Terimakasih banyak Pak Ikra. Tulisannya sangat mencerahkan.  Sebelumnya saya 
juga telah membaca buku Pornografi karya Tjipta Lesmana tapi tidak lengkap. 
Terimakasih banyak.

Ikranagara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Bung yayat cipasang, dengan 
menggunakan kata kunci "Ikra 
sensualitas" maka di milis kita ini saya dapatkan kembali tulisan 
saya "Tentang Sensualitas" itu kembali. Inilah tulisan itu:

TENTANG SENSUALITAS
catatan singkat ikranagara

Ada tidaknya unsur sensual dalam sesuatu karya seni tidak ada 
kaitannya dengan masalah pornografi dan sex, baik yang kadar 
sensualitasnya tinggi maupun rendah. Sensualitas ini ada kaitan 
langsung dengan yang inderawi (sense=indera). Kalau dalam film, maka 
penekannya pada gambar dan warna-warninya. Misalnya film-film
Akira Kurosawa, dia selalu menekankan kepada gambarnya itu untuk 
mencapai nilai estetika yang maksimal. Kerja kamera dan tata 
artistik, termasuk tata pakaian, asesori, handprop, semua haruslah 
indah dipandang mata. Pemilihannya atas lokasi cerita juga 
menekankan kepada sesualitas ini, sehingga formasi awan pun haruslah
seperti yang dikehendakinya untuk adegan tertentu. Dia bisa berjam-
jam untuk memulai berkata "Kamera!" kepada kameramannya. Jadi, 
tujuannya adalah untuk menpatkan kadar tinggi kenikmatan yang 
inderawi. Demikian juga musiknya, sangatlah cermat pilihannya dan 
penggunaannya. Dia sutradara yang cerewet dalam hal-hal yang sensual 
ini.

Di Barat kemudian muncul sutradara Zefferelly (? tulisannya betul 
atau salah? help!) yang melahirkan film "Rome and Juliet" yang indah 
tata gambar, busana, handprops dan lokasinya itu!

Film "The Thin Red Line" yang versi baru juga demikian!

Dalam film kita, yang baru, saya temukan keindahan yang tinggi 
sensualitasnya ini pada film "Pasir Berbisik" itu. Salut!

Tapi, kalau kita hanya menekankan kepada yang sensual saja dalam 
berkarya, maka kita akan kehilangan bobot intelektualitasnya, 
kedalaman jiwanya, dan semacamnya nanti.

Kalau film "Romeo and Juliet" itu jelas imbangan kadar 
intelektualitasnya juga tinggi, karena ceritanya adalah hasil karya 
drama yang agung nilainya! Demikian juga cerita-cerita dalam karya 
Kurosawa, tinggi nilainya. Jadi, sensualitas haruslah diimbangi 
dengan kadar intelektualitas yang tinggi pula agar tidak
sekedar sebuah karya yang tergolong eksotis belaka.

Jadi, pada dasarnya tidak ada kaitannya dengan masalah ada atau 
tidaknya sex di dalam karya yang sensualitasnya tinggi itu.

Film "Pasir Berbisik" juga tinggi kadar intelektualitasnya, terutama 
bobot prikhologi dan aspek keterlibatan sosialnya, selain 
mentransendensikan masalah kekerasan yang menghantui kesadaran hati 
nurani kita lewat cara yang halus puitis. Ya, film ini bagi saya 
sebuah puisi naratif yang indah!

Ada banyak karya-karya sastra yang tinggi sensualitasnya tetapi 
tidak ada sama sekali urusan sex di dalamnya, seperti dalam karya-
karya Yasunari Kawabata, Pemenang Hadiah Nobel dari Jepang itu.

Jadi, secara sederhana dapatlah dikatakan bahwa sensualitas ini 
menekankan kepada "rasa", sehingga bisalah dikatakan lawan dari kata 
sensualitas adalah "intelek". Nah, di dalam karya seni apa pun, 
kedua unsur ini (sensualitas dan intelektualitas) itu selalu ada 
saling imbang mengimbangi. Unsur utama dalam sensualitas adalah 
perasaan/sentimentalitas.

Sebagai sebuah contoh, karya seni tradisional kita yang tinggi kadar
sensualitasnya adalah Tarian Jawa Kraton yang lembut dan lamban 
kental dengan perasaan itu. Karya musik klasik Barat yang tinggi 
nilai estetisnya dan popularitasnya yang juga tinggi sensualitasnya 
adalah "Bolero" karya Raffael.

Di luar masalah seni, istilah ini bisa juga digunakan, misalnya saja 
untuk tata makanan. Bukankah sudah lumrah sekarang, bahwa makanan 
pun dihidangkan dengan selera seni rupa yang tinggi. Ada patung es, 
ada makanan yang disusun berdasarkan warnanya, bentuknya, juga 
hiasan-hiasan lainnya, sehingga bukan hanya menawarkan "sedap untuk 
dimakan" melainkan juga "sedap untuk dipandang," bukan?

Etalase toko pun dipajang dengan selera seni rupa yang harus mampu 
menawan mata! Wajah (umumnya wanita) pun ditata-rias agar "lebih 
cantik dari aselinya."

Upacara mempersandingkan penganten pun ditata dengan sensualitas 
yang setinggi mungkin, dengan mengerahkan segala hiasan tradisional 
yang warna-warni meriah, bukan?

Semuanya itulah ranah sensualitas.

Twinbrook, 2006

--- In [email protected], yayat cipasang <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Pak Ikra, saya pertama kali melihat Bapak saat saya kuliah di 
IPB sekitar tahun 1992 (kalau tidak salah) saat itu Bapak bersama 
Bapak Taufik Ismail menggalang dana untuk Bosnia.
> 
> Pak Ikra, izinkan saya juga mengutif definisi yang bapak 
kemukakan untuk artikel saya mengenai perbedaan antara seksualitas 
dan sensualitas. Saya mau bikin artikel yang mengupas tentang 
pornografi.
> 
> Salam
> 
> Yayat R Cipasang
> http://yayat-cipasang.blogspot.com
> 
> 
> 
> Ikranagara <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote: Waduh, Mas, 
Mas Robertus ini keterlaluan deh! Mosok nama Taufiq 
> Ismail sang penyair kondang kita itu tidak dikenal? Nama Taufiq 
> dalam kazanah literatur dunia selalu ditonjolkan kalau yang 
dibahas 
> itu adalah sejarah sastra Indonesia. Ya, dia sudah masuk ke 
dalam 
> buku sejarah sastra kita.
> 
> Puisi-puisi perlawanannya terhadap kekuasaan otoriter sangat 
> terkenal, sejajar dengan nama Rendra. Tapi puisi-puisinya memang 
> lebih halus dibandingkan dengan Rendra. Dia muncul sejak 
penumbangan 
> Sukarno, lalu disusul perlawanannya terhadap Suharto, dan 
akhirnya 
> tampil dalam puisi-puisi mendukung gerakan kemerdekaan kreatif 
dalam 
> Reformasi menumbangkan Suharto.
> 
> Kalau dia diceritakan meneteskan air mata ketika sedih dalam 
membaca 
> puisi, atau bicara di depan umum tentang hal yang memilukan 
menurut 
> ukuran dia, itu sih sudah biasa. Dia mengaku sebagai manusia 
> tergolong "gembeng" dengan tanpa malu-malu sebagai lelaki lho!
> 
> Itu Taufiq sebagai penyair!
> 
> Tapi sebagai pemikir, atau penulis essai, bukan puisi, dia 
memang 
> kurang pengetahuannya tentang estetika, bahkan memang kurang 
kuat 
> logikanya, suka main lompat-lompat seenaknya, seperti yang Anda 
> temukan dalam essainya yang dibacakan di almamaternya itu. Ya, 
dia 
> sebenarnya Dokter Hewan lulusan IPB, tapi mungkin itu sekedar 
> menyenang-nyenangkan orang tua yang membiayai studinya sampai 
lulus. 
> Tapi dia sejatinya adalah seorang seniman, dalam hal ini 
penyair, 
> yang berhasil mencapai kwalitas perpusian yang diakui dunia, 
bukan 
> hanya untuk ukuran Indonesia saja lho!
> 
> Dan ideologinya memang berdasarkan Islam Sunni atau mungkin 
aliran 
> Wahabi itu. Mungkin! Itu kalau kita baca antara lain essainya 
ini.
> 
> Saya tidak banyak berharap jika dia bicara soal pornografi. Baca 
> saja kembali, apakah ada definisinya tentang apa itu pornografi? 
> Semua seniman, termasuk saya, menolak pornografi, karena jenis 
karya 
> ini bukan karya seni. Tapi ada yang disebut "sensualitas" dan 
ini 
> adalah sah sebagai bagian dalam karya seni. 
> 
> Sensualitas itu di negeri kita memang seringkali dikacaukan 
dengan 
> istilah "sexualitas." Sensualitas tidak selamanya ada kaitan 
dengan 
> sex, meskipun kadangkala ada juga, sebab sex bisa merangsang 
rasa 
> indah, dan bukan merangsang nafsu syahwat. Misalnya saja 
ungkapan 
> puitis dalam puisi-puisi Taufiq yang menampilkan imaji visual 
itu 
> merangsang rasa keindahan dalam diri kita, itu sudah bisa 
disebut 
> unsur sensualitas dalam karyanya itu. Tapi mungkin dia menolak 
> kesimpilan ini, karena tidak bisa membedakan antara sensualitas 
dan 
> seksualitas itu tadi.
> 
> Nah, di dalam UU APP itu juga sama seperti itu, artinya ada 
> kerancuan antara unsur sensualitas dalam seni dengan unsur 
> seksualitas dalam pornografi. Unsur sensualitas itu unsur rasa 
di 
> dalam kesenian, justeru untuk mengimbangi unsur 
kritis/intelektual 
> di dalamnya -- sebab karya seni yang bermutu sepanjang zaman itu 
> mengandung paduan yang baik antara kedua unsur ini dalam kaca 
mata 
> estetika.
> 
> Memang, saya tidak yakin Taufiq Ismail faham soal-soal ini. 
Atau, 
> mungkin dia faham, tetapi sengaja mengacaukannya, demi aliran 
> relijius yang dianutnya tadi itu. Artinya, tidak semua Ummat 
Islam 
> setuju dengan faham keagamaan yang dia anut itu. 
> 
> Dan karenanya menurut saya Taufiq ismail lupa atau pura-pura 
tidak 
> ingat adagium dalam ajaran Islam sendiri: Laa ikranaha fid-dien 
> (Tidak ada paksaan dalam menjalankan agama.) Juga yang ini: 
Tidak 
> ada agama bagi yang tidak menggunakan fikirannya.
> 
> Ikra.-
> 
> --- In [email protected], Robertus Budiarto 
> <budiartobobby@> wrote:
> >
> > Taufiq ini siapa sih? Kakaknya Nizami Boy? he.he.he..
> > 
> > Yang jelas rada-rada.. la wong orang nggak setuju RUU Porno 
kok 
> langsung dituduh tidak mau melindungi anak cucu... weleh-
weleh.. 
> Dia pikir yang waras hanya dia seorang.. mana ada orang tak mau 
> melindungi anak cucunya...
> > 
> > Tulisan gaya ad Hominem, menyerang pribadi ini sih persis gaya 
> Orde Baru... kalau kalah omong mereka langsung nyerang orang 
Islam 
> sebagai Islam Fundamentalis... persis deh kaya Suharto, si 
Taufiq 
> ini..
> > 
> > he.he.he.. kalau sastrawannya aja kaya gini, pantes aja 
> negaranya kagak karuan..he.he.he..
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > ----- Original Message ----
> > From: aris solikhah <fm_solihah@>
> > To: [email protected]
> > Cc: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; 
> [EMAIL PROTECTED]; [email protected]
> > Sent: Tuesday, January 9, 2007 2:56:43 PM
> > Subject: [ppiindia] Perlawanan Sastra Taufiq Ismail
> > 
> > Dear All,
> > 
> > Hari ini, Taufiq Ismail berbicara dihadapan
> > dosen-dosen se-IPB. Makalah yang beliau baca sama
> > dengan pidato di Taman Ismail Marzuki 15 Desember
> > 2006, yaitu berjudul : &#8216;Budaya Malu dikikis
> > Gerakan Syahwat Merdeka&#8217; . 
> > 
> > Di Recent Activity
> > 13New Members
> > Visit Your Group 
> > SPONSORED LINKS
> > Indonesia
> > Cultural diversity
> > God bless
> > Indonesian languages
> > Indonesian language course
> > Search Ads
> > Get new customers.
> > List your web site
> > in Yahoo! Search.
> > Y! Messenger
> > Group get-together
> > Host a free online
> > conference on IM.
> > Yahoo! Mail
> > Drag & drop
> > With the all-new
> > Yahoo! Mail Beta. 
> > 
> > 
> > __________________________________________________
> > Do You Yahoo!?
> > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection 
around 
> > http://mail.yahoo.com 
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ---------------------------------
> Check out the all-new Yahoo! Mail beta - Fire up a more powerful 
email and get things done faster.
> 
> ---------------------------------
> Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>



         

 
---------------------------------
Need a quick answer? Get one in minutes from people who know. Ask your question 
on Yahoo! Answers.
 
---------------------------------
Need Mail bonding?
Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke