Jika informasi ini dirasa bermanfaat, mohon dapat diteruskan. 
  Terima kasih dan selamat berakhir pekan.
   
  Salam Hangat,
   
  Pan Mohamad Faiz
  PPI India
   
  Informasi Pendidikan oleh PPI India:
  # http://ppiindia.wordpress.com
   
  =========
  LAMPIRAN
  =========
   
  Sumber: 
http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL30&vnw_lang_id=2&ptopik=A57&cdate=12-APR-2007&inw_id=519077
                      
  

          Opini    Kamis, 12/04/2007         Bercermin pada mutu pendidikan 
India       
  Oleh Ragimun*
     Permasalahan pendidikan di hampir semua negara berkembang umumnya sama, 
mulai dari persoalan biaya sekolah, buta huruf, putus sekolah, kurikulum hingga 
anggaran pendidikan.   Akan tetapi, semua bisa berubah asalkan pemerintah dan 
semua unsur terkait berkomitmen kuat untuk memajukan pendidikan di negara 
mereka masing-masing.       Tengok saja pendidikan di India. Secara fisik, 
bangunan maupun infrastruktur pendidikan tinggi di negeri itu sungguh 
memprihatinkan. Bangunan kusam, berdebu, terkesan semrawut. Juga sering kita 
temui tumpukan sampah atau puing berserakan di pinggir jalan atau gang.       
Tapi jangan ditanya soal mutu pendidikan tinggi negara berpenduduk hampir 1,2 
miliar ini. Banyak perguruan tinggi di India sudah memiliki reputasi 
internasional, tidak kalah dengan perguruan tinggi di Australia, Inggris, 
maupun Amerika Serikat (AS).       Beberapa bidang yang menonjol a.l. 
kedokteran, teknologi informasi (TI), teknik dan manajemen. Beberapa institut 
di sana
 sudah menerapkan kurikulum dan metode proses belajar mengajar seperti halnya 
model Harvard.       Banyak pula lulusan perguruan tinggi dari India laku keras 
di beberapa negara Eropa maupun AS. Perusahaan sekaliber Microsoft sendiri 
sudah percaya dan banyak memakai lulusan perguruan tinggi dari India. Banyak 
dokter bekerja di berbagai belahan dunia seperti AS dan Inggris.       Begitu 
juga ahli teknik banyak tersebar di berbagai negara asing. Di Kota Dubai atau 
Singapura banyak pula dijumpai lulusan perguruan tinggi dari India, dan ada 
ilmuwan maupun dosen yang mengajar di berbagai negara maju. Kita masih ingat 
beberapa ilmuwan terkenal seperti pemenang nobel bidang ekonomi Amartya Sen. 
Demikian juga bidang fisika yaitu Subrawanian dan Cancrashekar Venkantaraman, 
di bidang kedokteran kita kenal Hargobind Khorana. Bidang sastra, Rabindranath 
Tagore. Dan tidak lupa pemenang Nobel Perdamaian Bunda Theresa.       Biaya 
murah       Pendidikan tinggi di India relatif murah. Untuk
 mengambil master ilmu sosial misalnya, hanya butuh 30.000 rupees per tahun 
(sekitar Rp6 juta-an). Faktor pendukung lainnya adalah penerapan bahasa Inggris 
sebagai bahasa pengantar di hampir seluruh perguruan tinggi di India. Hal ini 
juga punya andil dalam peningkatan mutu perguruan tinggi di negeri Mahatma 
Gandhi ini. Maka tidak heran lulusannya pun sudah tidak canggung lagi masuk ke 
pasar global.       Pada intinya, India lebih mementingkan isi (content) 
dibandingkan penampilan dan performa sebuah perguruan tinggi. Rata-rata dosen 
mereka sudah menyandang doktor. Banyak dari mereka merupakan lulusan AS dan 
Eropa. Jarang kita temui seorang profesor mewakilkan kepada asistennya untuk 
mengajar, mereka benar-benar profesional.       Akses dengan dosen juga sangat 
mudah. Jarang kita temui dosen yang ngobjek ke sana kemari. Perpustakaan 
lengkap, banyak hasil riset, buku murah, dan metode dialogis merupakan metode 
yang jamak diterapkan di sana. Mahasiswa di sana sudah terbiasa
 berkompetisi.       Kondisi pendidikan di India sangat jauh berbeda dengan 
kampus-kampus di Tanah Air. Kampus yang berdiri megah yang terkadang full AC, 
dengan tempat parkir yang luas dan sederet mobil kinclong, ditambah dengan 
aroma mahasiswa yang bergaya metropolis. Tapi fasilitas fisik yang mentereng 
itu tidak diimbangi dengan mutu yang memuaskan. Lalu, apa yang salah dalam 
sistem pendidikan kita?       Kita cenderung lebih mementingkan penampilan 
daripada isi. Ini berbeda 180 derajat dengan India yang justru lebih 
mementingkan isi daripada penampilan. Jika kita analogikan sebagai sebuah 
rumah, sudah saatnya Indonesia melengkapi perabot atau isi rumah ketimbang 
disibukkan dengan pengecatan penampilan rumah itu sendiri.       Sebenarnya 
pemerintah telah bertekad untuk meningkatkan mutu pendidikan dan 
menyejajarkannya dengan negara lain. Itu bisa dibuktikan dengan peningkatan 
anggaran pendidikan dalam APBN, yang untuk tahun ini mencapai Rp44 triliun.     
  Akan tetapi,
 peningkatan anggaran pendidikan tersebut tidak diikuti dengan kesiapan dunia 
pendidikan itu sendiri. Apalagi birokrat pendidikan kita tidak bisa 
mengoptimalkannya, asal sekadar habis anggaran.       Perbaiki diri       Sudah 
saatnya Indonesia melakukan langkah nyata dalam menghadapi era pendidikan 
bertaraf global guna menutup ketertinggalan. Perlu dikaji penerapan bahasa 
Inggris sebagai bahasa pengantar di perguruan tinggi kita. Berapa banyak 
lulusan kita yang pintar, namun lemah dalam penguasaan bahasa asing, khususnya 
Inggris. Meski demikian, kita tidak perlu meninggalkan bahasa Indonesia sebagai 
bahasa patriotik kita.       Tidak heran jika banyak orang tua yang lebih suka 
menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri.       Masalah mendasar pendidikan 
kita adalah inkonsistensi antara perencanaan dan pelaksanaan di lapangan. 
Pemerintah seharusnya benar-benar berkomitmen untuk membawa dunia pendidikan 
kita lebih maju dengan mengerahkan segala potensinya, di mana salah
 satunya bisa diukur dari peningkatan anggaran tadi.       Mutu pendidikan yang 
berkelanjutan harus terus ditingkatkan seiring dinamika dan perubahan eksternal 
serta cepatnya tuntutan kebutuhan dunia usaha. Bongkar pasang kurikulum, 
sasaran, metode karena pergantian menteri mestinya tidak terjadi lagi, sehingga 
tidak terjadi opportunity lost yang terlalu panjang.       Akhirnya, sudah 
waktunya pemerintah sebagai regulator beserta segenap elemen masyarakat untuk 
bahu-membahu, serius dan komitmen tinggi untuk membawa pendidikan kita ke arah 
yang lebih maju. Untuk mewujudkannya kita harus berani dan mau belajar dari 
negara mana pun yang lebih maju, termasuk India tentunya.       * Mahasiswa 
pada Post Graduate Programme in International Management, International 
Management Institute, New Delhi, India.
   








































                
  Tulisan Terkait lainnya:
  Oleh: Fatimah Zahra (Mahasiswi IAIN Medan), dkk.
   
  "Sebuah Catatan Hasil Studi Banding Mahasiswa Indonesia":
  # 
http://jurnalhukum.blogspot.com/2007/03/meneropong-sistem-pendidikan-di-india.html


       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke