Salam,
   
  Aspek-aspek globalisasi yang ditawarkan oleh Amerika adalah: 1) 
internasionalisasi, 2) westernisasi, 3) liberalisasi, 4) universalisasi dan 5) 
de-teritorialisasi. Dan Amerika adalah sebuah negara yang sangat lihai 
menggunakan media sebagai instrument untuk mempromosikan aspek-aspek 
globalisasi seperti yang disebut di atas itu. Disadari atau tidak, apabila 
sebuah kelompok menawarkan ide kepada kelompok lain, maka disitu akan ada 
kelompok yang diuntungkan dan kelompok yang dirugikan di pihal lain. Amerika 
berada pada posisi yang menawarkan ide dan kita berada pada posisi yang 
mengkomsumsi ide-ide yang ditawarkan oleh Amerika tersebut. Disini, Amerika 
akan meraih keuntungan dan kita akan meraih kerugian. 
   
  Dengan kelihainya menggunakan media, yang saat ini sudah masuk ke dalam 
"kelambu" kita, Amerika berupaya mengemas budayanya itu secara bagus untuk 
"dijual" di pasar internasional. Kegigihan Amerika itu dapat kita lihat, betapa 
banyak anak bangsa Indonesia yang merasa bangga menjadi "seperti" orang 
Amerika. Contohnya, dalam berpakaian, bergaul, makan, minum, hiburan dsb. Pada 
tahap "internasionalisasi" ini, Amerika sudah berhasil.  
   
  Banyak diantara kita yang beranggapan, bila cewek yang memakai kutang saja ke 
pasar, mall, bioskop atau ke restoran, dan si cewek pake rok mini saja atau 
bagi orang-orang yang suka makan di Fizza Hut, Mc Donald, KFC, Barista, Coffee 
D, Fast Track, Chocola dsj, dianggap sebagai orang yang modern dan kren. Ini 
adalah anggapan yang salah. Yang benar, mereka tersebut adalah orang-orang yang 
meniru gaya barat. Seseorang bisa disebut modern bila cara berpikirnya memiliki 
akar yang sangat dalam dan mampu meneropong jauh ke depan. Entah itu seorang 
petani sawi, entah itu seorang tukang beca atau seorang tukang pahat. 
Modernisasi berbeda dengan westernisasi.   
   
  Ide liberalisasi yang disuguhkan oleh Amerika sangat erat kaitannya dengan 
ekomoni. Kita lihat, di samping rumah anda mungkin ada KFC, dan disebelahnya 
ada warung mbak Listy, dan juga sama-sama jual goreng paha ayam. Mbal Listy 
adalah orang Indonesia. Nah, para tukang masak dan para penyaji di KFC juga 
orang Indonesia, kira-kira dalam satu bulan, siapa yang maraih untung lebih 
besar? KFC atau mbak Listy? Hati kecil saya menjawab, KFC. Mengapa? Kita selalu 
dibayang-bayangi oleh imej yang maha bagus ttg KFC, dan KFC juga diiklankan 
lewat media yang sangat begitu rapi. Akhirnya, Pak Danardhono yang keseringan 
liat iklan KFC lewat media (TV dll) memboyong keluarganya ke KFC. Begitulah 
cara Amerika mengemas "dunia" ini dengan cara-cara yanag sangat menggiurkan. 
Tapi pernahkan kita menyadari bahwa segala keuntungan KFC atau Mc Donald dll. 
itu akan kembali ke Amerika?
   
  Tak cukup sampai disitu saja, Amerika pun meneroboskan budayanya itu supaya 
bisa diterima oleh masyarakat dunia lain. Nilai-nilai yang terkandung di dalam 
budaya Amerika dipaksakan secara tersusun rapi supaya bisa diterima oleh 
masyarakar global, tak terkecuali di Indonesia. Di Amerika, majalah Playboy 
adalha biasa dikonsumsi oleh masyarakat Amerika, tapi apakah majalah Playboy 
bisa dikomsumsi oleh masyarakat Indonesia? Di Amerika, masyarakatnya sudah 
biasa melihat anggota tubuh antara lutut dan pusar, tapi apakah pemandangan 
seperti itu sudah biasa di Indonesia. Di Amerika pamer kecantikan lewat kontes 
miss world, "miss call" adalah biasa, tapi apakah hal itu sesuai dengan budaya 
kita di Indonesia? 
   
  Disinilah kita perlu menyadari, bahwa apabila sebuah budaya suatu tempat 
"dipaksakan" menerobos budaya lain, maka akan terjadilan "Clash of Cultures" 
atau benturan budaya. Keberadaan Playboy memang tak masalah di Amerika karena 
memang begitulah budaya mereka, tapi itu semua belum tentu cocok bagi 
Indonesia. Sebaliknya, budaya kita juga belum tentu pas bagi masyarakat Amerika.
   
  Sayangnya, selama ini kita lebih bangga mengkonsumsi budaya Amerika dan 
jarang sekali yang mau "meneroboskan" budaya Indonesia ke Amerika. Terima kasih 
buat rekan-rekan Indonesia yang gemar "menggelar pamer kebudayaan" di negeri 
paman syam tersebut. Demikian komentar singkat saya, dan mohon maaf kalau 
kuranag nyambung, ya biasalah, konsentrasiku terbagi untuk ujian semester kedua 
akhir bulan ini. 
   
  Wassalam,
   
  IzaM -
    

Farid Gaban <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Majalah Plaboy versi Indonesia akhirnya jadi terbit juga.

Para editor majalah itu memilih pendekatan berbeda dalam penyajian: 
mereka ibarat membeli franchise "Kentucky Fried Chicken" tapi 
memutuskan hanya menyajikan "masakan Padang" dalam restoran.

Masih menjadi pertanyaan besar kenapa mereka memilih inkonsistensi 
seperti ini. Jika mereka hanya ingin menawarkan "masakan Padang" 
kenapa harus membeli franchise "Kentucky"? Atau sebaliknya, jika 
mereka membeli franchise "Kentucky" yang mahal, kenapa hanya "masakan 
Padang" yang disajikan?

Playboy bukanlah sekadar majalah dewasa (atau majalah porno). Dia 
juga sebuah brand, bahkan sebuah citra yang sangat menonjol dengan 
asosiasi yang spesifik.

Asosiasi Playboy dengan majalah dewasa sulit bisa dihilangkan 
betapapun para editornya menyajikan artikel dan gambar yang sama 
sekali berbeda dari ekspektasi pembaca. Sama halnya, kita sulit bisa 
mengasosiasikan Starbuck dengan "komputer", atau McDonald's 
dengan "sarung tenun Sumbawa".

Dari segi bisnis, ini bukan strategi yang bagus: produsen menyajikan 
suatu yang berbeda dari yang "dijanjikannya" (lepas kita setuju atau 
tak setuju terhadap janji itu); ada konflik mendasar antara brand 
yang ingin dibentuk dengan produk yang dijual.

Bisnisman yang ingin berhasil akan menyelaraskan pesan ("brand") 
dengan produk. Mengingat hal itu, apapun isinya sekarang, Playboy 
dicurigai pada akhirnya akan kembali ke khittahnya sebagai majalah 
porno. Jika bisnis menjadi motif yang mencolok, kecurigaan seperti 
itu sangat wajar. (Dan sulit dibayangkan pemegang lisensi Playboy ini 
ingin menerbitkan majalah yang merugi).

Di sisi lain, mengingat citranya yang mencolok tadi, terbitnya 
Playboy hanya akan menambah bara ke dalam api perdebatan RUU Anti 
Pornografi.

Malang lah Gadis Arivia dan Jurnal Perempuan. Penerbitan Playboy akan 
memperkeras kubu pendukung RUU itu (khususnya di kalangan Islam). 
Playboy secara tidak langsung akan mentorpedo upaya siapa saja yang 
ingin mengganjal lolosnya RUU itu.

salam,
Farid Gaban

* * * * *
Zamhasari Jamil
Department of Political Science
Aligarh Muslim University, Aligarh
Website Kampus  : http://www.amu.ac.in
Website Pribadi    : http://www.e-tafakkur.blogspot.com
Website PPI India : http://www.ppi-india.org
Email: izamsh@ yahoo.com

















                
---------------------------------
New Yahoo! Messenger with Voice. Call regular phones from your PC and save big.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke