Langsung saja diproses dan disidangkan, terus kirim one-way ticket ke Nusa 
Kambangan ......


Rabu, 25 Juni 2008
Headline
DEMO BRUTAL
Polisi menangkap 16 demonstran.

JAKARTA - Aksi demonstrasi yang berlangsung sepanjang hari kemarin berakhir
ricuh. Peserta aksi bahkan bertindak brutal. Mereka membakar sedikitnya dua
mobil, termasuk sebuah Kijang milik polisi, dan merusak beberapa kendaraan
lain milik kepolisian.

Banyak pihak menyayangkan kebrutalan itu. Juru bicara kepresidenan Andi
Alfian Mallarangeng bahkan memperingatkan para mahasiswa tentang adanya
kemungkinan aksi mereka ditumpangi pihak lain yang akan membuat situasi
menjadi anarkistis. "Hatihati," katanya kemarin.

Selain melakukan perusakan, aksi yang diawali oleh 30- an mahasiswa yang
tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Jakarta (AMJ) itu juga membuat lalu lintas
Ibu Kota kacau akibat blokade di jalan tol maupun jalur khusus bus
Transjakarta. Blokade terjadi antara lain di jalan-jalan protokol seperti
H.R. Rasuna Said, Jalan Gatot Subroto, serta sore harinya di Jalan Sudirman
di kawasan Semanggi.

Para mahasiswa dari AMJ sebenarnya sudah memulai aksi mereka sejak Senin
sore di depan gedung MPR/DPR. Pagi harinya sebagian dari mereka sempat
berkeliling ke beberapa kampus dan mengajak rekanrekannya mendukung aksi
penolakan terhadap kenaikan harga bahan kebutuhan pokok dan bahan bakar
minyak, nasionalisasi perusahaan asing, serta solidaritas terhadap mahasiswa
Universitas Nasional yang beberapa hari sebelumnya meninggal.

Menjelang siang, ratusan orang lain yang sehari sebelumnya melakukan acara
temu aktivis Lintas Generasi (Tali Generasi atau Tali Geni) juga bergerak.
Awalnya mereka menuju Plaza 89 di Kuningan, tempat PT Freeport Indonesia
berkantor. Dari situ, mereka kemudian bergabung dengan ratusan orang lainnya
di depan gedung MPR/DPR.

Menjelang sore, massa dari berbagai elemen sudah berbaur dan mencapai
seribuan orang. Aksi pun menjadi tak terkendali dan semakin brutal. Mereka
mulai membakar banban bekas yang dipasok oleh sebuah mobil bak terbuka, juga
merobohkan pagar pembatas jalan tol dan pagar gerbang kompleks MPR/DPR.

Aksi lempar batu dengan aparat pun tak terhindarkan. Para demonstran bahkan
melempari barisan polisi di halaman gedung Dewan dengan botol-botol yang
telah dirakit menjadi bom molotov. Polisi pun membalas aksi itu dengan
semprotan meriam air.

Setelah terdesak, massa akhirnya melanjutkan aksi mereka di depan kampus
Atma Jaya di Semanggi. Di sini mereka memblokade Jalan Sudirman dan sempat
membakar sebuah Toyota Avanza berpelat merah milik Kementerian Riset dan
Teknologi.

Sampai tadi malam, polisi menangkap sedikitnya 16 orang yang dianggap
terlibat dalam aksi rusuh itu. "Tersangka atau bukan, tunggu 1 kali 24 jam,"
kata juru bicara Mabes Polri, Inspektur Jenderal Abubakar Nataprawira.

Tercatat setidaknya 16 personel polisi dan lima warga terluka, termasuk dua
wartawan, satu petugas satuan pengaman, dan mahasiswa. "Sejak sore, kami
merawat empat korban," kata Andy Nazarudin, dokter jaga di Unit Gawat
Darurat Rumah Sakit Jakarta. TIM TEMPO
koran

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Rabu, 25 Juni 2008
Headline
Warga Kecam Aksi Anarki
Bukan menolong, tapi menyengsarakan rakyat.

JAKARTA- Unjuk rasa di sekitar kawasan Semanggi, termasuk di gedung
MPR/DPR, Jakarta, kemarin, menuai kecaman. Aksi yang berlangsung
anarkistis itu dinilai lebih menyengsarakan rakyat.

Emita Asril, karyawati yang berkantor di bilangan Jalan Sudirman, sempat
menyaksikan tindakan brutal pengunjuk rasa yang membalikkan sebuah mobil
berpelat merah. "Saya bertanya-tanya, benarkah mereka tengah membela
kepentingan rakyat?"

Menurut Mita, aksi itu membuat misi mahasiswa menolak kenaikan harga bahan
bakar minyak tidak diperhatikan orang. Yang muncul justru tindakan anarki
yang memperparah kemacetan lalu lintas, seperti di sepanjang Jalan Sudirman.

Brigadir Satu Khoiri, petugas Traffic Management Center Kepolisian Daerah
Metro Jaya, menuturkan pengunjuk rasa dari berbagai kelompok itu memblokade
Jalan Gatot Subroto, persis di depan gedung MPR/DPR. Mereka menjebol pagar
tol dan menutup arus dari Cawang ke Grogol. Akibatnya, tak ada satu pun
kendaraan yang bisa lewat. Kemacetan merembet ke jalan regular yang berada
di sekitar gedung parlemen sehingga jalur transportasi, baik dari arah
Grogol maupun Cawang, putus.

Menjelang petang, kemacetan semakin parah setelah pengunjuk rasa bergeser ke
Semanggi. Lalu lintas di Jalan Sudirman pun terhenti. Berdasar pantauan
Tempo, kemacetan kemacetan yang parah merembet hingga kawasan Tanah Abang.

"Biasanya tidak begini," kata Sumarno, sopir Mikrolet 08 rute Kota-Tanah
Abang. "Ini bukan menolong, tapi menyengsarakan rakyat." Lalu lintas kembali
normal sekitar pukul 19.20.

Alma Fanniya, pegawai sebuah lembaga donor asing, juga mengeluh. Wanita yang
tengah hamil tujuh bulan ini mesti sabar menunggu lalu lintas normal. "Saya
antre cukup lama di halte busway," katanya. Alma baru tahu bus Transjakarta
mandek setelah antre hampir satu jam. "Busway nggak bisa lewat karena unjuk
rasa."

Jefry Silalahi, Ketua Panitia Nasional Lintas (Tali) Generasi, mengatakan
kerusuhan di depan gedung DPR merupakan akumulasi kemarahan masyarakat
akibat kenaikan harga BBM. "Ya, wajar saja yang namanya marah," kata Jefry.
Menurut dia, aksi ini didukung perwakilan organisasi intra dan ekstra kampus
dari 22 provinsi.

Adapun mahasiswa Universitas Nasional (Unas), M. Khadafi, mengatakan tidak
ada satu pun mahasiswa Unas yang terlibat dalam unjuk rasa di depan gedung
DPR. Mereka lebih tertarik mengusung isu kematian rekannya, Maftuh Fauzi.

Memang diakui Khadafi, tiga pekan lalu dirinya bertemu dengan perwakilan
aliansi mahasiswa yang tergabung dalam Tali Generasi. Mereka mengajak
menggelar aksi bersama dengan kampus Unas sebagai pusat aksi. "Tapi kami
menolak," ujarnya. "Sebab, mereka mengusung isu politik, sedangkan kami isu
kemanusiaan." TIM TEMPO


Kirim email ke