http://www.mediakonsumen.com/Artikel1798.html

KAPOLDA JABAR YANG BARU DAN JALAN RAYA

Judul tulisan ini mungkin memang aneh. Namun saya ingin 
menyederhanakan cara kita melihat persoalan-persoalan besar di 
negeri ini. Yaitu menjadikan jalan raya sebagai barometer bagi baik 
dan buruknya pengelolaan negeri ini.

Sudah sering kita mendengar ungkapan yang menyatakan bahwa situasi 
jalan sebuah kota menggambarkan pemerintahan kota itu. Bahkan jika 
itu sebuah situasi jalan ibu kota, maka itu menggambarkan 
pemerintahan negeri itu secara keseluruhan. Bagaimana tidak, jika 
jalan-jalan ibu kota sebuah negara saja tidak bisa diurus, apalagi 
mengurus kota-kota lainnya? Atau bagaimana bisa memberdayakan rakyat 
yang membutuhkan jalan raya untuk berkegiatan ekonomi di dalam kota 
dan antar kota?

Jakarta beberapa bulan ini sedang mengalami musim hujan yang lama. 
Jalan-jalan di seantero kota rusak parah. Usaha perbaikan yang 
sungguh-sungguh tidak terlihat. Alasannya tentu sama dari tahun ke 
tahun dari bahkan dari akhir 60-an hingga 2008 ini, yakni lebih dari 
48 tahun. Alasannya adalah di saat musim hujan tidak bisa 
memperbaiki jalan.

Alasan yang digunakan ini menggambarkan tingkat pemimpin kota ini, 
yaitu tingkat baboon saja. Pertama adalah, karena jalan yang sudah 
dibuat ternyata tidak bertahan pada musim hujan. Seolah-olah musim 
hujan cuma terjadi di Jakarta saja, bukan di kota-kota lain seperti 
Singapura, Kuala Lumpur, Brunei dan kota-kota lain yang jalan-
jalannya tidak hancur karena datangnya musim hujan. Kedua adalah, 
karena hanya baboon yang tidak bisa melahirkan cara untuk 
memperbaiki jalanan yang rusak pada musim hujan agar tidak terlalu 
parah. Ketiga adalah, karena baboon tidak bisa mengerti berapa 
kerugian yang harus ditanggung negeri ini jika ibu kotanya tidak 
bisa melakukan kegiatan ekonomi dengan lancar karena jalan-jalannya 
rusak parah selama berbulan-bulan. Baboon tidak bisa menghitung 
hanya berapa bulan dalam setahun kegiatan ekonomi di kota ini bisa 
berjalan dengan lancar, jika selama musim hujan yang kira-kira 3 
bulan lamanya jalan-jalan menjadi hancur. Kemudian 3 bulan 
berikutnya adalah masa perbaikan yang biasanya memang lamaaaaaa…. 
sekali…. Berarti tinggal 6 bulan sisanya yang bisa digunakan kota 
ini untuk berkegiatan ekonomi dengan lancar. Itu pun jika tidak ada 
gangguan lain seperti perubahan fungsi jalan (busway), pelebaran 
jalan, peninggian atau pengaspalan baru yang kerap dilakukan di 
jalan-jalan Jakarta. Seolah-olah Jakarta adalah kota yang selalu 
sibuk memperbaiki diri. Padahal yang terjadi adalah Jakarta adalah 
kota di mana kontraktor jalan selalu mendapat order kerja tanpa 
peduli pekerjaan itu amat mengganggu kegiatan ekonomi di kota ini 
atau tidak.

Lalu kapan kota ini sibuk memikirkan untuk menjadi kota yang maju, 
jika mengelola jalan saja tidak becus? Kapan kita sebagai warga 
Jakarta mulai memiliki cukup waktu untuk memikirkan soal-soal lain 
yang lebih produktif dibanding memikirkan jalan rusak dan kemacetan 
yang berjam-jam setiap pagi dan sore? Kapan kita bisa pulang di 
rumah lebih awal dan berkumpul dengan tetangga dan membicarakan 
tempat bermain anak dan remaja di lingkungan perumahan kita? Atau 
kapan kita bisa menjadi manusia yang lebih beradab karena selalu 
saling serobot di jalanan yang semrawut minta ampun?

Ini lah yang terjadi berpuluh-puluh tahun lamanya di Jakarta. Sejak 
jaman Soeharto yang katanya amat korup hingga jaman kebebasan 
berpendapat seperti sekarang ini. Bahkan kondisi jalanan Jakarta 
sekarang jauh lebih parah dibanding jaman Soeharto dulu. Padahal 
sekarang semua orang bisa dan boleh mengkritik pemerintah. Tapi itu 
ternyata tidak cukup. Kritik atau demo saja hanya akan bergaung 
sehari-semalam saja, meskipun diberitakan oleh puluhan stasiun TV, 
ratusan surat kabar, radio atau media on-line sekali pun. Kita butuh 
sebuah sistem untuk menghukum para baboon yang menjadi pemimpin di 
negeri ini jika mereka berbuat salah, bahkan ketika mereka tidak 
berbuat apa pun.

Tanpa hukuman buat para pemimpin, Jakarta akan terus bobrok seperti 
ini. Lihat saja apa yang dikatakan Fauzi Bowo hanya sekejab setelah 
terpilih menjadi gubernur kota ini. Cuaca yang bikin banjir Jakarta, 
katanya. Alasan ini diucapkan pada saat Jakarta dilanda banjir 
kembali pada tanggal 1 Februari 2008. Tepat 1 tahun setelah banjir 
besar di Jakarta pada tanggal 3-4 Februari 2007 lalu. Padahal, kita 
berharap pada setiap gubernur baru yang terpilih untuk memiliki 
solusi atau konsep mengatasi banjir yang lebih baik dari gubernur 
sebelumnya. Bukan lagi-lagi menyumpali telinga kita dengan omong-
kosong tentang cuaca atau iklim yang berubah, karena banjir di 
Jakarta sudah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Harus ada 
solusi yang tidak hanya sekedar membangun Banjir Kanal yang biayanya 
sangat besar itu dan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa terlihat 
hasilnya jika sistem drainase belum dirubah.  Itu pun seharusnya 
mereka selalu menyadari biaya untuk membangun Banjir Kanal itu 
diperoleh dari rakyat, bukan dari kantong nenek-moyang gubernur itu, 
sehingga harus dijaga jangan sampai bocor se-sen pun. Gubernur harus 
selalu ingat, pembangunan Banjir Kanal bukan proyek memakmurkan para 
kontraktor, tetapi memakmurkan rakyat Jakarta, sehingga penggusuran 
pun harus dengan solusi yang bijak. Bukan dengan terburu-buru 
seperti sedang berperang melawan musuh nan durjana atau jangan 
menjadi penindas rakyat. Bagaimana pun solusi atau konsep banjir 
kanal adalah sebuah dilema karena beberapa ahli lingkungan 
mengatakan ini bukan solusi yang tepat untuk Jakarta. Sehingga 
gubernur harus juga menyediakan solusi lain di samping Banjir Kanal 
ini, misalnya dengan menjalin kerjasama yang lebih serius dengan 
wilayah pengirim banjir, yakni Bogor, mengelola danau-danau yang 
sudah ada, membangun danau-danau baru, dan membangun sumur-sumur 
resapan. Biaya yang diperlukan jauh lebih murah dibandingkan dengan 
Banjir Kanal dan dampak sosialnya jauh lebih kecil karena tidak 
menggusur begitu banyak tempat tinggal dan tempat mendapatkan 
penghasilan sehari-hari rakyat kecil.

Memang memprihatikan, jika gubernur Jakarta hanya seolah-olah 
dipilih oleh rakyat secara langsung, tetapi sebenarnya dipilih dulu 
oleh partai-partai, baru kita bisa memilih gubernur. Padahal pilihan 
partai-partai itu bukan berorientasi pada kepentingan rakyat, tetapi 
berorientasi pada politik. Saya yakin wakil-wakil rakyat yang juga 
katanya kita pilih melalui pemilihan langsung itu akan terus 
berkacak-pinggang untuk terus melakukan itu sampai lebih dari 
sepuluh tahun ke depan. Sehingga Jakarta akan terus dikelola oleh 
para baboon. Jadi cara yang tepat untuk mendapatkan pengelola kota 
Jakarta adalah dengan cara menyediakan sistem untuk menghukum mereka 
jika berbuat salah atau bahkan tidak berbuat apa pun. 

Di tengah keprihatian banjir dan jalan rusak di Jakarta, tiba-tiba 
beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah wawancara dengan Kapolda 
Jawa Barat yang baru Irjen Pol. Drs. Susno Duadji, S.H., M.Sc. 
(http://pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=11295). 
Sesaat setelah pidato di depan jajaran barunya yang cuma kurang dari 
10 menit, Susno Duadji meminta anak buahnya, yang perwira, untuk 
membuat pakta kesepakatan bersama yang inti dari isinya adalah 
larangan untuk menjadi polisi korup. Segera saja dalam beberapa hari 
berikutnya, peristiwa ini menjadi wacana yang seru di berbagai forum 
di Internet. Bahkan mungkin hampir semua orang mendapatkan forward 
dari berita ini melalui e-mail.

Saya yakin ini yang pertama kali dilakukan oleh seorang pemimpin 
polisi di tingkat propinsi. Bahkan Kapolri Sutanto yang menabuh 
genderang perang terhadap judi dan narkoba sekali pun tidak 
melakukan ini. Apa yang dilakukan Susno Duadji amat sederhana dalam 
memerangi perbuatan korup, tetapi akan memiliki dampak yang amat 
luas.

Korupsi adalah kejahatan kerah putih. Sehingga dilakukan jauh lebih 
terencana sehingga sulit menelusuri atau mendapatkan bukti-buktinya. 
Pengacara akan dengan mudah memberikan atau menemukan celah hukum 
untuk membebaskan kliennya dari jerat hukum, misalnya dengan alasan 
sakit, tidak ada bukti yang cukup, dakwaan tidak memiliki dasar yang 
jelas dan lain-lain. Sehingga tantangan bagi KPK dalam memberantas 
korupsi sesungguhnya amat besar. Namun apa yang dilakukan oleh Susno 
Duadji ini tentu bisa memangkas kerja panjang dan berliku dari KPK 
dalam memberantas korupsi. Jika sebuah perbuatan korup (yang 
ketahuan) langsung diberikan sangsi berupa pemecatan oleh orang yang 
paling dekat (atasan), maka perbuatan korup lainnya akan otomatis 
dapat dihambat atau diminimalkan.

Apa yang dilakukan oleh Susno Duadji ini bisa disebut sebagai upaya 
yang paling serius dalam memberantas korupsi. Bukan sekedar omong-
kosong belaka. Kalau Susno Duadji membabat anak buahnya sendiri, 
tentu anak buahnya juga siap membabat Susno Duadji jika ternyata 
Susno Duadji melakukan perbuatan korup.

Susno Duadji bahkan menjadi contoh yang amat mencolok di antara 
sikap hipokrit kebanyakan pengelola negeri ini dalam kerangka 
pemberantasan korupsi. Sebagai misal yang paling menonjol adalah 
bagaimana Menteri Keuangan bersama-sama dengan DPR mencoba 
menghambat kerja KPK dalam memeriksa kinerja Ditjen Pajak dengan 
dikeluarkannya UU 28/2007 tentang Ketentuan Umum Perpajakan 
(http://hukumonline.com/detail.asp?id=17390&cl=Berita). 

Dalam pasal 34 UU ini, BPK tidak memiliki keleluasaan dalam 
mendapatkan bukti-bukti langsung dari wajib pajak kecuali diizinkan 
terlebih dahulu oleh Menteri Keuangan. Padahal BPK sudah 3 tahun 
terakhir berturut-turut tidak dapat menilai Laporan Keuangan 
Pemerintah Pusat, alias mendapat disclaimer. Bahkan ketua BPK, Anwar 
Nasution, menyebut Ditjen Pajak seperti ini: "bahwa Ditjen Pajak 
tidak transparan, tidak bisa diaudit. "Hanya Direktorat Jenderal 
Pajak dan Tuhan yang tahu informasi pajak." 

Anwar Nasution juga menambahkan: "selama ini Ditjen Pajak merupakan 
institusi yang tidak akuntabel karena tidak bisa melakukan 
pemeriksaan pajak sesuai standar BPK. "Informasi kita mengenai pajak 
itu nol, DPR, BPK tidak tahu, DPD (Dewan Perwakilan Daerah) apalagi."

Susno Duadji bukan orang baru dalam pemberantasan korupsi. Ia sudah 
pergi ke 90-an negara untuk belajar memberantas korupsi. Bahkan ia 
pernah menjabat Wakil Kepala PPATK (Pusat Pelaporan Analisis dan 
Transaksi Keuangan). PPATK adalah sebuah lembaga yang bekerja sama 
dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Ia juga lulusan S1 Hukum, 
dan S2 Manajemen.

Susno dalam wawancara dengan Pikiran Rakyat itu, bahkan menganjurkan 
untuk mencopot gubernur sebagai pemimpin tertinggi. Begini kata-
katanya: "Jadi, kalau di provinsi, misalnya, ada korupsi, yang salah 
bukan karyawannya, tetapi gubernurnya. Memberantasnya bagaimana? 
Mudah saja. Tinggal copot saja orang tertinggi di instansi itu."

Mengenai memberantas korupsi di lingkungan sendiri, Susno juga 
menambahkan: "Mengusut kasus korupsi itu jauh lebih mudah ketimbang 
mengusut kasus pencurian jemuran. Mengungkap kasus pencurian jemuran 
perlu polisi yang pintar karena banyak kemungkinan pelakunya, 
seperti orang yang iseng, orang yang lewat, dan beberapa kemungkinan 
lainnya.  Kalau kasus korupsi, tidak perlu polisi yang pintar-pintar 
amat. Misal, uang anggaran sebuah dinas ada yang tidak sesuai. 
Tinggal dicari ke mana uangnya lari. Orang-orang yang terlibat juga 
mudah ditebak. Korupsi itu paling melibatkan bosnya, bagian 
keuangan, kepala projek, dan rekanan. Itu saja. Jadi, kata siapa 
sulit? Sulit dari mananya. Tidak ada yang sulit dalam memberantas 
korupsi. Kuncinya hanya satu, kemauan yang kuat."

Atau simak pandangannya tentang seorang pemimpin: "Bagi saya, siapa 
yang menjadi pemimpin harus mau mengorbankan kenikmatan dan kepuasan 
semu. Nikmat dengan pelayanan, dengan sanjungan, serta nikmat dengan 
pujian palsu. Malu dong bintang dua jalan petantang-petenteng, 
tetapi anak buah yang dipimpinnya korupsi dan memberikan pelayanan 
tidak sesuai dengan standar. Malu juga dong kita lewat seenaknya 
pakai nguing-nguing (pengawalan), sementara rakyat macet. Itu juga 
korupsi."

Jadi, Bang Foke, siap nggak ente ngurus kote Jakarta dengan komitmen 
seperti Susno Duadji? Kalo jalanan masih rusak, kalo jalan masih 
macet dan semrawut, kalo Jakarta masih banjir, ente ngapain aje? 
Ngurus kumis?


--- In [email protected], Harry Adinegara 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dengan postingan babah Honggie ini, kesan ku kalau di Indonesia 
itu tidak ada orang yang jujur dan adil ,....dengan kabaran ini 
lenyap bak embun ditelan sinar matahari.
>    
>   Aku merasa terharu dengan sikap Pak Susno ini. Ungkapannya yang 
menilai statusnya sebagai Kapolda dan dengan gamblang dan mudah 
dimengerti chalayak umum,  memberikan acuannya demi membangun mulai, 
dari dirinya kemudian satuan dan sektornya ,benar2 sangat 
mengharukan berbarengan sangat menggembirakan. Tidak cuman aku yang 
harus gembira tapi juga rakyat Jakarta dan Indonesia pada 
umumnya ,semuanya. Yang menggembirakan yalah bahwa beliau memberikan 
death line-nya agar praktek korupsi di-achiri dalam tempo beberapa 
bulan mendatang.
>    
>   Ngak ada pejabat yang berani bilang akan menuntasin korupsi 
mulai dari dirinya dan institusinya, dari atas terus kebawah. Jangan 
bawahan diminta stop korupsi tapi penggede acuh tak acuh dan tetap 
mau dapat setoran. Dari itu aku sudah katakan , korupsi harus 
diberantas, diberantas mulai dari atas, dengan cara melepaskan diri 
dari moral ber-korupsi ria.
>    
>   Tapi aku disamping gembira juga chawatir akan sikap dan 
kedudukan Pak Susno ini. Sampai berapa lama beliau bisa bertahan 
dalam lingkungan para penyamun para korupstor yang berjibun di 
Indonesia. Apakah nantinya beliau tidak malah dimusuhi dan berachir 
di desak keluar atau di mutasi ke daerah lain? Kalau tidak salah 
kayaknya Pak Hugeng tempo hari dan Ali Sadikin juga, kena geser 
karena sikapnya yang se-olah2 menentang arus air (perkorupsian ria).
>    
>   Aku harapkan Pak Susno akan berhasil dalam usahanya membrantas 
korupsi dan jangan rakyat banyak di bikin kecewa.
>   Achirnya ada juga seorang penggede yang punya sikap terhormat 
ini. Semoga banyak yang akan miniru Pak Susno ini. Dan mudah2an 
jawabannya pak Susno ini bukan cuman nato dan ber kwalitas retorika 
dan bernada populist melulu. Tapi terus terang baru satu kali ini 
aku dengar ungkapan seorang penggede yang sederhana, gamblang dan 
mudah dimengerti oleh orang banyak, tidak neko2, bravo Pak Susno.
>    
>   Harry Adinegara
>   
> 
> Yap Hong Gie <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           ---------- Forwarded message ----------
> From: Budi Rianto Halim <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Feb 15, 2008 12:39 PM
> Subject: KABAR GEMBIRA DARI Kapolda Jabar " Jangan Pernah Setori 
Saya "
> To: Rachmad Andika <[EMAIL PROTECTED]>, Hong-Gie Yap 
> <[EMAIL PROTECTED]>, Djoko Susetio <[EMAIL PROTECTED]>, Destrian 
> <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], Adrianus Tato 
> <[EMAIL PROTECTED]>
> Cc: [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED]
> 
> Kapolda Jabar Irjen Pol. Susno Duadji,
> "Jangan Pernah setori Saya"
> 
> Pikiran Rakyat, Edisi 10 Februari 2008
> 
> RABU (30/1) lalu, Kapolda Jabar Irjen Pol. Drs. Susno Duadji, 
S.H., M.Sc., 
> mengumpulkan seluruh perwira di Satuan Lalu Lintas mulai tingkat 
polres 
> hingga polda. Para perwira Satlantas itu datang ke Mapolda Jabar 
sejak pagi 
> karena diperintahkan demikian. Pertemuan itu baru dimulai pukul 
16.00 WIB.
> 
> Dalam rapat itu, kapolda hanya berbicara tidak lebih dari 10 
menit. Meski 
> dilontarkan dengan santai, tetapi isi perintahnya "galak" 
dan "menyentak". 
> Saking "galaknya", anggota Satlantas harus ditanya dua kali 
tentang kesiapan 
> mereka menjalani perintah tersebut.
> 
> Isi perintah itu ialah tidak ada lagi pungli di Satlantas, baik di 
lapangan 
> (tilang) maupun di kantor (pelayanan SIM, STNK, BPKB, dan 
lainnya). "Tidak 
> perlu ada lagi setoran-setoran. Tidak perlu ingin kaya. Dari gaji 
sudah 
> cukup. Kalau ingin kaya jangan jadi polisi, tetapi pengusaha. 
Ingat, kita 
> ini pelayan masyarakat. Bukan sebaliknya, malah ingin dilayani," 
tutur pria 
> kelahiran Pagaralam, Sumatera Selatan itu.
> 
> Pada akhir acara, seluruh perwira Satlantas yang hadir, mulai dari 
pangkat 
> AKP hingga Kombespol, diminta menandatangani pakta kesepakatan 
bersama. Isi 
> kesepakatan itu pada intinya ialah meningkatkan pelayanan kepada 
masyarakat 
> yang tepat waktu, tepat mutu, dan tepat biaya.
> Susno memberi waktu tujuh hari bagi anggotanya untuk berbenah, 
menyiapkan, 
> dan membersihkan diri dari pungli. "Kalau minggu depan masih ada 
yang nakal, 
> saatnya main copot-copotan jabatan," kata suami dari Ny. Herawati 
itu.
> 
> Pernyataan Susno itu menyiratkan, selama ini ada praktik pungli di 
> lingkungan kepolisian. Hasil pungli, secara terorganisasi, 
mengalir ke 
> pimpinan teratas. Genderang perang melawan pungli yang ditabuh 
Susno tidak 
> lepas dari perjalanan hidupnya sejak lahir hingga menjabat Wakil 
Kepala 
> PPATK (Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan). PPATK 
adalah sebuah 
> lembaga yang bekerja sama dengan KPK (Komisi Pemberantasan 
Korupsi) 
> menggiring para koruptor ke jeruji besi.
> 
> Berikut petikan wawancara wartawan "PR" Satrya Graha dan Dedy 
Suhaeri dengan 
> pria yang telah berkeliling ke-90 negara lebih untuk belajar 
menguak 
> korupsi.
> 
> Apa yang membuat Anda begitu antusias memberantas pungli atau 
korupsi?
> 
> Saya anak ke-2 dari 8 bersaudara. Ayah saya, Pak Duadji, bekerja 
sebagai 
> seorang supir. Ibu saya, Siti Amah pedagang kecil-kecilan. 
Terbayang ¢kan 
> betapa sulitnya membiayai 8 anak dengan penghasilan yang pas-
pasan. Oleh 
> karena itu, saat 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>                          
> 
>        
> ---------------------------------
> Get the name you always wanted with the new y7mail email address.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke