emangnye mo posting nunggu ade angin & ujan dlu bang? klo ade ujan kaga ade angin gimane bang, boleh posting kaga ya? klo ade angin kaga ade ujan gimane bang, boleh posting kaga ya? Nah abang posting nih, pasti abis keujanan & keanginan yaa, gitu ya bang?
----- Original Message ---- From: masdimas62 <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Monday, June 23, 2008 12:29:41 AM Subject: [ppiindia] Re: jawaban sirikit syah atas gadis arivia Salam, Tak ada angin tak ada hujan, tahu-tahu Fahmi Fakih memposting jawaban Sirikit Syah atas tanggapan Gadis Arivia tentang topik mayoritas. Jelas sekali posting Fahmi bias, cenderung "menonjolkan" dan "memenangkan" Sirikit Syah tenteng kecenderungan perempuan elite. Berikut argumentasi sepenuhnya dari Gadis Arifia, semoga Fahmi juga menurunkan sepenuhnya argumen Sirikit Syah sebelumnya. Wassalam, Dimas. Kamis, 19 juni 2008 Demi Cita-Cita Bangsa yang Toleran, Plural dan Setara Oleh: Gadis Arivia* Sirikit Syah menulis di media Sabili baru-baru ini dengan tiga tuduhan yang perlu saya tanggapi. Pertama, baginya, argumen pluralitas dan toleransi merupakan suara minoritas elit, milik segelintir orang. Suara ini, menurutnya, menguasai wacana di Indonesia. Kedua, ia menggarisbawahi peranan Jurnal Perempuan dalam mengedepankan isu-isu HAM, anti-poligami, pembelaan terhadap kelompok Ahmadiyah dan minoritas lainnya serta kebebasan berekspresi. Posisi Jurnal Perempuan ini dianggapnya telah menyimpang dari jalan kebenaran. Ketiga, ia berusaha membangun gambaran perjuangan pro-demokrasi sebagai pro-Amerika atau Barat dengan mengambil contoh Musdah Mulia, sekaligus "mengecilkan" keberhasilan karya-karya Musdah Mulia. Sirikit Syah bagi saya sedang asyik bermain-main dengan stereotipi yang tidak berdasar, lebih jauh lagi, menulis tanpa data dan fakta yang jelas. Bagi saya, perjuangan toleransi dan pluralitas bukan milik kaum elit. Perjuangan ini telah lama menjadi pedoman rakyat Indonesia. Keberhasilan ini telah final ketika Sukarno dan Hatta mengukuhkan Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia, negara sekuler berdasarkan hukum (bukan berdasarkan agama tertentu) yang menjunjung tinggi konstitusi. Rakyat Indonesia telah lama memilih negara kesatuan yang memberikan ruang toleransi seluas-luasnya mulai dari kebebasan memegang aliran kebathinan Kejawen hingga Ahmadiyah yang telah diterima di bumi ini di awal abad ke-20 dan diizinkan organisasinya berdiri oleh pemerintah RI berdasarkan keputusan Menteri Kehakiman di tahun 1953. Pilihan masyarakat yang majemuk ini bukan tanpa dasar, pilihan ini terbentuk dan mendarah daging dalam wawasan nusantara, yang menghargai tradisi dan kultur majemuk. Itulah fakta tanah air dan itulah I-N-D-O-N-E- S-I-A sesungguhnya. Perjuangan ini bukan milik kaum elit, perjuangan ini milik seluruh bangsa Indonesia yang dikobarkan jauh-jauh hari sebelum anda dan saya lahir. Ibu saya masuk dalam perjuangan toleransi dan kemajemukan Indonesia, itu sebabnya, ia mengagumi tokoh-tokoh bangsa kita yang bersikeras dengan sebutan: Indonesia untuk semua! Ibu saya berjuang dengan mengenakan kebaya panjang, berbelah persis di dadanya, kain mengetat persis di pinggulnya, tanpa tutup kepala, cukup sanggul kecil rapih tergelung, tak ada yang menuduhnya porno, karena demikian adanya baju kebanggaan perempuan Indonesia, harkat dirinya melekat dalam tradisi yang majemuk. Perempuan yang kini berusia lebih dari 80 tahun membesarkan saya dengan kebanggaan sejarah perempuan Indonesia, tak lupa ia mengingatkan saya terus menerus akan luhurnya perjuangan harkat perempuan yang telah dimulai di tanah air ini sejak tahun 1920-an. Kongres perempuan di tahun 1928 itu merupakan kebanggaannya, suatu cita-cita kesetaraan dan penolakan terhadap poligami, telah ditanamkan agar anak-anak perempuannya kelak memetiknya dan memeliharanya sepanjang masa. Feminisme bagi ibu dan ibu-ibu kita lainnya, tidak lahir di Barat tapi di bumi nusantara ini. Jauh sebelum dunia Barat memiliki kepemimpinan perempuan, bumi ini telah menunjukkan 60 tahun masa kepemimpinan perempuan di abad ke-17, di tanah Aceh. Kami tak mencontoh Barat, kesetaraan sudah tumbuh subur di tanah kami! Undang-Undang Dasar 1945 juga merupakan bukti kemajuan pemikiran Indonesia. Lihatlah betapa undang-undang itu menafaskan Hak Azasi Manusia, jauh sebelum Barat memiliki HAM Internasional. Kebebasan beragama sudah termuat di dalam UUD 1945. Jadi, apa yang diperjuangkan oleh Jurnal Perempuan dan aktivis pembela HAM di negara ini bukan perjuangan milik Barat apalagi sekelompok elit. Perjuangan ini adalah perjuangan milik rakyat Indonesia yang sejak kemerdekaan kita telah kita ikrarkan bersama- sama untuk dijaga dan dipelihara. Namun, apa yang terjadi pada tanggal 1 Juni 2008 di hari Kesaktian Pancasila? Hari yang bersejarah bagi orang Indonesia telah dicemari oleh segelintir orang yang justeru sangat elit dan berkuasa. Elit karena tak berbicara atas nama keinginan rakyat Indonesia, berkuasa karena menggunakan senjata ayat untuk melanggengkan tindakan kekerasan. Apa yang terjadi setelah kekerasan dilakukan jelas-jelas oleh FPI (Front Pembela Islam), kelompok elit dan bersenjata itu? Mereka diberi "hadiah" SKB oleh tiga menteri Republik Indonesia. Bagi Abu Bakar Ba'asyir, hadiah tersebut masih kurang (simak apel akbar Ba'asyir) karena masih belum membinasakan kelompok Ahmadiyah. Apakah model orang-orang seperti itu yang pantas memimpin negara ini? Apakah orang-orang seperti itu yang menjadi panutan anda? Jurnal Perempuan jelas berseberangan dengan FPI dan organisasi manapun yang memaksa kehendaknya dengan kekerasan fisik dan ancaman- ancaman fatwa. Jurnal Perempuan akan berada di garis depan membela siapapun yang diperlakukan secara tidak adil, baik itu agama minoritas, seksual minoritas, suku dan etnis terpinggirkan. Dari waktu ke waktu telah kami buktikan, hingga staf kami, Guntur Romli dipukuli pun dan terkulai di rumah sakit, tak sedikit pun membuat kami gentar. Semangat terus berkobar. Kami menyumbang tenaga dan pikiran kami selama 13 tahun dengan menerbitkan hampir 60 edisi yang meliputi berbagai isu perempuan. Bila Sirikit Syah membaca jurnal kami, ia akan paham isu-isu yang kami angkat meliputi semua sisi kehidupan, meraih semua suara dan mengakomodasi semua hati. Tim kami menyukai perdebatan dan menyambut perbedaan-perbedaan pendapat yang disajikan di dalam jurnal, tapi selain itu, tim kami sudah menghinggapi hampir seluruh pelosok Indonesia, mengangkat semua ragam perempuan, mendengarkan dan merekam suara-suara mereka di program Radio Jurnal Perempuan yang disiarkan di lebih 190 stasiun radio setiap minggu di seluruh Indonesia. Tak hanya suara, kami pun menangkap semua wajah dan cerita serta mendokumentasikan dengan video tentang segala penderitaan perempuan Indonesia dari tanah Jawa, Kalimantan Barat, Batam, Aceh hingga sampai ke pelosok tanah Papua. Tak ada derita atau bahagia yang tak kami rekam. Tak ada derai air mata atau gerai tawa yang tak kami sorot. Kerja Jurnal Perempuan hampir sama sebangun dengan kerja Musdah Mulia dan banyak perempuan-perempuan lainnya di tanah air ini. Khususnya Musdah Mulia, adalah orang yang pantas mendapatkan penghargaan. Karya- karyanya merupakan sumbangan besar bagi Indonesia, dedikasinya dan ketekunannya merupakan detak jantung kami semua. Pertanyaan anda di akhir paragaraf; "apa jadinya bangsa ini? sebuah pertanyaan yang harus kita jawab dengan saksama". Sebaiknya pertanyaan itu anda jawab sendiri dengan menggunakan hati nurani anda, tak perlu menggunakan ayat-ayat, cari saja jawabannya di dalam lubuk mata hati anda terdalam. Kami tak perlu bertanya-tanya lagi, telah dari awal secara tegas, kami memilih meneruskan cita-cita bangsa Indonesia yang plural, toleran, sekuler dan setara, seperti yang diamanatkan para pendiri bangsa ini. Itulah posisi kami, di mana posisi anda? *Pendiri Jurnal Perempuan ............. ........ Link melihat tulisan sirikit syah: http://groups. yahoo.com/ group/jurnalpere mpuan/message/ 3800 --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, Fahmi Faqih <fahmifaqih@ ...> wrote: > > JURNAL PEREMPUAN MENJAWAB SIRIKIT SYAH > > Pertama, baginya, argumen pluralitas dan toleransi merupakan suara minoritas > elit, milik segelintir orang. Suara ini, menurutnya, menguasai wacana di > Indonesia. > ++ Salah Mbak. Saya bilang pluralisme dan toleransi SUDAH HIDUP LAMA di > Indonesia. Yang saya bilang suara minoritas elit itu adalah penyuaranya (Islib, > AKKBB, Gus Dur dkk), bukan isunya. Isu pluralisme dan toleransi ..... tak ada > perdebatan. Tapi apa yang dimintakan untuk ditoleransi, di sini perdebatan kita. > Kaum minoritas elit MENUNTUT mayoritas untuk TOLERAN terhadap lesbianisme/ > homoseksualitas, penistaan agama. Saya tidak anti-pati pada mereka yang > kebetulan homo/lesbian dan penganut Ahmadiyah. Saya hanya menyatakan: > golongan-golongan semacam ini terlalu memaksakan kehendaknya kepada mayoritas > diam. Di Jakarta Post tadi pagi, para sekularis mengecam NU dan Muhamadiyah > sebagai 'too weak' dalam mensikapi serangan terhadap Ahmadiyah. Golongan > sekularis/liberalis minoritas ini MENUNTUT NU DAN MUHAMADIYAH UNTUK BERPIKIRAN > DAN BERTINDAK SAMA DENGAN MEREKA. Bagi saya malahan: sudah bagus tuh NU dan > Muhamadiah TIDAK IKUT-IKUTAN FPI DAN FUI. Perhaps, > they are being wise, being neutral? But, it's never enough for the secularists > and liberalists, is it? > > Rakyat Indonesia telah > lama memilih negara kesatuan yang memberikan ruang toleransi seluas- luasnya > mulai dari kebebasan memegang aliran kebathinan Kejawen hingga Ahmadiyah > yang telah diterima di bumi ini di awal abad ke-20 dan diizinkan > organisasinya berdiri oleh pemerintah RI berdasarkan keputusan Menteri > Kehakiman di tahun 1953. > > ++ Betul. AKUR. Kira-kira, sejak kapan ya toleransi jadi persoalan? > Jangan-jangan sejak munculnya para pendatang baru semacam wacana HAM, Kebebasan > Berekspresi, Islam Liberal, Jurnal Perempuan? Bukankah nenek moyang kita dulu > rukun karena "harmony and tolerance are more important than freedom of > expression, human right, and democracy?" Tepa salira (toleran), menjaga ucapan > (tidak bebas/semaunya berkata-kata) , menghargai hak orang lain (bukan haknya > sendiri-sendiri) , mufakat (bukan demokrasi yang menghasilkan para anggota dewan > kita sekarang), tidak memaksakan kehendak (yang lesbian lesbian aja tak eprlu > teriak-teriak, yang Ahmadiyah Ahmadiyah aja tak perlu minta diakui sebagai > Islam). Yuk, kita pikir lagi .... siapa tahu kita menemukan model tatanan sosial > yang lebih baik? > > Ibu saya berjuang dengan mengenakan kebaya > panjang, berbelah persis di dadanya, kain mengetat persis di pinggulnya, tanpa > tutup kepala, cukup sanggul kecil rapih tergelung, tak ada yang menuduhnya > porno, karena demikian adanya baju kebanggaan perempuan Indonesia, harkat > dirinya melekat dalam tradisi yang manjemuk. > > ++ Ibu saya juga, gaunnya ketat kebarat-baratan. mengakunya Islam, tapi suka > dansa-dansi. tapi apa hubungannya ya baju kebaya dan baju ketat dengan tuduhan > porno? dulu memang begitu gaya berpakaian. sekarangpun, perempuan Bali atau > perempuan di Lembah Baliem tak kita sebut porno, bukan? That's not the point > kan? Hanya, sesuai jalannya peradaban, yang dulu tak berbaju mulai berbaju, yang > dulu agak terbuka mulai tertutup. tapi kalau sekarang yang tertutup membuka > lagi, itu namanya fashion, bukan peradaban. > > Feminisme bagi ibu dan ibu-ibu kita lainnya, > tidak lahir di Barat tapi di bumi nusantara ini. Jauh sebelum dunia Barat > memiliki kepemimpinan perempuan, bumi ini telah menunjukkan 60 tahun masa > kepemimpinan perempuan di abad ke-17, di tanah Aceh. Kami tak mencontoh > Barat, kesetaraan sudah tumbuh subur di tanah kami! > > ++ AKUR. Feminisme, dalam makna yang saya pahami, SUDAH ADA di agama Islam dan > adat Jawa. Dalam adat Jawa, suami adalah KEPALA keluarga. Tetapi, strategically, > para istri adalah LEHERNYA! Memang, hana perempuan-perempuan Jawa berpikiran > positif yang dapat merasakannya. That's why banyak perempuan Jawa hidup setia, > bahagia, dan sukses dalam keluarganya (banyak anak, tak berkarir, anaknya jadi > semua). Islam juga menyetarakan perempuan-laki- laki dalam hal-hal yang > memungkinkan untuk disetarakan. Pertanyaan saya: mengapa gerakan feminisme lahir > di Barat? Jawaban: karena di Baratlah perempuan diperlakukan tidak setara. Lalu > para perempuan Barat itu mencekoki pikiran kita bahwa "perempuan tradisional > Indonesia (Jawa, Bali, whatever) dan perempuan Islam, adalah TERTINDAS. Ayo > bangkit lawan laki-laki!" Bahkan Mother Theresia yang tidak menikah saja > mengatakan: perbedaan itu indah, lelaki dan perempuan itu berbeda, diciptakan > demikian untuk saling melengkapi > (1995). Jadi, sekali lagi, saya SETUJU bahwa feminisme itu sudah ada di tradisi > kita dan di Islam. I mean, feminisme dalam pengertian 'penghargaan/ penghormatan > terhadap perempuan', bukan 'perempuan melawan atau mengungguli laki- laki'. > > Undang-Undang Dasar 1945 juga merupakan bukti kemajuan pemikiran Indonesia. > Lihatlah betapa undang-undang itu menafaskan Hak Azasi Manusia, jauh sebelum > Barat memiliki HAM Internasional. Kebebasan beragama sudah termuat di dalam > UUD 1945. > > ++ Kebebasan beragama. BUKAN kebebasan menodai agama. Bila Ahmadiyah ADALAH > agama, ya bebas-bebas aja (meskipun yang diakui resmi di Indonesia cuma 6 > agama). Masalahnya, Ahmadiyah mengaku Islam (bukan agama Ahmadiyah). Tapi > menolak ditangani internal agama Islam, minta pembelaan pemerintah dan kaum elit > ..... repot, kan? You cannot have all, you have to decide what you are. > > Namun, apa yang terjadi pada tanggal 1 Juni 2008 di hari Kesaktian > Pancasila? > > ++ Oooopppsss! > > Hari yang bersejarah bagi orang Indonesia telah dicemari oleh > segelintir orang yang justeru sangat elit dan berkuasa. Elit karena tak > berbicara atas nama keinginan rakyat Indonesia, berkuasa karena menggunakan > senjata ayat untuk melanggengkan tindakan kekerasan. > > ++ Mereka tidak elit karena jumlahnya banyak:), dan mereka mewakili diri mereka > sendiri dan kelompoknya yang adalah rakyat Indonesia juga (sama rakyatnya dengan > AKKBB, Islib, Ahmadiyah), plus mayoritas diam (saya dapat SMS dan email > pribadi, banjir, mendukung pernyataan saya). bawa-bawa senjata? belum ketangkap > tuh yang bawa pisotl:). > > Apa yang terjadi setelah kekerasan dilakukan jelas-jelas oleh FPI (Front > Pembela Islam), kelompok elit dan bersenjata itu? > > ++ Wah, ada dua "ELITE" nih. versi saya dan versi mbak gadis hehehe > > Mereka diberi "hadiah" > SKB oleh tiga menteri Republik Indonesia. > > ++ saya memandang SKB sebagai jalan tengah. itu tidak memuaskan penentang maupun > penganut Ahmadiyah. tapi kalau kedua belah pihak berpikir positif, SKB ini > mendhing. pemerintah telah lakukan sesuatu. penawaran. saya memandang gelas > setengah berisi. kedua belah pihak memandangnya sebagai setengah kosong. Anda > dan para "elit minoritas" malah bilang itu gelas kosong! > Bagi Abu Bakar Ba'asyir, hadiah > tersebut masih kurang (simak apel akbar Ba'asyir) karena masih belum > membinasakan kelompok Ahmadiyah. Apakah model orang-orang seperti itu yang > pantas memimpin negara ini? Apakah orang-orang seperti itu yang menjadi > panutan anda? > > ++ tidak juga. saya ingin anies baswedan jadi presiden:). Munarman wakilnya, > hehehe. kalau Baasyir, saya cuma kagum pada kesabarannya, dianiaya sedemikian > rupa oleh tuduhan dan vonis yang "kosong" (mengada-ada) . > > Jurnal Perempuan jelas berseberangan dengan FPI dan organisasi manapun yang > memaksa kehendaknya dengan kekerasan fisik dan ancaman-ancaman fatwa. Jurnal > Perempuan akan berada di garis depan membela siapapun yang diperlakukan > secara tidak adil, baik itu agama minoritas, seksual minoritas, suku dan > etnis terpinggirkan. Dari waktu ke waktu telah kami buktikan, hingga staf > kami, Guntur Romli dipukuli pun dan terkulai di rumah sakit, tak sedikit pun > membuat kami gentar. Semangat terus berkobar. > > ++ Pernahkah Jurnal Perempuan membela para TKW yang pulang kampung dan dipalak > di bandara Soekarno Hatta? Atas Woman & Child Trafficking? Pada angka perkosaan > di masyarakat? Pada pelecehan seks oleh anggota Dewan? Pada fenomena Geng Nero? > Maaf, MGR (MGR) itu mosok gak bisa membela diri sendiri sampai harus dibelain > sama temen-temen perempuannya? > > Khususnya Musdah > Mulia, adalah orang yang pantas mendapatkan penghargaan. Karya- karyanya > merupakan sumbangan besar bagi Indonesia, dedikasinya dan ketekunannya > merupakan detak jantung kami semua. > > ++ Belum pernah mendengar suara lainnya ya? > > Pertanyaan anda di akhir paragaraf; "apa jadinya bangsa ini? sebuah > pertanyaan yang harus kita jawab dengan saksama". Sebaiknya pertanyaan itu > anda jawab sendiri dengan menggunakan hati nurani anda, tak perlu > menggunakan ayat-ayat, cari saja jawabannya di dalam lubuk mata hati anda > terdalam. > > ++ Saya tak menggunakan ayat-ayat. Saya, jujur, tak hafal ayat. Saya menggunakan > akal dan logika. Pertanyaan saya sederhana: seseorang harus mematuhi > hukum/aturan dimana dia berada. Bila semua aturan dianggapnya salah, terus mau > bagaimana (mau jadi apa)? Contoh: Kalau kau tak suka ada UU Pornografi yang > detil dan njelimet, kau mesti menyetujui pasal 282 KUHP dan tidak menghindarinya > sambil mengatakan "itu pasal karet". You have to choose either one. Or, you > prefer a lawless state? > > Kami tak perlu bertanya-tanya lagi, telah dari awal secara tegas, kami > memilih meneruskan cita-cita bangsa Indonesia yang plural, toleran, sekuler > dan setara, seperti yang diamanatkan para pendiri bangsa ini. > > ++ Sama: Indonesia yang plural, toleran, harmonis, saling menghormati, tapi > tidak sekuler melainkan berketuhanan: ). > > Itulah posisi kami, di mana posisi anda? > > ++ You must know by now. > > salam damai, > > sirikit syah > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > [Non-text portions of this message have been removed]

