Salam,

Pertama-tama tentang kejelasan identitas, catatan itu pertama-tama 
buat sampeyan dan email sampeyan sendiri. Karena nama email dan nama 
identitas sampeyan gak jelas buat saya. 
Kalau sampeyan datang ke kantor saya, dan ketemu satpam, lalu 
menyebut nama saya, sesuai email saya, maka  satpam mana pun -- 
bahkan tukang gorengan pun -- akan menunjuk meja kerja saya. 
Panggilan Mas Dimas adalah satu-satunya panggilan untuk saya di 
kantor dan di gedung 5 lantai, tempat saya kerja. 
Identitas saya jelas las...

Kalau milis ini sudah dianggap melenceng dari misi awal, karena jadi 
gak beradab,  dan bakal dikaji ulang, silakan. 
Silakan bikin aturan baru atau menghidupkan aturan lama.
Mau ketat silakan, mau longgar silakan. Mau ruwet silakan, 
mau sederhana juga silakan. Mau educated dan intelectual silakan, 
mau merakyat dan membiarkan gaya jalanan seperti sekarang silakan.

Saya sendiri akan tetap mencurahkan isi dan curahan hati saya 
di PPIIndia ini, sebagaimana saya menulis selama ini. 
Kalau moderator menganggap tidak sesuai dengan missinya, 
'delete' aja. Gitu aja kok repot.
 
Kalau di milis pakai atur-aturan ribet, ya, saya nyerah. 
Jadi pengintip aja. Atau pindah milis lain.
Saya betul-betul ogah repot.

Wassalam,


Dimas. 

--- In [email protected], "v2xtopz" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> :)
> 
> Salam damai `alaikum jam'ian. 
> Semoga kalian meraih surga yang tepat menurut keimanan kalian
> masing-masing.
> 
> Penasaran juga gue baca semua 50-an email debat kusir di milist ini
> seputar satu tema: Surga Bukan Monopoli Muslim (Asghar Ali 
Engineer).
> Tapi uniknya, beberapa kawan yang "berantem" n ngotot ma visi-visi
> mereka di bejibun email itu, bagi gue sangat asing. Milist ini 
memang
> milist terbuka, sayangnya gak bertradisi menerangkan identitas diri
> para pemosting. Jadinya, setelah lelah baca 50-an email tersebut, 
gue
> kesel karena mendapati semua orang yang berantem gak ternyatakan 
jati
> dirinya. Ironisnya, setelah mereka-reka, gue rasa para panelisnya
> punya ideologi, bahkan agama yang berbeda.
> Wacana yang digulirkan Tempo, lalu diposting MGR, lantas menjadi
> sebuah debat terbuka interfaith ini, berrakhir pada caci maki dan
> bodoh membodohi. Menurut gue ini sangat "gak akademis" ato "gak
> educated", bahkan "gak layak" untuk diposting di milist "PPI India"
> yang "akademis dan educated".
> Gue pipik. Alumni Aligarh Muslim University (AMU). Kawan-kawan lama
> PPI mungkin masih inget, yang baru maklum gak pernah denger nama itu
> karena gak beken:). Alhamdulillah gue diberi kesempatan ama Tuhan 
gue
> tuk nimba ilmu di universitas "sekuler" AMU. Di fakultas Theology
> lage. Berbagai nuansa keagamaan, dari radikalitas, fundamentalitas,
> sampe liberalitas, sangat bersemai di sana. Sentuhan dengan banyak
> budaya, bahkan agama juga terjadi. Hasilnya, gue pun 
menjadi "moderat"
> (bukan liberal, maupun fundamental, atopun istilah lain yang
> menggambarkan pengkubuan pemikiran ato ideologi).
> Saat kuliah dulu, alhamdulillah gue sempet ketemu n diskusi ringan 
ma
> Asghar Ali Engineer ketika beliau kunjung ke AMU. Saat itu cuma gue
> orang asingnya, apalagi orang Indonesianya yang memang males-males 
ma
> kajian teologis keilmiahan &#61514;. Peserta lainnya adalah kawan-
kawan dari
> aneka budaya, agama n ideologi keagamaannya. Pemikiran Ashgar memang
> liberal dan pluralis, tapi sangat mampu diserap oleh semua kalangan
> sebagai sebuah pendapat "Ashgar", bukan pendapat aliran. Karena, 
dalam
> tradisi ilmu kalam Islam, pemikiran-pemikiran Ashgar memang cuma
> pengulangan dari ide-ide kaum rasionalis masa lalu. Tapi memang 
harus
> diakui, Ashgar menjadi tokoh rasionalis besar di tengah 
konservatifme
> ide-ide keislaman di India.
> Diskusi kalian, yang dimulai dari ide Ashgar, menurut gue "gak
> beradab". Karena kalian berangkat dari latar belakang keyakinan,
> agama, pendidikan dan kehidupan berbeda. Ada yang sangat islamis, 
yang
> lain sekuler, liberal, dan ada juga yang non-muslim. Yang menjadi
> masalah, kayaknya kalian seperti gak "educated" untuk mengemas 
dialog
> dan diskusi kalian secara dialektis. Gak ada "manthiq" (cara
> penyampaian) yang baligh (tepat penyampaiannya). Dominannya
> penyampaian ide menjadi gak dewasa, karena mempertahan idealitas 
tanpa
> memperdulikan lawan bicara yang tidak sejajar.
> Dalam ilmu komunikasi, dialog seperti ini sangat berbahaya, karena
> tidak akan ada solusi, pencerahan, apalagi "ilmu". Untuk 
berkomunikasi
> dengan baik dan menghasilkan solusi, pencerahan, apalagi ilmu, salah
> satu sayaratnya harus dilakukan dengan "kepala dingin", dan 
dilakukan
> oleh "orang-orang selevel". Dalam arti spesifik: "seideologi, ato 
seiman".
> Bicara soal ide-ide keislaman, biarkan kawan-kawan muslim yang 
menjadi
> leadernya. Kawan non Muslim tolong jangan menggagas sesuatu yang
> "asing" bagi keimanan kawan-kawan muslim. Ketika bincang tema-tema
> liberalitas, silahkan kawan-kawan yang memang punya potensi akademis
> dan keilmiahan untuk mengkajinya. Dengan begitu semua bisa cair, dan
> menghasilkan pencerahan pemikiran. Bukan asal gebrak, gak
> bertanggungjawab, lalu caci maki, bahkan (na'udzubillah) pencacian
> guru, ulama, dan Tuhan.
> Harus diingat kembali, milist ini adalah milist komunitas educated.
> Moderator milist harus mampu memanage laju, bobot, dan tema diskusi
> anggotanya. Bolehlah milist ini begitu terbuka untuk siapa saja
> menjadi anggota. Tapi tolong difilter, dan diperjelas identitas
> masing-masing anggota. Agar gak ada sembarang orang yang cuma mau 
cari
> "rame", ribut ato asak-usuk mengganggu "kekhusu'an" kawan-kawan lain
> yang tengah mencari ilmu dan pengembangan wawasan.
> Sebagai "orang asli PPI India", gue sangat gak rela melihat milist 
ini
> cuma jadi bak sampah kawan-kawan yang main posting email ato info-2
> sembarang n gak mutu. Tolong di-reset lage pola atur milist ini 
yach.
> Karena milist ini adalah wajah kita: rekan-rekan PPI India, 
masyarakat
> Indonesia di India, dan alumni-alumninya.
> Tolong didata ulang semua anggotanya. Perjelas jati diri, latar
> belakang pribadi dan motif mereka. Jangan jadikan milist ini sekedar
> banyak anggota, tapi "sarang orang-orang gelap".
> 
> Terimakasih. Sekali lage: Semoga kalian meraih surga yang tepat
> menurut keimanan kalian masing-masing.
> 
> "Orang bijak adalah yang mampu menempatkan pembicaraan pada 
tempatnya."
> 
> 
> Pipix
> Jakarta
>


Kirim email ke