Di bawah adalah analisa pak Rhenald Kasali yang mengungkap bahwa meroketnya 
harga minyak dari US$ 20/brl tahun 2002 hingga US$ 142/brl tahun 2008 tak lepas 
dari spekulasi pedagang pasar komoditas NYMEX seperti Goldman Sachs dan Morgan 
Stanley yang mengeruk keuntungan hingga US$ 1,5 milyar (Rp 14 trilyun) pada 
tahun 2005.

Pada pasar komoditas memang kontrak minyak yang berlaku selama 72 bulan bisa 
diperjual-belikan dengan bebas hingga harganya melejit jauh dari harga awalnya.

Tapi memang melonjaknya harga minyak bukan cuma ulah spekulan minyak. 
International Oil Company (IOC) macam Chevron, Exxon-Mobil, dsb memang telah 
membentuk kartel yang memonopoli harga minyak. Tak heran jika keuntungan IOC 
seperti Exxon bisa mencapai US$ 40,6 milyar per tahun.

Dari sisi supply dan demand seperti dijelaskan raja Saudi dan juga CEO Shell, 
tidak ada masalah. Jadi ini hanya karena ulah Kartel minyak dan Spekulan Pasar 
Komoditas.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/30/01491018/wajah.baru.pedagang.minyak
ANALISIS EKONOMI
Wajah Baru "Pedagang" Minyak
RZF / Kompas Images
RHENALD KASALI
Senin, 30 Juni 2008 | 03:00 WIB

RHENALD KASALI

Kalau kami produksi minyak lebih banyak lagi, tidak ada yang membeli,” kata 
Raja Abdullah saat menutup KTT produsen-konsumen minyak. Semua pemimpin dunia 
pusing mencari solusi menahan laju harga. Kaya minyak, kok, tak berdaya? Di 
sini, selain disambut amarah rakyat, pemerintah juga disambut ”hak angket”. 
Sementara itu, yang tak punya minyak menari-nari dengan perdagangan dan 
spekulasi.

Ketidakberdayaan ini tak dapat diatasi dengan kecurigaan dan bermabuk wacana, 
apalagi dengan jalan pintas. Banyak hal telah berubah dan kita harus berlari 
lebih kencang lagi. Namun, ada yang sudah berubah, tetapi miskin pengakuan 
sehingga memicu frustrasi.

Menari di atas bara api

Ibarat menari di atas bara api dengan genderang ditabuh orang lain, Indonesia 
jelas menderita. Dulu, genderang itu ditabuh International Oil Company (IOC, 
perusahaan swasta, seperti Exxon Mobil, Chevron, dan Shell) yang bekerja sama 
dengan National Oil Company (NOC, milik negara, seperti Saudi Aramco, Petronas, 
Petrobras, Statoil, PDVSA Venezuela, dan Pertamina). Namun, sejak menjadi net 
importer, kita cuma menjadi penari, sedangkan genderangnya berpindah ke 
pengendali keuangan di bursa komoditas.

Kongres Amerika mengungkapkan, investasi terbesar belakangan ini berbentuk 
”paper” di bidang energi. Porsinya bergeser dari 4,6 persen (2003) menjadi 30,7 
persen (2005), dan sekarang di atas 50 persen (NYMEX, 2006). Menurut The New 
York Times, keuntungan minyak sebesar 1,5 miliar dollar AS yang dinikmati 
Goldman Sachs dan Morgan Stanley (2005) menimbulkan efek domino panjang.

Stok minyak (juga kekayaan) telah beralih dari NOC-IOC kepada para trader dan 
pelaku sektor keuangan yang tidak punya sumur, fasilitas kilang, gudang, atau 
kapal. Persepsi yang hidup di bursa itu berbeda dengan angka riilnya. Lord 
Browne, mantan CEO BP, menandaskan, ”Tidak ada indikasi kelangkaan. Naiknya 
harga tidak berhubungan dengan suplai-permintaan.”

Maka, harga minyak pun bergerak-gerak seperti harga saham. Secara empiris, 
semua ini hanya bisa ditangkal NOC dengan membentuk oil trader yang kuat.

Transformasi NOC

Karena kini minyak diperdagangkan trader dan ”spekulator”, penting 
mentransformasi tangan-tangan perdagangan NOC. Masalahnya, NOC selalu sarat 
belenggu dengan berbagai aturan dan diganggu berbagai kepentingan. Kalau 
belenggu-belenggu itu tidak dilepaskan, oil trader tidak bisa bergerak optimal 
karena pengambilan keputusannya butuh manuver cepat, perencanaan matang, 
jaringan luas, dan manajemen keuangan yang canggih. Pengawasan perlu, tetapi 
bukan dengan kecurigaan berlebihan, apalagi dengan bureaucratic control. 
Gunakan saja result-based control yang lazim dipakai perdagangan modern.

Di Indonesia, harus diakui, banyak kemajuan yang dicapai dari transformasi 
Pertamina yang didasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001. Namun, kemajuan 
itu mahal pengakuan karena banyak kepentingan terusik, baik dari dalam maupun 
luar negeri.

Kalau Pertamina kuat, misalnya, tidak ada ruang bagi tangan-tangan perdagangan 
asing yang mengincar pasar-pasar gemuk di kota-kota besar. Mereka akan berjuang 
mengarahkan Pertamina agar mengurus pasar di pinggiran saja yang ongkos kirim 
BBM-nya lebih mahal dengan menunjukkan NOC Indonesia ini kalah bersaing karena 
tidak efisien.

Di negara yang politiknya kondusif, NOC-nya berhasil memutasikan DNA oil 
trader-nya. Aramco, misalnya, melakukan penetrasi ke Amerika dengan jaringan 
SPBU Motiva. Petronas membeli jaringan SPBU di Afrika Selatan, Petrobras 
(Brasil) mengembangkan eksplorasi laut dalam bersama Statoil (Norwegia), dan 
NIOC (Iran) keuangannya beroperasi di New Jersey dan Swiss.

Untuk menangkal spekulator, NOC memodernkan tangan- tangan oil trading-nya. 
PETCO (milik Petronas), NICO (milik NIOC-Iran), Saudi Petroleum International 
(Saudi Aramco), Sonatrach Petroleum International (Sonatrach, Aljazair), Q8 
(Kuwait), dan Petral (Pertamina) mengalami overhaul.

Oil Trading Company itu ditaruh di pusat perdagangan dunia dan serius melawan 
broker yang dulu dikuasai para kroni. Mereka juga bertransformasi dari buying 
agent menjadi trader modern.

Wajah baru ”trader” minyak

Jelaslah kesejahteraan kini sudah tidak bisa dipungut begitu saja dari perut 
bumi. Sebagai big consumer, Indonesia bisa sejahtera melalui Pertamina asalkan 
Petral dipertajam perannya dengan melakukan transaksi jangka panjang untuk 
pasar domestik, tetapi juga melakukan penetrasi global, kerja sama dengan 
pemilik kilang mancanegara, swap produksi, dan sebagainya. Adaptasi diperlukan 
untuk menghadapi wajah perdagangan yang sudah berubah.

Ia butuh fleksibilitas dan kepercayaan. Dan, karena financing-nya kompleks, 
butuh pemahaman tingkat tinggi, konsensus politik, dan status ”Approved Oil 
Trader” yang dikeluarkan otoritas perdagangan dunia.

Sepengetahuan saya, Petral sudah memilikinya, bahkan mulai kembali dipercaya 
bank asing. Jadi, Petral berpotensi memperoleh competitive price untuk konsumen 
Indonesia asalkan diberi kepercayaan lebih. Tanpa itu, hanya ada kecurigaan dan 
rakyat semakin menderita.

Rhenald Kasali Pengajar di Universitas Indonesia

===
Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS

Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel 
Informasi selengkapnya ada di http://www.media-islam.or.id atau 
http://syiarislam.wordpress.com


      

Kirim email ke