Kepada Moderator PPIIndia, Yth.
Mohon izin nambahin komentar untuk posting ini, kiranya bisa
ditayangkan dan dibaca oleh semua anggota PPIIndia: 

Jancuk Menteri Sontoloyo!! Puas-puasi mengkhianati rakyat dan
mengkadali pemerintah. Kembungkan perutmu, semoga keserakahanmu sampai
di puncak dan bledos. Semoga kalian cepat digrounded, karena
kebanyakan ndobos nggak mutu, jadi Dorna buat bangsa dan negara ini.
Semoga kalian cepat pensiun dini, dirajam stroke, hidup sengsara
diludahi warga dan tetangga di hari tua bersama keturunannya.


Dimas. 


Menteri Sontoloyo
-------------------
Editorial Media Indonesia


BANGUNAN Kabinet Indonesia Bersatu mestinya kukuh. Sebab hampir
separuh personelnya berasal dari delapan kendaraan politik berbeda.
Jabatan kepartaian mereka pun rupa-rupa. Mulai ketua umum, ketua
majelis pertimbangan, ketua pemenangan pemilu, ketua dewan pakar,
wakil bendahara, penasihat, mantan sekjen, hingga sekadar kader parpol.
Mestinya, bangunan kabinet itu tidak goyah dihantam badai angket
seandainya delapan partai sebagai tiang penyangga koalisi dibangun di
atas fondasi kepentingan rakyat. Sayangnya, koalisi pemerintahan saat
ini justru dibangun di atas pasir kepentingan yang setiap saat bisa
roboh ditiup angin kepentingan parlemen. Tragisnya lagi, kepentingan
parlemen dikendalikan dari dalam tubuh kabinet sendiri.
Tiupan angin kepentingan itu semakin kencang di tahun politik ini.
Sebentar lagi memasuki tahun pemilu. Dalam menghadapi tahun pemilu
itu, para menteri asal partai mulai bermain politik dua kaki. Kaki
yang satu kukuh mempertahankan jabatan menteri, sedangkan kaki satu
lagi ikut menggoyang kabinet. Tujuan berpolitik dua kaki itu tentu
saja merongrong wibawa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar
popularitasnya merosot.
Penggunaan hak angket atas kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan
bakar minyak adalah contoh paling nyata politik dua kaki yang
disutradarai para pembantu Presiden. Mereka menyetujui penaikan harga
minyak di depan Presiden. Di belakang Presiden mereka justru menyuruh,
atau setidaknya membiarkan, fraksi mereka di DPR menggebuk kebijakan
pemerintah. Bahkan, hak angket itu sendiri justru dipelopori partai
yang menjadi penyangga kabinet.
Hak angket dibahas dalam Rapat Paripurna DPR, pekan lalu. Semula, lima
fraksi mendukung kebijakan pemerintah dengan menolak angket. Lima
fraksi itu adalah Partai Demokrat, Golkar, PPP, Partai Damai
Sejahtera, dan PKS. Hanya kader Partai Damai Sejahtera yang tidak
berada dalam kabinet. Pada saat voting, PPP, PKS, dan PDS tiba-tiba
merapatkan diri ke dalam barisan pendukung angket. Hanya Demokrat dan
Golkar yang tetap 'pasang badan' membela kebijakan pemerintah.
Pasang badan membela kebijakan pemerintah adalah konsekuensi logis
sebagai partai penyangga koalisi. Memang demikian fatsun politiknya.
Jika tidak mau menjadi penyangga, ya tarik kader partai dari koalisi.
Menggebuk kebijakan pemerintah dengan tetap mempertahankan kader
partai menikmati kursi kabinet beserta seluruh kekuasaannya, itu
namanya pengkhianat. Mau enaknya saja.
Jadi, sangatlah jelas, para menteri asal partai mulai meninggalkan
etika politik hanya untuk kepentingan pragmatis memenangi pemilu.
Mereka mempraktikkan jurus politik cuci tangan. Setelah menyetujui
penaikan harga BBM, mereka mencuci tangan seolah-olah mereka tidak
terlibat dalam kebijakan itu. Untuk itulah mereka menyuruh atau
membiarkan fraksi mereka di DPR menentang kebijakan pemerintah dengan
menyetujui penggunaan hak angket.
Mereka itulah yang masuk kategori menteri sontoloyo. Menteri yang
sesungguhnya menjadi musuh dalam selimut Presiden. Mereka menikam
Presiden dari belakang dengan membiarkan fraksi di DPR menyetujui
penggunaan hak angket. Mereka lihai bersilat lidah dengan menyebutnya
sebagai dinamika lapangan atau improvisasi fraksi.
Tidak ada gunanya Presiden memelihara pembantu yang plintat-plintut.
Kabinet harus dibersihkan dari musuh dalam selimut dan menteri
sontoloyo layak dibuang. Memelihara menteri sontoloyo sama saja
menggorok leher sendiri. Tinggal menunggu waktunya menteri sontoloyo
itu berulah lagi.


Menteri sontoloyo
Saya setuju dengan isi editorial ini, memang etika/kedewasaan dalam
politik harus ditanamkan benar-benar dalam benak semua politikus baik
memiliki kekuasaan maupun tidak, karena kalau seperti itu semua
tingkah laku politikus negeri ini, apajadinya negeri kita ini? mau
jadi negeri anak-anak yang selalu plin plan dalam bersikap dan hanya
mementingkan diri sendiri dan golongannya tanpa memikirkan negara dan
bangsa.

Oleh : miyu
Kualitas bejat pemimpin . Inilah orang-orang yang berjiwa & bermental
bejat yang haus kekuasaan untuk mengadu domba rakyat sekaligus
mengyengsarakannya

Oleh : aLOGO
Itulah cerminan politik kita....
Tak heran lagi jika hal-hal seperti itu terjadi di negara kita ini. Di
depan bilang iya, tapi di belakang bilang tidak. barangkali itulah
cerminan bangsa kita. tak hanya menteri yang seperti itu. tapi pejabat
yang lain juga sama saja. Mereka hanya bisa berjanji-berjanji saja
saat kampanye pilkada dan pemilu, tapi setelah terpilih satu pun janji
tak ada yang terpenuhi. iya, mungkin tahap moralitas bangsa kita masih
sebatas itu. tak usahlah saling menyalahkan. mungkin saja kalau kita
di posisi yang sama dengan menteri itu, tak akan beda jauh juga atau
lebih parah lagi. satu sisi, dia tak ingin melepaskan empuknya jabatan
sebagai menteri. terhormat, fasilitas memadai dan berkuasa. namun di
satu sisi kecil, barangkali dia juga tak tega menyaksikan betapa
menderitanya rakyat kecil akibat kebijakan pemerintah menaikkan harga
BBM. ya, seharusnya memang jika dia tak setuju terhadap kebijakan
pemerintah, mundur saja lah lalu menjadi oposisi sebagimana yang
terjadi di banyak negara lain. namun budaya politik kita belum sampai
pada tahap itu. lihatlah banyaknya kegagalan bangsa ini dari waktu -ke
waktu, apakah ada satu orang pejabat pun yang rela mundur demi membela
kepentingan rakyat banyak??...


SBY HARUS TEGAS
Saat ini Sby harus mempunyai ketegasan para mentri yang mbalelo
cepat-cepat di amputasi sebelum menjelar lebih luas lagi, apa gunanya
memelihara setan etikanya sudah di gadaikan.

Setelah pemilu 2009 pemenag Pil Pres harus berfikir ulang kalau mau
Koalisi, ngak ada jaminan dari Partai Politik.

Pemenang PEMILU berhak untuk menentukan semua Kabinatnya ngak perlu
dari partai Sontoloyo. Suara pinggiran, Denokan

Oleh : wicaksono
Media Indonesia juga Sontoloyo
Partai juga pada posisi dilematis, disatu sisi ada wakilnya di
pemerintahan tapi mereka juga punya kader dan simpatisan serta
konstituen yg memilih mereka. ketika Pemeintah dan konstitruen berbeda
pendapat maka posisi partai juga menjadi dilematis. Maka mengembalikan
makna wakil rakyat ke makna sebenarnyalah jawabannya, jika dewan
adalah wakil rakyat ya posisinya adalah membela rakyat meski harus
berseberangan dengan pemerintah. Pernyataan MIOL ini kontra produktif
bagi pengembangan demokrasi Indonesia, sebuah partai pendukung
pemerintah tidak boleh mendukung pemerintah secara bulat2, sama dengan
artinya memberi cek kosong kepada pemerintah. Jika memang kebijakan
itu baik ya harus didukung namun jika sebaliknya ya harus ditolak. Toh
SBY_JK juga bisa disebut sontoloyo jika koalisi tidak menghendaki
menaikkan harga BBM tapi tetap menaikkan harga, sama halnya di koalisi
berkata iya tapi kenyataannya beda. Jadi sontoloyo tergantung darimana
sudut pandang anda . Ada baiknya Media indonesia juga mampu
menunjukkan independensi pers atau juga menjadi bagian dari media
sontoloyo karena keberpihakannya.

Oleh : MA Rasyad
Menteri sontoloyo
Mencermati perkembangan yang terjadi pada saat ini terutama wacana
"menteri sontoloyo" ada beberapa hal yang ingin disampaikan :
1. sampai kapan pun kalo sistem politik/pemerintahan msh menganut
sistem jatah "bagi2 kue" pasti selalu ada menteri atau bahkan angota
dewan yg "sontoloyo",tergantung arah angin,kalo anginnya bagus ke
utara,dia ke utara,kalo bagus ke selatan,dia ke selatan.bagi dia kawan
yg abadi hanyalah kepentingan.
2. kalaupun nanti sistemnya masih kaya gini (sist bagi kue),sewajibnya
semua menteri yg sdh ditunjuk harus melepas semua jaket2 partai.he
must loyal to the country,not loyal to the party.
3. nampaknya perlu dikaji kembali sistem politik/pemerintahan kita
agar tidak ada lagi sistem bagi2 kue



Kirim email ke