urusan catut-mencatut, fitnah memfitnah memang pengasong liberal juaranya, 
fakta yg tdk terbantahkan. Nah tulisan ini salah satu buktinya. 
Lucu aja membaca pemikiran (sesat) ala dosen2 liberal, gmana mahasiswanya 
tuch?! udh gitu pemikirannya ga sesuai dg tindakannya sendiri, katanya muslimah 
boleh kawun dg non muslim, tp putrinya malah ga boleh dikawinin ma orang laen 
yg beda agama hehe lucu skali bukan, kalah deh komeng.
Yah namanya jg orang nyari duit, wajarlah nyatut sana nyatut sini, fitnah sana 
fitnah sini, UUD ujung-ujung duit hehe mana ada makan siang yg gratis. Iya toh?
susah klo muka dah tebel kaya' tembok, ga tahu maluuu hihihi..


----- Original Message ----
From: riri cute <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; Mansur Amin <[EMAIL PROTECTED]>; 
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
[email protected]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL 
PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; Sunny <[EMAIL PROTECTED]>; Djoko Associates 
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; Valdinho <[EMAIL 
PROTECTED]>; Iwan Wibawa <[EMAIL PROTECTED]>; Wirajhana <[EMAIL PROTECTED]>; 
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; kk bright <[EMAIL 
PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; Milis Debat agama kristen <[EMAIL PROTECTED]>; 
Caesar <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL 
PROTECTED]; muskita wati <[EMAIL PROTECTED]>; Ahmadi Agung <[EMAIL PROTECTED]>; 
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; Edward PN <[EMAIL 
PROTECTED]>; edogawa2000 <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL 
PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL 
PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
 [EMAIL PROTECTED]
Sent: Saturday, June 28, 2008 2:44:04 PM
Subject: [ppiindia] (unknown)




Jangan Memfitnah Buya HAMKA!" 
 
 
 

Suara Islam    

Sunday, 30 December 2007 
 

Beberapa peneliti Paramadina melakukan fitnah terhadap Buya HAMKA. Padahal, 
karyanya tak seberapa dibanding HAMKA. 
 
Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian ke-219 
 
Oleh: Adian Husaini 
 

Pekan lalu, sebuah berita gembira saya terima. Universitas Muhammadiyah Prof. 
Dr. Hamka Jakarta telah mendirikan sebuah pusat studi bernama ”Pusat Kajian 
Buya Hamka” (PKBH). Dalam rangka menyongsong peringatan 100 tahun Hamka, yang 
akan jatuh pada 17 Februari 2008, PKBH akan menerbitkan sebuah buku berjudul 
”Mengenang 100 Tahun Buya Hamka”. Saya diminta berpartisipasi untuk menulis 
satu artikel dalam buku tersebut.
 

Bagi kita, nama Hamka tidaklah asing. Dalam beberapa kali catatan, kita 
mengulas atau mengutip pendapat-pendapat Hamka. Semasa hidupnya, Hamka telah 
menulis sekitar 118 karya dalam berbagai bidang, baik sastra, sejarah, tasauf, 
etika, tafsir, dan sebagainya. Karya besarnya adalah Tafsir al-Azhar, yang 
ditulisnya semasa dalam tahanan rezim Orde Lama. 
 
Atas karya-karyanya, Hamka diangkat sebagai guru besar bidang tasauf di PTAIN 
Yogyakarta (1958), mendapat gelar Dr. HC bidang agama dari Universitas Al-Azhar 
Mesir (1958) dan bidang sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia..
 

Berbagai kalangan diminta menyumbangkan tulisannya untuk buku Mengenang 100 
Tahun Buya Hamka. Diantaranya, Prof. Dr. A. Malik Fadjar, Ali Sadikin, Prof. KH 
Ali Yafie, Prof. Dr. Amin Rais, Prof. Dr. Azyumardi Azra, Emha Ainun Najib, 
Harmoko (mantan Menteri era Orde Baru), KH Hasyim Muzadi, Prof. Dr. Din 
Syamsuddin, Dr. M. Syafii Anwar, Henny Purwonegoro, Mieke Widjaya, dan banyak 
lagi yang lainnya. Jumlahnya sekitar 100 orang. Dengan penulisan buku seperti 
ini, barangkali panitia mengharapkan, akan tergambar sosok Hamka yang 
ketokohannya diakui oleh berbagai kalangan masyarakat dengan corak serta aliran 
pemikiran.
 

Harapan kita, mudah-mudahan buku itu nantinya akan memberikan gambaran yang 
benar terhadap sosok Hamka dan pemikirannya. 
 
Jangan sampai, sosok dan pemikiran Hamka dipersepsikan dengan keliru, sehingga 
menjadi fitnah bagi Hamka. Kita pernah membahas, bagaimana seorang doktor 
penyebar paham Pluralis Agama di Indonesia, dengan gegabah mengutip Tafsir 
al-Manar, dan menyebut Rasyid Ridha sebagai pendukung paham Pluralisme Agama. 
Meskipun sudah kita koreksi dan kita tunjukkan kekeliruannya, sang doktor itu 
enggan mengoreksi bukunya. 
 
Ilmuwan-ilmuwan model seperti ini, meskipun dikenal cerdik, sulit dipercaya 
lagi kejujurannya.
 

Kita juga pernah membahas, ada sejumlah penulis yang keliru – entah sengaja 
atau tidak -- dalam mengungkapkan pemikiran Hamka. Bahkan, ada yang sengaja 
memanipulasi pendapat Hamka, sehingga, seolah-olah Hamka adalah seorang 
pendukung paham Pluralisme Agama. 
 
Sebagai contoh, sebuah buku yang belum lama ini diterbitkan oleh Universitas 
Paramadina berjudul ”Bayang-bayang Fanatisisme: Esei-esei untuk Mengenang 
Nurcholish Madjid, (2007). Buku ini diberi kata pengantar oleh Dawam Rahardjo, 
dengan editor Abd. Hakim dan Yudi Latif.
 

Seperti sejumlah buku terbitan Paramadina lainnya, buku berupa kumpulan tulisan 
berbagai penulis ini juga secara besar-besaran mempromosikan paham Pluralisme 
Agama. Sebagai misal, dalam artikelnya yang berjudul Mengapa Membumikan 
Kemajemukan dan Kebebasan Beragama di Indonesia?, Muhammad Ali, dosen Fakultas 
Ushuluddin dan Filsafat UIN Jakarta, menulis:
 

”Al-Qur’an juga menjelaskan dalam banyak ayat-ayatnya adanya persaudaraan 
hanafiyyah samhah dan persaudaraan kemanusiaan. Dalam konsep al-Qur’an, 
penganut agama Yahudi, Kristen, dan Islam adalah saudara seiman dan sebapak, 
Ibrahim, meskipun mereka saling berselisih dalam sejarahnya. Agama-agama mereka 
adalah satu dan berasal dari satu Tuhan. Lebih luas lagi bahkan, selain Yahudi 
dan Kristen, Islam juga bersaudara dengan seluruh penganut keberagamaan yang 
benar, yang tidak sombong dan tidak berbuat kerusakan. Tuhan menurunkan ratusan 
ribu nabi-nabi dan rasul-rasul yang tidak diceritakan siapa mereka. Karenanya 
tidak ada alasan untuk mengafirkan dan mengutuk masuk neraka Konfusianisme, 
Buddha, Mirza Ghulam Ahmad, dan penganut-penganut keyakinan lainnya. Apalagi 
al-Quran juga menjelaskan, tidak ada perbedaan antar para nabi dan perbedaan 
dan perselisihan antar-umat beragama harus diserahkan kepada Tuhan saja.” (hal. 
256).
 

Kita tentu sulit memahami, apa sebenarnya isi kepala dosen ushuluddin UIN 
Jakarta yang sedang mengambil doktor di Hawai, USA, ini. Kaca mata apa dan 
konsep apa yang dipakai untuk membaca ayat-ayat al-Quran.. 
 
Padahal, dalam surat al-Fatihah saja, sudah disebutkan ada jalan yang lurus 
(shirathal mustaqim), dan ada jalan orang-orang yang dimurkai Allah dan ada 
jalan orang-orang yang sesat. 
 
Begitu banyak ayat al-Quran yang menjelaskan, lengkap dengan ciri-cirinya, 
siapa yang disebut mukmin, siapa kafir, dan siapa munafik.
 

Kita tidak perlu menguraikan lebih jauh kekeliruan pemikiran dosen Ushuluddin 
UIN Jakarta ini. Sebab, disamping sangat kacau, juga sangat naif. 
 
Kita hanya patut mengajukan pertanyaan kepada keluarga dan pimpinan UIN 
Jakarta, jika Muhammad Ali menyebut kaum Yahudi, Nasrani, dan sebagainya 
”saudara seiman”, bagaimana jika dia meninggal nanti, maka jenazahnya 
dikuburkan saja di pemakaman Yahudi atau Kristen? Atau jenazahnya ditaruh di 
bawah pohon sebagaimana tradisi satu agama suku di Indonesia?
 

Yang lebih menyedihkan adalah artikel berjudul ”Islam dan Pluralisme di 
Indonesia: Pandangan Sejarah”, ditulis oleh Ayang Utriza NWAY, seorang alumnus 
Fakultas Syariah UIN Jakarta, yang menyelesaikan masternya di Paris. 
Sebagaimana banyak penganut paham Pluralisme Agama, penulis ini juga 
menggunakan QS Al-Baqarah ayat 62 sebagai rujukan pendapatnya. 
 
Celakanya, dia mengutip pendapat Hamka dalam Tafsir al-Azhar secara 
serampangan, lalu membuat kesimpulan yang menyesatkan. Dia menulis dalam 
artikel ini:

 

”Buya Hamka dengan sangat mengagumkan menafsirkan ayat ini. Ia menulis ”Kesan 
pertama yang dibawa oleh ayat ini ialah perdamaian dan hidup berdampingan 
secara damai di antara pemeluk sekalian agama dan dunia ini [...]. Ayat ini 
sudah jelas menganjurkan persatuan agama, jangan agama dipertahankan sebagai 
golongan, melainkan hendaklah selalu menyiapkan jiwa mencari dengan otak 
dingin, manakah dia hakikat kebenaran. Iman kepada Allah dan Hari Akhirat, 
diikuti amal saleh. Kita tidak akan bertemu suatu ayat yang begini penuh dengan 
toleransi dan lapang dada, hanyalah dalam al-Qur’an. Suatu hal yang amat perlu 
dalam dunia modern.” Lebih jauh Buya Hamka mengutip hadits yang diriwayatkan 
dari Ibn Abi Hatim dari Salman al-Farisi yang bertanya kepada Rasulullah 
tentang agama mana yang paling benar dari semua agama yang pernah dimasuki 
olehnya: Majusi, Nasrani, dan Islam. Rasulullah menjawab dengan QS 2:62 
tersebut.” (hal. 306-307).
 

Lalu, penulis yang juga peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan 
Universitas Paramadina ini, mengutip pendapat Hamka yang tidak setuju dengan 
pendapat Ibn Abbas bahwa QS 2:62 itu sudah dinasakh oleh QS 3:85.
 

”Buya Hamka menyatakan: ”Kalau dikatakan bahwa ayat ini dinasikhkan (dihapus) 
oleh ayat 85 surat Ali Imran itu, yang akan tumbuh ialah fanatik; mengakui diri 
Islam, walaupun tidak pernah mengamalkannya. Dan surga itu hanya dijamin untuk 
dia saja [...].”
 

Yang kemudian sangat sembrono dan tidak etis, adalah kesimpulan yang dibuat 
oleh penulis, bahwa:
 

”Ini berarti bahwa walaupun seseorang mengaku beragama Islam, yang hanya 
bermodalkan dua kalimat syahadat, tetapi tidak pernah menjalankan rukun Islam, 
maka ia tidak akan pernah mendapat ganjaran dari Allah, yaitu surga. Sebaliknya 
jika ada non-Muslim yang taat dan patuh menjalankan ajaran agamanya, walaupun 
tidak mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dia akan mendapatkan ganjaran dari 
Allah: surga.” (hal. 307).
 

Sebenarnya, jika seorang peneliti dan penulis yang jujur dalam membaca 
penafsiran Hamka terhadap QS 2:62, pastilah tidak akan membuat kesimpulan 
seperti itu.. Sebab, Hamka memang tidak menyimpulkan seperti itu. Dalam 
tafsirnya, Hamka menulis tentang hadits Ibn Abi Hatim sebagai berikut:
 

”Telah meriwayatkan Ibnu Abi Hatim daripada Salman, berkata Salman, bahwasanya 
aku telah bertanya kepada Rasulullah s.a.w. dari hal pemeluk-pemeluk agama yang 
telah pernah aku masuki, lalu aku uraikan kepada beliau bagaimana cara 
sembahyang mereka masing-masing dan cara ibadah mereka masing-masing. Lalu aku 
minta kepada beliau manakah yang benar. Maka beliau jawablah pertanyaanku itu 
dengan ayat: Innalladzina amanu wal-ladzina hadu dan seterusnya itu.”
 

Artinya ialah bahwa perlainan cara sembahyang atau cara ibadah adalah hal 
lumrah bagi berbagai ragam pemeluk agama, karena syariat berubah sebab 
perubahan zaman. Tetapi manusia tidak boleh membeku disatu tempat, dengan tidak 
mau menambah penyelidikannya, sehingga bertemu dengan hakikat yang sejati, lalu 
menyerah kepada Tuhan dengan sebulat hati. Menyerah dengan hati puas. Itulah 
dia Islam.” (Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juzu’ I, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982) 
hal. 216).”
 

Hamka sangat menekankan bahwa makna ”iman sejati” adalah beriman kepada Allah 
dan Hari Kiamat, dan beramal shalih. 
 
Jadi, formalitas Islam, atau ”mengaku-aku Islam” saja – tanpa diikuti dengan 
keyakinan yang mendalam dan amal shalih -- memang tidak menjamin keselamatan di 
akhirat. 
 
Siapa pun akan setuju dengan kesimpulan Hamka ini. 
 
Tetapi, perlu dicatat, Hamka sama sekali tidak berpendapat, bahwa kaum Yahudi, 
Kristen, Shabiin, dan lain-lain, semuanya akan masuk surga, tanpa perlu masuk 
Islam dan beriman kepada Nabi Muhammad saw dan beriman kepada al-Quran. 
 
Hamka menulis:
 

”Beriman kepada Allah niscaya menyebabkan iman pula kepada segala wahyu yang 
diturunkan Allah kepada para RasulNya; tidak membeda-bedakan diantara satu 
Rasul dengan Rasul yang lain, percaya kepada keempat kitab yang diturunkan.” 
(Ibid, hal. 213).
 

Justru disinilah persolan bagi kaum Yahudi dan Kristen, karena mereka menolak 
kenabian Muhammad saw dan kebenaran al-Quran. 
 
Karena itu, dalam tafsirnya ini, Hamka juga mengutip hadits Rasulullah saw yang 
diriwayatkan Imam Muslim:
 

”Berkata Rasulullah s.a.w.: Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman 
tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat sekarang 
ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman 
kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”
 

Lalu, selanjutnya, Hamka menjelaskan makna hadits Rasul saw tersebut:
 

”Dengan hadits ini jelaslah bahwa kedatangan nabi Muhammad s.a.w. sebagai 
penutup sekalian Nabi (Khatimil Anbiyaa) membawa Al-Quran sebagai penutup 
sekalian Wahyu, bahwa kesatuan ummat manusia dengan kesatuan ajaran Allah 
digenap dan disempurnakan. 
 
Dan kedatangan Islam bukanlah sebagai musuh dari Yahudi dan tidak dari Nasrani, 
melainkan melanjutkan ajaran yang belum selesai. 
 
Maka, orang yang mengaku beriman kepada Allah, pasti tidak menolak kedatangan 
Nabi dan Rasul penutup itu dan tidak pula menolak Wahyu yang dia bawa. 
 
Yahudi dan Nasrani sudah sepatutnya terlebih dahulu percaya kepada kerasulan 
Muhammad apabila keterangan tentang diri beliau telah mereka terima. Dan dengan 
demikian mereka namanya telah benar-benar menyerah (Muslim) kepada Tuhan. 
 
Tetapi kalau keterangan telah sampai, namun mereka menolak juga, niscaya 
nerakalah tempat mereka kelak. Sebab iman mereka kepada Allah tidak sempurna, 
mereka menolak kebenaran seorang daripada Nabi Allah.” (Ibid, hal. 217-218).
 

Inilah penafsiran Hamka tentang QS 2:62, yang telah dikutip dan disimpulkan 
secara keliru oleh peneliti Paramadina yang mengaku pernah kuliah pasca sarjana 
di Universitas Al-Azhar Kairo. 
 
Kita sangat menyesalkan cara-cara seperti ini, yang jauh dari etika ilmiah. 
Apalagi, buku ini dimaksudkan untuk mengenang orang yang disanjung-sanjung oleh 
kaum liberal sebagai salah satu ”cendekiawan terkemuka” di Indonesia. Kita 
gembira dengan banyaknya orang yang menulis tentang Hamka, tetapi kita berharap 
mereka jujur dan cermat dalam menulis. 
 
Pemikiran dan kiprah perjuangan Buya Hamka jelas amat sangat jauh bedanya 
dengan kaum Pluralis Agama yang menyatakan bahwa kaum Yahudi, Kristen, dan 
sebagainya, adalah ”saudara seiman” mereka.
 

Jadi, kita memohon, jangan lagi menfitnah Buya Hamka! Nanti bisa celaka di 
dunia dan Akhir Masa. 
 
Wallahu A’lam. 
 
[Jakarta, 28 Desember 2007/www.hidayatull ah.com]

Get the name you always wanted with the new y7mail email address.
www.yahoo7.com. au/mail

[Non-text portions of this message have been removed]

 


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke