From: Slamet Thohari
E-mail: [EMAIL PROTECTED]

Maaf ikutan nimbrung. Saya juga merasa heran, sebegitu kuat kelompok itu 
menganggap yang lain salah dan "membahayakan" bagi mereka sehingga, 
seseorang/kelompok harus dibunuh.
Sebegitu kuatnya keyakinan direproduksi dan diasah, kemudian menjadi "landep" 
menembus hati mereka yang paling dalam. Saya juga sangat sangat khawatir dan 
diam-diam merasakan perasaan orang-orang yang mendapat label "boleh dibunuh". 
Saya memang bukan orang yang
pernah diancam dan mendapat label seperti itu. 

Tapi dulu, ketika saat saya menjadi pembicara sebuah seminar tentang Islam di 
kampus (UGM), mereka itu berteriak "Allahu Akbar!", sambil mengacungkan tangan 
mereka ke atas.

Saya orang Islam. Dilahirkan dalam keluarga Islam yang cukup taat, di sebuah 
desa di Jawa Tengah. Sudah sejak kecil saya mendengar suara itu, tapi saya 
senang dan gembira mendengar suara "Allahu Akbar". Terlebih lagi saat Idul 
Fitri, saya sering bersama teman-teman keliling desa, dengan bikin replika 
pesawat Garuda atau apa. Membawa oncor melantunkan "Allahu Akbar". Wuah gembira 
dan bahagianya saya saat itu. Sesekali saya dan teman-teman menyulut mercon, 
dan "duer" lalu kembali melantunkan "Allahuakbar".

Bagi saya dulu, Allahu Akbar adalah lambang kegembiraan, lambang untuk 
mengungkapkan rasa bersyukur setelah puasa. Rasa senang karena dapat sarung 
baru, peci baru. Kami saling memaafkan, saling berbagi kebahagiaan dan tentu 
saja saling berbagi: keciput, madu mongso, semprit, bolu, rengginang, jumputan 
dan seterusnya. 

Di pasar, pedagang-pedagang Tionghoa yang umumnya non muslim, juga ikut 
bahagia. Karena mereka habis untung banyak, jualan baju, makanan dst. sebagai 
bagian dari mayoritas, dan saat itu saya masih kecil. Allahuakbar itu 
kegembiraan.

Tapi kini "Allahu Akbar" begitu menakutkan bagi saya. Benar, saya takut sekai 
di depan forum. Begitu "dredeg" dan berkeringat. Mengapa Allahuakbar begitu 
menakutkan? 

Kita semua sudah mengerti? Ancaman buat Mas Ulil tentu ancaman buat semuanya. 
Tapi, kenapa kok kemasan mereka bisa memuncak pada nama Ulil. Jelasnya, kenapa 
Ulil menjadi titik orang yang membahayakan dan musti dibunuh. Mungkin ini 
karena Mas Ulil? Mungkin bisa
diceritakan bagaimana proses pengkrucutan nama Anda sebagai puncak "kebahayaan" 
yang harus disirnakan?

Ataukah terjadi arus yang tidak disangka-sangka dalam gerakan Islam progresive 
di Indnesia sehingga Mas Ulil menjadi penting?  Maksudnya pengrucutan nama 
"Ulil" di Indonesia, kok bisa terjadi ini bagaimana? Pengkerucutan ini menurut 
saya kurang baik. Tentu saja kasihan Mas
Ulil.

Maaf, sebelumnya

salam

---------------------------------------------

Hukum bunuh Ulil?

Sumber: Milis PKS

From: Nugra Nansarunai 
E-mail: [EMAIL PROTECTED]


Ada sebuah pertanyaan yang mengganjal dalam hati saya: apa hukum membunuh 
makhluk sejenis Ulil? Kita membuka sejarah, menemukan makhluk Abdullah bin Saba 
yang ditengarai sebagai provokator di zaman Utsman ra., hingga menimbulkan 
pemberontakan dan terbunuhnya khalifah. Ibnu Saba terus bergerak menimbulkan 
fitnah Ali vs Muawiyah.

Kita juga menemukan makhluk sekelas Mustafa Kemal, penghancur Islam dari dalam 
di zaman kontemporer. Kulitnya Islam tapi dalamnya jelas kufur. Atau sejenis 
Mirza Ghulam Ahmad, makhluk produksi Inggris, kalau saja mereka dibunuh 
sebelumnya pengaruh fitnahnya meluas..

Mengapa ia dibiarkan hidup?

Kalaulah manusia-manusia seperti ini dibunuh, tentu akan membunuh barisan kufur 
juga. Manusia-manusia yang jelas menghancurkan Islam dari dalam, sekalipun ia 
berteriak lantang, "saya muslim" namun sikap, lidah dan fikrah jelas kufur.

Saya pikir orang-orang seperti Ulil sebaiknya dibunuh, seperti dikatakan 
ustadz, tidak perlu takut masuk penjara. Abdullah bin Ubay dikenal sebagai 
munafik, namun Ulil, JIL dan kelompok -kelompok aliran sesat yang kentara 
bekerja sama dengan kafirin, barangkali sudah masuk dalam barisan kafirin.

Fitnah lebih kejam dari pembunuhan, fitnah yang ditimbulkan oleh ahli-ahli JIL 
merusak tatanan Islam, lebih kejam daripada sekedar menjagal leher mereka. 
Mengapa harus takut menggiring mereka pada kematian, jika mereka tidak takut 
menggiring umat pada kekufuran?

Sudah tidak ada aktivis/dai yang meragukan kerusakan yang mereka timbulkan, 
tapi kita masih ragu menyikapi mereka. Apakah menunggu sampai mereka 
benar-benar meruntuhkan Islam selayaknya Mustafa Kemal jahannam?

Terinspirasi dengan operasi mawar Prabowo yang menghabisi preman dengan sniper, 
atau Azumi yang menghabisi jendral-jendral pembuat onar, atau Hasyasyin, 
pasukan pembunuh rahasia zaman Medieval, sepertinya kita sudah membutuhkan 
barisan pembunuh yang bisa menghabisi makhluk-makhluk sejenis Ulil.

---

Renungkanlah. .

"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan 
perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa 
orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi 
peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka 
itu dapat menjaga dirinya."

Tren yang berkembang saat itu adalah, sahabat berlomba-lomba mengejar syahid. 
Sampai- sampai Allah harus mengerem dengan menurunkan ayat ini. Sudah saatnya 
tren berlomba mencari syahid dihidupkan lagi dalam kultur muslimin, inilah yang 
menegakkan izzah dan menggetarkan singgasana kufur.

- Geo center -
~ kita hanya musafir ~

www.nugra1453.multiply.com





mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke