http://www.republika.co.id/berita/41337/Manusia



*Manusia*
By drs Fauzul Iman MA

Rabu, 01 April 2009 pukul 13:24:00


Teori tentang sifat dan tabiat manusia telah banyak dikemukakan oleh para
pakar dari berbagai disiplin ilmu. Salah satu teori yang sangat terkenal
adalah teori libido seksual Sigmund Freud. Menurut teori ini, manusia
menjadi sehat bila kebebasan seksnya tidak terhambat. Manusia yang hidup
dengan aturan moral, demikian menurut teori ini, akan mengalami gangguan
emosional alias stres. Karena itu, kata Freud, hanya dengan kekuatan seksnya
manusia terbebas dari jeratan hidup.

Teori ini sepintas mengandung misi pembebasan manusia. Seakan sifat naluri
manusia hanya cukup diselesaikan (diatasi) melalui kegiatan seks bebas.
Padahal kebebasan manusia yang hakiki adalah kebebasan moral yang menaungi
dan menghargai setiap tuntutan kehidupan pribadi dan umat. Teori Freud,
nampaknya hanya ingin melestarikan tabiat (sifat) kebebasan manusia yang
diperbudak oleh nafsunya semata. Sementara hak dan kepentingan orang lain
(umat) dilalaikan.

Murtadho Mutahhari dalam bukunya Manusia Menurut Alquran mengritik teori
Freud. Ia mengatakan, teori Freud sangat cocok dengan kepentingan penguasa:
yang lemah ditundukkan dan yang kuat bebas berkuasa. Teori Freud, demikian
Mutahhari, menyiratkan bahwa bila Anda kuat, Anda dapat berbuat apa saja
selama tidak diprotes oleh orang lain. Sementara bila Anda lemah, reaksi
orang lain akan membatasi kebebasan Anda. Dalam Alquran, manusia tidak
serendah seperti yang dibayangkan oleh Freud. Alquran memang menggambarkan
sifat paradoksal manusia yang dalam dirinya terdapat sifat baik dan sifat
jahat (Q. S. 91: 8). Tetapi potensi positif manusia sangat dikedepankan oleh
Alquran.

Manusia, menurut Alquran, dibedakan antara kata insan dan basyar. Kata insan
yang berasal dari kata anasa, nasiya dan al-uns, menunjuk suatu pengertian
sikap, kecerdasan menalar, menyesuaikan diri dengan realitas perubahan,
berbudaya, menghargai tata aturan etik dan tidak liar. Karena itu, kata
insan selalu digunakan oleh Alquran dalam konteks penjelasan fungsi manusia
sebagai pemegang amanah, penegak amal saleh, dan penjelasan potensi lainnya.
Abas Mahmud Aqqad dalam bukunya Al-Insan fi Alquran menyebut tiga fungsi
kewajiban manusia. Pertama, tabligh (kewajiban menegakkan agama Allah).
Kedua, berilmu. Ketiga, beramal (berkewajiban melaksanakan agama Allah).

Sedangkan kata basyar yang berarti kulit, digunakan untuk menyebut semua
makhluk. Manusia dalam arti basyar (kulit) mengandung arti manusia yang
bangun tubuhnya membutuhkan makan dan minum. Kehidupannya tergantung kepada
kebutuhan materi. Kedua kata insan dan basyar mengisyaratkan bahwa manusia
dalam ajaran Islam berada dalam dua dimensi.

Dalam dimensi insani, manusia berarti dibangun rohaninya agar hidupnya tidak
bebas semau nafsu yang menyebabkan diri dan orang lain direndahkan. Sedang
dalam dimensi basyari manusia bersedia berjuang untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya (materi). - ahi


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke