REFLEKSI: Celakanya kalau kambing-kambing cecunguk serta penguasa catut haus harta nan darah mengembik bahwa tuntutan atau usulan seperti yang disuarakan artikel ini tidak lain dari pada propaganda separatisme, berarti kutukan hukuman penderitaan dan eksploatasi duniawi akan terus-menerus bisa berlangsung untuk waktu tak terhingga.
http://www.indomedia.com/bpost/042006/18/opini/opini2.htm Membangun Kalimantan RENCANA besar kini tengah digagas petinggi di Kalimantan. Sebuah proyek yang boleh dibilang bukan baru, kini kembali diusung empat pemimpin di pulau terbesar ini ke Jakarta. Setidaknya, mereka mengharapkan pemerintah pusat benar-benar memberikan apresiasi, tidak hanya sebatas janji, atau menomorsekiankan persoalan pembangunan di Kalimantan. Kenyataan selama ini, Kalimantan memang hanya menempati urutan ke sekian dalam kerangka pembangunan di negeri ini. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan Pulau Papua plus sebagian kecil Sulawesi, yang selalu menjadi objek penderita dalam setiap kebijakan elit di Jakarta. Sudah saatnya matra pemikiran elit Jakarta tidak lagi menempatkan Jawa dan Sumatera sebagai entitas pembangunan di republik ini. Patut dicamkan, Indonesia bukan hanya Jawa dan Sumatera. Ada banyak bagian peran daerah lain --meski dari sebuah pulau yang terkebelakang-- memberikan kontribusi yang tidak kecil dalam pembangunan di negeri ini. Itu sebabnya, harian ini menilai program pembangunan Kalimantan yang digagas petinggi di Kalsel, Kaltim, Kalteng dan Kalbar, harus benar-benar disikapi Jakarta dengan pemikiran yang jernih. Bukan dengan pandangan sinis atau sebatas anggukan yang tidak memiliki makna apa-apa. Apalagi, proyek pembangunan berskala besar di Kalimantan yang diusung itu, bukan baru. Proyek itu sudah digagas satu dekade dan terus mengalami revisi, tapi ironisnya tidak pernah ada realisasi yang signifikan. Kabar terakhir, cetak biru proyek pembangunan Kalimantan, Senin (17/4), dibahas di depan jajaran Kabinet Indonesia Bersatu. Dalam perhelatan di Hotel Bumi Karsa Kompleks Bidakara, Jakarta, itu khusus dibahas soal pembangunan Kalimantan. Ada beberapa poin penting bahasan yang tentunya harus menjadi fokus perhatian pengambil kebijakan di Jakarta. Khususnya hal yang menyangkut pembiayaan berbagai proyek pembangunan --yang selama ini selalu menjadi persoalan krusial dan amat sulit diputuskan Jakarta. Dan, soal pembiyaaan inilah yang selalu menempatkan proyek berskala besar di Kalimantan menjadi tertunda bahkan terlunta-lunta. Sebenarnya, dalam iklim otonomi sekarang, pemerintah pusat bisa sedikit lebih leluasa. Setidaknya, dalam urusan yang terkait mengatur anggaran pembangunan bagi daerah. Besaran sebuah anggaran pembangunan berskala lumayan besar bisa di-sharing antara daerah dengan pusat. Terpenting, dari pertemuan pemimpin Kalimantan dengan elit di Jakarta itu bisa menghasilkan sebuah rumusan pembangunan yang benar-benar memberikan nilai lebih bagi rakyat di empat provinsi tersebut. Sebagai contoh, pembangunan infrastruktur jalan yang selama ini menjadi salah satu 'penghambat' interaksi antardaerah. Sangatlah naif, keterpencilan suatu daerah masih disebabkan oleh karena tidak adanya sarana jalan. Sudah saatnya empat provinsi di Kalimantan memiliki akses satu jalan. Selama ini yang ada hanya jalan Trans Kalimantan poros selatan. Tentu, sudah saatnya pula ada poros lain yang satu sama lain saling berhubungan. Selama ini Kalsel hanya bisa terhubung --melalui akses jalan darat-- dengan Kalteng dan Kaltim, namun tidak dengan Kalbar. Demikian pula Kalteng hanya bisa terhubung dengan Kalsel, tapi tidak dengan Kalbar dan Kaltim. Itulah salah satu cetak biru proyek pembangunan pemimpin daerah di Kalimantan yang dibawa ke Jakarta, dan tentunya sangat diharapkan bisa dicarikan jalan keluarnya. Kita di Kalimantan tidak ingin Jakarta hanya hobi menggauli daerah ini seenaknya saja. Sudah saatnya Jakarta memberikan perhatian lebih kepada kita di Kalimantan, Papua ataupun Sulawesi. Saatnya pengambil kebijakan merekonstruksi kembali pemikiran mereka yang di Jakarta, tidak lagi Jawa dan Sumatera minded. Bagaimana pun kontribusi Kalimantan, Papua dan Sulawesi bagi pembangunan secara keseluruhan tidak kecil. Menjadi sangat percuma apa yang menjadi slogan Susilo Bambang Yudhoyono; Bersama Kita Bisa, jika Kalimantan, Papua dan Sulawesi tetap hanya menjadi objek penderita. [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

