Teman-teman,

Saya baru kembali dari pembicaraan bersama teman2 wartawan dan juga teman2 di 
Perbankan, parlemen dan BI. Ternyata banyak pihak yang bermain baik itu DPR 
maupun di BI. Cukup surprise, saya mendengar berita dilapangan.

Ternyata salah satunya "dedengkot" biang keladi yang bermain di Bank Indonesia 
adalah "ANDRIANUS MOOY" (Mantan Gubernur BI zaman Soeharto).Selain anak buahnya 
"Yang Ahmad Rizal" (Direktur Perizinan BI)

Bisa kebayang enggak orang yang bermasalah di zaman soeharto seperti Andrianus 
Moy (Mantan Gub. BI), sekarang menjadi salah satu Tim yang menyeleksi calon2 
Direksi di Bank BNI?

Logikanya orang2 BI itu bagaiamana? kenapa orang2 yg sdh uzur dan punya masalah 
seperti andrianus moy diangkat sebagai salah satu tim penyeleksi "fit and 
Proper test"? apakah di Bank Indonesia tdk ada orang lain lagi yang pintar dan 
bersih?


Sudah jelas andrianus Moy (Mantan Gubernur BI), memegang andil yang sangat 
besar pada waktu penjegalan Raden Pardede dan Agus Marto di BI. Dan Doddy 
Virgianto menjadi Direksi Bank BNI. 
   
  Sudah bisa dipastikan, dari hasil korupsinya pada waktu menjabat BI, dgn 
mudah dia memanipulasi dan mengelontorkan sejumlah uang ke parlemen. (Pihak KPK 
harusnya aware dgn hal ini)

Andrianus Moy tidak ingin "ulah busuknya" mengambil harta Rakyat pada waktu 
menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia, tebongkar oleh KPK. Cobalihat berapa 
policy yang dia keluarkan sudah menyengsarakan rakyat? Kenapa yg ditangkap oleh 
KPK hanya paul sutopo, kenapa dia tidak? padahal dia adalah "mantan bosnya" 
paul sutopo. Dan sekarang
dia menjadi Salah satu Tim Penyeleksi Fit and Proper testnya BI.
  
Bisa saya bayangkan , apa yang Pak Anwar bilang BI sarang penyamun itu benar.
   
  Yang ditakutkan hal ini berimbas dan berakar cukup kuat ke anak buahnya yang 
sekarang menajabat sebagai Direktur Perizinan BI yaitu Yang Ahmad Rizal.


Kalau BI mau bersih:

1. BI harus bebas dari orang2 rezim lama zaman soeharto. jadi orang2 yg sdh 
uzur seperti Andrianus Moy dan juga kaki tangannya, mereka harus segera 
dibersihkan dan diberhentikan dari linkungan BI,serta diperiksa KPK.

2. Anak2 muda dari BI, yang masih bersih dan idealis, harus diangkat menjadi 
calon2 pengganti mereka.

3. Selama masa peralihan menunggu yg muda2 naik, sy setuju, bahwa Gubernur BI 
harus dari orang luar. Gunanya adalah utk memutus tali rantai "satu generasi"  
dari para senior2nya yang corrupt.

4. Policy2 BI yg memetingkan negara luar (yg dibuat oleh para pejabat BI yang 
merugikan bangsa Indonesia dan berpihak kepada IMF  harus dihapus). dan harus 
di buat policy yang membantu rakyat kecil spt UKM.


  Coba teman2 lihat beberapa artikel dibawah ini, saya heran mengapa orang kaya 
Adrianus Mooy masih bercokol di BI. Dia itu sebenarnya "trouble makernya" dari 
persoalan dari dia menjabat dia sebagai Gubernur BI, kasus Golden Key Rp. 1.3 
Trilliun (th 1994), Kasus Barito Pacific Timber Rp. 1.7 Trilliun (th 2001), dan 
yang terakhir adalah penjegalan calon Gubernur BI dan juga Direksi Bank BNI. 
Masih besar juga "nyalinya" orang tersbut yang sudah banyak meresahkan 
masyarakat. Bagaimana dgn KPK, kayanya tidak berani berbuat apa2 terhadap 
"master mind" dari semua kejadian.
   
  Berikut ini artikel2 yang berhasil saya kumpulkan (sebenarnya masih banyak 
lagi ini hanya bbrp) , sbb:
   
  1.)Suharto Tanyakan Soal Tanzil ke Adrianus Mooy
      Berita Dari JAWA POS edisi 04/08/94 (Jakarta, JP.-)        Presiden 
Soeharto, kemarin menanyakan skandal penyaluran kredit Bapindo Rp 1,3 triliun 
kepada mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Adrianus Mooy. Kredit tersebut 
disalurkan Bapindo kepada pemilik Golden Key Group Eddy Tansil dan kemudian 
menjadi kasus nasional.         Mooy yang kini Dubes RI untuk Masyarakat Eropa 
itu, menjawab semua pertanyaan presiden. Tetapi, diantara jawabannya terdapat 
hal-hal yang agak ganjil, misalnya Mooy mengaku tidak pernah kenal Eddy Tansil. 
Padahal, ketika kredit tersebut dikucurkan Mooy masih menjabat gubernur BI.     
   Ketika menghadap Pak Harto, Adrianus Mooy didampingi Menseneg Moerdiono. 
ertemuan presiden dengan Mooy dan Moerdiono ini berlangsung selama satu jam 
lebih.        Mooy, lebih banyak diam ketika memberikan keterangan kepada 
wartawan. Insiatif jawaba selalu diambil alih oleh Mensesneg.   Mooy yang duduk 
di samping kanan Mensesneg tampak gelisah, sesekali dia tampak
 membetulkan cara duduknya.   Mantan gubernur Bank Sentral, apa mengetahui 
duduk perkara Bapindo ini, apa kenal Eddy Tansil, apa tahu perusahaan yang  
namanya Golden Key, apa tahu kalau ada masalah di sana,'' kata Mensesneg. 
Banyak pertanyaan wartawan kepada Mooy yang dijawab langsung oleh Mensesneg.    
    Mengutip hasil pembicaraan presiden dengan mantan gubernur BI itu, 
Mensesneg mengatakan, bahwa Pak Mooy memperlihatkan tidak  pernah kenal 
pengusaha bernama Eddy Tansil. Nama Eddy baru diketahui melalui surat-surat 
kabar di tanah air yang dibaca di  tempat kerjanya, yaitu di Brussel Eropa.     
   ''Jadi nama orangnya saja tidak tahu, perusahaannya juga tentu tidak tahu. 
Kalau di sana ada masalah tentu tidak tahu,'' kata Mensesneg yang dibenarkan 
oleh Mooy.        Kendatipun demikian, menurut Mensesneg, Adrianus Mooy 
menyatakan bersedia dimintai keterangan sekiranya Kejaksaan Agung merasa perlu 
memintai keterangan tentang kasus Golden Key yang  sekarang dalam tahap
 pemeriksaan itu.        ''Dan, kalau saya boleh informasikan kepada Anda, saya 
telah menanyakan kepada jaksa agung, apakah Pak Mooy perlu dimintai keterangan 
atau tidak. Menurut jaksa agung sampai hari ini tidak ada alasan yang cukup 
untuk meminta keterangan dari Pak Mooy,'' kata Mensesneg.        Lantas 
Mensesneg berujar dengan nada tanya yang langsung dijawabnya sendiri. ''Mengapa 
hal ini perlu ada kejelasan? Karena selagi Pak Mooy ada di tanah air tentu akan 
lebih efisien,'' kata Mensesneg.        Bukankah ketika kredit itu mengucur 
kepada Eddy Tansil, Adrianus Mooy menjabat gubernur BI? ''Gubernur BI tidak 
harus tahu semua kredit, karena masalah kredit itu menjadi tanggung jawab 
direksi bank bersangkutan. Sebab kalau tidak, Bank Sentral menjadi pengurus 
kredit,'' jawab Mensesneg.        Menyinggung adanya pengawasan dalam kasus 
tersebut, Mensesneg mengatakan, jelas ada pengawasan. ''Tapi, hanya masalah 
yang mempunyai pengaruh besar secara makro saja, gubernur Bank
 Sentral baru melaporkan kepada pemerintah dalam hal ini presiden. Contoh 
kongkritnya kasus Bank Duta,'' katanya.        Mooy lantas menyaranakan agar 
wartawan bertanya langsung kepada gubernur BI sekarang mengenai mekanisme 
pengawasan di dunia perbankan. ''Di BI itu ada pengawas dan pemeriksa. Tentu 
dari situ ada kepala bagian, kepala urusan, direksi, baru kemudian gubernur,'' 
kata Mooy.  
_______________________________________________________________________  2. KKN 
Orde Baru
Adrianus Mooy Diperiksa Kejakgung

Jakarta, 30 April 2001 18:45
MANTAN Gubernur BI Adrianus Mooy hari ini diperiksa Kejaksaan Agung, sebagai 
aksi dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi PT Bahana Pembinaan Usaha 
Indonesia (BPUI) dengan tersangka mantan Menteri Keuangan Ali Wardana dan 
mantan dirut BPUI Sudiono Timan.

"Pemeriksaan juga berkisar pada masalah pengambilalihan utang PT Barito Pasific 
sebesar Rp 1,7 triliun, tetapi perusahaan itu baru menerima Rp 628 milyar 
sehingga dugaan kerugian negara Rp 1,1 triliun," kata Kepala Pusat Penerangan 
dan Hukum Kejaksaan Agung Moeljohardjo, kepada pers. 

Materi pemeriksaan, kata Moeljohardjo, adalah peranan saksi pada penandatangan 
perjanjian kerjasama antara pemegang saham PT BPUI dan PT Arta Investa Arga 
(AIA). 

Pemeriksaan Mooy, katanya, dalam kapasitasnya mewakili BI sebagai pemegang 
saham 80 persen di BPUI. Menurutnya, pemeriksaan juga mencari infomasi tentang 
latar belakang dibuatnya perjanjian kerjasama dan bagaimana proses memutuskan 
dilakukannya kerjasama di antara pemegang saham, serta adanya hak opsi di PT 
AIA untuk membeli 70 persen saham milik BI di PT BPUI sebagaimana tercantum 
dalam kerjasama tersebut.

Pada kesempatan yang sama, mantan Dirjen Lembaga Keuangan yang juga mantan 
Menkeu Bambang Subianto juga diperiksa dalam kasus yang sama. 

Pemeriksaan, katanya, difokuskan pada peranan saksi sebagai ketua tim supervisi 
kredit bank pemerintah saat itu, yang melakukan supervisi terhadap porto polio 
kredit atau monitoring kredit pada bank pemerintah.
  3. Golkar dan Demokrat Sokong Agus  Voting akan dilakukan malam ini.
    JAKARTA -- Partai Golkar dan Partai Demokrat mendukung Agus Martowardojo 
menjadi kandidat Gubernur Bank Indonesia menggantikan Burhanuddin Abdullah. 
Kedua partai besar ini optimistis Direktur Utama Bank Mandiri itu bakal mulus 
melaju ke posisi puncak untuk memimpin bank sentral.

Dukungan terang-terangan itu mencuat di tengah berlangsungnya proses uji 
kelayakan dan kepatutan atas dua calon Gubernur BI di Komisi Keuangan dan 
Perbankan (XI) Dewan Perwakilan Rakyat. Selama dua hari berturut-turut, kedua 
calon, yakni Wakil Direktur Utama PT Perusahaan Pengelola Aset Raden Pardede 
dan Agus Martowardojo, secara bergiliran dicecar oleh anggota DPR. Malam ini, 
rencananya voting pemilihan Gubernur BI akan digelar.

Kemarin giliran Agus diuji DPR. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya 
mendorong fungsi intermediasi perbankan untuk menopang pertumbuhan ekonomi, 
meski tetap harus hati-hati. Ia juga mengingatkan perlunya bank sentral 
bersinergi dengan institusi lain. "BI akan lebih terbuka. Tapi tak akan ada 
kebijakan ekstrem," katanya. Ia berharap BI disegani di level nasional dan 
global.

Menurut anggota Komisi Keuangan dari Partai Golkar, Melchias Markus Mekeng, 
sikap partai yang dipimpin Wakil Presiden Jusuf Kalla ini sudah jelas menyokong 
Agus. Ia memastikan koordinasi intensif di dalam partai sudah berlangsung. "Ini 
sudah garis putusan partai," ujar Markus. Artinya, 12 suara Golkar akan 
diberikan untuk bankir senior itu.

Sikap serupa muncul di Partai Demokrat, kubu pendukung pemerintah lainnya. 
Menurut anggota Komisi Keuangan dari Partai Demokrat, Vera Febyanthy, sikap 
partainya sudah sangat jelas mendukung Agus menduduki kursi puncak di BI. Jadi 
enam anggota Komisi XI dipastikan akan menjatuhkan suara mereka untuk bos bank 
terbesar di Indonesia itu.

Dukungan kedua partai tersebut bukan tanpa alasan. Menurut Markus dan Vera, 
partai mereka ingin Gubernur BI tak hanya sibuk memikirkan inflasi, tapi 
melupakan sektor riil. Mereka berpendapat, ekonomi tidak akan membaik jika 
dunia usaha tak jalan.

Karena itu, mereka berpandangan saatnya kondisi itu diubah. "Nah, sebagai 
bankir, Agus adalah figur yang tepat untuk mendorong dunia usaha," kata Markus. 
Namun, agar moneter tetap terjaga, menurut dia, Agus bisa mendayagunakan sumber 
daya di BI yang sudah jagoan menjalankan tugasnya.

Berbeda dengan kedua partai itu, dua partai lainnya, yakni Partai Demokrasi 
Indonesia Perjuangan dan Partai Keadilan Sejahtera tetap berkeras menolak kedua 
calon tersebut. Kedua partai itu menganggap kemampuan Agus dan Raden masih 
diragukan untuk memimpin bank sentral. Gabungan kedua partai berjumlah 14 suara.

"Agus tidak menguasai makroekonomi," kata anggota DPR dari PDIP, Maruarar 
Sirait. Adapun Raden Pardede diakui memang menguasai soal moneter. Tapi, "Yang 
lebih ahli dari dia lebih banyak di BI," ujar anggota Dewan dari PKS, Andi 
Rahmat, kemarin.

Di luar kubu yang jelas berseberangan itu, beberapa partai lainnya masih belum 
menentukan sikap. Partai Amanat Nasional, misalnya, menurut kadernya, Dradjad 
Wibowo, belum memutuskan. "Kami akan rapat dulu," katanya.

Bagaimanapun, tampilnya orang luar untuk memimpin bank sentral memicu 
pertanyaan mantan petingginya. Menurut mantan Gubernur BI Adrianus Mooy, sistem 
pemilihan Gubernur BI sekarang telah memicu pengotakan di tubuh bank sentral. 
"Kerja tim jadi berkurang," ujarnya. EKO NOPIANSYAH | SORTA TOBING 
   

   
  4. Sindo Edisi Sore Ekonomi Sore 
  BI Belum Independen  
  Rabu, 12/03/2008  
   
  JAKARTA (SINDO) – Bank Indonesia (BI) sebagai pengelola moneter dinilai belum 
independen. Pemerintah masih bisa mengintervensi kebijakan Bank Sentral.   
’’Misalnya, pemilihan Deputi Gubernur BI.Seharusnya, dia dipilih atau diusulkan 
oleh Gubernur BI, sedangkan presiden tinggal menyetujuinya,” tutur mantan 
Gubernur BI Adrianus Mooy dalam diskusi yang mengkritisi independen BI di 
Jakarta kemarin.  Adrianus Mooy menambahkan, pemerintah secara politik masih 
memengaruhi BI.Bahkan, UU BI yang memberikan jaminan bebas dari politik 
eksekutif pada kenyataannya tidak demikian. 
   
  Presiden masih bisa melakukan intervensipadahal-haltertentu. ’’Bebas dari 
pengaruh pemerintah itu sama sekali tidak mungkin karena UU BI itu kan dibuat 
DPR,”ungkapnya. Jadi, independensi di sini maksudnya adalah menghindari campur 
tangan pemerintah yang negatif.Artinya,bukannya tidak boleh berhubungan atau 
berkoordinasi dengan pemerintah,melainkan menghindari campur tangan yang tidak 
baik. Sebab, itu akan memiliki dampak yang tidak menguntungkan bagi inflasi dan 
perekonomian secara menyeluruh. ’’Ke depan perlu dibangun mekanisme komunikasi 
yang bisa menjamin BI tidak bisa didikte harus melakukan ini atau itu yang 
tidak sesuai kebijakan BI untuk mencapai target inflasi.
   
  Namun, BI dan pemerintah harus bekerja sama untuk mengkaji inflasi,” 
tuturnya. Hal yang sama juga diungkapkan mantan Menteri Keuangan (Menkeu) JB 
Sumarlin. Dia berpendapat Deputi Gubernur BI tidak perlu melalui fit and proper 
test (uji kelayakan dan kepatutan). ’’Karena Gubernur BI merupakan jabatan 
tertinggi di BI, gubernur mengajukan Deputi BI untuk pengangkatan sehingga bisa 
menjaga tim workyang baik,”tuturnya. Sementara itu, ekonom Centre for Strategic 
and International Studies (CSIS) Raymond Atje menambahkan, tingkat inflasi 
maupun pola perubahan inflasi sejak diperkenalkan independensi BI tidak banyak 
berbeda dengan masa-masa sebelum krisis. 
   
  Menurut dia, terlalu dini berharap banyak terhadap peran BI dalam 
pengendalian inflasi. Dugaan campur tangan pemerintah menunjukkan BI belum 
benar-benar independen. ’’Karena untuk mengetahui itu, dibutuhkan penelitian 
lebih jauh.Sementara itu,sekurang-kurangnya kita bisa yakin bahwa BI tidak lagi 
dipergunakan untuk membiayai proyek politik pemerintah yang berkuasa seperti 
yang terjadi pada masa Orde Lama,”tuturnya. Analis perbankan Mirza Adityaswara 
menambahkan, untuk menjadi bank sentral yang berfungsi baik diperlukan 
independensi yang bertanggung jawab.Ini demi tercapainya stabilitas moneter dan 
sektor keuangan yang sehat.
   

  Demikian saya sampaikan.



Chandra s. Widjojo



       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke