Republika Sabtu, 23 Oktober 2004 Bioremediasi Lingkungan Oleh : Agung Dhamar Syakti Staf Divisi Bioteknologi (Bioremediasi Lingkungan)Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan nstitut Pertanian Bogor
Perairan kepulauan Seribu diberitakan terkontaminasi heavy crude oil (Republika, 7 Oktober 2004). Gugusan pulau-pulau seperti Pulau Pramuka, Panggang, Gosong, dan pulau-pulau lainnya dikepung oleh kurang lebih 2 km2 tumpahan minyak setebal 5 cm dan diduga hal ini disebabkan oleh dampak pengoperasian sebuah perusahaan pengeboran. Kemungkinan lain adalah karena buangan (ballast) kapal di perairan Kepulauan Seribu yang merupakan jalur strategis lintas pelayaran tidak kurang dari 30 kapal tanker. Seperti dikutip dari International Maritim Organization (IMO), setiap tahunnya lebih dari 3 miliar metrik ton minyak mencemari dari aktivitas antrofogenik (baca: manusia dan industri-nya) di mana hampir 40 persennya berasal dari kegiatan tanker minyak. Pernah dicatat dalam sejarah di perairan selat Malaka, sekitar 4 juta liter minyak, 6 Januari 1975 tertumpah dan mengakibatkan pencemaran laut pada kasus kecelakaan kapal tanker Showa Maru. Bencana yang skalanya ''catastrophique'', tabrakan tanker Maersk Navigator dan Sanko Honour (1,8 juta barel), adalah contoh lain kejadian tumpahan minyak di Indonesia yang masuk di dalam daftar hitam pencemaran laut oleh petroleum hidrokarbon di dunia. Berangkat dari permasalahan di atas, pada setiap kasusnya, kita sebenarnya dihadapkan pada dua pekerjaan besar yang harus kita kerjakan secara bersamaan: ''remediasi lingkungan'' dan ''klaim kerusakan akibat pencemaran''. Sampai saat ini belum ada suatu model pengorganisasian ataupun alat yang mampu diaplikasikan di setiap kasus pencemaran laut oleh minyak bumi. Mekanisme penanganan pencemaran minyak di laut baik melalui peraturan serta kebijakan yang terkait termasuk di dalamnya program action plan belum mampu menjawab permasalahan dengan memuaskan. Paradigma out-of-sight and out-of-mind dalam filosofi penanggulangan tumpahan minyak akhirnya menjadi status quo dan harus segera kita tinggalkan. Secara umum penanganan tumpahan minyak dilakukan dengan salah satu atau ketiga metode sebagai berikut: Penanganan secara fisika, adalah perlakuan pertama dengan cara melokalisasi tumpahan minyak menggunakan pelampung pembatas (oil booms), yang kemudian akan ditransfer dengan perangkat pemompa (oil skimmers) ke sebuah fasilitas penerima "reservoar" baik dalam bentuk tangki ataupun balon. Salah satu kelemahan dari metoda adalah hanya dapat dipakai secara efektif di perairan yang memiliki hidrodinamika air yang rendah (arus, pasang-surut, ombak, dll) dan cuaca yang tidak ekstrem. Aplikasi metode ini juga sulit dilakukan di pelabuhan karena dapat mengganggu aktivitas keluar dan masuk kapal-kapal dari dan menuju pelabuhan. Kendala lain juga dijumpai karena belum seluruh pelabuhan di Indonesia memiliki Local Cotingency Plan for Oil Pollution, semacam manajemen penanggulangan bahaya tumpahan minyak. Teknik lain (secara fisika) yang lazim digunakan adalah pembakaran yang dari sudut pandang ekologis hanya memindahkan masalah pencemaran ke udara. Penanganan secara kimia, awalnya penggunaan metode ini kurang dikehendaki, aplikasinya untuk menangani tumpahan minyak Torrey Canyon di perairan Inggris tahun 1967 dianggap menimbulkan kerusakan lingkungan terutama dikarenakan dispersan, nama agen kimia yang digunakan untuk penanganan tumpahan minyak, maupun produk yang terbentuk dari pencampuran minyak dan dispersan, bersifat racun yang lebih berbahaya dari minyak mentah yang tersebar di perairan itu sendiri. Untungnya, dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun, pengembangan riset agen dispersan menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan, salah satu contoh dari dispersan ini adalah COREXIT 9500 yang diproduksi oleh Exxon Energy Chemical yang sukses diaplikasikan untuk membersihkan tumpahan minyak tabrakan kapal tanker Evoikos dan Orapin Global di Selat Malaka. Bioremediasi lingkungan Penanganan secara biologis, terutama dengan menggunakan mikroba, dalam hal ini adalah bakteri, merupakan teknik yang paling ramah lingkungan dan relatif lebih murah. Teknik ini dikenal dengan nama bioremediasi dan digunakan untuk finishing touch setelah proses fisika dan kimia berjalan dengan efektif. Jadi jelas bahwa tidak ada satu metode ataupun pendekatan yang dapat dikatakan sebagai pemecah masalah. Kombinasi dari ketiga metode penanganan menjanjikan hasil yang lebih mendekati harapan. Bakteri yang memiliki kapasitas untuk mendegradasi senyawa yang terdapat di dalam petroleum hidrokarbon dikenal sebagai bakteri hidrokarbonoklastik. Tranformasi biologis pencemar minyak yang sebenarnya adalah merupakan proses mineralisasi material organik dengan produk akhir gas karbondioksida yang ditandai dengan adanya peningkatan biomasa bakteri itu sendiri. Proses degradasi sendiri tidak hanya tergantung pada struktur kimia dari petrol akan tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti pH, salinitas perairan, dan lebih spesifik lagi adalah ketersediaan oksigen di lingkungan. Kendatipun banyak peneliti-peneliti beranggapan bahwa bakteri aerob (yang dapat hidup hanya jika tersedia oksigen) adalah potensi utama pendegradasi tumpahan minyak di perairan ataupun di permukaan sedimen dangkal, di sedimen sendiri di mana terdapat banyak bakteri yang bersifat anaerob (dapat hidup tanpa adanya sediaan oksigen) seperti bakteri pereduksi sulfat juga dapat mengoksidasi hidrokarbon (minyak) dengan kecepatan yang tentunya lebih lambat dari degradasi oleh bakteri aerobik, namun dalam skala waktu geologi, perbedaan ini bukanlah faktor yang kritik (penting). Di samping itu tumpahan minyak terdiri dari ratusan bahkan ribuan konstituan (pembentuk) petrol. Tergantung akan lokasi pengeksploitasian, namun secara umum komposisi petrol terdiri atas 10-40 persen n-alkana berikut hidroarbon alkana dengan rantai barcabang; 10-30 persen kelompok aromatik; 30-40 persen cyclo alkana termasuk di dalamnya marker hidrokarbon (sterane, hopane, diasterane dan steroid aromatik. Terakhir, sekitar 5-20 persennya adalah komponen komponen berat seperti aspalten dan senyawaan lain yang berikatan dengan atom atom belerang, nitrogen dan oksigen (syakti, 2004; disertasi). Berdasarkan hasil penelitian baik itu yang dilakukan di laboratorium (baca: in vitro) ataupun di lingkungan perairan sendiri (baca: in situ) kemampuan bakteri dan mikroba lainnya mendegradasi pembentuk petrol berbeda-beda dengan kecenderungan yang sebagai berikut: n-alkana, senyawa aromatik seperti benzene, naphtale, phenantren kemudian dilanjutkan oleh kelompok isoprenoid, sterane, hopane/diasteran, steroid aromatik dan porphyrin. Untuk kasus yang terjadi di perairan Kepulauan Seribu, kita akan dapat menarik kesimpulan dengan relatif lebih mudah untuk mengidentifikasi asal ataupun sumber tumpahan minyak tersebut tanpa harus menganalisis sampai ke level marker hidrokarbon dan tentunya sangat beralasan sekali bagi kita untuk dapat mengatakan kepada pihak yang terkait dan bertanggung jawab bahwa mengapa laut kami tercemar? Mengapa lumba-lumba kami menjadi panik? Mengapa ikan dan burung-burung kami akan mati dan pasti mati? Sebaliknya sangat tidak beralasan sekali kalau kita tidak bisa bilang bahwa perusahaan X-lah yang bertanggung jawab atas semua dan juga tidak ada tempat buat asuransi untuk mengatakan ''Anda kurang cukup bukti'' atau ''analisis Anda tidak valid''. Dari sudut pandang sains, kita sebenarnya tidak mempunyai permasalahan yang berarti untuk dapat melakukan analisis secara valid mengenai petroleum hidrokarbon yang mencemari perairan meskipun kejadian tersebut telah lama berlalu. Hanya dengan beberapa gram sampel dari air laut ataupun sedimen laut yang diambil di tempat terjadinya kecelakaan tanker misalnya kita dapat menangkap bekas ''tanda tangan'' bahan pencemar ini. Kita bahkan akan bisa segera menentukan komponen manakah yang akan kita analisis, tergantung dari waktu kejadian. Hanya saja kita juga harus memiliki referensi dari kandungan hidrokarbon yang terdapat di dalam petrol tertentu dari sumber yang kita duga berasal. Di dalam sistem hukum Indonesia, pembuktian terbalik juga bukan merupakan suatu masalah, sehingga perusahaan tertentu yang diduga melakukan tindakan pencemaran harus secara kooperatif membantu penyelidikan terutama di dalam melakukan pengambilan sampel untuk membandingkan profil senyawa hidrokarbon di lapangan dengan profil petroleum hidrokarbon yang dieksploitasinya. Indonesia sendiri terikat dengan kesepakatan ''civil liability'' (CLC) pada 1992, artinya sepanjang kita dipandang mampu menyiapkan dokumen klaim kerusakan lingkungan, pihak asuransi dari London Steam Ship Owners Mutuel Insurance Limited misalnya untuk kasus MT Natuna Sea (04/10/2000), yang lalu, asuransi dikabarkan memberikan ganti rugi sebesar 180 juta dolar AS . Sepanjang terjalin kerja sama dan koordinasi yang baik dari pemeritah daerah setempat, pemprov, dan pemerintah pusat lewat Kejaksaan Agung yang tentunya didukung oleh Bappedal, rasanya bukan hal yang sulit untuk mendapatkan penggantian rugi akibat kecelakaan tanker--walau sebesar apa pun jumlah yang akan kita dapat tidak akan pernah membuat kerugian yang kita alami terlunasi, mengingat gangguan pada salah satu mata rantai makanan dapat mengakibatkan efek domino yang lebih besar dan berarti pada tingkatan hidup yang di atasnya. Yang perlu diingatkan kembali di sini adalah perlunya kerja sama dengan pihak ketiga. Surveyor yang dianggap independen juga sangat penting. Kita bisa melibatkan institusi-institusi untuk berpartisipasi. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor, misalnya, memiliki personel-personel yang berkompeten di bidang ini. Begitu juga perangkat infrastruktur yang mendukung analisis komposisi dari hidrokarbon petroleum. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
