--- In [EMAIL PROTECTED], rahardjo mustadjab <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
> 
> India tidak ingin kelihatan sebagai sosok yang
> egoistis.  Meskipun juga tertimpa kesusahan, tetapi
> dia ikut menyingsingkan lengan baju membantu Sri
> Lanka, bantuan tenaga tidak kalah nilainya dengan
> bantuan duwit.  Itu satu point.
> 
> Point lainnya, adalah penolakan bantuan dari
> pemerintah lain (bukan Amerika saja).  Mungkin cara
> berpikirnya begini: malu ah, lha wong waktu Florida
> kena bencana hebat tahun lalu dan waktu gempa dan
> taifun menimpa Jepang, kita tidak kirim bela sungkawa
> apalagi bantuan.  Mungkin begitu sebabnya, sekalipun
> tidak dinyatakan.  Bravo !!!


Bukan cuman India yang menolak! Tapi juga Thailand. PM Thai waktu
diwawancarai bantuan apa yang dibutuhkan, dia menjawab bahwa Thailand
tidak butuh apa-apa, selain --mungkin-- obat-obatan, antibiotik, dst.
Tapi bantuan kayak makanan, air, duit, itu semua bisa diatasi sendiri
oleh Thailand.

Penolakan India sendiri jadi langsung 'ngetop' --bukan-- karena
penolakannya itu sendiri; tapi lebih karena implikasi penolakannya itu
persis seperti ngaploki cangkemnya si Bus-uk yang berencana merangkul
India (plus Aussie & Jepang) buat menyaingi PBB dalam hal penyaluran
bantuan.

Jadi, praktis cuman Indonesia saja yang dengan riang gembira tanpa
punya malu sama sekali menerima bantuan asing -- terutama duit Amerika
yang penuh tipu muslihat itu. Saya yakin para cecunguk berdasi di
Jakarta pasti sudah ngiler semua ngliat duit bantuan yang $$$ itu.
Anjing-anjing di birokrasi penjajah Jawa di Jawa itu pasti juga sudah
cari-cari lobang terus.

Kegagalan "Indonesia" menolong Aceh ini --sementara India & Thai bisa
berdikari-- sifatnya sungguh serius! Loyonya tentara-tentara bajingan
pembunuh di TNI itu dalam hal membantu korban di Aceh, maupun kecilnya
kas negara sehingga negara ini harus ngemis ke Amerika -- semua ini
cuman bisa mengarah ke satu hal, yaitu: sudah saatnya kontrak sosial
kita di Indonesia ini dikaji ulang lagi.

Kolonialisasi Jowo-jowo goblog di Jakarta itu sama sekali tidak
membawa keuntungan apapun buat rakyat di luar Jawa. Seperti, Timtim
yang sudah lepas, Ambon, Papua, dan sekarang Aceh. Pemerintahan
jowo-jowo penjajah goblog dengan anjing-anjing TNI-nya itu sama sekali
tidak punya kapabilitas atau pun kemampuan politik secuil pun!

Kontrak sosial kita dengan negara RI secara historis cuman berdasarkan
seluruh area bekas jajahan Belanda. Basis politik ini ternyata sama
sekali tidak menguntungkan, karena sifatnya persis seperti cuman
memberikan tongkat estafet ke penjajah lainnya -- yang dalam hal ini
adalah dominasi serta hegemoni kultur jowo goblog itu di perpolitikan
Indonesia.

"Indonesia idealnya dipecah menjadi beberapa negara independen". 

Ini adalah implikasi langsung dari kegagalan pemerintahan penjajah di
Jowo itu atas ketidak-mampuannya untuk menjadi seperti Thailand atau
pun India.

Mana Urpas? Mudah-mudahan nggak kena tsunami.


JD

> Salam,
> RM





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke