Menafikan Islam atas nama Islam

Oleh: Ibnu Ardhi

Trend pemikiran dunia saat ini mengarah kepada satu kecenderungan
untuk menghabisi ideologi atau pandangan hidup yang dapat memimpin
manusia dalam kehidupan sosial. Artikel Ulil Abshar Abdalla yang di
muat di Kompas dengan judul `Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam' (18
November 2002) sangat remeh jika dipandang secara logika, karena
paling tidak terdapat 2 alinea yang saling bertentangan konsekwensinya.


Dapat digarisbawahi bahwa yang lebih penting dari munculnya artikel
seperti ini dan kisruh yang timbul di masyarakat Islam dimanapun
adalah kecenderungan tersebut di atas. Di mana ada energi
besar-besaran yang dikerahkan dalam rangka menciptakan wacana dan
opini khusus dalam masyarakat umum khususnya masyarakat Islam.

Dengan menilai artikel Ulil secara umum kita dapat melihat kondisi
psikologis penulisnya. Orang-orang semacam Ulil akan terus berbicara.
Sementara kita dapat mengambil peran oposan terhadap pemikiran atau
lebih tepatnya falasi (sesat pikir) semacam ini.

Harus juga dapat dipahami bahwa ada Grand Design dibalik munculnya
fenomena seperti ini di kalangan umat manusia. Kita perlu terus
mencerdaskan diri untuk dapat meng-counter atau menunjukkan kebatilan
dari falasi semi ilmiah seperti ini.

Menurut al-Qur'an, sejak mula kehidupan manusia yang menjadi awal
pertikaian adalah ideologi. Begitu juga menurut versi sejarah modern,
pertikaian yang disebabkan oleh ideologi ditandai dengan terjadinya
Perang Salib antara umat Islam dan Kristen untuk memperebutkan wilayah
suci Palestina, pertikaian antara umat Kristen dan Katolik di Eropa,
pertentangan diantara mazhab Naziisme, Nasionalisme, Sosialisme,
Rasisme dengan paham lainnya di Eropa. Juga pertentangan antara
Komunis dan Kapitalis.

Ketika Rusia yang mewakili ideologi Marxisme tumbang, Amerika Serikat
(AS) melihat dirinya sudah sendiri. Kemudian AS mencetuskan ide New
World Order (Tatanan Baru Dunia). Yang menjadi salah satu prinsip
utama ide ini adalah tidak boleh ada satupun ideologi yang bangkit
memobilisasi ratusan ribu atau jutaan manusia dalam rangka mencetuskan
satu misi suci lalu melawan AS. Dalam rangka menyukseskan ide ini, AS
melemparkan isu-isu baru seperti pluralisme, demokrasi, hak asasi
seraya menciptakan satu bentuk penerapan yang sangat menjijikkan. Jadi
Pluralisme adalah salah satu bentuk Grand Design. AS mengklaim bahwa
tidak ada lagi masyarakat paling ideal selain Barat dimana kebebasan
tidak dibatasi, tidak ada lagi ideologi, yang ada hanya kepentingan.

Ada dua faktor dominan yang jika tidak tuntas ditangani maka tidak ada
garansi bagi seseorang untuk tetap berada di jalan kebenaran, yaitu
rasa takut dan rasa aman. Jika salah satu rasa tersebut membelenggu
seseorang maka kebenaran, keadilan tidak lagi penting baginya.
Objektivitas juga akan hilang dari dirinya. Contoh nyata adalah
artikel Ulil, yang menunjukkan kondisi psikologis penulis yang tidak
seimbang, yaitu bagaimana mengatasi rasa takutnya dan menangani
keinginannya untuk melakukan sesuatu.

Manusia memiliki alam bawah sadar (sub conscious) di mana ia akan
melakukan hal-hal tertentu tanpa ia sadari sepenuhnya yang merupakan
produk dari pengalaman di masa-masa kritisnya yaitu masa kanak-kanak.
Pengalaman apapun dapat menyebabkan manusia memiliki satu perasaan
tertentu yang berada di alam bawah sadarnya. Contohnya adalah
seseorang yang menyatakan "Go to Hell Amerika". Tapi tatkala akan
membeli sesuatu dan ada pilihan antara barang AS dan non AS maka
otomatis dia akan memilih barang AS karena impiannya saat kecil adalah
AS. Kondisi seperti ini tidak bisa dilawan kecuali ia mempunyai iman
sangat kuat atau hal-hal metafisik lainnya. Iman (kemampuan yang besar
untuk berhubungan dengan Allah sebagai sumber kebenaran) mampu
menghilangkan sisa psikologis yang selama ini digagahi oleh kebatilan.

Masalah psikologis sosial (alam bawah sadar) seperti ini banyak
dikuasai oleh musuh Islam. Banyak hal-hal yang mereka masukkan ke alam
bawah sadar kita tanpa disadari. Bagi orang-orang yang sering menonton
film Barat maka ia akan melihat bahwa perfoma Yesus yang ditampilkan
adalah bermata biru dan berambut pirang. Mereka memakai perfoma
seperti itu untuk menciptakan satu opini bahwa kalau seseorang itu
sudah bermata biru dan berambut pirang pastilah orang baik dan tidak
akan bisa dilawan. Wong Yesusnya saja bermata biru dan berambut
pirang. Padahal Yesus itu berasal dari Nazaret yang bentuk tubuhnya
bukan seperti itu. Ini adalah kebohongan besar yang bisa dilihat di
dunia ini.

Ada tiga hal penting yang barangkali bisa menjadi ringkasan. Pertama,
bahwa ada Grand Design yang sengaja diciptakan AS untuk mengikis habis
segala bentuk ideologi/pandangan hidup manusia, sehingga manusia
berada di bawah kekuasaan AS tanpa ada satupun ideologi yang muncul
untuk menentangnya. Salah satu cara yang mereka lakukan adalah
mengikis habis bentuk sosial masyarakat walau sampai di pedalaman Tibet.

Contoh kecil adalah dimunculkannya paham individualisme dalam
masyarakat sehingga peran-peran sakral tertentu, seperti orangtua dan
kakek misalnya, dalam keluarga menjadi hilang. Maka penanaman ideologi
atau agama dalam keluarga akan sulit dilakukan. Dan jika hal ini
terjadi maka tidak ada hak bagi orangtua untuk menentukan anaknya
harus jadi apa di luar rumah. Contoh lainnya adalah isu feminisme yang
dilontarkan dengan membuat orang berfikir bahwa ada kesalahan
struktur. Padahal banyaknya korban yang ada di pihak wanita atau pria
terjadi karena penyalahgunaan struktur yang ada.

Kedua, adanya dua faktor yang harus tuntas dipahami yaitu: rasa takut
dan rasa aman pada diri seseorang. Kaitannya dengan penulis artikel
adalah bahwa penulis dapat dinilai sebagai orang yang tidak memiliki
integritas berfikir, yang dipengaruhi oleh alam bawah sadarnya.
Penulis artikel tidak menginginkan Islam dengan menyatakan bahwa hukum
Tuhan itu tidak ada. Tuhan digambarkannya hanyalah seperti seorang
kakek yang baik hati yang memberikan wejangan. Ini berarti bahwa Islam
itu tidak ada sama sekali. Penulis artikel ingin mengatakan "Lenyapkan
Islam" tapi ia tidak sanggup. Apalagi dengan background namanya yang
cukup Islami: Ulil Abshar Abdalla, berasal dari pondok pesantren dan
menantu seorang Kyai.

Semestinya Ulil mampu melakukan tindakan yang menjadi konsekwensi dari
cara berfikirnya. Kalau ia berfikir bahwa Islam harus dibuang maka
buang saja! Tapi ternyata ia tidak mampu dan tidak jujur terhadap
pemikirannya sendiri. Maka orang-orang tipe seperti ini akan mencari
jalan keluar dengan melakukan kompromi, seperti mengawinkan Islam
dengan Barat, atau apa saja yang dapat membuat tidur malamnya menjadi
nyenyak. Tidak bisa tentunya menafikan Islam saat dia berada dalam
Islam itu sendiri.

Hal seperti ini juga bisa melanda siapa saja yang tidak hati-hati
dalam mempelajari hal-hal ideal dari agama. Pada saat fenomena sosial
jauh dari nilai-nilai ideal itu, bagaimana menanganinya? Terkadang,
naudzu billah, seseorang terperosok dalam lubang yang sama di mana dia
berusaha menafikan Islam tapi nama Islam tetap dia pegang. Jauh lebih
gentlement kalau dia total menafikannya. Janganlah berfikir falasi
(sesat pikir) ala Barat, materialis, metode hubungan sosial ala Yahudi
asli tapi namanya pakai nama yang Islami dan bertempat di
masjid-masjid, atau di madrasah-madrasah. Jika Islam memang bukan buat
anda, secara gentlemnent keluar saja dari Islam. Biarkan Islam buat
orang-orang yang berpikir logis bukan falasi. Jangan karena keberatan
lalu anda ingin mengarahkan Islam pada apa yang menurut anda benar.

Ketiga, adanya semacam fenomena bahwa cendikiawan muslim, kebanyakan
tidak punya rasa percaya diri untuk menelurkan ide atau pemikiran
baru. Mereka biasanya mengadopsi dari cendikiawan lainnya. Jarang
sekali muncul ide baru yang luar biasa di bidang ilmu sosial. Dan apa
yang diutarakan penulis artikel dengan menyebut bahwa agama adalah
salah satu bentuk fenomena sosial yang sama seperti revolusi,
peperangan dan sebagainya, adalah sesuatu yang tidak orisinil. Agama
dinyatakan sebagai monumen yang tidak mati, bisa maju dan mundur,
tanpa memiliki nilai sakral.

Ulil mencontohkan permasalahan jilbab (hijab). Ia menyatakan bahwa
hijab pada dasarnya adalah satu bentuk public decency, yaitu memakai
pakaian apa saja yang tidak menyebabkan anda dituding saat tampil di
depan orang lain. Padahal jilbab dalam Islam adalah menambah hijab
yang sudah ada pada zaman itu. Para wanita saat itu sudah terbiasa
memakai tutup kepala seperti kerudung, tapi tidak menutup lehernya.
Lalu al- Qur'an datang dengan ide baru.

Sebenarnya agama adalah satu fenomena yang murni sakral, oleh karena
apa-apa yang mengikatkan kita pada agama, semua motivasi dan kesadaran
tentang agama kembalinya pada klaim bahwa ada orang tertentu yang
datang dan membawa wahyu Tuhan.

Satu hal yang cukup menggelikan, dalam salah satu alinea dalam
artikelnya Ulil menyatakan tidak boleh mengadopsi sistem pemikiran
yang kontradiksi antara Islam dan Barat dengan menyatakan yang satu
maju dan yang lainnya mundur oleh karena semua ini adalah hasil
pemikiran umat manusia. Tetapi kemudian di alinea selanjutnya Ulil
menyatakan ada beberapa langkah yang harus ditempuh agar Islam maju.
Penulis mengadopsi pemikiran bahwa tidak boleh ada anggapan yang satu
maju dan yang lainnya mundur, tetapi alam bawah sadarnya tidak setuju.
Pada akhirnya ia menyampaikan satu solusi agar Islam maju.

Salah satu sarana yang digunakan musuh untuk menghancurkan Islam
adalah melalui desakralisasi agama, seperti pemahaman bahwa Nabi
adalah manusia biasa. Saat konsep seseorang tentang kenabian tidak
sempurna maka akan mudah diserang oleh berbagai pemikiran yang
kelihatannya bagus padahal falasi, terutama pada orang-orang yang
lemah militansinya.[]



Kirim email ke