Assalammu'alaikum wr ab, Saya kirimkan konfirmasi kesalahan pemboran sumur gas tua di Sidoardjo yang menyebabkan malapetaka semburan lumpur panas. Jadi bukan salahnya alam gunung berapi Semeru ataupun gempa bumi Yogyakarta yang lalu. Lapindo-Bakrie harus bertanggungjawab terhadap kerugian ekonomi dan finansial pemerintah RI dan penduduk Sidoardjo.
"Moddervulkaan Java door gasboring" (Semburan lumpur panas di Jawa oleh pemboran gas) NRC-Handelsblad Dipublikasi 11 Juni 2008 AP, Reuters Jakarta, 11 Juni. Semburan lumpur panas yang menimpa pulau Jawa, Indonesia, semenjak Mei 2006 adalah disebabkan oleh pengeboran-pengeboran gas. Demikian kesimpulan penyelidikan internasional yang dimuat dalam suatu artikel pada journal "Earth and Planetary Science Letters". Perusahaan Lapindo Brantas, yang melakukan pemboran gas di daerah tersebut, masih terus mengatakan bahwa, gempa bumilah yang telah menyebabkan semburan lumpur berbau busuk yang telah menyebabkan 50.000 orang kehilangan rumah dan seluruh dusun telah ditelan. Para ahli tetap menyatakan bahwa, pemboran-pemboran Lapindo-lah yang menjadi sebab-musababnya. Semburan lumpur panas dan berbau busuk itu mulai terjadi 29 Mei 2006, hari pada saat Lapindo sedang melakukan pemboran gas. Perusahaan milik Aburizal Bakrie, menteri Urusan Sosial dan pengusaha terkaya di negeri itu, menunjuk kepada gempa bumi Yogyakarta yang terjadi dua hari sebelumnya sebagai sebab-musababnya. Pada gempa bumi tersebut telah jatuh korban sebanyak 6.000 orang. Pusat titik gempa bumi dengan kekuatan 6,3 pada skala Richter terletak 250 km di bawah kawah lumpur. Menurut ahli geologi Michael Manga dari Universitas Berkeley gempa bumi yang terjadi itu tidak cukup kuat dan besar pada jarak sejauh itu untuk dapat menjadi sebab semburan lumpur panas berbau busuk itu dapat mencapai permukaan Bumi. Richard Davies dari Universitas Durham, yang telah terlebih dahulu menyampaikan pemiikiran demikian terhadap penjelasan perusahaan pengebora gas, sekarang ini mengatakan bahwa, pada ketika itu juga aliran gas dan air dalam jumlah besar langsung memasuki lubang pemboran yang menyebabkan tekanannya tak terkendali lagi dan air terdorong ke atas permukaan bersama-sama gumpalan batua-batuan. Dengan demikian menyebabkan rekahnya permukaan tanah. Hingga sekarang masih mengalir per-harinya kira-kira 100.000 meter kubik lumpur dari rekahan-rekan permukaan tanah tersebut. Menurut ahli geologi Manga adalah tidak mungkin lagi menutup rekahan-rekahan tanah permukaan tersebut. Lapindo Brantas mengatakan bahwa, mereka siap menghadapi "perdebatan ilmiah" mengenai sebab-musababnya. Perusahaan tersebut meragukan keahlian dari tim penyelidikan yang telah mempublikasi kesimpulannya itu. Pemerintah Indonesia memperkirakan kerugian yang diderita mencapai 800 juta US dollar dan Lapindo diharuskan membayar separohnya saja, sebahagian berujud bayar ganti rugi kepada penduduk yang tertimpa musibah lumpur Lapindo. -----------000------------ [Non-text portions of this message have been removed]

