Indonesia adalah saudara Palestina diseberang lautan

http://www.antara.co.id/arc/2008/11/1/indonesia-merangkum-asa-untuk-kemerdekaan-palestina/



*Indonesia Merangkum Asa untuk Kemerdekaan Palestina*


Oleh Gusti NC Aryani

(ANTARA News) - Komitmen *Indonesia* untuk membantu mewujudkan kemerdekaan *
Palestina* tidak perlu dipertanyakan lagi.

Sebagai salah satu negara kunci Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 yang
legendaris, Indonesia selalu meneguhkan komitmen menghapus penjajahan di
muka dunia.

Rekam jejak upaya Indonesia untuk membumikan damai di Palestina pun tidak
singkat.

Di berbagai forum dan kesempatan, pemerintah Indonesia menyerukan
keprihatinannya pada konflik Palestina, yang disebut-sebut sebagai akar dari
segala konflik di Timur Tengah.

Para diplomat ulung Indonesia juga tak lelah membawa kasus Palestina di
berbagai meja perundingan, mulai dari Organisasi Konferensi Islam (OKI)
hingga PBB.

Masyarakat umum di Indonesia juga turut berperan serta melalui berbagai aksi
sosial dan solidaritasnya, misal aksi "one dollar for Palestina" beberapa
waktu lalu.

Pada pembukaan Konferensi Kemanusiaan Internasional mengenai Bantuan bagi
Palestina di Jakarta, akhir pekan lalu, Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda
kembali mempertegas komitmen Indonesia tersebut.

Namun, kali ini Menlu juga menyampaikan permintaan khusus kepada seluruh
rakyat Palestina agar usaha dan kerja keras Indonesia dalam membantu
mewujudkan kemerdekaan di bumi Palestina tidak sia-sia.

"Kita sangat prihatin dengan perkembangan Palestina, khususnya perbedaan
tajam, bahkan perpecahan kelompok internal Palestina," katanya.

Perpecahan, menurut Hassan, hanya akan menguntungkan Israel. Oleh karena
itu, Pemerintah Indonesia mendukung upaya sejumlah pihak, termasuk Mesir
yang telah mengundang para tokoh kelompok Hamas maupun Fatah untuk mendorong
persatuan Palestina.

"Kita juga mempunyai pengalaman selama ratusan tahun menghadapi penjajahan
demi meraih kemerdekaan. Tetapi, kita bisa menampilkan persatuan dan meraih
kemerdekaan," katanya.

Hal senada juga dikemukakan pengamat Hubungan Internasional Hariyadi
Wiryawan. Menurut dia, persatuan antar faksi yang bertikai di dalam negeri
Palestina adalah syarat utama kemerdekaan Palestina.

"Seperti kita tahu, Palestina belum menyatakan pendapatnya tentang masa
depannya sendiri, masih banyak faksi yang bertentangan, ada yang mau
Palestina dan Israel berdampingan, ada yang mau cuma ada Palestina tanpa
Israel," kata Hariyadi.

Menurut dia, persoalan tersebut harus diselesaikan antar-bangsa Palestina
sendiri tanpa perlu campur tangan dunia internasional.

"Apa yang mereka inginkan, baru kemudian kita dorong untuk mewujudkannya
sesuai hukum internasional. Biar rakyat palestina sendiri yang menentukan
masa depannya," ujarnya.

Terkait dengan sepak terjang Indonesia dalam mewujudkan kemerdekaan
Palestina, Hariyadi berkata, "Ini kasus rumit, sebaiknya kita tetap berada
di jalur mendorong tercapainya perdamaian dan kemerdekaan Palestina namun
tidak berpretensi mencapai kemerdekaan (segera)."

Aneka Agenda

Sepanjang 2008 pemerintah Indonesia menggeber sejumlah kegiatan dalam
upayanya mempersiapkan rakyat Palestina mencapai kemerdekaannya.

Dimulai dengan pelaksanaan konferensi tingkat menteri Asia Afrika untuk
kemitraan strategis pembangunan kapasitas Palestina pada Juli 2008.
Konferensi itu berawal dari pemikiran negara-negara Asia Afrika bahwa
setelah 50 tahun sejak KAA 1955 di Bandung, ternyata masih ada negara yang
belum merdeka.

Pada konferensi itu Indonesia menggagas program bantuan peningkatan
kemampuan bagi 1.000 warga Palestina dalam lima tahun mendatang.

"Pemerintah Indonesia berencana memberikan bantuan peningkatan kemampuan
pada 1.000 warga Palestina melalui berbagai pelatihan selama lima tahun.
Jadi, sekitar 200 tiap tahun," kata Direktur Jenderal Asia, Pasifik, dan
Afrika Departemen Luar Negeri Primo Alui Joelianto.

Konferensi itu merupakan lanjutan dari dua konferensi lain mengenai
Palestina yang diselenggarakan pada akhir 2007 dan awal 2008, yaitu
Konferensi Annapolis di Amerika Serikat yang berusaha mendudukkan Israel dan
Palestina dalam satu meja perundingan dan Konferensi Negara-negara Donor
(Uni Eropa) untuk dukungan atau bantuan ekonomi bagi Palestina di Paris.

Hingga Konferensi Kemanusiaan Internasional mengenai Bantuan bagi Palestina
yang diselenggarakan pada 31 Oktober-2 November 2008 yang mempertemukan 300
LSM dari dalam negeri dan luar negeri.

Menurut Ketua Panitia Pengarah Konferensi yang juga wakil ketua Komisi III
DPR Suripto, konferensi itu mempertemukan kalangan LSM dari berbagai negara
untuk mendiskusikan langkah atau cara serta ide mendukung masyarakat
palestina dalam rangka membangun kapasitas kemampuan bertahan mereka.

Sebelumnya pemerintah Indonesia juga menggagas sejumlah upaya, antara lain
pelatihan di bidang inkubator bisnis untuk pengembangan usaha kecil dan
menengah di Palestina dan para diplomat.

Pelatihan itu berlandaskan atas pemikiran mengenai kepentingan upaya
mendukung perbaikan ekonomi Palestina. Sengketa berkepanjangan selama 60
tahun tentu membuat rakyat Palestina hidup dalam penderitaan dan menjadi
hambatan terbesar bagi pembangunan ekonomi Palestina.

Oleh karena itu, menurut Primo, perbaikan ekonomi Palestina merupakan hal
sangat penting dan perlu didukung. Dalam kaitan ini, usaha kecil dan
menengah dengan sifatnya sebagai bidang tangguh dan berdayatahan diharapkan
menjadi landasan perbaikan ekonomi Palestina, katanya.

Sementara itu ditemui saat melantik 10 diplomat Palestina pertengahan tahun
ini, Hassan mengatakan bahwa Indonesia melihat pelatihan diplomat sebagai
kegiatan awal dari tekad negara Asia-Afrika membantu Palestina meningkatkan
kemampuannya.

"Melalui ini, kita memberikan momentum pada upaya memberikan pelatihan di
berbagai bidang dan mendorong bangsa lain Asia-Afrika melakukan hal serupa
dalam rangka menyiapkan kemerdekaan Palestina," katanya.

Hassan mengatakan bahwa pemerintah Indonesia sangat mengharapkan proses
tersebut terus bergulir, sehingga pada lima tahun mendatang makin banyak
rakyat Palestina memanfaatkan kegiatan itu.

Menteri Luar Negeri juga menghargai kegigihan diplomat Palestina, yang harus
melewati berbagai rintangan dan kesulitan untuk mengikuti pelatihan
tersebut.

Ditemui pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Informasi dan Hubungan
Luar Negeri Palestina Hani Mk Odeh, yang juga peserta pelatihan itu,
mengatakan bahwa pelatihan seperti itu sangat berguna bagi mereka.

Ia juga mengakui bahwa perjuangan untuk dapat keluar dari Palestina tidak
mudah. Untuk dapat menuju Amman, Yordania, Odeh harus melalui perbatasan
Jericho, yang dijaga pasukan Israel. Agar dapat memperoleh ijin keluar, Odeh
mengaku kepada penjaga bahwa ia akan mengunjungi keluarganya di Yordania.
(*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke