Pada mulanya adalah nafsu syahwat. Lalu muncul bibit-bibit keserakahan dan kekuasaan.
Dengan nafsu syahwat; manusia beranak-pinak dan menjadi bersuku-suku. Dengan keserakahan; manusia menjarah makanan, wanita, lahan dan apa saja yang bias dirampas. Dengan kekuasaan; manusia menciptakan perbudakan dan bertindak semena-mena. Masyarakat tunduk kepada Kepala Suku, Kepala Suku tunduk kepada Raja, dan Raja membuat cerita bahwa dirinya adalah "kerabat dekat" dari para Dewa. Dengan cerita mitos tersebut; Rakyat menjadi yakin bahwa sujud sembah dan pengorbanan mereka memiliki makna, sehingga Raja menjadi orang yang menguasai segalanya. Lalu datanglah kelompok aktivis orang-orang suci kepada Raja; untuk meminta jatah bagian dalam permainan. Raja tahu bahwa orang-orang suci bukanlah wali Tuhan, dan orang-orang suci tahu bahwa Raja bukanlah kerabat dekat dari para Dewa. Maka, permainan pun tetap berlanjut, namun dengan berbagai penyesuaian di sana-sini. Setelah ribuan tahun berlalu, permainan kuno tersebut berevolusi dan semakin pintar menyesuaikan maupun menyamarkan diri. Penguasa tidak lagi mesti seorang Raja atau berasal dari kalangan bangsawan. Orang-orang suci pun semakin terampil menampakkan citra kesucian mereka. Dan kini telah banyak disaksikan gerombolan Setan yang gemar berpakaian serba putih, menutupi hitam-pekatnya hati nurani mereka yang sebenarnya. Dapatkan Pencerahan Sekarang Juga!!! (klik di sini <http://khutbahdajjal.tk/> ) "Sejak awalnya, peradaban masyarakat didesain berdasarkan Mitologi, yang tentu saja tidak rasional. Namun tanpa mitos-mitos tersebut, kehidupan akan terasa lebih hambar, maupun kehilangan makna dan arah tujuannya" Contoh Mitos Demokrasi kerap diterjemahkan sebagai: "Suara Rakyat adalah Suara Tuhan" (Vox Populi, Vox Dei) Padahal Kenyataannya "Demokrasi adalah wadah bagi orang-orang kaya untuk saling bertarung demi memperebutkan legitimasi kekuasaan; demi memperebutkan kontrol eksploitasi atas hajat hidup rakyat"
