Benar sekali uraian artikel dibawah ini, masyarakat kita ini memang cenderung "memanusiakan" Tuhan walaupun mereka selalu berteriak2 dan tidak mengakui "Tuhan menjadi manusia". Dalam bayangan masyarakat kita Tuhan digambarkan seperti seorang mandor yang selalu mengawasi pekerjanya. Jika ada pekerja tidak baik lantas ditendang dan dihajar.
Artis Franky Sahilatua mempunyai jawaban yang cukup dewasa tentang bencana Tsunami, bahwa bencana ini adalah peristiwa alam biasa seperti halnya hujan, kemarau angin dll. Tetapi yang terjadi di Aceh menelan korban banyak dan kita begitu tersentak dibuatnya. Tetapi memang sangat sulit menjelaskan orang2 yang sok agamis. Dilingkungan saya sendiri, sebelum melihat wawancara Franky di TVRI, saya sudah menjelaskan kepada kawan2 dikantor, bahwa bencana tsunami bukan karena Tuhan marah, mencobai kita karena kita ini itu dsb. Bencana ini peristiwa alam biasa yang terjadi dari dulu sejak pertama kali dunia terbentuk. Ketika ada meteor jatuh dan memusnahkan dinosaurus, apakah Tuhan marah kepada dinosaurus ? Tapi otak "Tuhan mandor" memang sangat sulit dirubah, mungkin takut dicap sebagai orang kafir, mereka tetap beralasan : di Aceh kejahatan itu sudah demikian tinggi, perdagangan ganja sampai gubernurnya korusi dsb, mangkanya Tuhan memperingatkan. Kalau saya yang orang dusun ( murid Eyang Sinto gendeng ), hanya berpikir sederhana. Bahwa negara2 disekitar garis katulistiwa sebaiknya lebih waspada dengan peristiwa alam. Maklum aja bumi yang bulat berputar cepat pada porosnya akan sering mengalami perubahan alam. ( He he he sering bikin kendi dari tanah liat, yang nggelembung gede kok ditengahnya ) ws On Fri, 14 Jan 2005 03:38:15 +0100 "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/14/opini/1499211.htm > Jumat, 14 Januari 2005 > > Tuhan Pasca-Tsunami > Oleh Novriantoni > > Sudah bisa diduga, dalam bencana besar seperti gempa >pemboyong tsunami yang > menewaskan tak kurang dari 100.000 orang Aceh ini, akan >banyak sekali orang > yang tidak puas dengan sekadar penjelasan ilmiah. >Keterangan para ahli gempa > dan tsunami soal lempengan-lempengan bumi yang bergeser >setiap tahun, lantas > bergetar, menelan dan lalu memuntahkan air yang >sedemikian dahsyat tidak > dianggap memadai untuk memuaskan dahaga keingintahuan >mereka. > Makanya, selalu ada banyak orang yang terobsesi untuk >tahu lebih dalam > tentang penyebab terjauh dari semua itu dengan >melontarkan pelbagai ultimate > questions. Kalau sudah berpikir soal penyebab terjauh, >perbincangan tentulah > sudah masuk ke ranah filsafat atau teologi. Lantas >muncullah pertanyaan: > sejauh apa peran Tuhan di dalam "menghajar" sedemikian >banyak korban itu? > Pada titik inilah spekulasi-spekulasi teologis >berlangsung dengan begitu > liarnya. > Dan, benar saja. Menurut teman tadi, di masyarakat kita, >kini ada beberapa > spekulasi teologis yang semarak bermunculan pascagempa >dan tsunami yang > mengentakkan nurani dunia itu. Pertama, bagi "kiai-kiai >Orba" yang punya > corong untuk berkhotbah di masjid-masjid itu, bencana >sebesar ini tak lain > adalah hukuman Tuhan atas kealpaan dan kesombongan kita >selama ini. Lebih > spesifik, mereka bahkan menyebut bencana ini sebagai >akibat atau buah dari > pertikaian antara pelbagai elemen anak bangsa di Serambi >Mekkah yang tidak > kunjung usai. > Dengan elaborasi yang cenderung menyederhanakan, mereka >menyayangkan TNI dan > GAM yang saling bunuh. Sementara itu, rakyat Aceh juga >tak kunjung taat > terhadap Ibu Pertiwi, NKRI. Demikianlah tafsiran >teologis yang sepenuhnya > spekulatif dan kental aroma pemikiran ala Orba itu >menggema di sebagian > masjid. > Kedua, berbeda dengan logika hukuman tadi, tafsiran >kedua justru beranggapan > bahwa tragedi ini justru bersifat ujian, bukan hukuman. >Di beberapa tempat, > kita dapat menemukan selebaran yang mengatakan antara >lain, bencana Aceh > merupakan "ujian" Tuhan untuk mengukur keteguhan dan >konsistensi rakyat Aceh > dalam menjalankan syariat Islam. Hm.. > Sekarang, ketika kita sedang bergulat dengan proses >evakuasi dan > rehabilitasi Aceh, muncul pula isu-isu yang menguatkan >kesan bahwa Tuhan > sedang menguji konsistensi dan keteguhan rakyat Aceh >dalam menjalankan > syariat Islam dan menjaga status Aceh sebagai Serambi >Mekkah. Isu > pemurtadan, kristenisasi, dan adopsi diembuskan sebagian >pihak yang mungkin > sedang menangguk di air keruh. Tak heran, dalam sebuah >pertemuan dengan > ribuan alumni Pondok Modern Gontor di Jakarta Convention >Center, Jumat (7/1) > lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun merasa perlu >menanggapi isu-isu > yang tidak bertanggung jawab itu. Secara reaktif beliau >lantas menegaskan, > "Pemerintah akan sekuat tenaga menjaga status Aceh >sebagai Serambi Mekkah!" > DEMI mencermati diskursus tentang Tuhan dan prasangka >tentang > keterlibatan-Nya dalam bencana terakhir ini, Jaringan >Islam Liberal > berinisiatif melangsungkan diskusi soal "Tuhan >Pacsa-Tsunami" yang bertempat > di Freedom Institute, Selasa (11/1) lalu. Diskusi yang >bertepatan dengan > hari milad Ulil Abshar-Abdalla itu beranjak dan bertolak >dari keprihatinan > yang mendalam akan rumusan "teologi bencana alam" yang >berkembang dan > populer di tengah masyarakat dewasa ini. > Baik Goenawan Mohamad maupun Syamsurizal Pangabean yang >bertindak sebagai > pembicara dalam diskusi itu sama- sama prihatin akan >rumusan teologis yang > tidak sungkan- sungkan mengekspos "intervensi" Tuhan >yang berlebihan dalam > kiamat kecil itu. Kecenderungan seperti itu gampang >sekali kita simak dari > khotbah-khotbah Jumat, pengajian di majelis taklim >maupun majelis zikir, > atau ceramah keagamaan di sejumlah televisi. > Intinya, telah muncul rumusan teologi tentang bencana >alam (tidak murni > buatan manusia seperti tragedi Poso dan Maluku) yang >pada akhirnya tetap > terjebak di dalam dua perangkap teologis yang >mengharukan: entah > mengambinghitamkan korban bencana sendiri ataupun >menyalahkan Tuhan yang > dianggap sebagai pihak yang tak pandang ampun dan tak >kenal belas kasihan > menghajar hamba-hamba-Nya. Kedua kecenderungan itu >rupanya juga bagian dari > pandangan teologi masyarakat kita yang cenderung >fatalistik. > Ketika rumusan teologis yang dikemukakan mengasumsi >bahwa bencana Aceh > adalah refleksi dari kemurkaan Tuhan, di situ secara >eksplisit sudah > terkandung nada-nada yang menyudutkan dan menyalahkan >rakyat Aceh yang kini > menjadi korban (blaming the victims). Sebaliknya, ketika >bencana ini > dianggap sebagai "ujian" Tuhan untuk umat manusia yang >Dia cintai, > sebagaimana yang dikatakan sejumlah kutipan kitab suci >(perhatikan betapa > beratnya ujian itu!), secara implisit kita juga sedang >terlibat dalam proses > menyalahkan Tuhan (blaming God). Kedua kecenderungan >tadi tentu bukanlah > rumusan teologis yang bisa dianggap elegan dan ideal >tentang bencana alam. > Untuk itulah, kita diajak membuat rumusan teologis yang >tidak gegabah dan > potensial menambah luka dan duka rakyat Aceh sekaligus >berpandangan elegan > dan fair terhadap Tuhan sendiri. Itulah rumusan teologis >yang sekarang > sedang kita cari dan kita kehendaki. > Hanya saja, persoalannya tidaklah segampang yang kita >kira. Sebagaimana > dikemukakan Ulil Abshar-Abdalla dalam diskusi itu, >godaan bagi agama > (diwakili oleh pemuka agama ataupun juru khotbah tadi) >ataupun ilmu > pengetahuan untuk menjelaskan sejumlah misteri yang >terkandung di dalam > dunia ini teramat besar. Makanya, sejumlah misteri dan >absurditas yang > terkandung di dalam pelbagai peristiwa di dunia ini >keduanya coba > diterangkan baik oleh agama maupun ilmu pengetahuan. > Secara psikologis, manusia tidak pernah betah >menjalankan hidup dengan > menyisakan sejumlah misteri karena misteri adalah >kegelapan. Dan, kegelapan > pada hakikatnya adalah situasi yang cenderung dibenci. >Untuk itu, kegelapan > itu coba diterobos dan diterangi, baik dengan penjelasan >ilmu pengetahuan > maupun penjelasan agama atau teologi. > Tetapi, sudah nyata bahwa penjelasan ilmu pengetahuan >dan penjelasan agama > memang berbeda. Kita bisa memahami sebuah misteri secara >lebih pasti dan > dapat memverifikasinya secara ilmiah dengan perangkat >dan metode yang > disediakan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, penjelasan >agama tak jarang justru > menjelma menjadi deretan spekulasi yang tiada henti. >Dan, naifnya, kita > tidak pernah kunjung bisa memverifikasi sisi >kebenarannya kecuali meyakini > saja. Kita sesungguhnya tidak pernah bisa menanyakan >kebenaran "versi Tuhan" > akan bencana Aceh, apalagi mendialogkannya secara >langsung. > Karenanya, para sosiolog cenderung mengatakan bahwa >"kebenaran agama" tidak > pernah bisa dibuktikan dan bersifat prapengalaman. >Walaupun sedang > berspekulasi secara liar, dia selalu saja diimani >sebagai kebenaran yang > hakiki, sekalipun belum dibuktikan. Di sinilah >problematisnya spekulasi- > spekulasi tentang Tuhan dalam tsunami kemarin. > TIDAK seorang pun yang bisa membuktikan kalau Tuhan ikut >aktif > mengintervensi peristiwa tsunami yang kemarin menghantam >kita. Siapa yang > tahu pasti kalau hal tersebut ditujukan untuk memberi >"pelajaran" kepada > rakyat Aceh yang ironisnya justru taat beragama? >Makanya, sembari melakukan > proses evakuasi dan rehabilitasi Aceh, kita juga >dipanggil untuk mencari > rumusan teologi bencana alam yang lebih mengena. Sembari >itu, ada baiknya > kita juga tidak terlalu lancang dan sok mengerti soal >apa sebenarnya yang > dimaui Tuhan dari bencana ini. > Klaim atau perasaan bahwa kita tahu tentang apa yang >dimaui Tuhan dalam > bencana kali ini, sekalipun bersandar pada argumen dan >landasan firman-Nya, > sesungguhnya merupakan bentuk kesombongan yang tiada >tara. > Novriantoni Alumnus Universitas al-Azhar Mesir, Aktivis >Jaringan Islam > Liberal > Search : > > > > > > > > Berita Lainnya : > �TAJUK RENCANA > �REDAKSI YTH > �Jangan Tunda Pencabutan Subsidi BBM > �Beban Mahmoud Abbas > �Tuhan Pasca-Tsunami > �POJOK > > > > > > > > > > > > > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor > > Post message: [EMAIL PROTECTED] > Subscribe : [EMAIL PROTECTED] > Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] > List owner : [EMAIL PROTECTED] > Homepage : http://proletar.8m.com/ > Yahoo! Groups Links > > > > > > > ======================================================================================== Akses Internet TELKOMNet-Instan beri Diskon s.d. 50 % khusus untuk wilayah Jawa Timur. Informasi selengkapnya di www.telkomnetinstan.com atau hub 0800-1-INSTAN (467826) ======================================================================================== ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> In low income neighborhoods, 84% do not own computers. At Network for Good, help bridge the Digital Divide! http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
