PENDAKI GUNUNG

<http://bp0.blogger.com/_clcaP3tzOs4/RqBjYcftS4I/AAAAAAAAAbw/wVtlTtVv3l4/s1600-h/CS+PENDAKI.jpg>
Suatu ketika, ada seorang pendaki gunung yang sedang bersiap-siap
melakukanperjalanan. Di punggungnya, ada ransel carrier dan beragam
carabiner(pengait)
yang tampak bergelantungan. Tak lupa tali-temali yang disusun
melingkar disela-sela bahunya. Pendakian kali ini cukup berat,
persiapan yang dilakukan
pun lebih lengkap.

Kini, di hadapannya menjulang sebuah gunung yang tinggi. Puncaknya tak
terlihat, tertutup salju yang putih. Ada awan berarak-arak disekitarnya,
membuat tak seorangpun tahu apa yang tersembunyi didalamnya. Mulailah
pendaki muda ini melangkah, menapaki jalan-jalan bersalju yang terbentang di
hadapannya. Tongkat berkait yang di sandangnya, tampak menancap setiap kali
ia mengayunkan langkah.

Setelah beberapa berjam-jam berjalan, mulailah ia menghadapi dinding
yangterjal.
Tak mungkin baginya untuk terus melangkah. Dipersiapkannya tali temali
dan pengait di punggungnya. Tebing itu terlalu curam, ia harus mendaki
dengan tali temali itu. Setelah beberapa kait ditancapkan,tiba-tiba
terdengar gemuruh yang datang dari atas. Astaga, ada badai salju yang datang
tanpa disangka.
Longsoran salju tampak deras menimpa tubuh sang pendaki. Bongkah-bongkah
salju yang mengeras, terus berjatuhan disertai deru angin yang membuat
tubuhnya terhempas-hempas ke arah dinding.

Badai itu terus berlangsung selama beberapa menit. Namun,
untunglah,tali-temali dan pengait telah menyelamatkan tubuhnya dari dinding
yang curam itu.
Semua perlengkapannya telah lenyap, hanya ada sebilah pisau yang ada di
pinggangnya.
Kini ia tampak tergantung terbalik di dinding yang terjal itu.
Pandangannyakabur, karena semuanya tampak memutih. ia tak tahu dimana
ia berada.

Sang pendaki begitu cemas, lalu ia berkomat-kamit, memohon doa kepada Tuhan
agar diselamatkan dari bencana ini. Mulutnya terus bergumam, berharap ada
pertolongan
Tuhan datang padanya.

Suasana hening setelah badai. Di tengah kepanikan itu, tampak terdengar
suara dari hati kecilnya yang menyuruhnya melakukan sesuatu. "Potong tali
itu....
potong tali itu.

Terdengar senyap melintasi telinganya. Sang pendaki bingung, apakah ini
perintah dari Tuhan? Apakah suara ini adalah pertolongan dari Tuhan?
Tapi bagaimana mungkin, memotong tali yang telah menyelamatkannya,
sementaradinding ini begitu terjal? Pandanganku terhalang oleh salju
ini, bagaimana
aku
bisa tahu? Banyak sekali pertanyaan dalam dirinya. Lama ia merenungi
keputusan
ini, dan ia tak mengambil keputusan apa-apa...

Beberapa minggu kemudian, seorang pendaki menemukan ada tubuh yang
tergantung terbalik di sebuah dinding terjal. Tubuh itu tampak membeku,dan
tampak telah meninggal karena kedinginan. Sementara itu, batas tubuh itu
dengan tanah, hanya berjarak 1 meter saja....

***

Teman, kita mungkin kita akan berkata, betapa bodohnya pendaki itu, yang tak
mau menuruti kata hatinya. Kita mungkin akan menyesalkan tindakan pendaki
itu yang tak mau memotong saja tali pengaitnya. Pendaki itu tentu akan bisa
selamat dengan membiarkannya terjatuh ke tanah yang hanya berjarak 1 meter.
Ia tentu tak harus mati kedinginan karena tali itulah yang justru membuatnya
terhalang.

Begitulah, kadang kita berpikir, mengapa Sang Pencipta tampak tak melindungi
hamba-Nya? Kita mungkin sering merasa, mengapa ada banyak sekali
beban,masalah, hambatan yang kita hadapi dalam mendaki jalan kehidupan ini.
Kita sering mendapati ada banyak sekali badai-badai salju yang terus
menghantam tubuh kita.
Mengapa tak disediakan saja, jalan yang lurus,tanpa perlu menanjak,
agar kita terbebas dari semua halangan itu?

Namun teman, cobaan yang diberikan Sang Pencipta buat kita, adalah
latihan,adalah ujian, adalah layaknya besi-besi yang ditempa, adalah seperti
pisau-pisau yang terus diasah. Sesungguhnya, di dalam semua ujian, dan
latihan
itu,ada tersimpan petunjuk-petunjuk, ada tersembunyi tanda-tanda, asal KITA
PERCAYA.
Ya, asal kita percaya.
Seberapa besar rasa percaya kita kepada Sang Pencipta, sehingga mampu
membuat kita "memotong tali pengait" saat kita tergantung terbalik? Seberapa
besar rasa percaya kita kepada Sang Pencipta, hingga kita mau menyerahkan
semua yang ada dalam diri kita kepada-Nya?

Karena percaya adanya di dalam hati, maka tanamkan terus hal itu dalam
kalbumu.
Karena rasa percaya tersimpan dalam hati,maka penuhilah nuranimu dengan
kekuatan itu.Percayalah, akan ada petunjuk-petunjuk Sang Pencipta dalam
setiap langkah kita menapaki jalan kehidupan ini. Carilah, gali, dan temukan
rasa percaya itu dalam hatimu. Sebab, saat kita telah percaya, maka petunjuk
itu akan datang dengan tanpa disangka. (djodi)

---
Ir. Hendry Risjawan, MTC,EITC,CH,CHt,CHI
Ka. Trainers Club Indonesia
website: www.trainersclub.or.id
milis: [EMAIL PROTECTED]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke