Jurnal Sairara:
   
   
  NOVEMBER LALU KAMI BERTEMU  
   
   
   
  Akmal, bagiku adalah orang yang elan dan enersitasnya mengagumkan.  
Pekerjaannya sebagai wartawan Tempo Jakarta, saja sudah tidak sedikit menyita 
pikiran dan waktu. Tapi ia masih saja sempat menulis novel, menulis puisi, dan 
lain-lain... , bahkan sempat menjumpai teman-teman dan orang-orang yang 
dirasakannya perlu dijumpai saat mereka lewat Jakarta. Belum lagi menangani 
soal keluarga. Masih kuingat bagaimana ketika kami jumpa di TIM Jakarta, 
sebelum berpisah ia berkata:
   
   
  "Yuk , kita ke PDS HB Jassin untuk "say hello" pada Martin, Donggo dan 
teman-teman lain". Tentu saja ajakan ini kuterima dengan senang hati,   walau 
pun aku siap pikiran akan dimaki oleh teman-teman, terutama Martin,  karena 
sama sekali tidak berkabar tentang kehadiranku di Jakarta. Ajakan Akmal 
N.Basral ini, kupahami sebagai perhatiannya pada teman, di samping inginnya 
memelihara persahabatan dan hubungan yang memang diperlukan dalam hidup, 
apalagi oleh seorang wartawan dan penulis. 
   
   
  Aku jadi merasa bersyukur juga bahwa Jakarta punya TIM  yang boleh dikatakan 
berada di tengah-tengah ibukota, sehingga dari sini gampang melanjutkan 
perjalanan ke mana-mana. Tempat yang kujadikan pangkalan untuk mengurangi 
kejengkelan menghadapi macetnya lalulintas yang tak perduli akan arti waktu dan 
sempitnya waktu bagi kita. Bagiku terutama.  Apalagi aku memang tidak pernah 
tertarik pada Jakarta dan tidak tahu selukbeluk kota. Jakarta bagiku adalah 
lambang kegarangan dan ketidakmanusiawian. Jakarta simbol kekuasaan uang yang 
merendahkan manusia. Siapa kuat dialah yang menang. Orang menunggu bus saja 
bisa mati tergilas. Berkendaraan di sisi yang benar saja , kita bisa digilas 
bus malam yang bergegas memburu tujuan.  Yang kecil harus mengalah pada yang 
besar dan kuat. Kebenaran dan nyawa manusia ada bersama debu jalan di roda-roda 
kendaraan dan di telapak sepatu mereka yang merasa diri kuat.  Jakarta adalah 
kota untuk orang kaya.Trotoar saja tak ada untuk pejalan kaki, 
 yang di ibukota Republik Indonesia ini  dipandang sebelah mata. Jakarta adalah 
lambang kesenjangan, tapi dibalik itu aku juga melihat pada penjual-penjual 
sayur pasar Ciputat, abang ojeg dan pedagang-pedagang kakilima semangat rakyat 
negeriku yang sangat mencintai hidup, cerdik dan menolak kalah.  Jakarta bukan 
Indonesia, tapi mempunyai pengaruh pada Indonesia sebagaimana halnya dengan 
kota-kota. Pada deru bajai yang berlari menembus udara polusi, aku mendengar 
jerit nurani dan harapan mengabad bangsaku.
   
   
  Adanya TIM juga memudahkan aku dan teman-teman bisa saling berjumpa. Kepada 
Ali Sadikin,   aku ingin mengucapkan terimakasih bahwa ia sudah berhasil 
mewujudkan harapan lama para seniman, ketika ia menjadi gubernur DKI. Kelelahan 
memang bisa membuat kita berucap dan bertindak tidak nalar, daya pikir dan 
tenggang rasa pun menumpul. Dalam pergulatan politik, terutama di ruang-ruang 
debat dan diplomasi,  melelahkan lawan, mengulur waktu,  sering digunakan 
sebagai taktik memenangkan tujuan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan 
lapangan.  
   
   
  Diam-diam memperhatikan kesibukan Akmal. Kesibukan padat luar biasa dan 
mendapatkan betapa wartawan-sastrawan ini sangat cerdik mengelola waktunya. 
Tiap detik ia berikan arti,  dengan kesadaran bahwa waktu siang-malam tersedia 
hanya 24 jam. Bukan hanya itu. Ia pun terkesan padaku  sebagai orang yang 
pandai mengorganisasi pikirannya. Melihat kesibukan Akmal, aku teringat akan 
patokan yang diterapkan sebagai keniscayaan pada Tentara Merah: "Sanggup 
bertempur terus-menerus tanpa kenal lelah, sanggup bergerak dari satu tempat ke 
tempat  lain secara cepat". 
   
   
  Kelelahan? Siapa yang tidak punya lelah ditekan oleh kepadatan kegiatan? 
Menguasai dan mengalahkan kelelahan akhirnya menjadi sangat penting agar kita 
tetap tenang dan tidak kehilangan kontrol diri. Agar tetap bisa tampil  
manusiawi dan sebagai sahabat yang menarik. Tetap bisa menjadi pendengar dan 
interlokutor yang tak membosankan. Untuk memenangkan hidup dan manusiawi, 
agaknya kita dilarang lelah dan tak boleh menyerah pada kelelahan.  Tak usah 
menangisi kehilangan. 
   
   
  Baris-baris ini kutulis untuk mencatat dan mengenang pertemuan kami , aku dan 
Akmal N. Basral, November tahun silam di Jakarta, sebelum aku melanjutkan 
perjalanan kembali ke Paris, tempatku bertenda dalam perjalanan panjangku. 
Pertemuan mengesankan. Walau pun singkat sehingga soal-soal pun tak selesai 
dibicarakan. Saban berada dalam keadaan begini aku senantiasa diam-diam 
larik-larik puisi Mao Zedong:
   
   
  "rebut waktu pagi senja
  seribu tahun terlalu lama"
   
   
  Baris-baris ini kugores setelah petang ini aku membaca puisi Akmal disiarkan 
oleh milis [EMAIL PROTECTED]  [31 Januari 2007]. Puisi yang sederhana, terukur 
serta bersayap. Berwayuh makna.
  Subject: [ac-i] Sekarang saya mengerti mengapa


  SEKARANG SAYA MENGERTI MENGAPA
   
                    oleh: akmal n. basral
   
  sekarang saya mengerti mengapa
  indonesia (selalu) porak poranda
  : kejujuran tak lagi diletakkan di tempat utama
   
  rasa toleran dan perkawanan membuat
  permaafan dengan mudah diberikan
  simpati dengan mudah dihamburkan
   
  pemihakan diberikan kepada pelaku kejahatan
  bukan menyelami perasaan korban
   
  sekarang saya mengerti mengapa
  indonesia (selalu) porak poranda
  : apa yang kita kira cinta sesungguhnya
  adalah justa yang dipelihara
   
  ~a~
   
  cibubur, 31.01.08
   
   
  Puisi ini berkata banyak bagiku, lebih-lebih di saat sekarang di mana orang 
ramai tukar dan silang  pendapat menyusul kematian Soeharto. 
   
   
  Paris,  Musim Dingin 2008
  ------------------------------------
  JJ. Kusni,  pekerja biasa Koperasi Restoran Indonesia Paris.
      

  




  .


       
---------------------------------
Tired of visiting multiple sites for showtimes? 
  Yahoo! Movies is all you need


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke