Silahkah untuk dikutip, Bung Yayat. Dan sebenarnya tidak usah jauh-
jauh: buka saja kamus bahasa Inggeris Indonesia, sebab itulah sumber 
yang saya pakai.

Saya sudah menulis sebuah artikel pendek tentang perbedaannya itu 
dalam kesenian. Nanti saya carikan, akan saya kirimkan kepada Anda 
lewat milis ini. Tapi, kalau tidak salah, sudah pernah saya siarkan 
di sini, ya? Coba pakai kata kuncu "Ikra" dan "sensualitas" mungkin 
bisa ditemukan kembali.

Ik.-



--- In [email protected], yayat cipasang <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Pak Ikra, saya pertama kali  melihat Bapak saat saya kuliah di 
IPB  sekitar tahun 1992 (kalau tidak salah) saat itu Bapak bersama 
Bapak  Taufik Ismail menggalang dana untuk Bosnia.
>   
>   Pak Ikra, izinkan saya juga mengutif definisi yang bapak 
kemukakan  untuk artikel saya mengenai perbedaan antara seksualitas 
dan  sensualitas. Saya mau bikin artikel yang mengupas tentang 
pornografi.
>   
>   Salam
>   
>   Yayat R Cipasang
>   http://yayat-cipasang.blogspot.com
>   
>   
> 
> Ikranagara <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:                                                  Waduh, Mas, 
Mas Robertus ini keterlaluan deh! Mosok nama Taufiq 
>   Ismail sang penyair kondang kita itu tidak dikenal? Nama Taufiq 
>   dalam kazanah literatur dunia selalu ditonjolkan kalau yang 
dibahas 
>   itu adalah sejarah sastra Indonesia. Ya, dia sudah masuk ke 
dalam 
>   buku sejarah sastra kita.
>   
>   Puisi-puisi perlawanannya terhadap kekuasaan otoriter sangat 
>   terkenal, sejajar dengan nama Rendra. Tapi puisi-puisinya memang 
>   lebih halus dibandingkan dengan Rendra. Dia muncul sejak 
penumbangan 
>   Sukarno, lalu disusul perlawanannya terhadap Suharto, dan 
akhirnya 
>   tampil dalam puisi-puisi mendukung gerakan kemerdekaan kreatif 
dalam 
>   Reformasi menumbangkan Suharto.
>   
>   Kalau dia diceritakan meneteskan air mata ketika sedih dalam 
membaca 
>   puisi, atau bicara di depan umum tentang hal yang memilukan 
menurut 
>   ukuran dia, itu sih sudah biasa. Dia mengaku sebagai manusia 
>   tergolong "gembeng" dengan tanpa malu-malu sebagai lelaki lho!
>   
>   Itu Taufiq sebagai penyair!
>   
>   Tapi sebagai pemikir, atau penulis essai, bukan puisi, dia 
memang 
>   kurang pengetahuannya tentang estetika, bahkan memang kurang 
kuat 
>   logikanya, suka main lompat-lompat seenaknya, seperti yang Anda 
>   temukan dalam essainya yang dibacakan di almamaternya itu. Ya, 
dia 
>   sebenarnya Dokter Hewan lulusan IPB, tapi mungkin itu sekedar 
>   menyenang-nyenangkan orang tua yang membiayai studinya sampai 
lulus. 
>   Tapi dia sejatinya adalah seorang seniman, dalam hal ini 
penyair, 
>   yang berhasil mencapai kwalitas perpusian yang diakui dunia, 
bukan 
>   hanya untuk ukuran Indonesia saja lho!
>   
>   Dan ideologinya memang berdasarkan Islam Sunni atau mungkin 
aliran 
>   Wahabi itu. Mungkin! Itu kalau kita baca antara lain essainya 
ini.
>   
>   Saya tidak banyak berharap jika dia bicara soal pornografi. Baca 
>   saja kembali, apakah ada definisinya tentang apa itu pornografi? 
>   Semua seniman, termasuk saya, menolak pornografi, karena jenis 
karya 
>   ini bukan karya seni. Tapi ada yang disebut "sensualitas" dan 
ini 
>   adalah sah sebagai bagian dalam karya seni. 
>   
>   Sensualitas itu di negeri kita memang seringkali dikacaukan 
dengan 
>   istilah "sexualitas." Sensualitas tidak selamanya ada kaitan 
dengan 
>   sex, meskipun kadangkala ada juga, sebab sex bisa merangsang 
rasa 
>   indah, dan bukan merangsang nafsu syahwat. Misalnya saja 
ungkapan 
>   puitis dalam puisi-puisi Taufiq yang menampilkan imaji visual 
itu 
>   merangsang rasa keindahan dalam diri kita, itu sudah bisa 
disebut 
>   unsur sensualitas dalam karyanya itu. Tapi mungkin dia menolak 
>   kesimpilan ini, karena tidak bisa membedakan antara sensualitas 
dan 
>   seksualitas itu tadi.
>   
>   Nah, di dalam UU APP itu juga sama seperti itu, artinya ada 
>   kerancuan antara unsur sensualitas dalam seni dengan unsur 
>   seksualitas dalam pornografi. Unsur sensualitas itu unsur rasa 
di 
>   dalam kesenian, justeru untuk mengimbangi unsur 
kritis/intelektual 
>   di dalamnya -- sebab karya seni yang bermutu sepanjang zaman itu 
>   mengandung paduan yang baik antara kedua unsur ini dalam kaca 
mata 
>   estetika.
>   
>   Memang, saya tidak yakin Taufiq Ismail faham soal-soal ini. 
Atau, 
>   mungkin dia faham, tetapi sengaja mengacaukannya, demi aliran 
>   relijius yang dianutnya tadi itu. Artinya, tidak semua Ummat 
Islam 
>   setuju dengan faham keagamaan yang dia anut itu. 
>   
>   Dan karenanya menurut saya Taufiq ismail lupa atau pura-pura 
tidak 
>   ingat adagium dalam ajaran Islam sendiri: Laa ikranaha fid-dien 
>   (Tidak ada paksaan dalam menjalankan agama.) Juga yang ini: 
Tidak 
>   ada agama bagi yang tidak menggunakan fikirannya.
>   
>   Ikra.-
>   
>   --- In [email protected], Robertus Budiarto 
>   <budiartobobby@> wrote:
>   >
>   > Taufiq ini siapa sih?  Kakaknya Nizami Boy? he.he.he..
>   > 
>   > Yang jelas rada-rada..  la wong orang nggak setuju RUU Porno 
kok 
>   langsung dituduh tidak mau melindungi anak cucu...  weleh-
weleh..  
>   Dia pikir yang waras hanya dia seorang..  mana ada orang tak mau 
>   melindungi anak cucunya...
>   > 
>   > Tulisan gaya ad Hominem, menyerang pribadi ini sih persis gaya 
>   Orde Baru...   kalau kalah omong mereka langsung nyerang orang 
Islam 
>   sebagai Islam Fundamentalis...  persis deh kaya Suharto, si 
Taufiq 
>   ini..
>   > 
>   > he.he.he..    kalau sastrawannya aja kaya gini, pantes aja 
>   negaranya kagak karuan..he.he.he..
>   > 
>   > 
>   > 
>   > 
>   > 
>   > 
>   > 
>   > 
>   > 
>   > 
>   > ----- Original Message ----
>   > From: aris solikhah <fm_solihah@>
>   > To: [email protected]
>   > Cc: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; 
>   [EMAIL PROTECTED]; [email protected]
>   > Sent: Tuesday, January 9, 2007 2:56:43 PM
>   > Subject: [ppiindia] Perlawanan Sastra Taufiq Ismail
>   > 
>   > Dear All,
>   > 
>   > Hari ini, Taufiq Ismail berbicara dihadapan
>   > dosen-dosen se-IPB. Makalah yang beliau baca sama
>   > dengan pidato di Taman Ismail Marzuki 15 Desember
>   > 2006, yaitu berjudul : &#8216;Budaya Malu dikikis
>   > Gerakan Syahwat Merdeka&#8217; . 
>   > 
>   > Di Recent Activity
>   >  13New Members
>   > Visit Your Group 
>   > SPONSORED LINKS
>   > Indonesia
>   > Cultural diversity
>   > God bless
>   > Indonesian languages
>   > Indonesian language course
>   > Search Ads
>   > Get new customers.
>   > List your web site
>   > in Yahoo! Search.
>   > Y! Messenger
>   > Group get-together
>   > Host a free online
>   > conference on IM.
>   > Yahoo! Mail
>   > Drag & drop
>   > With the all-new
>   > Yahoo! Mail Beta. 
>   > 
>   > 
>   > __________________________________________________
>   > Do You Yahoo!?
>   > Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection 
around 
>   > http://mail.yahoo.com 
>   > 
>   > [Non-text portions of this message have been removed]
>   >
>   
>   
>       
>                                     
> 
>  
> ---------------------------------
> Check out the all-new Yahoo! Mail beta - Fire up a more powerful 
email and get things done faster.
>  
> ---------------------------------
> Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke