[http://bhinneka.fsn.net] Dari Mekkah Sampai Pulau Buru
   
  Umar Said
Wed, 01 Nov 2006 22:12:22 -0800
  Tulisan ini juga disajikan dalam website 
http://perso.club-internet.fr/kontak>
 
 
  
Dari Mekkah Sampai Pulau Buru
 
Baru-baru ini telah terbit lagi satu buku yang berjudul "Dari Mekkah Sampai 
Pulau Buru", yang merupakan karya H. Suparman, seorang rekan lama saya, yaitu 
mantan pimpinan suratkabar Warta Bandung, yang dibreidel (dilarang terbit) oleh 
penguasa militer Orde Baru setelah terjadinya peristiwa G30S.
 
Terbitnya buku ini menambah khazanah perpustakaan bangsa Indonesia tentang 
hal-hal yang berkaitan dengan tragedi 65, yang merupakan peristiwa besar dalam 
sejarah bangsa kita, dengan berkuasanya rezim militer Suharto dkk, yang 
menyebabkan penderitaan berkepanjangan bagi puluhan juta orang selama puluhan 
tahun.
 
Tentang  buku ini, baik penulis maupun sejarawan Dr. Asvi Warman Adam telah 
menguraikan secara baik isi dan artinya bagi kita semua, dalam usaha kita 
bersama untuk mengenal sebagian dari sejarah bangsa kita. 
 
Buku "Dari Mekkah Sampai Pulau Buru" yang berhalaman 342 ini diterbitkan oleh 
penerbit Nuansa , Komplek Cijambe Indah, Jl. Wijaya Kusumah II/E-16, Ujung 
Berung - Bandung Timur. www.nuansabook.com.
 
A. Umar Said       
 
================                                   
   
        
Pengantar 
  (oleh penulis, H. Suparman)
 
40 Tahun sudah berlalu sejak terjadinya peristiwa 65 yang sangat mengerikan 
itu. Tetapi sampai sekarang masih belum ada penyelesaian terhadap orang-orang 
yang telah dikorbankan menjadi tumbal terbentuknya system ekonomi dunia baru 
seperti yang sekarang kita kenal sebagai imperialisme global di bawah 
kepemimpinan tunggal Amerika Serikat.
   
  Berbagai usaha dan berbagai perjuangan sudah dilakukan. Hampir semua kekuatan 
demokratis di tanah air bekerja keras selama lebih dari enam tahun untuk 
memperjuangkan adanya keadilan bagi penyelesaian apa yang disebut peristiwa 
G30S. Seminar, symposium, class action bahkan sampai diundangkannya  
Undang-Undang KKR dan dipilihnya 42 calon anggota KKR. Berbagai tulisan, 
artikel tentang peristiwa 65 itu sudah banyak diungkap di dalam berbagai media, 
baik cetak maupun elektronik dan bahkan buku yang mengangkat masalah yang sama 
sudah banyak beredar, termasuk hasil penelitian dan pembokaran kuburan masal 
korban holokaus yang dilakukan rezim orde baru, tetapi pemerintah bergeming 
dengan sikapnya yang seolah-olah mau melupakan peristiwa G30S yang dahsyat itu. 
Bahkan  pemerintah lebih mengutamakan penyelesaian damai dengan GAM yang sudah 
jelas melakukan pemberontakan terhadap pemerintah syah RI, selama belasan dan 
bahkan puluhan tahun.
   
  Dari sekian banyak artikel, tulisan dan buku-buku yang sudah terbit tentang 
peristiwa 65, penulis mencoba menambah khasanah sejarah Indonesia yang kelam 
ini dengan sebuah catatan tragedi 65 yang diberi judul "Dari Pulau Buru Sampai 
ke Tanah Suci Mekah", dengan harapan anak cucu penulis khususnya, dan generasi 
muda bangsa Indonesia pada umumnya, memahami tentang betapa dahsyatnya 
peristiwa tersebut terhadap manusia dan kemanusiaan. Tidak sedikit para korban, 
atau barangkali lebih tepatnya, para survivor, yang sampai hari ini masih tetap 
bertahan dalam penderitaan memikul beban stigma G30S, masih mengharapkan adanya 
penyelesaian politik dalam bentuk rehabilitasi dan konpensasi seperti juga yang 
diperoleh oleh bekas-bekas anggota GAM.
   
  Terbitnya buku ini melalui pergulatan batin penulis yang panjang. Sebenarnya 
naskah ini sudah ditulis sejak mulai bergulirnya gerakan reformasi tahun 1998. 
Tapi penulis masih tetap ragu antara ya dan tidak. Antara diterbitan dan tidak 
diterbitkan. Tetapi berkat dorongan sahabat-sahabat dekat yang pernah membaca 
naskah awal buku ini, terutama Ramadhan KH selalu mendesak agar naskah ini 
segera diterbitkan. Untuk itu saya mengucapkan beribu-ribu terimaskasih kepada 
beliau yang telah memberi semangat kepada saya untuk menerbitkan buku ini. 
Hanya sayangnya pada saat buku ini naik cetak, beliau telah meninggalkan kita 
untuk selama-lamanya pada hari Kamis, tanggal 16 Maret 2006, di Cape Town 
Afrika Selatan, Inalillahi Wainaillaihi Rodziun. Dari Allah kembali kepada 
Allah.
  Juga tidak lupa kepada Mas Harsutejo, seorang spesialis penulis peristiwa 
G30S, yang telah membantu mencarikan penerbit dan memberi alamat penerbit 
Nuansa Cendikia di Bandung, saya mengucapkan banyak terimakasih atas segala 
bantuan dan jerih payahnya.
  Pada awalnya buku ini diberi judul "Saksi Bisu dari Pulau Buru". Tapi setelah 
Dr. Asvi Warman Adam, seorang Peneliti Utama LIPPI membaca naskah buku ini, 
beliau menyarankan agar naskah tersebut dilanjutkan dengan pengalaman batin 
hidup penulis sesudah dibebaskan, maka buku ini akhirnya diberi judul "Dari 
Pulau Buru sampai ke Tanah Suci Mekah", sesuai dengan anjuran dan saran beliau. 
Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Dr. Asvi 
Warman Adam yang telah memperkuat spirit perjuangan hidup saya untuk 
memanfaatkan sisa hidup ini bagi kepentingan generasi muda dan bangsa Indonesia 
yang kita cintai ini. 
            
Kepada penerbit juga tidak lupa saya mengucapkan terimaksih sebesar-besarnya, 
karena ternyata untuk menerbitkan buku yang berkaitan dengan G30S tidak mudah. 
Sebelumnya penulis sudah berkeliling dari satu penerbit ke penerbit lain, tapi 
hanya penerbit Nuasa Cendekialah yang dengan spontan menerima naskah tersebut 
untuk diterbitkan.Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya 
kepada penerbit Nuansa Cendikia, khususnya kepada Bapak Mathori. Dan last but 
not least, buku ini tentu saja jauh daripada sempurna. Masih banyak kekurangan 
dan kelemahan, baik dari segi teknis redaksionilnya maupun dari segi bobot 
isinya. Dan yang pasti buku ini akan berbeda dari versi buku-buku sejenis 
lainnya, karena. buku ini merupakan catatan bathin penulis yang tentu saja akan 
berbeda pengalaman dan persepsinya terhadap setiap masalah yang dialaminya. 
Untuk itu penulis mohon maaf sebesar-besarnya.
   
  Penulis  
   
  ===========
  
Pak Haji dari Pulau Buru
 
Oleh Asvi Warman Adam
  
Saya memiliki beberapa buku dan kumpulan karangan mengenai pengalaman tahanan 
politik di pulau Buru. Ketika pertama kali menerima naskah Suparman Amirsyah, 
Pemimpin Umum suratkabar Warta Bandung sampai tahun 1965 dan membacanya, saya 
merasa bahwa pengalamannya tidak berbeda dengan tapol lain.
   
  Pulau Buru adalah Goulag, tempat pembuangan sekaligus penyiksaan. Ketika 
Belanda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 membuang para pemimpin 
pergerakan ke tempat-tempat yang jauh di Nusantara ini, mereka hanya dikucilkan 
tetapi tidak disiksa secara fisik. 
   
  Namun ketika lebih dari 10.000 orang yang dikategorikan sebagai tapol 
peristiwa 1965 golongan B diangkut dari tempat-tempat penahanan di pulau Jawa 
tahun 1969 (dua tahun  sebelum pemilu tahun 1971), mereka tidak tahu mau dibawa 
ke mana. Ketika akhirnya sampai di sebuah pulau di Maluku mereka juga tidak 
tahu akan berada di sana sampai kapan. Setelah sekitar 10 tahun disiksa dan 
disuruh melakukan kerja paksa, tahun 1978-1979 mereka dipulangkan kembali ke 
pulau Jawa atas tekanan internasional terutama negara pemberi utang Indonesia. 
Kepulangan ini bukan berarti bahwa persoalan mereka telah selesai. Keretakan 
bahkan pecahnya keluarga tidak jarang terjadi selain dari kesulitan mencari 
pekerjaan yang diringi stigmatisasi buruk untuk  mereka dan keluarga. 
  Apalagi selain dari tragedi kemanusiaan yang bisa diperoleh dari kisah ini. 
Oleh sebab itu saya usulkan kepada penulisnya agar menambahkan pengalaman 
selepas dari pulau Buru. Menurut hemat saya ini tidak kalah tragisnya. Saya 
pernah membaca kisah Buntoro seorang prajurit Cakbirawa dalam sebuah bunga 
rampai tentang korban 65. 

  Setelah buku tersebut diluncurkan di Teater Utan Kayu, Jakarta, saya menerima 
dari Buntoro sendiri sebuah transkrip wawancara yang pernah dilakukan terhadap 
dia. Ternyata transkrip itu memberikan gambaran betapa tertutup segala pintu 
bagi orang yang telah diberi stigma.

  Beberapa kali ia mendapat pekerjaan dengan susah payah yang berakhir dengan 
pemecatan setelah diketahui atasannya bahwa ia pernah "terlibat". Sekarang ia 
menjadi satpam di sebuah rumah sakit swasta di Jabotabek. Sayang pengalaman 
pahit tersebut tidak termuat dalam buku yang telah terbit itu. 
   
  Pak Suparman menyanggupi untuk melengkapi pengalaman pasca Buru yang ternyata 
tidak kalah beratnya. Sebagai mantan wartawan senior ia dapat mengerjakan 
tulisan itu dalam waktu relatif singkat. Dengan memberikan les bahasa Inggris, 
Perancis dan komputer akhirnya setelah melalui perjuangan yang tidak kenal 
menyerah, bersama seorang rekannya ia berhasil mendirikan sekolah sendiri di 
Tasikmalaya. Ia tidak memiliki latar belakang linguistik dan pendidikan kecuali 
publisistik, tetapi terpaksa harus mengajar bahasa Inggris. Hanya lowongan 
sejenis itu yang mungkin bagi seorang yang dicap kiri era Orde baru. Ternyata 
ia memiliki metode pengajaran bahasa yang ampuh. Prinsipnya, "belajar bicara 
adalah pelajaran yang paling mudah selama Anda tidak gagu". Ia teringat ketika 
masuk HIS dahulu. Tidak bisa berbahasa Belanda sama sekali, tetapi karena tiap 
hari mendengar dan menirukan terus menerus, maka secara otomatis ia bisa 
mengucapkannya dengan baik dan benar, hanya dalam tempo
 beberapa bulan. Cara anak-anak usia 2-3 tahun belajar bicara adalah contoh 
kongkret bagi mereka yang mau menguasai bicara bahasa asing apa pun.
   
  Dengan pertimbangan itulah maka di kelas ia tidak pernah mengajarkan tata 
bahasa. Mereka "dipaksa" untuk menirukan dan mengulanginya berkali-kali dengan 
suara keras kalimat-kalimat Inggris sesuai dengan tahapan yang diajarkannya. 
"Substitution drill" ini diberikan sampai kalimat-kalimat itu dihafal di luar 
kepala dan dikuasai. Dengan demikian mereka secara otomatis bisa mengucapkan 
kembali semua kalimat Inggris yang sudah tersimpan dalam memorinya secara 
otomatis. Bicara dahulu, baru diajarkan tata bahasanya, itulah pedoman Suparman 
mengajar Inggris.
   
  Dalam hubungan ini Suparman teringat kepada sobekan majalah "Reader Digest" 
tahun 1970-an yang ditemukannya di kamp penahanan Kebon Waru Bandung. Pada 
kertas sobekan itu terdapat ungkapan linguis Amerika Robert Lado yang 
mengatakan "Otak manusia bisa merekam sesuatu yang baru setelah ia 
mengucapkannya  keras-keras selama 30 kali berulang-ulang". Bagi kaum muslimin 
barangkali hal ini bukan hal yang baru atau luar biasa, tapi sudah menjadi 
kewajiban setiap hari pada saat sholat 5 waktu. Nabi Muhamad s.a.w. mengajarkan 
wirid sejak abad ke-7, diucapkannya 33 kali dengan suara yang keras. Luar 
biasa. Ternyata beliau bukan hanya seorang Rasul tetapi juga seorang paedagog 
yang agung. 
   
  Dengan metode "drilling" kalimat demi kalimat, ternyata pengajaran bahasa 
asing berhasil dan bisa memukau para siswa. Sejak itu peserta didik Suparman 
semakin banyak. Bukan hanya perorangan, bukan lagi anak-anak sekolah atau 
mahasiswa, tapi juga orang-orang dewasa. Banyak di antaranya sarjana. Kemudian 
meningkat berbentuk permintaan mengajar dari instansi, antara lain dari PT 
Nurtanio, kemudian berganti nama jadi PT Dirgantara Indonesia, yang salah satu 
divisinya mengontraknya mengajar di sana. Mula-mula perorangan yaitu Bosnya. 
Mungkin ia merasa tertarik dan merasa berhasil menguasai bahasa Inggris dengan 
lancar dan cepat, ia minta mengajar stafnya juga, selanjutnya insinyur-insinyur 
lain. Sebagian sarjana-sarjana teknik Nurtanio lulusan Jerman. Bahasa 
Inggrisnya kurang fasih terutama mereka yang baru pulang dari Jerman.
   
  Dalam selang beberapa waktu, Suparman juga diminta mengajar oleh PT 
Mercubuana, milik konglomerat Probosutejo. Pada tahun 1981, P.T. Mercubuana 
mendapat proyek membangun bendungan PLTA Saguling bekerjasama dengan perusahaan 
Perancis Dumez. Sebagian mitra kerjanya orang-orang Perancis, sementara 
mayoritas insinyur kita tidak atau belum menguasai bahasa Perancis. Oleh karena 
itu, mereka mengontrak Suparman untuk mengajar mereka berbicara Perancis. 
Setiap hari Selasa ia dijemput dan bekerja tiga malam, mulai malam Rabu sampai 
malam Jumat di Saguling.
   
  Di proyek itu Suparman ditempatkan di sebuah Base Camp yang fasilitasnya sama 
dengan orang-orang Perancis. Ini bagaikan "surga" untuknya yang baru pulang 
dari pembuangan. Biasanya tidur di mana saja, kalau perlu di kolong langit 
dengan selimut kabut dan udara malam yang menyengat dan menjadi mangsa nyamuk 
ganas atau di gubug-gubug gedek tanpa alas, kedinginan, sekarang tinggal di 
sebuah tempat dengan fasilitas internasional dan makanan internasional dan last 
but not least bayarannya juga internasional. Alangkah senangnya.
   
  Ini semua berkat ketekunan, keuletan dan  kesungguhan dalam menjalani hidup. 
Menurut Suparman ia mencoba memadukan IQ (Intelligence Quotient) dengan EQ 
(Experimental Quotient). Yaitu memadukan kecerdasan intelegensia dengan 
kecerdasan pengalaman yang menurut Seymour menjadi alat berpikir konstruktif 
(constructive thinking).  Dengan memadukan kedua kecerdasaan tersebut itu 
ternyata berbagai persoalan pengajaran bisa terpecahkan walaupun ia bukan 
berlatar belakang pendidikan bahasa asing.
   
  Dengan demikian penghasilannya semakin bertambah. Anak-anak tercukupi 
kebutuhannya. Selain itu ia bisa mengangsur pinjaman kepada serorang dosen yang 
baik budi dengan ikhlas memberi pinjaman tanpa bunga untuk membangun rumah. 
Setahun kemudian, tepatnya bulan April 1980 rumah itu selesai. Hutang lunas. 
Dan mereka sekeluarga  boyong pindah ke rumah yang baru. Berukuran relatif 
besar, 10 X 20 meter persegi, 3 kamar tidur, kamar pembantu, dua kamar mandi, 
dapur dan ruang tamu, ruang makan yang luas. Terletak di Gegerkalong Girang, 
kira-kira limaratus meter sebelah Barat Pondoknya Aa Gym. Cukuplah buat seorang 
bekas tapol yang baru meretas hidup baru. Alhamdulillah dalam tempo satu tahun 
lebih sedikit kami sudah mengisi rumah sendiri. Ini merupakan prestasi 
tersendiri. Sementara masih banyak teman-teman yang hidupnya masih belum 
menentu. Mereka masih terlunta-lunta dari satu kantor ke kantor lain atau dari 
satu pabrik ke pabrik lain untuk mencari pekerjaan. Semuanya tertutup
 bagi bekas tapol yang betul-betul menjadi pecundang dari keganasan sistem 
zalim rezim Soeharto yang menjadi budak ekonomi global alias kapitalisme pasar 
yang sangat kejam.
   
  Beberapa tahun kemudian, usahanya dalam bidang pendidikan berkembang baik 
terutama setelah ia hijrah dari Bandung ke Tasikmalaya. Aparat keamanan yang 
mencoba memeriksa Suparman memperoleh penjelasan yang masuk akal bahwa ia hanya 
ingin berusaha mengembangkan ketrampilan masyarakat bukan untuk berpolitik. Ia 
kemudian sempat menunaikan rukun Islam yang kelima yaitu naik Haji ke Mekkah. 
Berarti melalui perjalanan hidupnya ini, Haji Suparman telah memadukan antara 
IQ, EQ dan SQ (Spiritual Quotient). Perjalanan ke tanah suci Mekkah baginya 
merupakan perjalanan menembus tirai kebesaran Ilahi. Selain dari ketakjuban 
akan kebesaran yang Maha Kuasa, ia memaknai ritual itu dengan nuansa ideologis. 
"Bagi saya, kepergian saya bersama istri saya tercinta, melaksanakan ibadah 
haji mempunyai makna yang lain, makna yang agung, yang tak pernah disadari 
sebelumnya, yaitu kesadaran apa yang kami lakukan selama ini, termasuk selama 
kami dikucilkan, dipenjarakan dan dibuang ke pulau Buru
 oleh pemerintah zalim rezim Soeharto, hanya karena kami menginginkan, 
merindukan terciptanya sebuah masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, aman dan 
damai tanpa ada perbedaan strata sosial, tanpa ada kekerasan dan tanpa ada 
diskriminasi. Semua sama, sama  seperti di hadapan Allah Subhanahu Wataala."
   
  "Dengan kekuasaan Allah dan ihtiar manusia yang terus menerus, tak 
henti-hentinya, dengan segala penderitaan dan kesabaran, serta ketawakalan, 
pada suatu saat kelak, akan terciptalah di atas bumi ini suatu masyarakat yang 
damai, yang adil dan yang sejahtera, yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. 
Amien Ya Robbul Alamin. Allahu Akbar."
  Membaca kisah Haji Suparman ini saya teringat kepada Haji Misbach tokoh 
pergerakan kiri pada awal abad ini. Juga para haji yang berontak tahun 
1926/1927 di Silungkang dan Sawahlunto melawan pemerintah penjajah Belanda. 
Saya pernah mengusulkan kepada penulisnya agar buku ini juga diantar oleh 
seorang tokoh Islam. Usulan itu dipenuhi, Cecep Zamzam Noor seorang sastrawan 
dan juga ulama dari Cipasung telah menggoreskan sambutannya yang menyeyukkan 
hati. Ia menilai apa yang dilakukan ini sebagai rekonsiliasi kultural. Tidak 
adanya gunanya melanjutkan dan mewariskan dendam. Memang, bangsa kita harus 
berdamai dengan sejarah. 
   
  ***  
 

  Pondok Gede, 13 September 2006   



      
http://www.geocities.com/herilatief/
  [EMAIL PROTECTED]
  http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 
  Informasi tentang KUDETA 65/Coup d'etat '65 
Klik: http://www.progind.net/   

   




 
---------------------------------
Want to start your own business? Learn how on Yahoo! Small Business.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke