Terima kasih atas dukungan PBNU kepada Pak SBY

---------------------------------------------------------------------------------

http://www.republika.co.id/berita/46466/PBNU_Pilih_Capres_Yang_Mau_Berdakwah_Untuk_Islam


PBNU: Pilih Capres Yang Mau Berdakwah Untuk Islam

TUBAN--Meski tidak ada instruksi khusus memilih calon presiden (capres) dari 
partai manapun, Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi menghendaki kaum Nadliyin 
agar memilih capres yang figur dan ketokohanya berpihak kepada rakyat, amanah 
serta jelas track record dan berdakwah untuk Islam.

"Tidak ada instruksi khusus yang akan dikeluarkan PBNU. Semua terserah rakyat. 
Namun masalah prinsipnya bukan karena NU tidak mengusung salah seorang pun 
calon yang akan diusung menjadi capres atau cawapres," tegas Hasyim Muzadi 
dalam keterangan persnya usai memberikan ceramah tertutupnya dalam pertemuan 
ulama, cendekiawan, tokoh masyarakat dan para politisi di Aula Pondok Pesantren 
Langitan, Widang, Tuban, Sabtu (25/4) petang.

Kebebasan memilih presiden tersebut, menurut kiai asal Bangilan, Tuban, ini 
lebih pada persoalan demokrasi yang proses pelaksanaannya harus diikuti oleh 
semua rakyat dan tentu saja warga nahdliyin yang mempunyai hak pilih.

Kiai Hasyim menegaskan, pihaknya akan fokus pada cita-cita NU sesusi dengan 
Khittah 1926. Sebab, kata dia, pada dasarnya NU tidak mengajarkan politik tapi 
murni sebagai organisasi keagamaan. "NU hanya akan menuntun umatnya sesuai 
syariat Islam, makanya nadliyin harus memilih Presiden Indonesia yang mau 
berjuang dan berdakwah untuk Islam," sambungnya

Sebab kata Kiai Hasyim Muzadi, Aqidah Islam saat ini sedang dalam ancaman, 
utamanya aliran-aliran sesat, seperti Jaringan Islam Liberal (JIL). Karena JIL 
ini para intektual Muslim pikirannya sudah banyak teracuni oleh kelompok 
orientalis ini.

Akibat ini pula banyak lahir generasi sekuler yang semuanya menjadi satu arus 
yang meneriakkan pemisahan agama dari kehidupan. "Ini adalah al - almaniyah 
atau as - sikulariyah alias sekularisasi yang sangat bertolak belakang dengan 
aqidah Islam," ungkapnya. "Jika ilmu rusak, akan lahir pula ulama rusak yang 
lebih bahaya daripada orang kafir sekalipun,"

Padahal selama ini kasus perussakan aqidah Islam selalu muncul di Indonesia, 
karena tidak ada keseriusan pemerintah untuk menumpas aliran-aliran tersebut 
sampai keakar-akarnya. Bahkan seakan-akan mereka mendapatkan tempat yang aman 
dan nyaman merusak tuntutan Islam. Jika persoalan ini tidak segera 
diselesaikan, menurutnya akan selalu menjadi polemik yang berkepanjangan di 
masyarakat.

"Jadi, ini adalah tugas negara untuk menumpasnya. Selama ini seperti apa 
penangananya, makanya PBNU hanya mengarahkan nadliyin agar memilih presiden 
yang ikut berdakwah memerangi ajaran-ajaran yang menyesatkan," tegasnya

Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Langitan, KH Abdullah Faqih, dalam 
tausiyahnya mengungkapkan jadilah sepeti lima jari. Meski pun tercipta secara 
terpisah dan sendiri-sendiri, tapi bila mengahadapi kepentingan bersama harus 
dirapatkan dalam satu tekad. Sebab NU adalah rumah abadi. Sedang partai politik 
adalah kendaraan semata dan keduanya harus dipisahkan satu sama lain sehingga 
ukhuwah nahdliyin tidak terpecah belah.

"Seperti kita ketahui, banyak warga NU yang tersebar di partai politik. Ada 
yang di Golkar, PKB, PKNU, PBR, PPP dan masih banyak yang lainnya. Walau 
coraknya warna-warni jangan sampai terbelah-belah. Ini yang harus kita jaga 
benar keutuhannya," kata Kyai Faqih. "Nadliyin jangan sampai terbawa 
aliran-aliran politik yang mempolitisasi agama yang menyesatkan,"

Acara dialog yang menyikpai banyaknya aliran-aliran yang merusak Aqidah Islam 
itu juga dihadiri Ketua MUI Jatim, KH Abdussomad Buchori, Rois Syuriah PWNU, 
Miftakhul Akhyar, Ketua PWNU Jatim, KH Muttawakil Alalah, KH Idris, Manyar, KH 
Ahmad Muhammad, Pengasuh Ponpes Qomaruddin, Bungah, KH Masbuchin Faqih, Suci, 
Gresik, Sekda Gresik, Husnul Huluk serta sejumlah tokoh lainnya. uki/fif


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke