Mencari tempat ibadah aman?
Lucy Williamson
BBC News in Jakarta
Beberapa pusat pertokoan di Jawa Barat menjadi rumah ibadah Kristen
Pusat pertokoan yang kosong biasanya tidak menyenangkan atau bahkan
mengerikan, seperti pada suatu Minggu pagi.
Namun pagi itu --ketika semua toko masih tutup-- banyak orang yang datang
dan suara sepatu mereka bergema di lorong pertokoan yang kosong.
Masih belum jam 8 pagi dan toko-toko masih tutup, jadi tentu mereka
datang bukan untuk berbelanja.
Mereka datang ke pertokotan itu untuk berdoa.
Banyak pusat pertokoan di Propinsi Jawa Barat yang kini menjadi tempat
beribadah umat Kristen. Di salah satu pusat pertokoan malah ada yang menjadi
rumah ibadah dari 10 persekutuan.
Hanya sebagian kecil yang bersedia menjelaskan kenapa mereka sampai
beribadah di pusat pertokoan, dan --tanpa bersedia disebutkan namanya-- mereka
mengatakan karena kekuatiran intimidasi kelompok Islam.
Mereka menjadi marah dan frustasi sehingga ledakan kecil bisa
terjadi
Saipul Abdullah
Laporan dari pihak gereja menyebutkan 100 lebih gereja diserang atau
mendapat intimidasi dalam waktu 2 tahun belakangan.
Agama atau peraturan
Salah satu kelompok yang dituduh berada di belakang sejumlah insiden
adalah Front Pembela Islam, FPI, sebuah kelompok yang menjadi berita besar
ketika mengusir majalah Playboy edisi Indonesia keluar dari ibukota Jakarta.
Para pemimpin umat Kristen menuduh anggota FPI yang membuat sejumlah
gereja tutup karena aksi kekerasan maupun intimidasi.
Saipul Abdullah, salah satu pimpinan FPI Jawa Barat, mengatakan kepada
BBC bahwa ada kemungkinan anggotanya bertindak emosional.
"Mereka menjadi marah dan frustasi sehingga ledakan kecil bisa terjadi,"
tuturnya.
"Mungkin mereka melepas papan nama, merusak pintu atau mengunci pintu
namun mereka sebenarnya tidak punya hak untuk hal itu."
Namun Saipul Abdullah menegaskan masalahnya bukanlah agama tapi karena
sejumlah gereja tidak mengikuti peraturan.
Hanya 20% gereja-gereja di Jawa Barat yang mempunyai ijin resmi untuk
melaksanakan ibadah.
Dan Saipul Abdullah mengatakan dia meminta surat tentang keberadaan hukum
kepada gereja-gereja yang tidak punya ijin resmi.
Sejumlah umat Kristen kuatir untuk beribadah di tempat terbuka
Jika tidak ada tanggapan, tambahnya, mereka mengirimkan surat
peringatakan dan kemudian meneruskan masalahnya kepada polisi.
Tidak mudah
Agar bisa mendapat ijin resmi, maka sebuah gereja harus mencari 90
tanda-tangan dari umat Islam yang tinggal di sekitar gereja tersebut.
Namun di sejumlah kawasan jelas tidak mudah untuk mendapatkan ijin.
Salah satu diantaranya adalah Gereja Pasundan, yang sudah berdiri di
kawasan pinggiran Bandung selama 60 tahun lebih.
Namun pendetanya, Olbertina Modesta, mengatakan setiap kali mereka
berupaya untuk mendapatkan tanda-tangan yang dibutuhkan maka tak ada umat Islam
yang bersedia.
Propinsi Jawa Barat memang mempunyai sejarah panjang dari aliran Islam
yang keras.
Selema beberapa dekade, propinsi ini menjadi daerah kekuatan Darul Islam,
dan di beberapa tempat masih ada ulama-ulama yang menyampaikan pandangan keras.
Itulah sebabnya saya yakin ini bukan soal ijin tapi karena menjadi
Kristen
Pendeta Olbertina Modesta
Tidak ada pilihan
Bulan November tahun lalu, Gereja Pasundan diserang oleh sekelompok umat
Islam setempat.
Mereka membalikkan kursi gereja dan melempari buku doa maupun merusak
salib di dinding gereja.
Dan pendeta Olbertina Modesta yakin bahwa masalah sebenarnya bukanlah
sekedar ijin saja.
"Kadang saya mendengar di masjid ada yang mengatakan kami kafir dan kami
tidak boleh tinggal di sini," katanya.
"Itulah sebabnya saya yakin ini bukan soal ijin tapi karena menjadi
Kristen."
Polisi mengatakan sejauh ini belum ada yang ditangkap sehubungan dengan
serangan itu dan pendeta Olbertina kini memimpin ibadah di sebuah rumah sakit
setempat.
Pusat pertokoan dan rumah sakit jelas tidak punya ijin sebagai rumah
ibadah, namun paling tidak cukup aman, dan untuk sementara waktu.
Dan sampai jemaat --seperti yang dipimpin Olbertina-- bisa mendapatkan
gereja yang permanen, maka mereka akan berada di pusat pertokoan atau rumah
sakit.
mediacare
http://www.mediacare.biz
[Non-text portions of this message have been removed]