http://www.antara.co.id/arc/2008/7/15/naasp-tetapkan-mekanisme-pembangunan-palestina/
NAASP Tetapkan Mekanisme Pembangunan Palestina

Jakarta (ANTARA News) - Konferensi tingkat menteri Kemitraan Strategis Baru 
Asia-Afrika (NAASP) untuk pembangunan kemampuan Palestina di Jakarta pada 
Selasa menyarankan pranata tindak lanjut untuk memastikan langkah efektif NAASP.
"Konferensi itu menyetujui akan kebutuhan mendesak untuk mewujudkan saran dan 
tekad, yang telah dihasilkan secara terpadu, saling berhubungan dan terkait, 
sehingga ditetapkan Mekanisme Tindak Lanjut untuk perencanaan, penerapan, 
pemantauan dan penilaian program pembangunan kemampuan," kata Menteri Luar 
Negeri Hassan Wirajuda dalam penutupan NAASP.
Menurut menteri luar negeri Indonesia itu, yang didampingi Perdana Menteri 
Palestina Salam Fayyad dan Menteri Pembangunan Sosial Republik Afrika Selatan 
Zola Skweyiy, konferensi itu berhasil mendorong negara pesertanya memberikan 
dukungan nyata bagi Palestina.
Negara peserta konferensi itu bertekad membantu Palestina dengan program 
pembangunan kemampuan, terutama di bidang pembangunan ekonomi, kepemerintahan 
dan prasarana.
Program tersebut sejalan dengan reformasi dan rencana pembangunan Palestina, 
yang menempatkan visi tentang cara membangun negara Palestina merdeka.
"Indonesia memberikan kesepakatannya untuk membangun kemampuan 1.000 orang 
Palestina dalam waktu lima tahun mendatang melalui program pelatihan dengan 
melibatkan swasta," katanya.
Sementara itu, beberapa negara menyampaikan keinginan mengusulkan program atau 
proyek setelah melakukan konsultasi internal.
Konferensi NAASP diharapkan memainkan peran membangun sebagai perangkat proses 
perdamaian, terutama melalui pemberdayaan berbagai unsur bangsa Palestina, 
sebagai bentuk persiapan bagi pembentukan negara Palestina dalam waktu tidak 
lama lagi.
Selama dua hari, 14-15 Juli 2008, perutusan dari 56 negara Asia-Afrika, 
termasuk tiga negara Amerika Latin, yaitu Brasil, Venezuela, dan Cile, serta 
tiga perhimpunan antarbangsa sebagai pengamat, mendaftar proyek pembangunan 
kemampuan, yang praktis dan dapat dilaksanakan, guna menyiapkan masyarakat 
Palestina saat kemerdekaan Palestina terwujud.
Pada kesempatan sebelumnya, Jurubicara Departemen Luar Negeri Teuku Faizasyah 
mengatakan konferensi tersebut berbeda dengan konferensi donor di Paris 
beberapa bulan lalu, karena KAA untuk Palestina kali ini lebih menekankan pada 
pembangunan kemampuan.
"Negara Asia-Afrika memiliki pengalaman dalam pembangunan. Upaya kami tentu 
dapat melengkapi upaya dunia dalam membantu Palestina," katanya.
Sementara itu, Direktur Kerjasama Intra-Kawasan Asia-Pasifik dan Afrika 
Departemen Luar Negeri Ibnu Hadi mengatakan negara Asia-Afrika, yang sebagian 
besar adalah negara berkembang, bertekad memberikan bantuan teknis kepada 
Palestina.
Ketika ditanya lebih lanjut apakah pemerintah Indonesia berencana mengundang 
Hamas dalam konferensi tersebut, Ibnu Hadi mengatakan undangan ditujukan kepada 
pemerintah Palestina, tidak secara khusus kepada pihak tertentu di Palestina.
Selain negara Asia-Afrika, menurut Ibnu Hadi, diundang juga sejumlah negara 
berkembang dari kawasan Amerika Latin, antara lain Kuba, Brasil, dan Venezuela.
"Tujuan akhirnya adalah memberikan penegasan kesiapan Palestina," katanya.
Sebelumnya, Presiden Palestina Mahmoud Abbas dalam lawatannya ke Indonesia pada 
akhir 2007 menyatakan menyambut rencana Indonesia menyelenggarakan Konferensi 
Asia-Afrika untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina.
Sementara itu, pada akhir 2007 dan awal 2008, dua konferensi lain mengenai 
Palestina diselenggarakan, yaitu Konferensi Annapolis di Amerika Serikat, yang 
berusaha mendudukkan Israel dan Palestina dalam satu meja perundingan, dan 
Konferensi negara donor (Uni Eropa) untuk dukungan atau bantuan ekonomi bagi 
Palestina di Paris.(*)


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke