perdebatan sebab akibat dari kolonialisme bermuara pada pertanyaan: siapa 
sekarang yg menikmati kemerdekaan nkri, dan berapa juta rakyat indonesia yg 
hidupnya di bawah standard normal?
   
  hl
  
Trikoyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  From: "Trikoyo" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "heri latief" <[EMAIL PROTECTED]>,
"BISAI" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: {Spam?} [HKSIS] Re: [sastra_tki] Fw: Kolom IBRAHIM ISA - <YANTI 
MIRDAYANTI> - KOLONIALISME TETAPLAH KOLONIALISME
Date: Sun, 16 Dec 2007 04:54:52 +0700

    Maaf, aku gak ngerti cara kirim ke yang lain-lain jadi hanya kukirim ke 
Bung BISAI  dan bung Heri Latief yang aku tahu alamatnya dan tahu caranya. Aku 
gak tahu cara pakai komputer. Aku cuma ngawur dan kompouterku ini baru rewel 
dan masih dalm keadaan direparasi. alamat bung Ibrahim Isa juga hilang di 
komputer ini. Mungkin pergi naik haji di musim haji tahun ni. Bung Isa kirim 
mail dong. Komputerku hilang data2nya. Kalau bung kirim kan saya bisa catat 
alamatnya. Aku gak tahu cara cari data yang ngungsi. Silakan ketawain, aku 
memag gak tahu.  Dasar kakek jompo tolol aja kotak-katik pakai komputer. Maaf, 
   
  ---------------------------------------------------------------------
   
  Kakek Jompo :  Komentar???????????
   
  Jam 03.00 WIB dini hari. Aku terbangun dari tidur nyenyakku. 
  Langsung aku ke kamar mandi peru membuang hajat kecil. Sesudah kembali ke 
kamar sumpekku ini kunyalakan komputer. Kubuka mail dan kudapati ada mail yang 
masuk. Cuma satu dari  BISAI dengan judul  Komentar : BISAI. 
   
  Kubaca dua kalimat dalam baris pertama yang berbunyi "Reaksi yang sangat 
logis dari bung Sunny. Kolonialisme tentu saja jelek, itu jelas bagi setiap 
orang.."
   
  Tentu saja aku membaca lanjutannya sampai selesai. Komentar itu tepat dan 
bagus.
   
  Lalu kubaca baris pertama apa yang ditulis SUNNY berbunyi sbb.:
   
  Kolonialisme tetap saja kolonialisme bukan berita baru, anak kecil di SD  
yang baca koran pun tahu,
   
  Kubaca lagi terus ke bawah dan ada kolom Ibrahim Isa yang mengomentari 
tulisan Yanti Mirdayanti juga tentang kolonialisme. 
   
  Aku terpaksa berhenti menulis. Aku ingin menanyakan kepada anak-anak SMP, 
SMA, juga anak-anak SD apa komentar mereka tentang "kolonialisme". Sebab di 
depan rumahku anak-anak selalu berolah raga.
   
  --------
   
  Ketika kutanyakan kepada beberapa orang anak, ternyata mereka memang ngerti 
arti kata "kolonialisme" yang menurut mereka - penjajahan, ratusan tahun 
dijajah Belanda dan sekarang sudah merdeka - .
   
  Ketika kutanyakan bagaimana pendapat mereka tentang pedagang kaki lima, 
pedagang kecil, penduduk yang tinggal di daerah kumuh  yang diobrak abrik 
kamtip, tentang kenaikan bbm,  tentang langkanya minyak tanah dan kenaikan 
harga yang terus menerus setiap hari, apa jawab mereka : "gak tahu, itu urusan 
pemerintah". 
   
  Dan apa kesimpulanku?
   
  Suharto dan orde barunya sudah berhasil membodohkan rakyat kita.  Jadi kalau 
menganggap anak SD yang baca koran pun tahu tentang "kolonialisme" itu bukan 
anak SD di negeri ini, tapi anak SD di Jepang, Eropa dan negeri-negeri lain, 
bukan negeriku Indonesia tercinta ini.
   
  Aku sudah kakek-kakek 81 tahun, tak bisa berbuat banyak untuk negeri ini. 
  Bangkitlah yang masih muda-muda, rubahlah keadaan negeri ini. Pendidikan 
putra  putri negeri ini sangat penting.
   
  Kalau soal penindasan  yang paling elementer saja gak ngerti bagaimana kita 
mau meningkatkan kesejahteraan di negeriu ini. Tak usah jauh-jauh bicara 
tentang melenyapkan kemiskinan.  Tangeh lamun. Sebaiknya kita tak usah jadi 
pungguk yang rindukan bulan, bukan? Perjuangan harus diumulai dari nol.  Oooo 
kakek, kakek jompo, mbok gak usah mikir yang jauh jauh. Sejak 1965 kita sudah 
jungkel ke dasar paling bawah dan harus bangkit.  Kita harus mulai  lagi 
menyanyikan lagi. 
   
  Di timur matahari mulai bercahya, 
  Bangkit dan berdiri kawan semua. 
  Marilah mengatur barisan kita,
  Seluruh pemuda Indonesia.  
   
  Tangerang, 15 Desember 2007.
   
  ---------------------------------------------   
   
    ----- Original Message ----- 
  From: BISAI 
  To: AKSARA SASTRA ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; SANTRI KIRI ; 
SASTRA PEMBEBASAN ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Saturday, December 15, 2007 1:07 AM
  Subject: Re: {Spam?} [HKSIS] Re: [sastra_tki] Fw: Kolom IBRAHIM ISA - <YANTI 
MIRDAYANTI> - KOLONIALISME TETAPLAH KOLONIALISME
  

  Komentar: BISAI
   
  Reaksi yang sangat logis dari bung Sunny. Kolonialisme tentu saja jelek, itu 
jelas bagi setiap orang. Tapi fasisme Suharto dalam hitungan bulanan saja bisa 
menyembelih tiga juta rakyat Indonesia yang tidak berdosa dan algojonya tidak 
dihukum, bahkan menghukum orang lain dan akan dapat uang triliunan rupiah  
hasil mendenda orang lain yang mengungkapkan korupsinya dan hasil malingnya. 
Soalnya apakah tepat  sekarang ini membangkitkan nasionalisme untuk secara 
sadar atau tidak sadar melupakan sejarah lautan darah kepala  rakyat  yang 
dipotong Suharto dalam peristiwa G30S(uharto). Nasionalisme tidak berdaya dan 
bertekuk lutut di hadapan kekejaman Suharto dan Orba-nya dan bahkan hingga 
sekarang Nasionalisme yang kembali membesar seperti gajah bengkak itu tidak 
juga tahan uji dalam menghadapi gelombang dan tsunami korupsi dan turut bermain 
dalam kekuasaan sambil juga makan minum duit sepuas mungkin. Dengan tidak 
bermaksud mereduksi  kekekaman dan penindasan kolonialisme, tapi
 selama berkuasa 350 tahun di Indomesia, dia tidak menyembelih begitu banyak 
kepala rakyat seperti yang disembelih Suharto: 3 juta manusia tanpa hukunman, 
korupsi bermilyar milyard dollar tanpa hukuman, menhanhanrukan ekonomi  dan 
memiskinkan lebih dari 200 juta manusia Indonesia tanpa hukuman, menyebarkan 
budaya korupsi dan penghancuran demokrasi tanpa hukuman. Siapakah yang patut 
dijadikan pahlawan sekarang ini, bila Suharto dan keturunan Orbanya masih tetap 
menghisap dan menidas rakyat Indonesia, tetap berkuasa dan merajalela. Bila ada 
pahlawan, cumalah pahlawan korupsi yang pembidas undang-undang dan kebal hukum. 
Pemimpin nasional ternyata tidak lulus dalam ujian sejarah dan hanya mewariskan 
penyerahan, ketidak berdayaan serta penghianatan terhadap teman 
seperjuangan.Menyorong-nyorongkan nasionalisme di saat Suharto dan keturunan 
Orba masih berkuasa, hanya akan mengalihkan perlawana rakyat terhadap 
Suhartoisme dan ketururnan Orbanya dan cumalah penipuan dan penghinatan
 terhadap rakyat. Obral kata-kata sudah melebihi inflasi verbal yang sudah tak 
mungkin lagi dicerna oleh massa rakyat yang ingin kejelasan siapa musuh mereka 
dan siapa kawan mereka. Sifat banci politik membikin muak semua orang dan 
membosankan siapa saja.
  BISAI.
   
   
  ----- Original Message ----- 
    From: Sunny 
  To: [EMAIL PROTECTED] ; HKSIS-G 
  Sent: Friday, December 14, 2007 4:36 PM
  Subject: {Spam?} [HKSIS] Re: [sastra_tki] Fw: Kolom IBRAHIM ISA - <YANTI 
MIRDAYANTI> - KOLONIALISME TETAPLAH KOLONIALISME
  

          Kolonialisme tetap saja kolonialisme bukan berita baru, anak kecil di 
SD  yang baca koran pun tahu, yang celaka ialah  banyak orang lupa bahwa yang 
dimerdekakan dari cenkraman kolonial bertindak seperti kolonilal dan malah 
lebih buruk dari kaum kolonial, sebagai contoh pemerintah NKRI. Lihat saja 
perlakuan terhadap tahan politik teristimewa apa yang dilakukan pada tahun 
1965/1966 dan perlakuan terhadap ratusan ribu tahan politik. Lihat saja 
perlakuan TNI tidak banyak bedanya dengan tentara kolonial. 
   
   
    ----- Original Message ----- 
  From: HKSIS 
  To: HKSIS-G 
  Sent: Friday, December 14, 2007 3:21 PM
  Subject: [sastra_tki] Fw: Kolom IBRAHIM ISA - <YANTI MIRDAYANTI> - 
KOLONIALISME TETAPLAH KOLONIALISME
  

   
  ----- Original Message -----   From: isa 
  To: HKSIS 
  Sent: Friday, December 14, 2007 9:09 PM
  Subject: Kolom IBRAHIM ISA - <YANTI MIRDAYANTI> - KOLONIALISME TETAPLAH 
KOLONIALISME

  

  *Kolom IBRAHIM ISA*

*----------------------------*

*Jum'at, 14 Desember 2007*



*<YANTI MIRDAYANTI>*

*KOLONIALISME TETAPLAH KOLONIALISME*

Belum lama di ruangan ini dipublikasikan artikel tentang, dubes Belanda 
di Indonesia NIKOLAS VAN DAM, yang memberikan ceramah di Pesantren 
Darusalam Gontor <Ponorogo, Jawa Timur>. Beberapa pembaca memberikan 
taggapannya. Di antaranya dari seorang sarjana muda Indonesia, bernama YANTI 
MIRDAYANTI. Yanti diperkenalkan kepadaku beberapa tahun yang lalu, oleh seorang 
kawan, pada kesempatan memperingati 'Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 
1945', di Wisma Duta, di Wassenaar, Holland.



Yanti Mirdayanti tergolong kaum muda Indonesia. Dewasa ini ia mengajar ( 
jadi dosen) pada sebuah Universitas di Bonn, Jerman. Dari tanggapan 
Yanti Mirdayanti, dapat dilihat bahwa sarjana Indonesia tergolong kaum 
muda, yang sekarang ini bekerja di Bonn, Jerman, memiliki pengetahuan 
dan sikap mengenai kolonialisme, khususnya kolonialisme Belanda, yang 
jernih dan benar.



Sikap dan pandangan seperti yang diuraikan Yanti Mirdayanti, yang jernih 
dan teguh mengenai kolonialisme, mengenai sejarah bangsa kita, adalah 
pandangan yang merupakan dasar dan arah bagi pencerahan fikiran dan 
kemajuan bangsa. Suatu sikap dan pandangan kebangsaan yang selalu 
diajarkan salah seorang pejuang unggul kemerdekaan dan bapak nasion 
Indonesia, BUNG KARNO. Supaya kita semua, dengan tepat mengenal sejarah bangsa 
sendiri, memiliki pandangan BEBAS MANDIRI, BERDIRI DI ATAS KAKI SENDIRI, dan 
BERPKRIPADIAN INDONESIA.



Khusus mengenai masalah sejarah bagi bangsa ini, teristimewa bagi kaum 
mudanya, amat mendesak dimilikinya pengetahuan dan sikap yang jernih. 
Mengenal sejarah bangsa sendiri, mengenai sejarah hubungan internasional 
yang jernih dan tepat, yang bertolak dari kepentingan dasar bangsa 
Indonesia, akan memperteguh dan memajukan pandangan dan pendirian kaum muda, 
terhadap masalah-masalah seperti kesadaran berbangsa, identitas nasion 
Indonesia dan patriotisme.



Terlebih lagi pentingnya ditegakkanya pandangan tsb, mengingat selama 
periode rezim Orba, fakta-fakta, konsepsi dan pemahaman mengenai masalah 
sejarah bangsa, sudah begitu dijungkirbalikkan, dibengkak-bengkokkan, sehingga 
membenamkan sampai ke dasarnya keberanian dan kemampuan untuk dengan bebas 
berfikir sendiri, untuk menganalisis dan mengambil kesimpulan sendiri. Pada 
periode Orba, kaum muda kita dijejali dengan konsepsi dan pandangan yang mutlak 
membenarkan sikap, pandangan dan politik penguasa. Bahwa kebenaran dan keadilan 
adalah milik penguasa semata.



* * *



Untuk selanjutnya tulisan-tulisan berikutnya dari Yanti Mirdayanti, 
termasuk yang menyangkut masalah internasional, seperti masalah SELAT 
MALAKA, dan SEKITAR PRESIDEN RUSIA PUTIN, akan dimuat di ruangan ini 
pada waktu mendatang.



Mari ikuti tanggapan YANTI MIRDAYANTI, mengenai kolonialisme Belanda:



KOLONIALISME TETAPLAH KOLONIALISME



Apa pun alasannya,kolonialisme tetaplah kolonialisme. Tidak ada 
keuntungannya untuk negara yang dijajah. Kalau umpamanya Belanda 
meninggalkan 'warisan' jalan-jalan raya atau beberapa hal yang waktu itu 
dibangun dengan berbekal teknologi Eropa, toh mereka membangunnya juga 
demi kelancaran proses perekonomian mereka di negara jajahan. Buruh 
bangunan yang dipakai untuk membuat jalan-jalan juga rakyat Indonesia, 
dan mereka kuli tak diupah.

Hitler di Jerman juga mendirikan jalan-jalan tol (Autobahn) yang 
besar-besar dan mulus itu tokh tujuan utamanya demi kelancaran lalu 
lintas transportasi militernya.

Kalau dulu Belanda berkunjung ke Indonesia demi kebaikan hati, maka 
tidak mungkin mereka mengangkut dan memperdagangkan rempah-rempah hasil bumi 
Nusantara oleh mereka sendiri secara monopoli (dalam bentuk VOC). Tidak mungkin 
pula mereka tingal di Indoeneia sampai 350 tahun. Pasti betah orang-orang 
Belanda dulu di Nusantara yang gemah ripah loh jinawi, hijau, makmur buminya. 
Alamnya begitu ramah dan iklimnya yang hangat terus, tidak seperti di negara 
mereka yang ada musim dinginnya. 
Masyarakat tradisional Nusantara juga begitu ramahnya terhadap tamu 
pendatang. Terlalu ramah, saya kira. Semuanya adalah syurga untuk kaum 
Eropa dan telah disalahgunakan oleh kaum kolonial Belanda dalam bentuk: 
penjajahan.



Jaman modern ini juga sama. Imperialisme tetap saja imperialisme. AS 
menyerang Irak dengan dalih menegakkan demokrasi. Sekarang masih 
berkuasa secara militer di Afghanistan dengan dalih terorisme, Taliban, 
Al-Qaida, etc. Tokh hasilnya masih tetap kehancuran bagi warga civil di 
sana.



Nah, baru-baru ini Bush dipermalukan oleh hasil laporan Dinas Rahasia AS 
sendiri yang mengumumkan bahwa Iran ternyata tidak memiliki atom nuklir.

Apakah tujuan laporan itu sendiri untuk menyelamatkan Bush di penghujung masa 
jabatannya atau bertujuan untuk menghindarkan perang AS-Iran, ataukah ada 
tujuan politis lainnya. 'Ntah lah.

Jadi, yang jelas, dalih apa pun tidak bisa diterima kalau suatu negara 
menjadi tuan raja di negara lain.



Kolonialisme tetap kolonialisme. Belanda dulu di Indonesia adalah tamu 
tak diundang yang telah datang dengan perahu kosong mereka ke Nusantara. 

  Kemudian tinggal lama di bumi Nusantara ini sambil mengisi penuh perahu 
mereka. Bulak-balik Indonesia-Eropa sebagai bandar dagang dengan menjual hasil 
bumi Nusantara ini. Keuntungan hasil penjualan adalah untuk negara Belanda 
sendiri, bukan untuk kemakmuran rakyat Nusantara.

Salam dari Bonn,

Yanti Mirdayanti -
















      Recent Activity
    
      2
  New Members

Visit Your Group 
      Y! Messenger
  Instant hello
  Chat over IM with
  group members.

    Women of Curves
  on Yahoo! Groups
  A positive group
  to discuss Curves.

    Yahoo! Groups HD
  The official Samsung
  Y! Group for HDTVs
  and devices.



  .

 
   #ygrp-mkp {   BORDER-RIGHT: #d8d8d8 1px solid; PADDING-RIGHT: 14px; 
BORDER-TOP: #d8d8d8 1px solid; PADDING-LEFT: 14px; PADDING-BOTTOM: 0px; MARGIN: 
14px 0px; BORDER-LEFT: #d8d8d8 1px solid; PADDING-TOP: 0px; BORDER-BOTTOM: 
#d8d8d8 1px solid; FONT-FAMILY: Arial  }  #ygrp-mkp HR {   BORDER-RIGHT: 
#d8d8d8 1px solid; BORDER-TOP: #d8d8d8 1px solid; BORDER-LEFT: #d8d8d8 1px 
solid; BORDER-BOTTOM: #d8d8d8 1px solid  }  #ygrp-mkp #hd {   FONT-WEIGHT: 
bold; FONT-SIZE: 85%; MARGIN: 10px 0px; COLOR: #628c2a; LINE-HEIGHT: 122%  }  
#ygrp-mkp #ads {   MARGIN-BOTTOM: 10px  }  #ygrp-mkp .ad {   PADDING-RIGHT: 
0px; PADDING-LEFT: 0px; PADDING-BOTTOM: 0px; PADDING-TOP: 0px  }  #ygrp-mkp .ad 
A {   COLOR: #0000ff; TEXT-DECORATION: none  }                    


      
[EMAIL PROTECTED]
milisgrup opini alternatif

  
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
penerbit buku sejarah alternatif

  
http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan

  http://herilatief.wordpress.com/




       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke