wah gayanya pengen "go international"... 
kalok memang punya tulisan "ilmiah" yang bagus, kan bisa dikirim pakek email!!! 
apanya yang mahal! bahasa pun kan bisa diterjemahin!
yah mbok nulis yang bagus aja dulu dalam bahasa Indonesia dan di Indonesia. 
minimum nulis yang keren di koranlah! jangan-jangan si orang IPB ini sendiri 
pun gak bisa/pernah nulis apa-apa!!!
macam-macam aja alasan untuk nutupin impotensi diri.
=========


Kompas
/ Home / Humaniora /

Publikasi Internasional Ilmuwan Indonesia Sangat Rendah
Rabu, 5 November 2008 | 00:50 WIB

Jakarta, Kompas - Padahal, publikasi internasional itu bisa membuat ilmuwan 
Indonesia dikenal ilmuwan dunia dan lembaga internasional, serta dapat 
membentuk jaringan internasional untuk kolaborasi riset.

Dari data yang disebutkan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas Fasli 
Jalal, sejauh ini kontribusi Indonesia baru 0,8 artikel per satu juta penduduk. 
Angka tersebut jauh dibandingkan dengan India dengan jumlah penduduk 1,1 miliar 
kontribusinya 12 artikel per satu juta penduduk.

Arif Satria, Direktur Riset dan Kajian Strategis Institut Pertanian Bogor 
(IPB), pada acara Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah Internasional di Bogor, 
Selasa (4/11), mengatakan, sebenarnya banyak hasil riset dosen dan mahasiswa 
yang layak dipublikasikan di jurnal internasional. Namun, persoalannya, menulis 
di jurnal berbeda dengan menulis di koran. Selain harus berbahasa Inggris, 
untuk publikasi memerlukan waktu hingga dua tahun, dan sering butuh biaya mahal.

Menurut Arif, rendahnya publikasi internasional antara lain disebabkan 
ketidaktahuan cara memublikasi, keterbatasan biaya publikasi, ketidaksabaran 
melayani reviewer, dan lingkungan akademik yang kurang mendukung. ”Padahal, 
dari sisi substansi atau materi hasil riset yang akan dipublikasikan, 
sebenarnya tidak masalah,” ujarnya.

Publikasi artikel ilmiah pada jurnal internasional, ujar Arif, akan memasukkan 
dosen atau peneliti tersebut ke dalam lingkungan komunitas tertentu yang bisa 
saja punya pengaruh pada lembaga-lembaga internasional. Bagi universitas yang 
memiliki visi untuk menjadi universitas bertaraf internasional, jumlah 
publikasi ilmiah di jurnal internasional akan mendapat perhatian khusus karena 
merupakan salah satu indikator penilaian.

Menurut Arif, pelatihan penulisan artikel ilmiah di IPB mulai dilakukan secara 
rutin setiap tahun. Saat ini, beberapa fakultas dan pusat studi di IPB sudah 
menciptakan insentif bagi dosen atau peneliti yang mampu melakukan publikasi 
internasional dan dimuat di jurnal internasional yang memiliki impact factor 
yang tinggi. Semakin tinggi impact factor, maka jurnal tersebut semakin 
bereputasi.

Fasli Jalal, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas, mengatakan, 
Depdiknas akan membiayai pembuatan karya ilmiah sehingga bisa menembus jurnal 
internasional. Selain itu, pemerintah akan membiayai sejumlah perguruan tinggi 
negeri dan swasta untuk berlangganan e-jurnal internasional agar para dosen dan 
peneliti mempunyai akses ke jurnal tersebut. (ELN)



Saut Situmorang

http://sautsitumorang.multiply.com/
http://sautsitumorang.wordpress.com/

CARILAH ILMU SAMPAI KE EROPA,
JANGAN KE AMERIKA UTARA!!!


      

Kirim email ke