Another Twisted Logic by Syafii Maarif
oleh Akmal

assalaamu’alaikum wr. wb.
 
Terus
terang saya tidak paham mengapa Republika harus terus mempertahankan
Syafii Maarif sebagai narasumbernya di kolom Resonansi.  Reputasinya sudah 
begitu tercemar, sehingga saya pribadi sangat meragukan kapabilitasnya secara 
akademis.  ‘Dosa’
pertamanya adalah memotong-motong penafsiran Buya Hamka terhadap Q.S.
Al-Baqarah [2] : 62, yang sudah sangat sering saya bahas di blog ini.  
Kemudian, ia pun secara serampangan bicara soal Ali Ghufron, yang di kemudian 
hari mempermalukannya melalui sebuah artikel di surat kabar yang sama.  
Sekarang, lagi-lagi ia mengambil langkah kontroversial dengan membela Ahmadiyah 
secara membabi-buta.
 
Catatan
pertama yang saya buat adalah bahwa artikel Syafii Maarif yang membela
Ahmadiyah ini nyaris bertepatan dengan wawancara Majalah Tempo dengan
Amien Rais yang juga mendukung eksistensi Ahmadiyah.  Jadi, ada dua mantan 
Ketua PP Muhammadiyah yang berpendapat bahwa Ahmadiyah seharusnya dibiarkan 
hidup tenang.  Agaknya
perlu dicatat pula (sebelum ada fitnah) bahwa mendukung pembubaran
Ahmadiyah - atau setidaknya mendukung dikeluarkannya jamaah Ahmadiyah
dari golongan Muslim - tidaklah sama dengan mendukung kekerasan
terhadap jamaah itu dan aset-asetnya.
 
Tentu tidak semua tokoh penting Muhammadiyah sepakat dengan Syafii Maarif dan 
Amien Rais.  Buya
Hamka – tokoh Muhammadiyah yang jauh lebih kharismatik daripada kedua
juniornya ini – bersikap sangat tegas terhadap Ahmadiyah ; yaitu bahwa
Ghulam Ahmad adalah pembohong, dan ajaran Ahmadiyah berada di luar
ajaran Islam.  Akan tetapi, tentu saja, Buya
Hamka yang berkepribadian lembut itu tak pernah memprovokasi masyarakat
untuk bertindak kejam kepada siapa pun.
 
Track record Syafii Maarif sebagai sebuah akademisi rupanya tidak membantunya 
untuk memilih argumen yang segar dan fresh from the oven.  Argumennya mudah 
ditebak ; tidak ada paksaan dalam beragama, bagiku agamaku bagimu agamamu, dan 
semacamnya.  Dalilnya dari Al-Qur’an, namun pemakaiannya tidak mengindahkan 
Sunnah barang secuil pun.  Memang benar tidak ada paksaan dalam beragama (laa 
ikraaha fid-diin), tapi tidak ada kebebasan untuk mengacak-acak ajaran Islam.  
Rasulullah saw. tak pernah meruntuhkan Gereja maupun Sinagog, karena Nasrani 
dan Yahudi adalah agama di luar Islam.  Akan
tetapi, berhala-berhala yang ada di sekitar Ka’bah dihancurkan tanpa
ampun, dan segala ajaran yang disebut-sebut sebagai warisan Nabi
Ibrahim as. padahal penuh khurafat dinyatakan terlarang selamanya.  Dari
sini kita dapat mengambil pelajaran dengan jelas bahwa umat Non-Muslim
dapat hidup damai dengan umat Islam, namun jangan coba-coba mengaku
Islam jika aqidah-nya meleset jauh dari ajaran Rasulullah saw.
 
Simaklah dua paragraf Syafii Maarif di bawah ini :
 
Sepanjang
sejarah Islam selama sekian abad, umat yang percaya kepada kemunculan
pembaru bukan barang baru, tetapi hanya sebagian tokoh yang
memercayainya. Dengan pernyataan ini, posisi saya tentang Ahmadiyah
sudah sangat gamblang. Memang dalam beberapa hadis dikatakan tentang
akan turunnya nabi Isa sebelum kiamat. Dan katanya, Ghulam Ahmadlah
orangnya.
 
Saya
sungguh berharap agar hadis-hadis serupa ini diteliti kembali, sebab
implikasinya sangat dahsyat. Maksud saya, jika Isa masih harus turun
kembali, berarti misi Muhammad gagal. Saya tidak percaya bahwa nabi Isa
masih hidup, karena dia adalah manusia biasa yang atas dirinya berlaku
sepenuhnya hukum alam: lahir, dewasa, tua, dan mati. Tetapi, Alquran
membantah bahwa kematian nabi Isa karena disalib. Masalah ini biarlah
tidak diperdebatkan panjang-panjang, sebab saudara-saudara Kristen kita
memercayai bahwa Isa mati di kayu salib. Kita tidak perlu memasuki
teologi mereka.
 
Pertama, dikatakan bahwa diskusi tentang kedatangan seorang pembaharu adalah 
cerita lama, dan hanya sebagian tokoh yang mempercayainya.  Kalimat ini sangat 
misleading, karena perdebatan tentang Ghulam Ahmad sama sekali tidak menyentuh 
masalah statusnya sebagai seorang pembaharu.  Ghulam Ahmad nyata-nyata mengakui 
dirinya sebagai seorang Nabi, dan bukan pembaharu.  Memang
ada yang menyebutnya sebagai pembaharu, namun sikap kritis harus
diterapkan di sini : memangnya pembaharuan apa yang telah dilakukan
oleh Ghulam Ahmad?  Apakah mengeruk dana dari
hasil ‘hubungan mesra’ dengan Inggris untuk keperluan pembuatan saluran
TV-nya itu disebut sebagai ‘pembaharuan’?  Ataukah fatwa anti-jihad ala Ghulam 
Ahmad itu juga pantas disebut sebagai ‘pembaharuan’?
 
Kedua, Syafii Maarif menyatakan bahwa pendapatnya tentang Ahmadiyah sudah 
sangat gamblang, padahal sama sekali tidak.  Paragraf berikutnya bahkan semakin 
membuat pendapatnya semakin tidak jelas, sebagaimana yang akan kita bahas di 
bawah ini.
 
Ketiga, Syafii Maarif dengan sangat gegabah mengatakan bahwa “jika Isa (tanpa 
merasa perlu menyebut gelar ‘alaihissalaam-nya) masih harus turun kembali, 
berarti misi Muhammad (tanpa gelar shallallaahu ‘alaihi wa sallam, atau 
setidaknya singkatan “saw.”) gagal”.  Ungkapan ini sangat menyedihkan jika 
harus muncul dari seorang akademisi.  Banyak
ulama yang berdebat tentang kedatangan Nabi ‘Isa as. di akhir jaman,
namun tak ada yang berpendapat bahwa kedatangan beliau adalah bukti
dari kegagalan dakwah Rasulullah saw.  Jika demikian, apakah kedatangan 
Rasulullah saw. merupakan bukti dari kegagalan Nabi ‘Isa as.?  Dan apakah 
diutusnya Nabi ‘Isa as. adalah bukti dari kegagalan Nabi Zakaria as. dan Nabi 
Yahya as.?  Pemikiran
semacam ini tak pernah ada dalam benak para ulama sejak dahulu kala,
meskipun mereka berbeda pendapat soal kedatangan Nabi ‘Isa as. di akhir
jaman.
 
Lagipula,
apakah Syafii Maarif memahami misi dakwah Rasulullah saw. yang
sebenarnya, sehingga bisa memberi penilaian atas tingkat
keberhasilannya?  Jika yang disebut ‘berhasil’
adalah meng-Islam-kan semua penduduk Bumi, maka pendapat ini sangat
lemah, karena banyak sekali dalil yang menyebutkan bahwa di akhir jaman
akan ada saja yang kafir terhadap Allah SWT.
 
Keempat,
Syafii Maarif mengatakan bahwa dirinya tidak percaya bahwa Nabi ‘Isa
as. masih hidup, karena beliau adalah manusia yang terbatas oleh
hukum-hukum alam.  Pernyataan ini sangat berbahaya.  Memang
ada ulama yang memperdebatkan status Nabi ‘Isa as. ; apakah beliau
diangkat ke sisi Allah secara fisik dan ruhani, ataukah beliau
meninggal secara wajar dan diangkat ruhnya ke sisi Allah.  Akan tetapi, tidak 
ada yang berani berpikir bahwa Allah SWT tidak sanggup melawan hukum-hukum alam 
ciptaan-Nya sendiri.  Kalau Allah berkehendak membiarkan Nabi ‘Isa as. tetap 
hidup dan melawan ‘hukum alam’, apa hak manusia untuk menggugatnya?  
Pandangannya
ini sangat mirip dengan Nasr Hamid Abu Zayd – Bapak Hermeneutika di
dunia Islam yang telah divonis murtad oleh dua ribu orang ulama Mesir –
yang mengatakan bahwa perbuatan Tuhan pun harus tunduk pada hukum alam.  
Na’uudzubillaah!
 
Kelima, Syafii Maarif menyebutkan bahwa Al-Qur’an membantah pendapat yang 
mengatakan bahwa Nabi ‘Isa as. mati disalib.  Kemudian, ia menyarankan agar 
masalah ini tak perlu diperpanjang karena orang-orang Kristen berpendapat bahwa 
Nabi ‘Isa as. mati disalib,
dilengkapi dengan ‘petuah’ agar kita tidak memasuki teologi umat
Kristen.
 
Pernyataan sebab-akibatnya pun sudah membingungkan.  Umat Islam tak perlu ragu 
mengatakan bahwa Nabi ‘Isa as. tidak mati disalib hanya lantaran umat Kristen 
berpendapat sebaliknya.  Mengapa prinsip laa ikraaha fid-diin dan lakum 
diinukum wa liyadiin tidak diberlakukan di sini?
 
‘Petuah’
agar kita tidak memasuki teologi umat Kristen pun sangat mengherankan,
karena sejak awal pembicaraan umat Islam mengenai Nabi ‘Isa as. yang
tidak mati disalib sama sekali tak pernah dimaksudkan untuk memasuki
wilayah teologi mereka.  Diskusi antara sesama
Muslim seharusnya tidak membuat kuping umat lain panas, karena memang
tidak ada sangkut-pautnya dengan mereka.  Jika pola pikir ‘Islam malu-malu’ ini 
diterapkan, maka nanti kita tak boleh lagi membicarakan mengenai konsep 
Tauhidullah demi menenggang rasa umat Kristen yang memegang teguh ajaran 
Trinitas.  Tidak boleh lagi menganjurkan nikah agar umat Budha tidak merasa 
canggung untuk menjadi biarawan.  Tidak boleh mengharamkan berhala agar umat 
Hindu tidak tersinggung.  Tidak boleh menentang Israel agar umat Yahudi tenang 
hatinya.  Inikah toleransi yang ada dalam benak Syafii Maarif?
 
Kepada saudara-saudaraku yang bekerja untuk surat kabar Republika, mohon 
sampaikan pertanyaan saya : Buat apa mempertahankan Syafii Maarif?  Buatlah 
saya paham.  Please!
 
wassalaamu’alaikum wr. wb..


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke