-percuma kang HAP sampean kasih wawasan segitu banyak kan orang orang itu wawasanya cetek ,jangan jangan gak tau ttg Negeri Belada
-- In [email protected], "Yap Hong Gie" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > ----- Original Message ----- > Sent: Thursday, February 08, 2007 3:14 PM > Subject: [sman4jkt] Fw: [Petrochina Moslem] Fw: Angin Goreng Sutiyoso > > Den Haag - Banjir karena siklus lima tahunan? Ah, Gubernur Sutiyoso sedang > jualan angin goreng. > Kok warga Jakarta mau melahapnya begitu saja. > > "Yang terjadi kali ini adalah banjir siklus lima tahunan," (Sutiyoso, > 4/2/2007). > > Warga Jakarta, yang dirugikan harta, benda, kehidupan sosial dan psikisnya, > kok diam saja? > Coba periksa statistik sejarah, apa betul ada siklus lima tahunan banjir > bandang menenggelamkan Jakarta? Sejak kapan? > > Menyimak pernyataan Sutiyoso dan tayangan tangis-derita warga Jakarta di > NOS, VRT Belgia dan CNN, saya langsung meraih pena. Warga Jakarta, bicaralah > dan ambillah sikap. > Pernyataan ini kata ungkapan Belanda: Gebakken Lucht. Secara harfiah "angin > goreng" alias omong kosong, atau menurut bahasa kampungnya Sutiyoso > (Semarang): nggedebus. > > Mengapa Sutiyoso tidak secara ksatria mengatakan, "Maaf saudara- saudara, > kami telah keliru membuat kebijakan tata kota, sehingga saudara menanggung > derita dan kerugian tiada terkira?" > > Jawabnya simpel saja: kalau Sutiyoso jujur seperti itu dan pasang badan > memikul tanggung jawabnya, maka itu sama saja harakiri. Padahal kabar burung > mengatakan bahwa dia masih berambisi jadi presiden. Bisa wassalam dia. > > Tenggelamnya Jakarta itu lebih disebabkan oleh kombinasi moral hazzard, > disintegritas dan inkompetensi pejabat DKI, dengan penanggungjawab akhir: > gubernur, dari sejak sebelum Sutiyoso. Dan soal siklus lima tahunan itu > Sutiyoso ada benarnya. Setiap ada pergantian gubernur, pelenyapan daerah > hijau dan resapan air selalu terulang. > > Berapa kali sudah Perda tentang Tata Ruang dilanggar, ribuan hektar daerah > hijau dan resapan air dikorbankan dan disulap menjadi beton- beton "penampung > air"? Jika dibandingkan dengan masterplan tata ruang warisan Belanda, yang > sudah ratusan tahun berpengalaman mengatur Jakarta, berapa besar sudah yang > diacak-acak? > > Adalah lucu menangani kawasan ibukota yang begitu luas dan letaknya rendah > dengan hanya meributkan Banjir Kanal Timur (BKT), seolah-olah ini > satu-satunya jawaban mengatasi banjir. Simpul masalah utama adalah ketiadaan > daerah resapan karena telah berubah jadi beton. Sehingga setiap hujan, > Jakarta menjadi kolam beton terbesar di dunia, menenggelamkan semuanya. > > Sekiranya daerah resapan mencukupi, air akan cepat reda, merembes ke tanah. > Baru kelebihannya akan mengalir di atas permukaan tanah, mencari > kanal-kanal. > Kanal-kanal itu, kalau dilihat di Belanda, fungsinya sekunder, sebagai > saluran akhir dari luapan curah hujan. Sudah daerah resapan air tiada, > kanal-kanal di Jakarta tidak dirawat pula. Ya, banjirlah. > > Sutiyoso rupanya tidak sendirian dalam jualan angin goreng. Menteri PU Djoko > Kirmanto, mengutip Menristek, juga sami mawon dengan bungkus terkesan > ilmiah, "...return period banjir kali ini 30 tahun," Aduh! > Sudah begitu, bulan purnama disalahkan juga. "Bulan purnama menjadi salah > satu penyebab." > > Karena bangsa Indonesia adalah bangsa beragama, maka kalau bulan purnama > ikut menjadi penyebab, ya ini artinya juga kesalahan Tuhan. Enak nian > pejabat Indonesia tinggal menyalahkan alam dan Tuhan. Lalu apa gunanya akal > dan segala sumber daya yang sudah dikaruniakan? Apa pula gunanya ilmu yang > disandang? > Seharusnya semua fenomena alam itu dikenali, dikendalikan dan ditundukkan, > dengan perencanaan dan pembangunan yang baik. > > Negeri Belanda itu letaknya rendah di muara Laut Utara dan sekitar 60% > wilayahnya berada di bawah permukaan > laut. "Negeri" ini bisa dihuni berkat tanggul-tanggul dan kanal- kanal. > Bandara Schiphol itu berada -3m dapl. > Tapi meskipun hujan badai mengamuk, air laut pasang, Schiphol tidak > tenggelam. > > Kecelakaan pernah sekali terjadi di 1953. Tanggul Zeeland jebol, > mengakibatkan separuh wilayah Belanda tenggelam, 1.836 orang tewas, ribuan > lainnya mengungsi. > Sebenarnya sejak 1920 DPU-nya Belanda sudah mendeteksi ada kelemahan di > tanggul itu, namun kabinet saat itu lebih memprioritaskan pembangunan > tanggul Botlek, Brielse Maas (1950) dan Braakman (1952). Ini menunjukkan, > tanpa kendali manusia Belanda tiada. > > Lain cerita negeri orang, lain cerita kita. Ketika hari cerah, para pemimpin > kita berpolah, melanglang buana bak raja diraja dari negeri dongeng. Uang > dihamburkan, salah prioritas, keliru penggunaan. Siapa mengurusi kanal dan > kali? Berapa kali dalam periode kali dikeruk? Siapa menjatuhkan sanksi kalau > sampah dibuang sesuka hati? > > Kini? Gambar-gambar televisi internasional menjadi karikatur yang > menyedihkan: Jakarta seperti kampung Indian di muara Amazone. Presiden, > gubernur seolah tidak becus mengurus secuil Jakarta. Dan lagi-lagi kita > menengadahkan tangan menerima uluran bantuan. > > Salah siapa? Masihkah menyalahkan bulan dan Tuhan ataukah ini semua > akumulasi dari kebobrokan dan ketidakbecusan pejabat kita? (es/es) > > > ********************************************************************** > For information, services and offers, please visit our web site: > http://www.klm.com. This e-mail and any attachment may contain confidential > and privileged material intended for the addressee only. If you are not the > addressee, you are notified that no part of the e-mail or any attachment may > be disclosed, copied or distributed, and that any other action related to > this e-mail or attachment is strictly prohibited, and may be unlawful. If > you have received this e-mail by error, please notify the sender immediately > by return e-mail, and delete this message. Koninklijke Luchtvaart > Maatschappij NV (KLM), its subsidiaries and/or its employees shall not be > liable for the incorrect or incomplete transmission of this e-mail or any > attachments, nor responsible for any delay in receipt. > Koninklijke Luchtvaart Maatschappij N.V. (also known as KLM Royal Dutch > Airlines) is registered in Amstelveen, The Netherlands, with registered > number 33014286 > ********************************************************************** >

