http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0708/25/011446.htm
*Parkinson: Ketika Otak Kehilangan Pelumas* Penyakit parkinson ditandai oleh gejala-gejala kelainan motorik berupa gerakan bergetar, kaku, dan lamban serta gangguan stabilitas tubuh. Pada stadium lanjut akan terjadi kelumpuhan sehingga orang awam sering salah menduga sebagai stroke. Menurut pengajar pada Departemen Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Andradi Suryamiharja, penyakit parkinson adalah penyakit neurodegeneratif yang bersifat kronis dan progresif akibat berkurangnya dopamin dalam otak. Gangguan ini akibat degenerasi sel-sel saraf yang memproduksi dopamin di bagian otak yang disebut substantia nigra. Dopamin berfungsi untuk memperhalus gerakan motorik, layaknya pelumas pada mesin. Gejala parkinson baru timbul jika jumlah sel saraf yang rusak mencapai sekitar 80 persen. Penyakit ini pertama kali dideskripsikan oleh James Parkinson tahun 1817 dalam publikasinya the Essay on the Shaking Palsy. Gangguan ini dinamakan juga paralysis agitans oleh Marshall Hall pada tahun 1841. Pada awalnya, karena ringan, gejala parkinson tidak disadari oleh penderita ataupun orang terdekatnya. Manifestasinya bisa berupa tremor (bergetar) ringan pada tangan dan anggota tubuh lain, serta berkurangnya ayunan lengan waktu berjalan. Pada perjalanan penyakit, volume suara penderita mengecil, kegiatan sehari-hari seperti mandi, berpakaian, mengancing baju, dan makan menjadi lama, jalan melambat, menulis huruf makin kecil, mata melotot, duduk jarang bergerak, tidur jarang berbalik, dan mudah jatuh. Pada penderita parkinson stadium I gejala masih pada satu sisi, hanya ada gangguan motorik ringan sehingga penderita masih bisa beraktivitas. Stadium II gejala sudah pada dua sisi, kemampuan motorik termasuk berjalan terganggu sedikit. Stadium III gerakan tubuh melambat, keseimbangan mulai terganggu. Pada stadium IV gejala lebih berat, penderita hanya mampu berjalan untuk jarak tertentu, kegiatan sehari-hari perlu pertolongan orang lain. Stadium V badan penderita makin kurus, cacat, dan tidak mampu berdiri atau berjalan. Pada parkinson primer, gabungan dari proses penuaan, faktor genetik, dan racun dari lingkungan seperti karbon monoksida, pestisida, dan herbisida diduga menjadi penyebab kerusakan substantia nigra. Adapun pada parkinson sekunder, kerusakan substantia nigra dapat disebabkan oleh infeksi, cedera kepala, tumor, atau stroke. Umumnya penderita terkena parkinson pada usia 40-70 tahun, jarang sebelum 30 tahun. Di AS, prevalensi penyakit parkinson 150-200 per 100.000 penduduk. Di Indonesia belum ada penelitian, tetapi diperkirakan prevalensinya 1-3 persen dari jumlah orang berusia di atas 65 tahun. Pengobatan Dokter ahli saraf yang mendalami penyakit parkinson di Pacific Parkinson's Research Centre, University of British Columbia, Vancouver Hospital and Health Sciences Centre, Canada, Roul Sibarani, menyatakan, sejauh ini diagnosis penyakit parkinson murni berdasarkan gejala klinis. Belum ada pemeriksaan laboratorium atau pencitraan seperti CT scan atau MRI yang dapat memastikan penyakit itu. Pengobatan penyakit parkinson bersifat individual, berbeda antara satu penderita dan penderita lain, walau gejala tampak sama. Pengobatan parkinson masih bersifat simptomatik, yaitu mengurangi atau menekan gejala yang ada. Perjalanan penyakit sampai saat ini belum bisa dihentikan. Ada sejumlah obat untuk parkinson, antara lain levodopa+benzeraside, levodopa+carbidopa, dopamine agonist (bromocriptine, pergolide, lisuride, cabergoline, ropinirile, pramipexole), antikolinergik (benztropin, amantadine), penghambat MAO-B (selegiline), dan penghambat COMT. "Dari semua obat itu yang paling efektif menghilangkan gejala parkinson adalah levodopa. Sejak diperkenalkan tahun 1960-an, obat itu paling banyak dipakai," ujar Sibarani. Levodopa mengurangi kekakuan, tremor, kelambanan gerak, gangguan berjalan, ekspresi muka kaku, dan mengecilnya tulisan secara dramatis. Obat ini juga menghilangkan gangguan bicara, gangguan menelan, depresi, memperbaiki kemampuan mengingat, dan meningkatkan kualitas hidup. Masalahnya, setelah pemakaian jangka panjang, respons penderita berkurang terhadap obat. Hal itu ditandai dengan semakin pendeknya masa kerja obat (on period), dan memanjangnya waktu obat tidak berfungsi (off period). Ada efek samping yang ditimbulkan, yaitu gerakan tubuh makin tidak terkontrol. Untuk menghilangkan efek samping levodopa pada pemakaian jangka panjang, dilakukan pengaturan jadwal pemberian dan peningkatan dosis levodopa. Juga pemberian tambahan obat antiparkinson kelompok lain seperti dopamine agonist, penghambat COMT, atau penghambat MAO-B. Jika obat-obatan tidak membantu, perlu dipertimbangkan operasi. John Thomas, ahli bedah saraf pada National Neuroscience Institute Singapore, menuturkan, dari gambaran otak tampak dua bagian yang menunjukkan aktivitas berlebihan, yaitu globus pallidus dan subthalamic nucleus. Di samping penggunaan obat, gejala parkinson dapat dikurangi dengan pembedahan otak. Dua bagian otak yang overaktif dirusak lewat palidotomi dan talamotomi. Cara yang bersifat destruktif ini membuat bagian otak yang dirusak tidak bisa dipulihkan, risiko efek samping juga lebih tinggi bila kedua sisi otak dioperasi. Cara lain adalah pencangkokan neurostimulator, alat serupa alat pacu jantung berukuran sebesar stopwatch yang dioperasikan dengan baterai. Alat tersebut menghasilkan stimulasi elektrik pada wilayah otak yang terlibat dalam pengendalian gerakan. Teknologi yang disebut deep brain stimulation (DBS) ini relatif aman. Baterai diganti tiap 3-5 tahun. Teknologi ini tidak menyembuhkan parkinson, tetapi dapat mengurangi tremor sampai 80 persen, gerakan yang tidak terkontrol berkurang hingga 80 persen, gerakan yang lamban dan kaku, efektivitas obat membaik hingga 50-60 persen sehingga penggunaan obat ditekan sampai 20 persen. DBS diperkenalkan tahun 1987 oleh Benabid dan kolega di Universitas Grenoble, Perancis. Sejauh ini lebih dari 35.000 penderita parkinson di seluruh dunia menggunakan DBS. Pencangkokan DBS dilakukan di lebih dari 500 pusat pengobatan parkinson di seluruh dunia. Namun, DBS bukan tanpa risiko. Menurut Sibarani, risikonya antara lain perdarahan atau stroke waktu operasi, memburuknya kondisi kejiwaan dan kemampuan berpikir, perubahan perilaku pascaoperasi, rusak atau terinfeksinya jarum probe. Selain pengobatan, asupan gizi yang baik dan olahraga teratur membantu penderita untuk bisa menjalankan aktivitas kehidupan secara normal. Andradi menambahkan, tidak ada diet khusus bagi penderita parkinson. Yang penting makan teratur dengan komposisi gizi seimbang. Hindari sembelit dengan makanan berserat seperti buah, sayuran, serta banyak minum air. Tujuan olahraga adalah untuk meningkatkan gerakan dan ruang gerak sendi, mengurangi kekakuan otot, meningkatkan kapasitas jantung dan paru, membantu pencernaan, memelihara keseimbangan, dan mengurangi stres. Jenis olahraga yang bisa dipilih antara lain jalan pagi 30 menit, senam ringan, berenang, tenis, berkebun atau taichi. Penulis: Atika Walujani Moedjiono [Non-text portions of this message have been removed]

