---------- Forwarded message ----------
From: sony wreksono <[email protected]>
Date: 2010/4/27
Subject: KA Parahyangan, Cerminan Cara Berfikir Birokrat Indonesia
To: ang79-sman3bdg <[email protected]>
Salam, Nihao Ma,
Senen kemaren, 26 April 2010, KA Parahyangan is dead. Luar biasa.
Sementara di Cina KA bakal menjadi tulang punggung moda transportasi
di seantero negeri. Dalam waktu 5 tahun ini akan dibangun setidaknya
16.000 KM lagi rel KA oleh pemerintahnya. Ini bukan cuma janji tapi
sudah mulai dibuktikan. Setidak waktu saya jadi anak sekolah selama 3
minggu disana bulan April ini. Kebetulan saya dapat kesempatan ikutan
postgrad clinical practice yang dikelola oleh Nanjing University of
Traditional Chinese Medicine.
Begitu jok turun di airport Pudong, Shanghai, bersama dengan 13 orang
Kiwi lainnya saya langsung ngageret koper masuk ke Maglev yang punya
kecepatan sekitar 200 KM perjam. Sembilan menit kemudian sudah nongol
di pusat kota super-megapolitan ini.
Lalu minggu kedua berangkat ke Nanjing dengan ribuan (cocoknya mungkin
"jutaan" saking ruame pisan) penumpang bermata sipit seperti saya naek
Bullet Train yang punya kecepatan antara 300 - 400 KM perjam.
Nyamannya zeh (begitu gaya ILS) luar biasa. Bangkunya mirip sama yang
ada di kapal terbang. Malah lebih lega karena spasi buat kakinya jauh
lebih luas. Telapak kaki saya nggak nyentuh bangku depan waktu
selonjor. Pendekar tea, pendek tapi nggak kekar.
Bersih nggak? Setiap gerbong ada cleaner yang nggak pernah duduk
sepanjang 3 jam perjalanan. Kolega2 Kiwi sepulangnya dari toilet pada
heran: Kok bersih banget tuh kakus? Pan citra Cina Benteng tea, koek
koek cuh cuh buang ludah kasih berkah dimana saja dan kapan saja.
Bullet Train yang satu tadi bukan yang paling mewah sebab cuma
perjalanan singkat saja. Kalau yang over-lander atau over-night macam
Nanjing-Beijing (9 jam) mirip dengan hotel berjalan. Resto-nya punya
menu selengkap Bakmi Gajah Mada. Haiya Olang Tiongkok keren juga ya.
Harga tiket mirip sama dengan tiket pesawat tapi jauh lebih murah
kalau pesan jauh hari sebelumnya. Shanghai-Nanjing yang kira2 sejauh
Bandung-Yogya dipatok 300 rebu perak kelas bisnis. Kelas bisnis? Ya
memang satu kereta yang isinya barangkali mendekati seribuan penumpang
ini punya 5 jenis kelas. Kelas paling-kambing dikenal sebagai kelas
"ekonomi dengan bangku keras" jelas murah meriah. Mirip lah dengan
sila kerakyatan Pancasila kita. Lho jadi negeri komunis itu sebenarnya
yang mana?
Sementara Maglev yang di Shanghai itu tergolong dalam KA Metro
walaupun dia diberi kelas khusus karena jaraknya rada jauh sedikit dan
juga posisinya sebagai transport bagi international airport.
Metro adalah sebutan bagi KA dalam kota. Sewaktu nyantren di RS Qin
Huai di Nanjing saya wara-wiri di dalam kota naik Subway ini. Satu
kali jalan tarifnya Rp 2500. Kalau pakai kartu mahasiswa malah cuma
separohnya begitu cerita belasan anak Indonesia yang ketemu saya
disana. Malah juga nraktir saya bolak-balik. Hao hao hao.
Ada sekitar 70an anak Indo yang sekolah di beberapa uni di mantan
ibukota kerajaan Cina ini. Tersedia 30 universitas di kota berpenduduk
6,5 juta jiwa ini dan sebagian sudah terakreditasi internasional.
Kuliahnya dilakukan full dalam bahasa Inggris. Oh ya si Metro ini
keren banget kuy. Dindingnya kaca semua dan stasiunnya intelligent
building termasuk beli karcisnya. Tapi kalau koin-karcis hilang maka
kita tidak bisa keluar dari stasiun. Sukurin.
Kelak semua ibukota dari 29 propinsi di Cina ini akan dihubungkan
dengan KA yang dibuat oleh manufacturing dalam negeri. Maglev sendiri
buatan Jerman. Tapi habis itu semua buatan bangsa dewek. Haiya si
babah Cungkok punya istilah alih teknologi ternyata beneran. Nyata dan
cepat sekaleee. Beda sama istilah yang sama yang ada di GBHN kita ya.
Bajaj saja masih import. Mau bilang GBHN itu OMDO ntar saya dibilang
makar lagi.
Kalau Parahyangan akhirnya terpaksa dibunuh ya lumrah saja. Lha hampir
selama 40 tahun gayanya sama, nasi gorengnya sama, bersihnya sama,
kecoaknya juga sama kok. Jangankan PT. KAI, lha itu Pelni yang kapalnya
selalu oleng gara2 selalu kebanyakan penumpang saja malah terancam
bangkrut abadi.
Jadi legenda matinya Parahyangan memang merupakan cerminan cara
berfikir pemerintah yang anda semua pilih. Not me my friend,
absolutely not me.
Padahal buat negeri dengan populasi besar macam Indo yang namanya MRT
itu penunjang vital bagi lancarnya putaran roda ekonomi. Bener nggak
Sat, Gus, Gung, Hil? Sohib pakar2 transportasi dan makro-ekonomi ini
yang perlu ngomong. Bukan anak sekolah tukang protes omong kosong
macam saya.
Dui bu chi, punten pisan.
Zaijian, marangga,
SW
--
Sony Ambudi
(09) 4424588
64-21725290
[Non-text portions of this message have been removed]