http://www.sinarharapan.co.id/berita/0501/15/opi01.html

Mitos Media sebagai Pilar Demokrasi
Oleh Triyono Lukmantoro

Masih adakah kekuatan media massa pada umumnya sebagai pilar keempat demokrasi? 
Mungkin saja pers sebagai pilar keempat demokrasi itu tinggal sekadar sebagai 
mitos! Mengapa? Salah satu fenomena yang aktual dapat kita simak pada sosok 
Surya Paloh. Sebagai pemilik modal dominan pada stasiun televisi Metro dan 
koran Media Indonesia, ia kini tampil sebagai Ketua Dewan Penasihat Partai 
Golkar. Apabila gejala ini hanya ditanggapi sekadar sebagai relasi business and 
politics as usual, tentu saja, kita telah membuat ketelodoran perspektif yang 
sulit untuk dimaafkan.
Bagaimanapun, bisnis dan politik tidak dapat dipisahkan sama sekali. Ketika 
seorang pengusaha yang bergerak di bidang media massa terjun langsung dalam 
arena kekuasaan, yang terjadi selanjutnya adalah modal politik telah berhasil 
disatukannya dengan modal uang, serta selanjutnya adalah modal untuk memegang 
mesin pencitraan. Bahaya yang muncul akibat terjadinya konflik kepentingan pun 
sulit dihindarkan. Sebabnya adalah kesulitan bagi media yang bersangkutan untuk 
mengkritik dan mengontrol perilaku bisnis dan kekuasaan yang telah berhasil 
diraih sang pemilik modal.
Media hanya dapat mengajukan pemberitaan dan berbagai kebijakan editorial yang 
tajam apabila mengambil jarak dengan tiga jenis kekuasaan yang terdapat pada 
lembaga negara. Secara historis dapat dilacak bahwa kehadiran media sebagai 
pilar keempat demokrasi lebih dikehendaki sebagai representasi (perwakilan) 
dari suara dan aspirasi publik yang tidak mungkin dapat diwadahi oleh pihak 
pemegang kekuasaan (eksekutif), pembuat undang-undang (legislatif) serta 
pelaksana kehakiman (yudikatif). Keberjarakan dengan kekuasaan negara, dengan 
demikian, menjadi penentu bagi media untuk tetap berani bersikap kritis.
Selain itu, yang acapkali dilupakan adalah pilar keempat demokrasi yang 
dilekatkan pada media lebih digunakan untuk membatasi tiga jenis kekuasaan 
(eksekutif, legislatif, yudikatif) supaya tidak korup. Di sinilah dalil Lord 
Acton yang terlanjur klise yang berbunyi "power tends to corrupt, but absolute 
power corrupts absolutely", masih relevan untuk dijadikan referensi. Kekuasaan 
itu cenderung berbuat korup, apalagi kekuasaan yang absolut dengan sendirinya 
pastilah korup. Untuk mencegah terjadinya korupsi oleh pihak pemegang kekuasaan 
hanya dapat dijalankan oleh pihak eksternal yang terlepas dari kepentingan 
kekuasaan itu sendiri. Sebabnya adalah kekuasaan secara internal tidak mungkin, 
atau setidaknya sangat sulit, untuk mengendalikan dirinya sendiri supaya tidak 
berkelakuan korup.

Persekutuan
Secara lebih gamblang berbagai penjelasan itu apabila dioperasionalisasikan 
pada kasus Surya Paloh akan menimbulkan suatu nada interogatif: "Mungkinkah 
Surya Paloh dapat mengritik dan mengontrol kekuasaan yang telah dipegangnya?" 
Jelas sangat tipis sekali kemungkinannya! Tragisnya, figur Surya Paloh sendiri 
kemudian menjalankan persekutuan dengan Jusuf Kalla yang kini menjabat sebagai 
Wakil Presiden, Ketua Umum Partai Golkar, serta pengusaha yang juga memiliki 
modal yang berlimpah. Tidak heran jika sebagian besar orang lantas 
mengkhawatirkan persekutuan Surya Paloh dan Jusuf Kalla dalam Partai Golkar, 
yang didukung oleh modal yang berlimpah, media yang serba mendukung, serta 
kekuasaan eksekutif yang legitimatif, hanya menghasilkan Orde Baru Jilid Kedua. 
Kecemasan itu boleh dikatakan terlalu berlebihan, namun sudah pasti munculnya 
bukan tanpa alasan. Kecemasan itu boleh dianggap sebagai terlalu overdosis 
karena sistem politik yang sekarang ini berjalan lebih terbuka, sedangkan pada 
masa rezim Orde Baru berkuasa sistem politiknya terlalu tertutup. Keterbukaan 
serta ketertutupan sistem politik menjadi kata kunci yang menjadi pembeda 
utama. Tetapi yang sulit untuk disangkal adalah keterbukaan pada sistem politik 
tidak dengan sendirinya lantas membuat demokrasi yang riil dapat dijalankan 
dengan baik.
Kita harus membedakan demokrasi formal yang lebih menekankan pada keberadaan 
institusi-institusi politik dan prosedur normal dan demokrasi substansial yang 
mencoba menerapkan demokratisasi hingga ke arah yang maksimal bagi partisipasi 
publik untuk terlibat dalam pengelolaan kekuasaan. Demokrasi substansial hanya 
mungkin dapat dilakukan jika sudah tersedia demokrasi formal. Tetapi, yang 
pantas untuk dilihat secara lebih mendalam adalah demokrasi formal belum tentu 
dapat mendorong terjadinya demokrasi substansial.
Fenomena yang terjadi saat ini masih berada pada tahap demokrasi formal. Yang 
lebih membahayakan lagi adalah bentuk yang formal dari demokrasi itu, justru 
kini dipegang oleh satu pihak saja. Di sini yang kemudian muncul adalah 
monopolisasi kekuasaan untuk mengontrol lembaga negara serta institusi media 
yang berada di luar formasi negara. Tentu saja, Surya Paloh tidak dapat bekerja 
sendirian. Surya Paloh dengan sangat jitu pasti akan menjaga jarak untuk tampil 
lebih halus dan memposisikan diri sebagai aktivis Partai Golkar serta pemilik 
modal media.
Hanya saja yang seringkali dilupakan Surya Paloh sebenarnya sudah menciptakan 
struktur kekuasaan yang menguntungkan bagi kepentingan politik yang hendak 
diraihnya. Struktur mengandaikan adanya aturan main yang jelas serta kedudukan 
yang pasti. Jika realitas ini diaplikasikan pada struktur kekuasaan yang 
berlangsung sekarang ini, Surya Paloh pasti tidak akan tampil dalam panggung 
kekuasaan secara vulgar. Nilai dan citra sebagai politisi serta pengusaha yang 
elegan sudah tentu akan tetap dijaganya. Tetapi ke-elegan-an Surya Paloh tetap 
saja tidak dapat menutupi bahwa sebagai pencipta struktur dengan sendirinya, 
atau secara otomatis, dia sendirilah yang akan selalu keluar sebagai pemenang 
dalam setiap pertarungan kekuasaan. Siapa yang menciptakan struktur dan aturan 
main di dalamnya, dialah yang menjadi dalang sebenarnya! Jadi, mirip dengan 
pertunjukan wayang, sang dalang tidak pernah tampil dalam layar yang dapat 
disaksikan semua orang. Tetapi, sebenarnya, sang dalang itulah yang dengan 
lihai memainkan anak-anak wayang sesuai dengan kehendak hatinya.
Suara Korporasi
Apabila dilihat dari perspektif Hegelian, apa yang dilakukan Surya Paloh 
merupakan upaya dari pihak negara untuk mengintegrasikan masyarakat ke dalam 
satu tubuh secara organis. Filosof Hegel memandang masyarakat sebagai "roh 
subjektif" yang sedemikian carut-marut dan tidak teratur", sehingga perlu 
disatukan dan direalisasikan dalam "roh objektif" yang terbaik, yaitu negara. 
Ternyata apa yang dilakukan Surya Paloh lebih canggih dibandingkan apa yang 
difilsafatkan oleh Hegel. Surya Paloh dengan kekuasaan modalnya berusaha 
menembus dan mempengaruhi partai politik yang memiliki suara terbanyak di 
parlemen, mendekatkan diri dengan kekuasaan eksekutif, serta mencoba juga untuk 
tetap bermain dalam wilayah masyarakat melalui produksi pencitraan dalam bentuk 
pemberitaan pada media massa yang dikuasainya.
Perspektif Marxian barangkali lebih tepat untuk menyoroti gejala yang sekarang 
ini muncul. Bagi Karl Marx, siapapun yang menguasai perangkat-perangkat 
produksi dan permodalan dengan sendirinya akan juga mengendalikan 
gagasan-gagasan yang berkembang dalam masyarakat. Basis perekonomian dalam 
bentuk kepemilikan kapital telah berhasil diraih oleh Surya Paloh. Demikian 
juga basis perpolitikan sudah direngkuhnya. Yang kini tersisa dan pasti akan 
terwujud adalah produksi ideologi yang akan memapankan kekuasaan yang sedang 
berjalan. Di sini Surya Paloh kemungkinan besar akan memainkan dua kekuataan 
yang dimilikinya. Kekuatan pertama adalah pijakannya yang sangat kuat pada 
domain politik dalam wujud ketokohannya dalam lembaga partai politik. Pijakan 
kedua adalah cengkeramannya yang sangat absolut pada bisnis medianya yang 
dengan sendirinya menjadi produsen dari citraan dan ideologi yang menguntungkan 
bagi kalangan elite penguasa yang didukungnya.
Pada kasus ini, relevan bagi kita untuk merujuk pendapat Herbert I. Schiller 
yang menyatakan terdapat gejala suara korporasi akan menjadi suara bangsa dan 
negara. Sebab, ketika suatu korporasi menguasai semua lini dalam setiap jengkal 
kekuasaan, dengan sendirinya juga akan mencaplok suara-suara lain yang selama 
ini tidak pernah diartikulasikan. Apalagi dalam situasi historis seperti 
sekarang ini yang semakin menonjolkan kekuatan pasar bebas dan semakin 
lenyapnya kekuasaan negara. Hanya korporasi yang sekarang ini berhasil menjadi 
pengganti dari lembaga-lembaga politik resmi seiring dengan semakin merosotnya 
institusi-instisusi publik yang berfungsi sebagai katalisator pendapat 
masyarakat. 
Jadi, aktivitas politik Surya Paloh merupakan sebuah fenomena terjadinya 
integrasi atau penyatuan antara kekuasaan bisnis dan politik yang terdapat pada 
media massa. Kekuasaan bisnis akan menguntungkan dirinya untuk mengakumulasikan 
modal dan meraih keuntungan maksimal. Kekuasaan politik akan memberinya manfaat 
untuk menopang rezim kekuasaan yang didukungnya, terlebih-lebih ketika dia 
berhasil menjadi tokoh dari partai politik yang mendominasi suara di parlemen 
(lagislatif) dan bersekutu dengan pihak eksekutif. Bukankah kekuatan media 
massa sebagai pilar keempat demokrasi hanya menjadi mitos belaka?

Penulis adalah pengajar filsafat dan etika pada Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP 
Universitas Diponegoro Semarang.
 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke