http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/02/19/16115071/makin.tinggi.pendidikan.makin.merasa.tidak.miskin
.

*Makin Tinggi Pendidikan, Makin Merasa Tidak Miskin*

Kamis, 19 Februari 2009 | 16:11 WIB

*YOGYAKARTA*, KAMIS - *Penelitian Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan
(PSKK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta*, menyebutkan bahwa kondisi
pendidikan dan kesehatan seseorang mempengaruhi penilaian tentang kemiskinan
subyektif.

"Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka mereka akan merasa tidak
miskin begitu pula orang yang sehat, dan sebaliknya," kata peneliti PSKK
UGM, Amelia Maika, dalam seminar Mengukur Kemiskinan Subyektif di Indonesia,
di Yogyakarta, Kamis.

Berdasar penelitian, seseorang yang berpendidikan menengah dan tinggi akan
mengurangi kemungkinannya merasa miskin dibanding mereka yang berpendidikan
rendah. Begitu pula dengan responden yang bekerja dan berstatus pelajar juga
akan mengurangi kemungkinan mereka untuk merasa miskin.

Sebaliknya, seseorang yang melaporkan diri dalam keadaan tidak sehat,
kemungkinannya untuk merasa miskin meningkat dibanding dengan mereka yang
merasa sehat.

"Tidak ada perbedaan pandangan di kalangan responden dengan beragam latar
belakang dan karakter sosio demografi," katanya.

Dalam penelitiannya, ia menyebutkan karakteristik responden dapat
digambarkan sebagai berikut, yaitu rata-rata usia adalah 36,3 tahun,
sebanyak 52,6 persen perempuan. Jumlah komponen pendidikan rendah dan
menengah hampir sama yaitu 39,1 persen serta 40,6 persen.

Sebagian besar responden yaitu 59,3 persen berstatus bekerja, ibu rumah
tangga 20,6 persen dan bersekolah 8,5 persen.

Namun demikian, Amelia menyatakan masih terdapat bias dalam pengukuran
subyektif yaitu kecenderungan orang timur untuk memberi jawaban aman.

Setiap konsep kemiskinan yang berbeda memiliki metode pengukuran tersendiri
dan kemiskinan tidak dapat diukur hanya dengan menggunakan satu variabel
saja. "Karena banyak faktor mampu menjelaskan mengapa seseorang
dikategorikan sebagai miskin atau tidak miskin," lanjutnya.

Amelia juga menegaskan, kondisi perekonomian bukan salah satu alasan apakah
seseorang hidup dalam rumah tangga yang memiliki pengeluaran per kapita di
bawah garis kemiskinan, tidak membuat seseorang merasa miskin atau tidak
miskin.

Tingkat kesejahteraan masih memiliki pengertian yang sempit dan tidak
selamanya berasosiasi dengan kesejahteraan individu,katanya.

ABD
Sumber : Ant


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke