*Transfer Teknologi dan Integrasi Sosial di Luwu*

Oleh: Ayu Purwaningsih dari *Düsseldorf*

Dengan sedikit modal yang didukung oleh Yayasan Swiss Jerman, Schmitz
Foundation, warga di beberapa desa di Sulawesi Selatan mengembangkan sebuah
proyek energi terbarukan.


Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Sejumlah rumah di Desa Topandang,
Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, mulai menyalakan lampu. Anak-anak belajar,
orangtua menikmati malam dengan berbagai aktivitasnya. Dulu, di malam hari,
warga desa transmigrasi itu cuma ditemani lilin dan obor sebagai alat
penerang. Baru akhir tahun 2005 lalu desa itu terjangkau oleh listrik.
Tadinya mereka terpaksa pasrah hidup tanpa listrik.  Impian warga untuk
dapat menikmati energi listrik bermula dari inspirasi seorang pemuda bernama
Nasrudin, yang kebetulan berjalan-jalan ke desa itu. Mahasiswa  Universitas
Makasar, jurusan teknik elektro itu tersentuh hatinya melihat warga desa
yang  hidup tanpa  listrik. Berbekal pengetahuan yang dimilikinya,  bersama
mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kuliah di Jerman, yang tergabung dalam
Yayasan Nase Mulia, Nasrudin kemudian mengajak warga desa untuk membangun
pembangkit listrik tenaga mikro hidro. Yayasan yang dibinanya kebetulan
memang menaruh perhatian pada pengembangan energi terbarukan. "Masyarakat
sini sangat membutuhkan penerangan. Apalagi BBM akan selalu.naik. bahkan
dalam setahun beberapa kali naik."

Dengan biaya seadanya, warga berswadaya, bergotong-royong membangun
pembangkit listrik tenaga mikro hidro PLTMH  atau sarana yang menghasilkan
energi listrik dengan memanfaatkan sumber tenaga air.  PLTMH mampu
menghasilkan listrik dalam skala kecil mulai dari lima kilowatt hingga dua
ratus kilowatt. Ini cocok digunakan di daerah pedesaan yang belum dialiri
listrik dari perusahaan listrik negara. Tidak seperti pembangkit listrik
tenaga air PLTA yang harus membangun bendungan. PLTMH biasanya dibuat di
dekat sungai atau saluran irigasi.

Proses yang dilakukan oleh masyarakat dalam membangun PLTMH ini pertama-tama
mereka membendung aliran sungai di dusun mereka. Air kemudian  dialirkan
lewat saluran pembawa, lalu masuk ke bak penenang. Air dari bak penenang
dialirkan melalui pipa penyuplai ke gardu listrik atau powerhouse untuk
menggerakkan turbin. Turbin inilah yang kemudian dihubungkan dengan
generator untuk membangkitkan listrik yang disebar ke rumah-rumah penduduk.
 Masing-masing rumah mendapat pasokan listrik 450 watt. Kini warga desa
sudah dapat menikmati pasokan listrik dan merasa puas. Simak penuturan
seorang warga yang diwawancarai oleh TV Makasar: "Ya kami sangat
berterimakasih sekali atas bantuan pembangunan energi lisitrik ini. Sekarang
tak usah repot mencari kayu bakar. Menyeterika juga sudah bisa."

Proyek  PLTMH cukup menarik, karena tidak menggunakan bahan bakar minyak,
sehingga  tidak menghasilkan gas rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan
global. Biaya operasionalnya juga sangat rendah. Adam, mahasiswa Indonesia
di Jerman yang tergabung dengan yayasan mengatakan: "Kami melibatkan
masyarakat jadi biaya bisa ditekan, karena yang menikmati mereka juga.
Misalnya untuk satu dusun biayanya 280 juta rupiah. Kecuali untuk instalasi
dalam rumah,  mereka harus usahakan biaya sendiri."

Apa saja kendala yang dihadapi dalam pembangunan proyek ini? Kembali Adam:

"Masyarakat memahami ini sebagai bantuan, padahal bukan bantuan. Mereka
harus bekerja sendiri untuk kepentingan mereka sendiri. Belum lagi saat
berurusan dengan birokrasi. Mereka ingin aambil bagian juga."

Dari praktik di lapangan, pengembangan PLTMH tidak sekadar membangun
pembangkit listrik, tetapi berpeluang menjadi salah satu upaya membangun
kemandirian desa. Pengembangan PLTMH yang berbasis masyarakat ditujukan
untuk menciptakan pusat pertumbuhan perekonomian desa. Selain di Dusun
Topandang, Kabupaten Luwu, Yayasaan Nase Mulia bersama warga juga membangun
PLTMH di Kampung Leon, Kabupaten  Enrekang, Sulawesi Selatan. Dalam waktu
dekat juga akan dibangun satu lagi PLTMH dengan kapasitas yang mampu
mensuplai lebih dari 200 kepala keluarga di Kampung Karre Limbong, Tana
Toraja dan Soppeng.

Dalam membangun energi terbarukan ini, Yayasan Nase Mulia didukung oleh
Schmitz Foundation, sebuah Yayasan Swiss Jerman yang berkantor di
Düsseldorf, Jerman.  Bukan hanya di Indonesia, yayasan ini juga aktif
membantu di negara-negara dunia ketiga lainnya. Konsep yang ditawarkan cukup
menarik yaitu pengentasan kemiskinan lewat transfer teknologi dan sekaligus
membangun toleransi keragaman dalam masyarakat. Mereka mendanai puluhan
proyek serupa di Indonesia. Simak penuturan Ralf Kresal dari Schmitz
Foundation: "Target Schmitz Foundation adalah warga yang sangat miskin,
misalnya komunitas di pedesaan. Kami bekerjasama dengan mitra  LSM lokal di
wilayah proyek. Kami berdiskusi mencari cara yang pas di lokasi itu untuk
mengatasi kemiskinan. kami  ajak mereka membangun kerjasama untuk
mengentaskan kemiskinan. Di Sulawesi dan Sumatera banyak etnis minoritas
saja, nah kita tak bisa bantu satu etnis saja, kita harus bisa mengajak
semuanya untuk kerjasama. Misalnya Kristen dan Muslim.  Bila anda membantu
satu pihak kamu juga harus bantu lainnya, Bila tidak anda akan mengalami
kesulitan dalam mewujudkan proyek semacam ini di wilayah itu."

Proyek di Luwu, Sulawesi Selatan, menjadi proyek yang pas untuk transfer
teknologi sekaligus integrasi sosial. Wilayah itu pernah dilanda kerusuhan
antar warga. Namun dengan adanya program kerja yang dilakukan untuk
kepentingan bersama, potensi konflik diharapkan pudar.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke