From: ahmad antawirya <[email protected]>
Date: Friday, September 11, 2009, 1:41 PM
Jumat, 11 September 2009 pukul 01:33:00
Skenario Runtuhnya WTC
Presiden AS, George W Bush, segera mengumumkan bahwa serangan itu dilakukan
oleh teroris Muslim, pimpinan Usamah bin Ladin. Maka, tanpa memerlukan
penyelidikan seksama, dengan alasan memburu pimpinan Alqaidah itu, Bush
memerintahkan penyerbuan ke negara Muslim Afghanistan. Gilirannya, Irak
diduduki dengan alasan memiliki senjata pemusnah massal (yang kemudian ternyata
tidak terbukti).
Hasan Syukur (Wartawan)
Setiap 11 September, rakyat Amerika mengenang tragedi runtuhnya menara kembar
World Trade Centre (WTC) di New York, AS, yang memakan banyak korban. Gedung
kembar itu hancur luluh bagaikan gedung tua yang diledakkan oleh bahan peledak
dari dalam setelah ditabrak dua pesawat terbang komersial. Hari itu, jaringan
televisi AS meliput secara live dari lokasi peristiwa. Tayangan itu terbidik
dari beberapa sudut dan terlihat langsung oleh jutaan pemirsa televisi. Pers AS
lalu seperti menyanyikan lagu koor, mengutip keterangan resmi: 'Menara itu
runtuh diserang oleh teroris Muslim yang digerakkan oleh Usamah Bin Laden dari
Afghanistan'. Tapi, tak semua pers mengikuti koor itu.
Theiry Meyssan, seorang jurnalis asal Prancis mencoba melihat peristiwa itu
secara objektif. ''Saya akan menjungkirbalikkan seluruh versi resmi serangan 11
September 2001,'' katanya.
Hasil investigative reporting -nya itu kemudian ia tuangkan ke dalam sebuah
buku berjudul 9/11 The Big Lie America , diterjemahkan penerbit Jalan Lurus
dengan judul, Bohong Besar Amerika , Bandung, 2003.
Inilah cerita versi Thierry Meyssan: Kedua pesawat itu diidentifikasikan oleh
FBI sebagai Boeing 767. Pesawat itu menghantam tepat pada sasarannya. Peristiwa
ini sangat musykil. Dipandang dari ketinggian yang jauh, sebuah kota akan
tampak seperti selembar peta dan semua acuan visual yang lazim menjadi hilang.
Untuk menabrak menara, pesawat perlu dipraposisikan pada ketinggian sangat
rendah. 'Karya' itu merupakan prestasi luar biasa bahkan pilot yang sangat
berpengalaman pun sulit melakukannya. Konon yang melakukannya adalah pilot yang
baru lulus latihan.
Namun, ada satu cara untuk mendapat hasil demikian, yakni memakai rambu tuntun
dari radio. Suatu sinyal yang dipancarkan dari sasaran, menuntun pesawat itu.
Tak perlu banyak orang di pesawat dalam kendali pilot otomatis. Bahkan,
pembajak sama sekali tidak dibutuhkan. Pesawat itu berada di bawah kendali
remote control , mengendalikan pesawat tanpa pilot.
Setelah ditabrak, Menara Kembar runtuh sendiri. Sebuah komisi penyidik
menyimpulkan bahwa terbakarnya bahan bakar pesawat menimbulkan panas yang
melelehkan struktur logam utama kedua bangunan. Teori ini disangkal keras oleh
Assosiasi Pemadam Kebakaran New York dan Journal Profesional, Fire Engineering
bahwa struktur bangunan tersebut tahan api. Para petugas pemadam kebakaran
malah mendengar ledakan di lantai dasar bangunan. Pakar terkenal dari Institut
Pertambangan dan teknologi, Van Romero pun mengamininya. ''Keruntuhan itu
diakibatkan oleh bahan peledak,'' katanya.
Pada hari yang sama, Departemen Pertahanan mengeluarkan pengumuman singkat
''Pentagon diserang teroris pada pukul 09.38,'' kata Menteri Pertahanan Donald
H. Rumsfeld. Pers AS pun heboh. Namun, ketika mau meliput peristiwa itu, para
wartawan diusir dari tempat kejadian dengan alasan agar tidak menghalangi
operasi penyelamatan. Toh, wartawan AP, Tom Horan, berhasil mendapatkan
foto-foto ekslusive dari sebuah gedung dekat lokasi kejadian.
Kepala Staf Gabungan, Jenderal Richard Myers, mengindikasikan bahwa pesawat
terbang bunuh diri itu adalah Boeing 757-200. Pukul 08.55 waktu setempat,
Boeing itu turun ke ketinggian 29.000 kaki. Dua pesawat tempur F-16 segera
melesat untuk mencegat Boeing itu, tapi katanya kehilangan jejak.
Menurut Meyssan ini tak masuk akal. ''Bagaimana percaya sebuah pesawat jet
berbadan tambun bisa mengecoh dua pesawat tempur yang memburunya?'' Seandainya
si Boeing berhasil mengatasi rintangan pertama pun, dengan mudah akan ditembak
jatuh saat mendekati Pentagon. Pasalnya, di pangkalan udara Saint Andrew di
sekitar Pentagon, berpangkalan Wing Tempur 113 Angkatan Udara dan Wing Tempur
serang 321 Angkatan Laut. Masing-masing dilengkapi pesawat tempur F-16 dan
F/A-18. Di atap gedung itu pun dipasang penangkis serangan udara dan
rudal-rudal supercanggih. Mereka tentu tak akan pernah membiarkan sang Boeing
menghampiri Pentagon.
Pesawat raksasa itu tiba-tiba mendekati tanah, seperti akan mendarat, langsung
menabrak Gedung Pentagon. Anehnya tanpa merusak tiang lampu dan
bangunan-bangunan di sekitarnya. Moncong pesawat masuk ke pintu gerbang yang
tengah direnovasi. Keterangan resmi ini, menurut Meyssan, meragukan. Tabrakan
keras itu pastilah menimbulkan kebakaran besar, lalu pesawat menjadi onggokan
gosong.
''Jika merujuk pada foto dari AP, Anda akan melihat tidak dijumpai bangkai
pesawat di sana. Bahkan, sebuah gir roda pesawat pun tak tampak. Padahal
pemotretan itu dilakukan di menit-menit pertama ketika mobil pemadam kebakaran
tiba dan petugas belum menyebar,'' tulis Meyssan dalam bukunya itu. Diduga
suara berdesing dan runtuhnya atap salah satu pintu gerbang Pentagon itu
disebabkan oleh rudal tipe AGM. Jenis rudal ini menyerupai sebuah pesawat
terbang sipil kecil, memang. Tapi, bukan pesawat terbang. Demikian Meyssan.
Lepas dari kontroversi itu, Presiden AS, George W Bush, segera mengumumkan
bahwa serangan itu dilakukan oleh teroris Muslim, pimpinan Usamah bin Ladin.
Maka, tanpa memerlukan penyelidikan seksama, dengan alasan memburu pimpinan
Alqaidah itu, Bush memerintahkan penyerbuan ke negara Muslim Afghanistan.
Gilirannya, Irak diduduki dengan alasan memiliki senjata pemusnah massal (yang
kemudian ternyata tidak terbukti).
Kenapa Bush menuding Muslim? Rupanya Bush mendapat bisikan dari Samuel Philip
Huntington. Pandangan negatif penasihat gedung putih terhadap Islam ini
tertuang dalam sebuah artikel yang dimuat di media Foreign Affairs yang terbit
pada musim panas 1993 dengan judul ''The clash of Civilization''. Artikel yang
memancing polemik ini kemudian diterbitkan dalam bentuk sebuah buku pada 1996.
Menurut Huntington, setelah Uni Sovyet (ideologi komunis) runtuh, musuh
berikutnya adalah Islam. Sudut pandang negatif terhadap Islam inilah yang
rupanya diyakini Presiden Bush. Bush lalu mendeklarasikan perang atas nama
membasmi teror.
Sejak dulu Indonesia negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini adalah
negeri yang aman. Bangsa yang yakin bahwa agama adalah rahmat bagi sekalian
alam. Tapi, sejak deklarasi Bush itu, tiba-tiba bom-bom canggih berledakan
merobek ketenangan negeri 'jamrud Khatulistiwa' itu dan memakan banyak korban
orang tak berdosa. Lalu pesantren dituding biang teror. Orang-orang berjenggot,
berpakaian gamis dengan celana menggantung dicurigai. Ujung-ujungnya, kegiatan
dakwah harus diawasi. Mungkinkah malapetaka ini bagian dari skenario global
untuk menyudutkan Islam?
Republika cetak hari ini, 11 September
2009http://republika.co.id/koran/24/75709/Skenario_Runtuhnya_WTC
Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang!
Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik.
Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang!
Akses email lebih cepat.
Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru yang
dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! (Gratis)
[Non-text portions of this message have been removed]