makanya dulu waktu jadi Muslim itu banyak belajar, jangan menjadi bodoh seperti 
sekarang. kalau banyak belajar tentu tau makna Ka'bah bagi Muslim dan Gunanya 
Kiblat.
 
walau sudah murtadin, tidak ada salahnya belajr lagi, agar bodohnya tidak 
kelamaan dan stuck di dalam otak yg dungu. baca baik2 artikel berikut:
 
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil. (London).
 
Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)

KIBLAT
 
Apakah yang dimaksud dengan Kiblat? Secara literal, kiblat berarti arah dari 
pemusatan perhatian. 
 
Adapun arti Kiblat dalam Islam adalah arah menghadapkan wajah ketika 
mengerjakan shalat.

Allah SWT berfirman didalam Surat Al-Baqarah Ayat 115,

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, kemanapun kamu menghadap disitulah 
Wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Sepertinya, ayat ini menerangkan bahwa tidak ada arah tertentu yang perlu 
ditetapkan untuk menyembah kepada-Nya. Jika tidak diperlukan arah secara 
lahiriah, maka setiap orang bisa menghadapkan wajahnya kemanapun ketika dia 
mengerjakan shalat.

Adakah hikmah dibalik penetapan Kiblat? Sebagaimana kita ketahui, ibadah puasa 
dan dzikrullah (mengingat Allah SWT) adalah ibadah individu. Adapun Shalat dan 
Haji adalah ibadah yang dikerjakan secara berjama’ah (bersama-sama) . Dalam 
penetapan Kiblat terkandung makna penegasan dan pengajaran tata-cara dan 
tata-krama (etika) suatu dinamika kelompok. Prinsip terpenting untuk mencapai 
kesatuan dan kesetia-kawanan (solidaritas) kelompok adalah dengan penyatuan 
arah pandangan yang menafikkan pengelompokan atas dasar kebangsaan, rasialisme, 
kesukuan, asal wilayah, bahasa, maupun asal negara. 

Allah SWT memilih Kiblat sebagai jalan-keluar untuk mencapai Kesatuan dan 
Solidaritas Umat karena, pilihan selain Kiblat, alih-alih mempersatukan, justru 
mengkotak-kotakkan Umat. Agama Islam adalah agama semua Nabi. Maka, 
satu-satunya penegasan bahwa semua Nabi hanya mengajarkan satu ajaran (yakni, 
Tauhid) adalah dengan penetapan sebuah ‘Titik-Arah’ Peribadatan.

Kiblat yang tunggal untuk semua orang di seluruh penjuru dunia melambangkan 
kesatuan dan keseragaman diantara mereka. Lebih dari itu, perintah ini sangat 
sederhana dan mudah dikerjakan, baik oleh lelaki ataupun perempuan, 
berpendidikan tinggi ataupun rendah, orang kampung ataupun orang kota , kaya 
ataupun miskin, semuanya menghadap ke titik yang sama. Hal ini menunjukkan 
betapa sederhananya dan betapa indahnya Al-Islam.

Perlu dicatat dalam ingatan bahwa, jika keputusan ini diserahkan kepada umat 
niscaya terjadilah ketidak-sepakatan yang sangat tajam. Namun, dengan Rahmat 
Allah SWT diputuskan-Nya hal ini sekali saja untuk ditaati oleh semua insan, 
sebagai pemersatu dan penyeragaman Umat Islam. Maka dari itu, ketika Adam AS 
sampai ke bumi, pondasi Baitullah (Ka’bah) telah diletakkan oleh para malaikat. 
Kiblat untuk Nabi Adam AS dan keturunannya adalah Ka’bah yang bentuknya masih 
sangat sederhana ini. 
 
Allah SWT berfirman didalam Surat Ali ‘Imran ayat 96:

Sesungguhnya, rumah yang pertama kali dibangun untuk (tempat ibadah) manusia, 
adalah Baitullah di Bakkah (Makkah) yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi 
semesta alam.

Setiap insan mengikuti ketentuan Kiblat sehingga sampai pada masa Nabi Nuh AS, 
dimana pada waktu itu Ka’bah ikut hancur diterjang banjir besar. Sekian waktu 
berselang, Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS membangun ulang Ka’bah atas 
perintah dan bimbingan langsung dari Allah SWT, kemudian menjadi Kiblat bagi 
mereka dan para pengikutnya. 
 
Setelah itu, Al-Quds (Baitul-Maqdis/ Masjidil- Aqsa) ditetapkan sebagai Kiblat 
untuk para Nabi dari Bani Israil. Itupun, ketika para Nabi mengerjakan shalat 
di dalam Al-Quds, biasanya menghadap sedemikian rupa sehingga Al-Quds dan 
Baitullah (Ka’bah) berada tepat di arah depan mereka.

Dikisahkan oleh Al-Qurthubi, ketika shalat telah diwajibkan kepada Nabi 
Muhammad SAW dan orang-orang mukmin, semula arah Kiblat sama seperti semasa 
leluhur beliau, Nabi Ibrahim AS. Setelah hijrah ke Madinah; ada pula ulama yang 
mengatakan menjelang hijrah; Allah SWT memerintahkan agar beliau menghadapkan 
wajah ke Al-Quds. Rasulullah SAW biasa melakukan dengan berdiri diantara Hajar 
Aswad dan Rukun Yamani, sehingga Baitullah dan Baitul-Maqdis, dua-duanya, 
berada didepan beliau. 
 
Menurut hadits Bukhari, Rasulullah Muhammad SAW mengerjakan shalat dengan 
Kiblat Al-Quds selama sekitar 16 atau 17 bulan sewaktu di Madinah. Beliau SAW 
sepenuhnya berserah diri kepada perintah Allah SWT. Namun demikian beliaupun 
berharap bahwa Kiblat hendaknya sama seperti semasa Nabi Adam AS dan Nabi 
Ibrahim AS. 
 
Adapun Allah SWT Maha Mengabulkan harapan insan-insan pilihan-Nya. Oleh karena 
itu Rasulullah SAW sangat berharap bahwa keinginan beliaupun dikabulkan Allah 
SWT. Berkali-kali beliau menengadahkan wajah ke langit, dari hari ke hari, 
mengharapkan turunnya wahyu perihal Kiblat.
 
 Dan, Allah SWT pun berfirman didalam Surat Al-Baqarah Ayat 144:

Sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami 
akan palingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Maka palingkanlah wajahmu kearah 
Masjidil Haram. …

Dengan diturunkannya wahyu ini, Allah SWT mengabulkan keinginan Rasulullah SAW. 
Selanjutnya, perhatikanlah kata ‘syathra’ disini berarti bahwa orang-orang di 
negara lain bilamana melaksanakan shalat hendaklah berusaha sebaik-baiknya 
untuk menghadapkan wajah ke arah masjidil-haram, namun tidak perlu harus persis 
ke arah bangunan Ka’bah. 
 
Akan tetapi, bagi mereka yang dapat melihat Baitullah wajib menghadap tepat ke 
Ka’bah sewaktu mengerjakan shalat.

Begitu kaum Yahudi di Madinah mengetahui bahwa Kiblat kaum Muslim telah berubah 
ke arah Masjidil Haram dan tidak lagi ke Masjidil Aqsa, mereka bukan saja 
berolok-olok dan menertawakan, melainkan juga terperanjat dengan perubahan itu. 
Ini karena selama ini mereka dapat menerima keberadaan umat Muslim sehubungan 
dengan kesamaan Kiblat dengan mereka. 
 
Kini dengan terpisahkannya Kiblat kaum Muslim dengan kaum Yahudi berarti pula 
bahwa orang-orang Muslim adalah sebuah umat tersendiri dan terpisahkan dari 
mereka orang-orang Yahudi. Maka sejak saat itu mereka memperkeras sikap 
pertentangan terhadap umat Islam dan memperlakukan umat Islam sebagai musuh.

Lebih jauh lagi, perubahan Kiblat ini mempertegas penjelasan bahwa Al-Aqsa 
maupun Masjidil-Haram bukanlah sebentuk berhala (benda yang disembah), dan 
tujuan sebenarnya dari menghadap ke arah Kiblat adalah melaksanakan perintah 
Allah SWT. Bisa saja diperintahkan- Nya kita menghadap ke Masjidil-Haram 
ataupun Masjidil-Aqsa. Kewajiban kita adalah mematuhi perintah-Nya dengan 
segenap akal dan sepenuh hati.

Manfaat lain dari pengalihan Kiblat adalah untuk memisahkan antara orang-orang 
munafik dengan Muslim yang sejati. 
 
Perhatikanlah Firman Allah SWT didalam Surat Al-Baqarah Ayat 143,

… Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan 
agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang 
membelot.

Menurut sebuah hadits didalam Musnad Ahmad, yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah RA, 
Nabi Muhammad SAW bersabda, 
 
“Orang-orang Ahli Kitab cemburu terhadap umat Muslim karena tiga perkara; 
 
Pertama, Allah SWT telah menetapkan satu hari ibadah dalam seminggu untuk 
seluruh umat terdahulu. hari Sabtu untuk Yahudi, hari Ahad untuk Nasrani dan 
kemudian hari Jum’at ditetapkan untuk umat Muslim. 
 
Ke-dua, perubahan Kiblat. 
 
Ke-tiga mengucapkan ‘Amiin’ setelah Imam. Para Ahli-Kitab tidak mendapatkan 
semua itu.”

Perlu diingat bahwa adakalanya Sunnah dibatalkan oleh Al-Qur’an, dan jika tidak 
dibatalkan maka keabsahannya setara dengan Al-Qur’an. Misalnya, Semula arah 
Kiblat tidak disebutkan didalam Al-Qur’an, maka umat Muslim mengikuti Sunnah. 
Kemudian perubahan Kiblat ditegaskan didalam Al-Qur’an, namun ditekankan pula 
bahwa shalat yang telah dikerjakan menurut sunnah tidaklah sirna (nilainya).

Menurut sebuah Hadits didalam Bukhari dan Muslim, perubahan Kiblat terjadi 
ketika Rasulullah SAW sedang melaksanakan Shalat Ashar, beberapa riwayat 
menyatakan Shalat Dhuhur (sebagaimana dinukilkan didalam tafsir Ibnu Katsir).

Beberapa orang sahabat menyelesaikan shalat mereka bersama-sama Rasulullah SAW. 
Mereka melihat saudara-saudara mereka sedang shalat didalam masjid di 
lingkungan mereka, menghadap ke arah Masjidil-Aqsa. 
 
Para sahabat lantas mengumumkan dengan lantang bahwa mereka baru saja 
menyelesaikan shalat bersama-sama Rasulullah Muhammad SAW dengan menghadap ke 
arah Baitullah. Maka mereka yang sedang shalat pun memutar arah menghadap 
mereka dan tetap melanjutkan shalat tanpa membantah ataupun bertanya-tanya 
sepatah katapun. Kejadian ini membawa hikmah penting, yakni didalam Islam 
kredibilitas (sifat dapat dipercaya) seseorang sebagai saksi, dalam banyak hal 
sudahlah mencukupi untuk didengar perkataannya.

Perubahan arah Kiblat itu terdengar di Masjid Quba pada keesokan harinya. 
Sebagaimana juga diriwayatkan didalam hadits Bukhari dan Muslim, maka para 
jama’ah masjid Quba pun mengubah arah menghadap didalam shalat mereka seketika 
mendengar pemberitahuan perubahan itu, meskipun pemberitahuan itu hanya 
disampaikan oleh seorang saja. Betapa nampak jelas disini bahwa begitu besar 
rasa saling menghormati, rasa saling yakin dan percaya, dimanfaatkan dan 
diamalkan para sahabat Nabi Muhammad SAW.

Sebuah Hadits didalam Bukhari, yang diriwayatkan oleh Al-Bara' bin ‘Adzib, 
ketika Kiblat diubah ke arah Masjidil-Haram orang-orang bertanya kepada 
Rasulullah SAW, bagaimanakah dengan umat Muslim yang telah wafat sedangkan 
dahulu mereka berkiblat ke arah Masjidil-Aqsa. 
 
Pertanyaan ini dijawab dengan wahyu Allah SWT, yang menerangkan bahwa shalat 
mereka itu sah adanya, tidak serta merta hilang terbawa perubahan, dan diterima 
oleh Allah SWT. Jawaban ini pun menjadi bagian dari Surat Al-Baqarah Ayat 143,

… dan Allah tidaklah akan menyia-siakan keimananmu (shalatmu)

Menarik untuk dicermati bahwa pada ayat ini kata ‘Iman’ telah dipergunakan oleh 
Allah SWT sebagai kata-ganti untuk shalat. 
 
Maka, ini berarti bahwa belumlah terdapat keimanan (keyakinan tentang Islam) 
dalam diri seseorang tanpa mendirikan shalat. 
 
Dengan kalimat lain; Shalat adalah penanda (indikator) Iman seseorang. 

Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk mendirikan shalat secara teratur 
sehingga dari padanya menguatkan Iman kita. Dan Semoga Allah SWT mempersatukan 
umat Muslim diseluruh penjuru dunia, yang mengikatkan diri pada satu Kiblat 
yang sama. Amiin
 


--- On Wed, 17/9/08, ex <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: ex <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [debat_ islam-kristen] Re: Salib Bengkok (Ternyata Kristen Katolik 
Penyembah Setan)
To: [EMAIL PROTECTED]
Received: Wednesday, 17 September, 2008, 9:40 AM







Kalau Muslim penyembah bangunan berhala juga dong? (Kabah)

kan pada sembahyang menghadap ke Kabah? dan dilarang melihat ke langit?
(padahal kan Tuhan di langit) . Sembahyang ke siapa tuh?

:-)

--- In debat_islam- [EMAIL PROTECTED] ups.com, riri cute <riri_fawzan@ ...>
wrote:
>
> Salib Bengkok
> Â
> Â
> Perhatikan salib yang dipegang Paus Yohanes Paulus II. Perhatikan
baik-baik, dan Anda akan menyadari bahwa salib itu bukanlah salib yang
biasa digunakan orang Kristen seperti gambar di bawah. Salib yang
dipegang Paus Yohanes II dikenal sebagai “Salib Bengkok�.
> Â
> Apa artinya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita merujuk
kepada seorang pengarang Katolik Roma, Piers Compton, menulis dalam
bukunya, “The Broken Cross: Hidden Hand In the Vatican�,
Channel Islands, Neville Spearman, 1981.
> Â
> Salib Bengkok adalah “… suatu lambang yang menakutkan,
digunakan oleh satanis (penyembah setan) pada abad keenam, yang telah
dihidupkan kembali pada masa Vatican Dua.
> Â
> Ini adalah salib bengkok, yang padanya dipertunjukkan suatu figur
Al-Masih yang disimpangkan, yang mana tukang sihir pada Abad Pertengahan
telah menggunakannya, pada kitab Injil diistilahkan ‘Tanda
Beast’.
> Â
> Tidak hanya Paulus VI, tetapi para penggantinya, dua Yohanes Paulus,
membawa benda tersebut dan memegangnya untuk dipuja-puja oleh jemaat,
yang tidak pernah memahami bahwa itu mewakili Dajjal.� (hal. 72).
Pada halaman 56, Compton mencetak gambar Sri Paus Yohanes Paulus II,
memegang salib bengkok ini, seperti gambar di kiri atas.
> Oleh karena itu, Paus Yohanes Paulus II sebenarnya memberitahukan
semua penyembah setan di seluruh dunia bahwa ia bukanlah Paus Katholik,
tetapi Paus yang mengemban tugas untuk mewujudkan New World Order
(Tatanan Dunia Baru) berdasarkan rencana-rencana zionis. Hal ini juga
dibahas oleh Malachi Martin dalam “The Keys to This
Blood�.
> Â
> Seperti Anda lihat, salib Paus Yohanes Paulus II yang dipegang
menghadap jemaat, bukanlah salib biasa, tetapi salib bengkok satanis!
Salib Bengkok diciptakan oleh satanis untuk melukiskan Dajjal! Segera,
Anda akan melihat kemunculan seorang pemimpin global, yang mengaku
sebagai Al-Masih, Mesiah Yahudi, dan sosok yang ditunggu-tunggu dalam
semua agama besar. Padahal dia adalah Al-Masih palsu, dialah Masihud
Dajjal. Kemudian, segera sesudah itu, seorang pemimpin religius akan
maju kemuka untuk membantu Dajjal; pemimpin religius ini akan memiliki
kuasa ajaib seperti Dajjal. Pemimpin religius itu adalah Paus yang
diangkat dari kalangan Freemason.
> Â
> New World Order meminta pemimpin religius global ini sebagai Paus
Katolik Roma, dan pasti, Yohanes Paul II menggunakan Salib Bengkok
Satanis ini adalah berkaitan dengan rencana tersebut. Jika Paus Yohanes
Paulus II adalah yang maju untuk membantu Al-Masih Palsu itu, maka Anda
akan mengetahui hakikat dari Paus ini dan hakikat dari Gereja Katholik
Roma keseluruhannya.
>
>
>
>
>
>
> Make the switch to the world&#39;s best email. Get Yahoo!7 Mail!
http://au.yahoo. com/y7mail
>

 














      Make the switch to the world&#39;s best email. Get Yahoo!7 Mail! 
http://au.yahoo.com/y7mail

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke