masalah sebenarnya yang dihadapi 
oleh masyarakat Papua di Papua  yang mengakibatkan  orang Papua lari meminta 
perlindungan ke negeri tetangga. Masalah berikut ialah adanya konvensi 
Jenewa 1950 yang telah diratifikasi oleh Austrlia, konvensi ini  mengenai 
pemberian perlindungan kepada orang-orang yang meminta suaka dengan alasan 
politik.

----- Original Message ----- 
From: "Jimmy Okberto" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Monday, March 27, 2006 3:08 AM
Subject: RE: [ppiindia] Presiden RI Dilecehkan


> Baru kali ini Indonesia memiliki Presiden yang dilecehkan oleh pihak
> luar.
> Tetapi saya masih ada kebanggaan saat Gus Dur menjadi Presiden.
> Karena Gus Dur masih mempunyai wibawa tinggi.
>
> -----Original Message-----
> On Behalf Of Ambon
> http://www.indomedia.com/bpost/032006/27/depan/utama1.htm
>
>
> Presiden RI Dilecehkan
>
>
>
> Jakarta, BPost
> Sikap permusuhan benar-benar diperlihatkan Australia terhadap Indonesia.
> Sebuah media setempat terang-terang menghina Presiden Susilo Bambang
> Yudhoyono melalui sebuah karikatur. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pun
> mendesak pemerintah mengusir Dubes Australia dari Indonesia.
>
> Presiden Yudhoyono, Minggu (26/3) memanggil Dubes Indonesia untuk
> Australia, Muhammad Hamzah Tayyeb ke Cikeas, kediaman pribadi presiden.
> Hamzah sendiri sudah sejak Kamis (24/6) dipanggil pulang dari markasnya
> di Canberra. Pemanggilan pulang itu sebagai protes keras pemerintah
> Indonesia atas keputusan Australia memberikan visa sementara terhadap 42
> warga Papua.
>
> Namun, jurubicara Deplu, Desra Percaya dihubungi BPost, petang kemarin,
> mengatakan penarikan Dubes M Hamzah Tayyeb yang baru sekitar empat bulan
> bertugas hanya untuk meminta klarifikasi kejadian yang sebenarnya.
> Hamzah, sebut Desra, tidak akan diganti.
>
> "Saya jamin aman. Tidak ada penggantian dubes," jelasnya.
>
> Menanggapi reaksi di Australia atas sikap Jakarta yang dianggap
> berlebihan, jurubicara presiden bidang luar negeri, Dino Patty Djalal
> mengatakan reaksi seperti itu merupakan hal biasa dalam hubungan
> diplomatik. Bahkan, jubir deplu ini menanggapi dingin kartun Nicholson
> yang jelas-jelas menghina Presiden Yudhoyono.
>
> "Soal kartun Nicholson yang dianggap menghina Presiden Yudhoyono, itu
> sah-sah saja di negara demokrasi seperti Australia," cetus Dino.
>
> The Australian, sebuah harian berpengaruh di Canberra pada edisi Sabtu
> (25/3) dan kantor berita ABC melansir sebuah kartun berjudul "SBY
> menginginkan pencari suaka Papua dikembalikan ke Indonesia."
>
> Kartun yang dibuat kartunis freelance senior Australia, Nicholson, itu
> memuat gambar Yudhoyono meminta pengembalian 42 warganya, dengan
> memegang senapan yang disembunyikan di belakang tangannya. Sementara di
> depan Yudhoyono berdiri PM John Howard membaca kertas dengan tulisan
> "Papuan Assylum Seekers" (pencari suaka Papua).
>
> Secara pribadi, Dino menilai Indonesia tidak akan over react atas
> masalah kartun tersebut. Kata dia, dalam masalah ini hati bisa panas,
> namun kepala tetap dingin, mulut tetap terkendali, dan reksi harus
> terukur.
>
> "Kan itu bukan kartun yang menghina dan melecehkan agama. Kartun itu
> berbeda," cetus jubir presiden itu yang mengaku belum melihat kartun
> yang diterbitkan akhir pekan itu.
>
> Sikap tidak bersahabat terhadap Indonesia telah diperlihatkan banyak
> kalangan di negeri kanguru tersebut. Bob Brown, anggota Kongres
> Australia menghendaki kasus Papua dibawa ke Badan Perserikatan
> Bangsa-Bangsa (PBB).
>
> Brown telah mendesak PM John Howard segera mengumumkan bahwa di Papua
> telah terjadi pelanggaran HAM.
>
> "Kita serukan kekebasan dan demokrasi dan ini waktunya Howard
> berinisiatif mengambil permasalahan HAM di Papua," tegas senator dari
> kubu oposisi itu.
>
> Ketua Komisi I DPR, Theo L Sambuaga menegaskan, Indonesia perlu mengkaji
> ulang hubungan Indonesia-Australia. Salah satu ketua DPP Golkar ini
> menilai Australia telah menerapkan standar ganda atas hubungannya dengan
> Indonesia.
>
> Berbahaya
>
> Sikap keras dilontarkan anggota Komisi I DPR Permadi. Anggota FPDI
> Perjuangan ini mendesak pemerintah mengusir duta besar Australia sebagai
> balasan atas pemberian suaka kepada 42 warga Papua.
>
> Menurut Permadi, pemberian visa itu merupakan tindakan kelewat batas
> yang tidak cukup hanya diprotes melalui penarikan Dubes RI di Australia.
> "Kalau pemerintah tidak mau mengusir, rakyat nanti yang mengusirnya,"
> tandas Permadi yang akan menggalang demonstrasi ke Kedubes Australia di
> Jakarta.
>
> "Silakan siapa saja mau bergabung. Dia (dubes Australia) harus angkat
> kaki dari Indonesia karena sudah memperlakukan kita seperti itu," tandas
> politisi yang lebih dikenal sebagai paranormal itu.
>
> Desakan pengusiran sebelumnya juga dikemukakan Wakil Ketua DPR Zaenal
> Ma'arif. "Reaksi Indonesia tidak cukup memanggil dubes pulang. Saya
> minta pemerintah mengusir dubes Australia dari Jakarta," tegasnya.
>
> Sementara itu, Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) mencatat setidaknya
> sejak 1999 hubungan Indonesia-Australia sudah mengalami masalah.
>
> ICAF mencatat pada 1999, Australia mengeluarkan kebijakan terhadap Timor
> Timur. Melalui Menlu Alexander Downer dalam siaran persnya menyatakan
> Australia mendukung penentuan nasib terhadap rakyat Timtim.
>
> "Anehnya meski sudah menjelaskan hal tersebut, masih ada basa basi dari
> diri Downer. Dimana Downer mengaku bahwa Australia tetap mengakui
> kedaulatan Indonesia di Timtim," kata koordinator ICAF Mustofa B
> Nahrawardaya.
>
> ICAF juga mencatat, pada 2001 pemerintah Australia dengan sengaja
> menolak sekitar 430 warga imigran Afghanistan yang baru saja
> diselamatkan kapal Norwegia. Setelah menolak, mereka berkali-kali
> membujuk dan menganjurkan Indonesia agar menyediakan lokasi penampungan
> kepada para imigran itu, kata Mustofa.
>
> Sedangkan pada 2003, Australia menolak suaka 14 manusia perahu warga
> Kurdi, Turki. Sebagai negara penendatanganan Konvensi PBB tentang
> pengungsi seharusnya Australia menerima ke 14 orang tersebut." Anehnya
> Australia justru mengirim mereka ke Jakarta melalui Maluku," jelasnya.
>
> Belajar dari beberapa fenomena tersebut, Australia dapat dicurigai
> dengan adanya kasus permintaan suaka warga Papua. Karena jika dilihat
> dari beberapa kasus sebelumnya, Australia dinilai sangat tidak
> konsisten.
>
> "Ketidakkonsistenannya kembali muncul ketika menerima visa 42 warga
> Papua. Menlu Downer menyatakan mendukung kedaulatan Indonesia atas
> Papua. Bukankah kata-kata itu yang diungkapkan sebelum Timtim merdeka,"
> tegas Mustofa.
>
> Terpisah, Siswono Yudhohusodo menyatakan, ada tangan-tangan kotor yang
> ikut memperkeruh dan bermain-main dalam konflik di Papua. Karenanya dia
> meminta pemerintah ekstra hati-hati dalam bersikap.
>
> "Di Australia ada tangan-tangan kotor bermain soal Papua. Bisa unsur
> negara bisa bukan negara, bisa juga intelijen-intelijen mereka yang
> bermain," kata Siswono, di sela Kongres Alumni GMNI di Hotel Sahid,
> Jakarta, Minggu.
>
> Mengatasi semua itu, sebut dia, pemerintah harus mengerahkan seluruh
> kekuatan diplomasinya. Pemerintah juga harus serius memperhatikan
> kesejahteraan serta pemenuhan kebutuhan masyarakat Papua.
>
> "Kita perlu membangun ketertinggalan di Papua. Tumbuhkan rasa
> nasionalisme rakyat Papua tentu dengan dibantu total diplomacy,"
> imbuhnya. JBP/zil/kcm/ant/dtc
>
>
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia 
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
> 



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke