ggggggghhh....
saya ga kuat ngebaca nya... hiks.. :((

On 5/10/07, aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Pertama, bagaimana pun tak ada seorang pun, rela orang yang dicintainya
> (apalagi baek banget dan tak bersalah) dibunuh penjahat.
>
> Kedua, bagaimana pun tak seorang pun, rela, penjahat yang membunuh orang
> yang dicintai hidup bebas tanpa diadili. Dimana keadilan? Berapa liter air
> mata yang harus ditumpahkan? Keadilan tidak ada. Ayahnya orang biasa. Bukan
> sosok seperti Munir atau istrinya Munir yang bisa mendapatkan ganti (diyat)
> sekitar 600 juta.
>
> Ketiga, pantaskan anak seperti dia dihukum?Apakah ia salah?
>
> Keempat, anak yang belum baligh, tidak berhak dan tidak layak, menanggung
> semua dosa dan kejahatan yang ia perbuat. Kesalahan itu ditanggung oleh wali
> (ortu dan keluarganya). Hanya saja, apakah benar-benar anak yang belum
> baligh itu melakukan dosa, kesalahan dan kejahatan? Kembali poin 1 dan 2.
> Keadilan tidak ada. Keadilan versi siapa? Keadilan versi istri penjahat,
> pasti dia minta dibebaskan? Keadilan versi bocah 8 tahunan itu? Untuk
> meresapi keadilan sejati pun, kita tak mampu.
>
> Bingung kan jadi-nya?
>
> Listy <[EMAIL PROTECTED] <listy%40sucofindo.co.id>> wrote:
>
>
> mudah2an gak cuma rasya yang jadi perhatian KPAI ....
>
> _____
>
> From:
> Sent:
> To:
> Subject: Ada pembunuh lari dari penjara menggunakan tape uli...
>
> _____
>
> Duuh.. Kasihan sekali ini anak dibawah umur kok dibiarkan ada dalam
> penjara. Mungkin ada ahli hukum disini yang bisa menerangkan.
>
> Kalau tidak salah sich anak ini harus dilindungi karena kasusnya
> spesial. Kasihan.. salah penanganan menghancurkan masa depannya.
>
> Mengingat inteligensianya juga tinggi jika diarahkan yang benar
> kemungkinan besar dia bisa sangat berguna bagi nusa bangsa untuk hal
> yang lebih positif dimasa datang
>
> Prihatin
>
> Ceritanya bikin terharu deh.... <http://www.postsmile.com/>
>
> Ada pembunuh lari dari penjara menggunakan tape uli...
> <http://rgardino.multiply.com/journal/item/28>
> Posted by Reza <http://rgardino.multiply.com/> on Apr 23, '07
> 10:10 PM for everyone
>
> Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian
> Kriminal di LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya
> ngobrol langsung dengan seseorang yang didakwa kasus pembunuhan
> berencana. Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya melayang-layang
> mengira-ngira gambaran orang yang akan saya temui. Sudah terbayang muka
> keji hanibal lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu ala
> sinetron, dan gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yang
> sering saya temui di cerita TV.
>
> Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap
> cemas, salah satu sipir membawa seorang anak kehadapan saya.Yup, benar
> seorang anak berumur 8 tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang
> dewasa dengan wajah yang diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan
> gerak-gerik yang sopan.
>
> Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu.
> Sebelum masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya,
> juara menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan azan di tingkat
> kanak-kanak. Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik
> sekolah di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar
> tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh? Dengan rencana pula?
>
> Kasus ini terjadi ketika Arif sebut saja nama anak ini begitu,
> belum genap berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar
> di daerah bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu.
> Latar belakangnya karena si ayah enggan membayar uang 'keamanan' yang
> begitu tinggi. Berita ini rupanya sampai di telinga Arif. Malam esok
> harinya setelah ayahnya dikebumikan ia mendatangi tempat mangkal preman
> tersebut. Bermodalkan pisau dapur ia menantang orang yang membunuh
> ayahnya.
>
> "siapa yang bunuh ayah saya!" teriaknya kepada orang yang ada di
> tempat itu.
>
> "Gue terus kenapa?" ujar kepala preman yang membunuh ayahnya
> sambil disambut gelak tawa di belakangnya.
>
> Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan
> pisau ke perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan
> besar itu jatuh tersungkur ke tanah. Arif pun langsung lari pulang ke
> rumah setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia
> digelandang ke kantor polisi.
>
> "Arif nih sering bikin repot petugas di Lapas!" ujar kepala
> lapas yang ikut menemani saya mewawancarai arif sambil tersenyum.
> Ternyata sejak di penjara dua tahun lalu. Anak ini sudah tiga kali
> melarikan diri dari selnya. Dan caranya pun menurut saya tergolong
> ajaib.
>
> Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan
> siapapun. Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil
> kebersihan. Sadar akan hal ini, diam-diam Arif menyelinap ke dalam salah
> satu kantung sampah. Hasilnya 1-0 untuk Arif. Ia berhasil keluar dari
> penjara.
>
> Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini
> pernah membaca artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh waktu
> wawancara usianya baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa
> tape mengandung hawa panas yang bersifat destruktif terhadap benda
> keras. Kebetulan pula di Lapas anak ini disediakan tape uli dua kali
> dalam seminggu. Setiap disediakan tape, arif selalu berpuasa karena
> jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel tahanannya. Hasilnya
> setelah empat bulan, tembok penjara itu menjadi lunak seperti tanah
> liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya. 2-0 untuk arif. Ia keluar
> penjara ke dua kalinya.
>
> Pelarian ke tiganya dilakukan ala Mission Imposible. Arif yang
> ditugasi membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi.
> Besi yang berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpannya di dalam
> kamarnya. Tahu bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Arif memilih
> tempat persembunyian paling aman sebelum memutuskan untuk kabur. Ruang
> kepala Lapas menjadi pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah
> satu pun penjaga berani memeriksa ruangan ini. Ketika tengah malam ia
> menyelinap keluar dengan menggunakan besi pegangan ember untuk membuka
> pintu dan gembok. Jangan tanya saya bagaimana caranya, pokoknya
> tahu-tahu ia sudah di luar. 3-0 untuk Arif.
>
> Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu
> masih berada di sebuah kepala bocah. Pelarian-pelariannya didorong dari
> rasa kangennya terhadap ibunya. Anak ini keluar dari penjara hanya untuk
> ke rumah sang ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia
> menumpang-numpang mobil omprengan dan juga berjalan kaki sekian
> kilometer dengan satu tujuan, pulang!
>
> Karena itu pula pada pelarian Arif yang ketiga, kepala Lapas
> yang juga seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera
> menjemput Arif. Hasilnya dua hari kemudian Arif kembali lagi ke lapas
> sambil membawa surat untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.
>
> Ibu kepala Arif minta maaf, tapi Arif kangen sama ibu Arif.
> Tulisnya singkat.
>
> Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara. Tapi, saya
> tidak lantas berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus
> dibebaskan. Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang.
> Tapi saya hanya berandai-andai jika saja, polisi bertindak cepat
> menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap si Arif) pastinya
> saat ini anak pintar dan rajin itu tidak akan berada di tempat seperti
> ini. Dan kreativitasnya yang tinggi itu bisa berguna untuk hal yang
> lain. Sayangnya si Arif itu cuma anak pedagang sayur miskin sementara si
> preman yang dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib
> setempat. Itulah yang namanya keadilan!
>
> _____
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> Kemajuan mustahil terjadi tanpa perubahan. Dan, mereka yang tak bisa
> mengubah pemikirannya tak bisa mengubah apa pun. (George Bernard Shaw,
> 1856-1950)
> pustaka tani
> prohumasi
> nuraulia
>
> ---------------------------------
> Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
> Check outnew cars at Yahoo! Autos.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke