http://www.kompas.com/ver1/Iptek/0711/19/082034.htm



*Hujan Meteor
Mendung, Leonid Sulit Teramati *

Jakarta, Kompas - Akibat langit mendung dan hujan di Indonesia, hujan meteor
Leonid yang mencapai puncaknya pada Minggu (18/11) dini hari sulit teramati.
Hanya pengamatan di Megamendung, Bogor, yang berhasil mengamati salah satu
hujan meteor yang dianggap paling spektakuler sepanjang tahun ini.

Pengamatan di kawasan Megamendung, dilakukan oleh Himpunan Astronom Amatir
Jakarta (HAAJ). Mereka berhasil melihat 20-50 meteor selama sejam, pukul
02.00-03.00.

"Cuaca di Bogor biasanya mendung dari sore hingga lewat tengah malam.
Menjelang subuh, langit biasanya kembali cerah," kata Ketua HAAJ Tersia
Marsiano.

Pengamatan di Bandung dan Yogyakarta gagal. Mendung dan hujan di beberapa
kota sejak Sabtu sore bertahan hingga menjelang Minggu subuh.

Menurut Ketua Umum Jogja Astro Club Mutoha AR, pengamatan klubnya gagal
meski sudah memilih lokasi di Pantai Parangkusuma, Yogyakarta.

Adapun pengamatan oleh komunitas astronomi Rigel Kentaurus di kawasan Dago,
Bandung, hanya bisa melihat Planet Venus, Saturnus, dan Mars.

Awan tebal juga menyelimuti langit Jakarta, ditambah polusi cahaya yang kuat
membuat langit Jakarta berwarna kemerahan sehingga menyulitkan bagi
pengamatan obyek langit apa pun.

Meteor atau bintang jatuh terlihat berupa kilatan cahaya ketika partikel
atau bongkahan materi dari luar angkasa terbakar saat memasuki atmosfer
Bumi. Setiap tahun, hujan meteor Leonid terjadi 14-21 November. Tahun ini,
puncaknya pada 18 November.

Menurut dosen Program Studi Astronomi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam ITB, Hakim L Malasan, jumlah meteor dalam hujan meteor
Leonid kali ini tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya yang bisa ratusan
hingga ribuan meteor per jam. Ini disebabkan daerah sisa lintasan Komet
55P/Temple-Tuttle yang dilalui Bumi kali ini jauh lebih renggang. (MZW)


Sumber: Kompas


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke