http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=75269



Dilema SBY

Oleh Dede Mariana

Hampir dua minggu terakhir pemberitaan media cetak dan elektronik diramaikan 
wacana dan teka-teki soal siapa yang akan dipilih SBY untuk mendampinginya 
sebagai calon wakil presiden (cawapres) di dalam Pemilihan Umum Presiden dan 
Wakil Presiden (Pilpres) Juli 2009. Berbagai analisis dan spekulasi bermunculan 
ikhwal figur cawapres yang paling mendekati lima kriteria yang diajukan SBY 
beberapa waktu yang lalu. Di samping lima kriteria, ada tambahan prasyarat 
lainnya, yakni memiliki chemistry yang bagus, yang bisa membuat nyaman bekerja 
di dalam menjalankan pemerintahan lima tahun ke depan. Siapa orang nya dan dari 
mana orang itu berasal, Partai Demokrat menyerahkan sepenuhnya kepada SBY untuk 
memutuskannya meski secara formal partai juga membentuk tim. 

Sebagai antisipasi diperlukannya dukungan DPR di dalam pembuatan dan 
implementasi kebijakan pemerintah pascapemilu presiden, seandainya pasangan SBY 
memenangi pilpres, digalanglah upaya mengusung pasangan SBY oleh beberapa 
partai politik yang dianggap dapat bekerja sama di DPR dan di dalam kabinet 
yang akan dibentuk kelak. Langkah inilah sejatinya yang mengundang analisis dan 
spekulasi tentang siapa cawapres yang paling cocok sesuai kriteria untuk 
mendampingi SBY seandainya diambil dari partai politik. 

Merebaklah wacana koalisi antara Partai Demokrat dan PKS, PAN, dan PKB. Hal 
wajar, bila ketiga parpol mitra koalisi PD berharap ada kadernya jadi cawapres 
mendampingi SBY. Ada dua nama yang dinominasikan, yakni Hidayat Nur Wahid dari 
PKS dan Hatta Rajasa dari PAN. Namun, wajar pula bila SBY memiliki penilaian 
subjektif terhadap calon-calon yang diajukan parpol mitra koalisi, misalnya 
menyangkut kemungkinan konflik kepentingan dan kemungkinan kecemburuan 
antarparpol mitra koalisi seandainya dipilih salah satu dari calon yang 
diajukan. 

Kekhawatiran tersebut seharusnya tidak perlu terjadi, seandainya SBY dan timnya 
secara terbuka kepada publik dan parpol mitra koalisi. Misalnya, argumen bahwa 
pemerintahan yang ingin dibangun pascapilpres adalah sistem presidensial yang 
kuat, namun dikontrol DPR secara berimbang (check and balances). Sayang argumen 
ini tidak terlalu mengemuka kepada publik daripada soal bagi-bagi kekuasaan 
antarparpol pengusung.

Spekulasi kemungkinan SBY memilih figur nonparpol sebagai cawapres akhirnya 
mengemuka. Dari sejumlah nama yang disebut, mengerucut kepada Boediono, yang 
saat ini menjabat Gubernur Bank Indonesia. Boediono dianggap figur netral dari 
kalangan teknokrat. Lagi-lagi spekulasi dan analisis latar belakang dipilihnya 
Boediono, tampaknya lebih kepada pertimbangan kenyamanan bekerja karena dapat 
bebas dari conflict of interest, kemampuan koordinasi dalam menjalankan 
pemerintahan, dan kemungkinan efektivitas pemerintahan pascapilpres. 

Dalam konteks ini, SBY sebagai figur dianggap menjadi faktor penentu utama di 
luar tawaran program dan mesin politik. Tentu sikap ini harus diwaspadai karena 
opini belum tentu sesuai dengan fakta pilpres nanti. Memang fakta objektifnya, 
elite politik di luar SBY telah gagal di dalam menilai berbagai kelemahan 
incumbent untuk meningkatkan citra mereka dan akhirnya memengaruhi pilihan 
politik di dalam pilpres nanti. Misalnya, bahwa fakta kondisi ekonomi rata-rata 
rumah tangga masyarakat yang relatif memburuk, langkanya lapangan kerja, dan 
gelombang pemutusan hubungan kerja akhir-akhir ini sebenarnya akibat buruknya 
kinerja pemerintahan yang sedang berjalan. 

Sebaliknya, kubu SBY dan Partai Demokrat, tampaknya dapat meminimalkan 
kekurangan pemerintahannya dan memaksimalkan capaian kinerjanya yang pas-pasan 
tersebut dengan bantuan konsultan media di dalam pencitraan kepada publik. 
Inkonsistensi publik pemilih dan keterbatasan akses publik terhadap berbagai 
informasi yang sebenarnya tentang kinerja pemerintahan incumbent merupakan 
faktor lain yang membantu pencitraan SBY jadi lebih baik.

Tentu kelemahan-kelemahan kinerja pemerintahan saat ini, sebenarnya masih dapat 
didalami para penantang SBY. Pasangan Jusuf Kalla-Wiranto yang sudah lebih 
dahulu mendeklarasikan sebagai pasangan capres-cawapres masih ada waktu untuk 
melakukan upaya-upaya maksimalisasi informasi kepada publik tentang kinerja 
pemerintahan SBY. 

Memang bagi pemilih kritis berbasis ideologi, terutama ideologi ekonomi 
neoliberal, memilih JK-Wiranto atau SBY-Boediono adalah sama saja. Tinggal 
pilihannya, mana di antara keduanya yang bisa memberi manfaat lebih besar bagi 
kemakmuran rakyat. Misalnya, komitmen pemberantasan KKN, penyelesaian utang 
luar negeri, strategi pengelolaan BUMN yang lebih baik, dan berorientasi kepada 
kepentingan perekonomian nasional, serta skema-skema program ekonomi bagi 
pelaku usaha kecil dan menengah. Munculnya pasangan capres/cawapres lain, 
umpamanya Megawati-Prabowo, bisa jadi alternatif lain.

Deklarasi Partai Demokrat tentang pasangan capres/cawapres yang akan diusungnya 
akan dilakukan Jumat (15/5) ini di Bandung. Siapa pun akhirnya yang dipilih 
SBY, Boediono, Hidayat Nurwahid, ataukah Hatta Rajasa, paling tidak keduanya 
harus bersiap-siap menjadi negarawan yang tidak lagi hanya memikirkan 
kepentingan partai politiknya masing-masing, namun lebih mementingkan dan 
memikirkan bangsa secara keseluruhan dan mampu memberi harapan kepada publik 
bahwa kehadiran mereka seandainya terpilih benar-benar dapat memberi harapan 
terciptanya kehidupan bangsa lebih baik. Semoga.*** 

Penulis, Dosen FISIP dan Pascasarjana Unpad. Ketua Asosiasi Ilmu Politik 
Indonesia (AIPI) Bandung.




      

Kirim email ke