Stop Kenaikan Harga BBM dan Kekeliruan Subsidi Langsung

Akhir-akhir ini berkembang wacana dari INDEF dan KADIN untuk menaikan harga 
BBM. Alasannya subsidi BBM Rp 126 trilyun sudah terlalu besar dan bisa 
dialihkan menjadi subsidi langsung ke bidang pangan dan kesehatan untuk rakyat. 
Selain itu selisih harga BBM subsidi dan non subsidi hendaknya tak lebih dari 
Rp 1000/liter saja kata mereka.

Meski sekilas benar, namun wacana seperti ini tak lebih dari penipuan yang akan 
membuat rakyat semakin menderita.

Pertama-tama kenaikan harga BBM ini bukan cuma sekali-dua kali. Tapi sudah 
terjadi berkali-kali dari harga premium Rp 450/liter, kemudian naik jadi Rp 
700, rp 1.000, 1.300, hingga jadi Rp 4.500/liter seperti sekarang. Toh apakah 
pangan jadi lebih murah? Beras raskin saja harganya saat ini jadi Rp 2.500/kg. 
Lebih mahal ketimbang beras biasa sebelum kenaikan karena seiring kenaikan 
harga BBM, maka harga pangan otomatis akan naik sebab pangan itu 
didistribusikan pakai kendaraan. Bukan digemblok dengan jalan kaki saja...

Kemudian apakah saat ini kesehatan jadi terjangkau oleh rakyat? Jangankan 
sehat, rakyat lapar saja pemerintah tidak mampu mengatasinya. Diperkirakan saat 
ini 5 juta BALITA mengalami kurang gizi/busung lapar karena kelaparan.

Satu alasan kenapa subsidi langsung untuk rakyat miskin tidak jalan adalah 
karena kriteria orang miskin di Indonesia tidak tepat. Terlalu rendah. Kriteria 
orang miskin di Indonesia adalah jika pendapatan mereka kurang dari Rp 167 ribu 
per bulan atau hanya Rp 5.500 per hari (kurang dari US$ 0,6/hari). Padahal 
setahu saya biaya kontrak/indekos saja paling murah Rp 100 ribu/bulan (orang 
miskin jarang punya rumah sendiri). Kemudian biaya makan paling tidak rp 3.000 
sekali makan. Kalau 3 x makan biayanya Rp 9.000. Dengan garis kemiskinan yang 
sangat rendah ini, jumlah orang miskin di Indonesia ada 37 juta jiwa.

Sementara menurut standar Bank Dunia, garis kemiskinan absolut adalah US$ 
1/hari untuk satu orang. Sementara Garis kemiskinan moderat US$ 2/hari. Dengan 
standar Bank Dunia, jumlah orang miskin absolut di Indonesia ada 62 juta jiwa. 
Dari kriteria garis kemiskinan ini saja sudah ada 25 juta rakyat miskin absolut 
yang tidak dapat bantuan dan bisa kelaparan!

Bahkan di Kalsel saja 50% penduduk miskin belum terdata! Jadi harus diakui 
pemerintah kita tidak mampu menyalurkan bantuan langsung (lihat 
http://infoindonesia.wordpress.com).

Jika memang ada yang tidak berhak menikmati subsidi BBM, harusnya pemerintah 
melarang pihak yang tidak berhak untuk menikmati subsidi BBM. Caranya yang 
boleh beli premium bersubsidi di pom bensin adalah kendaraan angkutan umum plat 
kuning, kendaraan truk/pick-up angkutang pangan. Kalau kendaraan pribadi 
seperti sedan atau minibus seperti kijang langsung dilarang membeli premium 
subsidi. Mereka harus beli pertamax atau premium non subsidi. Sementara 
kendaraan yang dipakai rakyat menengah bawah seperti angkutan umum dan angkutan 
pangan harus dapat Subsidi Langsung BBM. Harusnya sederhana kan?

Mengawasi penyalah-gunaan di beberapa pom bensin jauh lebih mudah ketimbang 
pemerintah harus memberikan bantuan langsung kepada 62 juta rakyat Indonesia 
yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia hingga di sawah, hutan, atau pulau 
terpencil. Belum lagi mental korup sebagian pejabat penyalur sehingga bantuan 
sering bocor di jalan.

Tidak semua pemakai BBM adalah kelompok menengah ke atas. Supir-supir angkot, 
bis, mikrolet beserta para penumpangnya umumnya golongan menengah bawah. Jika 
pemerintah tidak mampu menyalurkan bantuan langsung subsidi BBM melalui pom 
bensin yang ada, apalagi menyalurkan bantuan subsidir langsung beras, migor, 
dsb ke puluhan juta rakyat kecil.

Apakah nanti kendaraan plat kuning akan menjual premium subsidi ke perusahaan? 
Caranya tidak perlu pakai smart card yang efektivitasnya masih meragukan. Cukup 
dengan membatasi pembelian 10 liter per antri. Jadi untuk mendapat 40 liter 
mereka harus antri 4 kali. Bisa juga dicIni sudah cukup untuk membatasi 
penyalah gunaan. Bisa juga petugas POM memberi tanda/cat yang baru kering 24 
jam kemudian pada mobil pembeli BBM bersubsidi sehingga tidak antri 
berkali-kali.

Pemerintah juga harus menaikan pajak STNK dan juga bea masuk mobil mewah untuk 
kendaraan pribadi hingga besarnya sama dengan masa ORBA yang bisa mencapai 
400%. Saat ini bea masuk mobil mewah sangat rendah sementara subsidi BBM 
langsung untuk rakyat ingin dicabut. Ini jelas kebijakan yang tidak pro rakyat.

Alasan selisih harga terlalu besar dipakai untuk menaikan harga BBM hanya 
berakibat harga akan naik di luar jangkauan rakyat. Selisih Rp 1.000 untuk 
rakyat yang kaya dengan miskin itu terlalu kecil karena jurang antara kaya dan 
miskin sangat lebar di Indonesia. Orang kaya seperti Aburizal Bakrie punya 
harta sampai Rp 50 trilyun per tahun. Sementara keluarga Basse di Makasar yang 
mati kelaparan penghasilannya hanya Rp 150 ribu hingga 300 ribu per bulan.

Penaikan harga BBM akan mengakibatkan seluruh harga barang naik. Dan naiknya 
bukan cuma 1-3% seperti ramalan sebagian ”Ahli Ekonomi”, tapi lebih dari itu 
(kenaikan pangan saja saat ini mencapai 100% lebih). Subsidi pangan otomatis 
akan naik. Perusahaan-perusahaan yang saat ini hidup bagai zombie akan banyak 
yang gulung tikar dan pengangguran akan merajalela. Rakyat makin menderita.

Subsidi Langsung berbagai pangan seperti beras raskin, minyak goreng, minyak 
tanah, dsb akhirnya justru menghabiskan waktu rakyat. Rakyat tak dapat bekerja 
atau berusaha karena harus antri berjam-jam untuk mendapatkan beras , migor, 
atau pangan lain yang lebih murah.  Terkadang ada Balita yang tergencet karena 
ibunya berebut beras raskin. Pemandangan seperti inikah yang diinginkan oleh 
orang-orang yang pro kenaikan harga BBM?

Sesungguhnya meski harga minyak naik sampai US$ 200/barrel pun Indonesia masih 
tetap untung karena produksi minyak domestik Indonesia jauh lebih besar dari 
impor dan biaya mendapatkan BBM hanya US$ 15/barrel (Rp 870/liter). Lihat 
perhitungan dan simulasinya di:

http://agusnizami.wordpress.com/2007/11/08/simulasi-harga-minyak-dengan-transaksi-minyak-indonesiaSebagaimana
 

Jika pemerintah ingin mencabut subsidi, sebaiknya pemerintah mencabut subsidi 
sekitar Rp 680 trilyun dalam bentuk bunga SBI dan ORI bagi orang kaya.

Rakyat sudah mensubsidi pemerintah sebesar Rp 500 trilyun dalam bentuk pajak 
sehingga para pejabat bisa menikmati gaji besar, mobil, dan rumah mewah. Oleh 
karena itu tidak sepantasnya para pejabat meributkan ”subsidi” BBM senial Rp 
126 trilyun. Pemerintah cukup melarang pemilik mobil pribadi untuk beli premium 
bersubsidi. Ini sederhana sekali.





===
Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS

Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel 
Informasi selengkapnya ada di http://www.media-islam.or.id atau 
http://syiarislam.wordpress.com


      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

Kirim email ke