http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/read/max-havelaar-menyoroti-masalah-kemiskinan/
Selasa, 04 Mei 2010 13:34
"Max Havelaar" Menyoroti Masalah Kemiskinan
OLEH: STEVANI ELISABETH
Jakarta - Dalam rangka memperingati 150 tahun buku Max Havelaar karya Eduard
Douwes Dekker, Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis mengadakan pertunjukan
teater yang berjudul Max Havelaar.
Karya Douwes Dekker ini disutradarai Rahman Sabur dan dipentaskan oleh Teater
Payung Hitam, di Jakarta, Senin (3/5) malam. Direktur Erasmus Huis Paul Peters
mengatakan, Max Havelaar merupakan buku yang sangat penting di Belanda. Buku
tersebut bukan hanya menceritakan soal sejarah saja, tetapi juga menyangkut
masalah politik.
Teater Payung Hitam pernah berkolaborasi dalam pertunjukan BLACKMOON dengan
teater Lunatics Belanda yang ditampilkan di Indonesia, Amsterdam, Utrech dan
festival internasional Oerol di Belanda pada tahun 2005. Kelompok teater yang
berdiri di Bandung pada 9 Desember 1982 ini pernah membawakan pertunjukan
KASPAR di Festival Art Summit International tahun 2001 dan membawakan KASPAR
dalam Festival Teater Internasional di Laokoon Jerman pada tahun 2003.
Kelompok teater ini juga telah menerbitkan dua buku teater yakni Teater Payung
Hitam Perspektif Teater Modern Indonesia dan Teater Payung Hitam Dialektika
Antara Realitas dan Idealitas. Produksi lain yang ditulis oleh sutradara
Rachman Sabur ini adalah KATAKITAMATI. Karya tersebut telah didokumentasikan
dalam bentuk CD-ROM oleh Curriculum Corporation untuk digunakan sebagai media
pendidikan seni di SMA di South Victoria, Australia.
Dalam pementasan teater Max Havelaar, Multatuli banyak menyoroti masalah
kemiskinan yang terjadi di Indonesia khususnya di Bantam Kidul. Saat diangkat
menjadi residen Lebak, dia langsung mengadakan pertemuan dengan Adipati, Bupati
Bantam Kidul dan para raden Demang yang menjadi kepala distrik di daerah
tersebut, Raden Jaksa yang bekerja menegakkan keadilan dan Raden Kliwon yang
menjalankan kekuasaan di ibu kota.
Dalam pertemuan tersebut, dia menyoroti bahwa masyarakat Bantam Kidul memiliki
banyak sawah, namun mereka tetap miskin. Hal tersebut disebabkan oleh kebijakan
para pemangku kekuasaan yang salah dalam mengelola wilayahnya sehingga muncul
ketidakadilan. Ketidakadilan inilah yang harus diberantas. Pementasan teater
Max Havelaar ini memadukan antara unsur monolog dengan visual di mana dalam
pertunjukan tersebut juga diperlihatkan gambar-gambar perjuangan rakyat
Indonesia di tengah kemiskinan pada zaman penjajahan. Namun, di akhir
pementasan juga muncul masalah-masalah yang terjadi di Indonesia saat ini yang
disajikan secara visual dalam layar lebar seperti demo buruh yang intinya
menuntut keadilan dari pemerintah untuk memperoleh kehidupan yang lebih
sejahtera dan keluar dari kemiskinan.
Sejarah Indonesia
Eduard Douwes Dekker atau yang dikenal dengan Multatuli memang tidak terlepas
dari sejarah Indonesia. Multatuli lahir di Amsterdan, Belanda pada 2 Maret
1820. Pada tahun 1838, dia hijrah ke Indonesia karena diterima bekerja di
Gubernemen sebagai asisten residen di Jawa, Sumatera, Manado, dan Ambon. Nama
Multatuli ini juga tidak akan pernah dilupakan oleh masyarakat Banten. Ia
pernah menjabat sebagai asisten residen di Lebak. Akibat perbedaan prinsip
dengan atasannya, Multatuli memilih berhenti bekerja. Dia mengembara di Eropa
dan hidup miskin.
Ia memang sempat menikah dengan Everdina van Wijnbergen (Tine) dan menikah
kembali setelah istrinya meninggal dunia. Dalam perjalanan hidupnya, Multatuli
sempat menulis beberapa karyanya seperti Max Havelaar (1860), Surat-Surat Cinta
(Minnebrieven, tahun 1861), Pikiran-pikiran (Ideee'n, pada tahun 1862-1877)
yang di dalamnya memuat tentang sekolah raja-raja, Seribu Satu Bab Mengenai
Keahlian (Duizend-en-eenige hoofdstukken over specialiteiten tahun 1871) dan
Milionenstudien tahun 1873.
Penulis terkemuka di zaman Multatuli, Vosmaer mengatakan, Multatuli merupakan
penulis terbesar yang luhur yang pernah dikenal bangsanya. Di Indonesia
sendiri Multatuli diakui sangat berpengaruh terutama oleh para pemimpin
pergerakan kebangsaan. n
[Non-text portions of this message have been removed]