MANUSIA Liang Bua (Homo floresiensis) mendapat julukan hobbit dari berbagai media nasional dan internasional, yang terpengaruh dengan diumumkannya temuan para arkeolog dari Indonesia dan Australia tersebut, beberapa waktu lalu. Julukan yang diambil dari salah satu tokoh manusia kerdil dalam trilogi Lord of The Ring karya JRR Tolken, setidaknya ingin menggambarkan mungilnya tubuh manusia prasejarah dari Liang Bua, yang diperkirakan hanya sekitar satu meter dan meninggal sekitar 18.000 tahun lalu (agak berbeda dengan Prof Dr T Jacob dari Laboratorium Bio-Paleoantropologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada yang memperkirakan temuan itu berusia sekitar 7.000 tahun). Apalagi dari penelitian sementara terhadap temuan sebuah tengkorak berukuran sangat kecil dan sejumlah rangka, Jacob memperkirakan temuan di Liang Bua, kawasan Manggarai, Flores, itu merupakan manusia dewasa berusia sekitar 25 tahun. Salah satu yang menarik untuk dikuak adalah misteri dibalik ukuran dan tinggi badan yang tidak biasa tersebut. Terutama jika dibandingkan dengan manusia modern saat ini. DALAM seminar sehari bertajuk "Manusia Prasejarah Flores" di Jakarta, pekan lalu, berbagai kemungkinan dipaparkan. Termasuk berlakunya endogami atau perkawinan sedarah kandung berupa kawin tungku atau perkawinan sedapur di Manggarai. Dugaan ini dilontarkan oleh Prof Josef Glinka SVD dari Jurusan Antropologi FISIP dan Seksi Antropologi Ragawi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya (Unair), yang pernah meneliti tinggi badan di Nusa Tenggara Timur (NTT). "Perkawinan tungku atau sedapur berupa cross cousin married. Perlu diingat, orangtua menurunkan masing-masing separuh dari genomnya. Kalau perkawinan makin banyak dari luar, sedikit yang bersama. Dengan kawin tungku, kemungkinan mereka homozigot jatuh seperenam belas persen. Sementara kalau sudah lebih jauh, bisa satu per-125. Hubungan kerabat sampai empat generasi dianggap kerabat. Lebih jauh dari itu sudah tidak resmi," kata Glinka. Jacob dalam penelitiannya juga menemui sebuah kampung dan dua dusun di sekitar Liang Bua yang didiami orang-orang katai. Tinggi badan mereka umumnya di bawah 150 cm. Ada beberapa orang yang sedikit lebih tinggi dari 150 cm karena perkawinan dengan orang kampung sekitar yang lebih tinggi. Pada umumnya mereka mempraktikkan endogami yang ketat dengan kawin tungku, yaitu kawin sedarah (kosanguin).
NTT mulai tahun 1920-an sudah menjadi obyek penelitian para antropolog Barat. Penelitian Bijlmer (1929) secara jelas menyatakan, penduduk NTT berbadan agak pendek. Penelitian Keers (1948) tidak jauh berbeda. Meski penduduk Alor dan Pantar disebutkan sedikit lebih tinggi, tetapi variasinya hampir sama dengan Bijlmer. "Dibaca dengan situasi waktu itu, dapat diduga bahwa hal itu-baik hasil adaptasi maupun inbreeding depression- karena di beberapa tempat adat perkawinan mengutamakan endogami suku, atau malah endogami kerabat," kata Glinka. Glinka pernah meneliti hal yang sama. Dalam penelitiannya pada pertengahan tahun 1970-an di Paroki Koting, Flores, terkuak pada awalnya perkawinan umumnya dengan warga dari desa yang sama atau desa tetangga. Namun, sejak tahun 1945 mereka mulai keluar, bahkan tahun 1950 ada yang keluar dari pulau. "Penelitian saya buat di Flores karena mayoritas Katolik sehingga perkawinan dicatat. Terlebih lagi di Paroki Koting, buku perkawinan paling lama sudah ada sejak abad kesembilan belas," katanya. DARI observasi di pedesaan pada berbagai daerah di Indonesia, nyata bahwa 80-90 persen perkawinan terjadi justru antara penduduk desa, sehingga memungkinkan inbreeding. Sementara di kota jarang terjadi endogami lokal. Pasangan suami istri di kota acapkali berasal dari populasi berbeda. Penelitian Glinka untuk seluruh Indonesia menggambarkan bahwa dalam kurun waktu puluhan tahun orang Indonesia bertambah tinggi. Kecepatannya berbeda antara perempuan dan laki-laki. Dalam jangka waktu sepuluh tahun, pria bertambah rata-rata 0,75 cm, sedangkan wanita 0.69 cm. Dia menambahkan, tinggi badan individu merupakan interaksi dua faktor dasar, yakni genetis dan lingkungan. Yang menentukan dalam lingkungan adalah keadaan gizi, beban kerja, dan kesehatan, khususnya pada masa pertumbuhan. Dalam jangka panjang, iklim dapat berfungsi sebagai selektor agar populasi adaptif terhadap situasi setempat. Pada populasi terisolasi dan secara geografis atau budaya gampang terjadi inbreeding, umumnya ukuran badan turun. Jenis makanan dalam jangka panjang juga memengaruhi besarnya badan populasi. Apa pun, manusia dari Liang Bua masih menyisakan misteri yang belum sepenuhnya terjawab. Termasuk apakah kekerdilannya sebagai kelainan individu atau populasional.(Indira Permanasasari) http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0501/17/humaniora/1503361.htm Ungkapkan opini Anda di: http://mediacare.blogspot.com --------------------------------- Do you Yahoo!? The all-new My Yahoo! � What will yours do? [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> In low income neighborhoods, 84% do not own computers. At Network for Good, help bridge the Digital Divide! http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
