http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=6658
Selasa, 18 Apr 2006, Digagalkan, Penjualan 57 Gadis ke Malaysia Polisi Curiga Rute Baru SURABAYA - Aparat Polresta KP3 (Kesatuan Pengamanan Pantai dan Pelabuhan) Tanjung Perak Surabaya kemarin sore berhasil menggagalkan pengiriman 57 gadis belia ke Malaysia. Para gadis berusia ABG (anak baru gede) asal Kalimantan Barat (Sambas dan Pontianak) itu diamankan dari KM Tidar yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak sejak Jumat lalu. Belakangan diketahui bahwa jumlah total gadis yang dikirim sekitar 120 anak. Di antara jumlah itu, yang 63 anak telah diberangkatkan ke Sabah. Pengungkapan tersebut berawal dari kecurigaan petugas Samapta Polresta KP3. "Saya mendapat laporan, banyak gadis di bawah umur berada di KM Tidar. Kami menduga ada pelanggaran. Sebab, dari umur mereka yang rata-rata masih muda, ada indikasi trafficking," ujar Kasat Reskrim Polresta KP3 Tanjung Perak AKP Hendri Fiuser. Petugas curiga ketika salah seorang gadis tersebut menjawab "Akan bekerja ke Malaysia" saat ditanya sedang apa mereka di pelabuhan. "Tentu saja, kami curiga. Bayangkan saja, puluhan gadis belia dalam satu kapal mengaku hendak dipekerjakan ke Malaysia. Dugaan kami, itu kasus trafficking," urai perwira yang pernah menjadi anggota tim Mabes pengungkap kasus BBM ilegal tersebut. Kecurigaan petugas semakin kuat ketika pengurus mereka yang biasa dipanggil Udin tidak diketahui rimbanya alias kabur. "Kami hanya mendapat data bahwa PJTKI tempat Udin bernaung adalah PT Mahabharata Rizki. Kantor pusatnya di Nunukan," lanjut Hendri. Tanpa banyak cakap, petugas langsung mengamankan puluhan gadis calon TKW (tenaga kerja wanita) tersebut ke Mapolresta KP3 Tanjung Perak. Selanjutnya, mereka dimintai keterangan. Belakangan diketahui bahwa kloter pertama TKW tersebut telah berangkat. "Jumlahnya sekitar 63 gadis. Informasinya, mereka telah dikirimkan ke Sabah. Namun, apakah mereka (para gadis tersebut) benar-benar berangkat ke Sabah, saya belum berani memastikannya," imbuhnya. Informasi yang dihimpun Jawa Pos menyebutkan, menurut rencana, para gadis yang rata-rata berumur 15-20 tahun itu hendak dikirim ke Sabah, Malaysia. Mereka mengaku diiming-imingi pekerjaan di industri plywood (kayu lapis) di Sabah. "Saya hanya diajak seseorang untuk bekerja di Sabah dengan gaji sembilan ringgit (sekitar Rp 25 ribu, Red) per hari," ujar Debi, salah seorang gadis, dengan nada masygul. Apakah tidak khawatir dipaksa menjadi PSK? Debi langsung menggeleng ketakutan. "Janganlah seperti itu. Tak mungkinlah," elaknya. Bagaimana paspor dan visa mereka? Debi menggeleng. "Semua diurus agen (Udin, Red). Kami hanya menyerahkan KTP dan surat izin dari orang tua. O, ya, tiap orang dari kami diharuskan membayar Rp 50 ribu. Katanya untuk medical report," ujar gadis 16 tahun tersebut. Debi kemudian bercerita bahwa mereka semua berangkat dari Pontianak, Rabu lalu. "Kami tiba di Perak Jumat lalu," lanjut gadis bertampang manis itu. Setibanya di Perak, mereka sebenarnya sudah mencium ketidakberesan. "Sabtu lalu, Udin menghilang entah ke mana. Kami semua telantar di pelabuhan, menunggu kapal yang sedang bongkar muat," lanjutnya. Setelah telantar tiga hari, barulah petugas Samapta Polresta KP3 Tanjung Perak datang untuk mengamankan para gadis tersebut. Sementara itu, Kasatreskrim Polresta KP3 Tanjung Perak AKP Hendri Fiuser menyatakan, pihaknya menduga para gadis tersebut akan dijadikan PSK (pekerja seks komersial). "Indikasinya, kalau hendak dibawa ke Sabah yang relatif dekat dengan Pontianak, kenapa kapal harus sandar dulu di Surabaya?," ujarnya. Menurut dia, Udin bisa dijerat dengan UU Ketenagakerjaan, yang salah satu pasalnya melarang mempekerjakan orang di bawah umur. Meski demikian, Hendri mengaku akan melakukan pendalaman penyidikan terlebih dahulu. Di bagian lain, seorang pimpinan PT Mahabharata Rizki yang kebetulan berada di Surabaya datang ke KP3. Pimpinan yang belakangan diketahui bernama Yunus tersebut langsung diperiksa polisi. Hasilnya? "Sementara ini, Yunus mengaku bahwa dirinya yang membuat surat tugas bagi Udin untuk merekrut tenaga kerja. Namun, Yunus juga mengaku kalau dirinya telah mensyaratkan Udin merekrut secara prosedural dan bukan anak di bawah umur," jelas Hendri. Hingga tadi malam, belum ada satu orang pun yang ditetapkan sebagai tersangka. "Kami masih memburu Udin. Dialah yang tahu mulai proses rekrutmen hingga mau ditempatkan di mana," tandas Hendri. Meski demikian, Hendri menyatakan masih mengembangkan kasus tersebut. "Ada banyak potongan teka-teki yang belum terpecahkan. Kami masih baru saja memulai penyelidikan," tegasnya. Hendri memang pantas mengembangkan kasus itu. Sebab, sebuah sumber di kepolisian menyebutkan, ada dugaan muncul rute baru trafficking in person ke Malaysia. "Kalau jalur lama, Jakarta sebagai home base para gadis yang direkrut dari daerah-daerah. Kemudian, diterbangkan ke Pangkal Pinang, sebelum akhirnya ke Pontianak, Kalimantan Barat. Dari Pontianak ke Entikong dan selanjutnya masuk wilayah Malaysia melalui jalan darat," lanjut sumber itu. Entikong juga menjadi tempat pertemuan antara sindikat Malaysia dan Indonesia. "Di sini, para gadis itu disortir untuk kemudian dibawa ke beberapa kota di Malaysia," lanjutnya. Namun, karena Entikong sudah dipelototi aparat, para sindikat itu tampaknya memindah rute. Alih-alih menggunakan Kalimantan Barat (jalan darat), para penyelundup manusia tersebut tampaknya mulai menggunakan Kalimantan Timur. "Yang kini dipilih adalah jalur laut, via Tarakan-Nunukan. Kemudian, dengan menggunakan perahu kecil-kecil masuk ke Malaysia melalui Tawao," lanjutnya. Dengan menggunakan perahu boat, Nunukan-Tawao dapat ditempuh hanya dalam waktu setengah jam. Benarkah ada rute baru? Hendri tak membantah maupun membenarkan. "Bisa jadi seperti itu. Namun, kami masih perlu mengumpulkan beberapa bukti dan memeriksa beberapa saksi untuk bisa melakukan kesimpulan penyelidikan," katanya. (ano [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

