Republika
  
      Jumat, 28 Januari 2005

      Revitalisasi GLC's 

      Oleh : 
      U Saefudin Noer
      Asisten Direktur Bank Muamalat Indonesia dan 
      Mahasiswa Pascasarjana UI
      ''Sekali air besar, sekali tepian beranjak,
      Sekali pembesar berganti, kebijakan pun berubah''

      Magnitude perubahan yang dijanjikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 
tampaknya mulai menyentuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pernyataan Presiden 
pada BUMN Summit yang dikutip berbagai media, sebagaimana dilansir Republika, 
26 Januari 2005, agar BUMN mempertahankan profesionalismenya sekaligus 
mengharap agar BUMN tidak mengalami rugi abadi, sungguh penting untuk 
ditindaklanjuti. 

      Mengapa demikian? Karena sebagai asset negara dan sebagian besar 
mempengaruhi hajat hidup orang banyak dan mengelola asset strategis negara, 
merupakan langkah penting bagi pemerintahan SBY untuk memberikan fokus 
perubahan dan menyiapkan prioritas penyelamatan dan pengelolaan asset negara, 
termasuk melalui Revitalisasi Goverment Links' Companies (GLC's), yaitu 
badan-badan usaha milik negara (BUMN) dan perusahaan-perusahaan yang secara 
permodalan maupun asset strategisnya terkait langsung dengan anggaran negara.

      Tidak strategis
      Pengertian Government Links Companies (GLC's) yang dimaksud adalah setiap 
perusahaan yang menjadi bagian dalam kegiatan ekonomi negara, baik dimodali 
oleh keuangan negara melalui penyertaan modal, dana rekapitalisasi dan obligasi 
negara, maupun komitmen-komitmen yang melibatkan dana negara. 

      Ini artinya bukan hanya BUMN tetapi juga bank- bank, 
perusahaan-perusahaan swasta yang dimodali dan diselamatkan negara melalui 
penlibatan uang dan asset negara. Istilah ini dimaksudkan agar pemerintah 
mengambil kebijakan yang lebih komprehensif dalam mengoptimalkan 
perusahaan-perusahaan yang dimodali negara dan selama ini telah membebani 
anggaran negara, dan karenanya membebani rakyat.

      Proses penyehatan GLC's memang terus berlangsung, baik melalui 
peningkatan produktivitas, efisiensi, kualitas, kinerja, maupun proses 
privatisasi. Karenanya masih ada pekerjaan-pekerjaan besar Kementerian BUMN 
maupun departemen-departemen teknis pemerintahan untuk melanjutkan proses 
penyehatan. Tetapi, mesti dicatat, bahwa menjual GLC's yang sehat dan 
profitable, apalagi yang strategis dan menguasai hajat hidup rakyat bukanlah 
pilihan yang tepat. Bahkan dapat merugikan negara dalam jangka panjang, maupun 
jangka pendek. Karena selain harga saham-saham GLC's masih kurang baik, juga 
mengingat posisi strategisnya dalam tatanan perbendaharaan negara. 

      Menjual asset negara dalam GLC's strategis secara murah juga tindakan 
yang merugikan rakyat yang telah menanggung beban pajak, kehilangan subsidi, 
dan kehilangan kebanggaan, serta adanya ancaman potensial akibat beralihnya 
pemilikan GLC's strategis kepada pihak yang mungkin saja tidak memiliki 
komitmen ideal bagi bangsa. Karenanya, gagasan Menteri Negara BUMN 
menyelenggarakan BUMN Summit dan pesan Presiden dalam forum ini memberi isyarat 
agar Kementerian BUMN meninjau kembali resources GLC's, termasuk melihat 
kembali struktur permodalan pemerintah, penempatan professional yang mengelola 
dan mengambil tindakan penyelamatan asset-asset GLC's bagi kemakmuran rakyat 
dan keunggulan negara.

      Darah baru
      Ada fenomena menarik di negeri jiran, ketika pemerintahan Dato Seri 
Abdullah Ahmad Badawi, yang didukung Yang Dipertuan Agung Malaysia, baru-baru 
ini melakukan revitalisasi GLC's untuk meningkatkan kemampuan bersaing GLC's di 
pasar regional dan internasional. Pemimpin baru Malaysia, bukan hanya 
memperbaiki performance contract dengan key performance indicators (KPI) bagi 
para pengelola, direksi, dan komisarisnya, tetapi juga mengganti Board of 
Director pada posisi eksekutif oleh tenaga-tenaga baru dari pasar professional, 
dengan latar belakang pendidikan yang lebih tinggi, dan exposure international 
yang lebih baik. Dalam hal ini, perwakilan pemerintah yang menempati posisi 
regulator tidak dapat menjadi direksi maupun komisaris dari perusahaan yang 
mereka atur dan awasi. 

      Melihat fenomena BUMN dan badan-badan usaha yang dimodali negara di 
Indonesia yang kurang kompetitif dan cenderung membebani anggaran negara, 
inilah saatnya bagi pemerintah melakukan revitalisasi GLC's Indonesia. Antara 
lain melalui merger, akusisi, reevaluasi kepemilikan, pengelolaan, dan pemetaan 
perannya agar lebih menunjang ekonomi negara dan menyumbang kemakmuran rakyat, 
termasuk penyediaan lapangan kerja baru bagi rakyat. Memang diperlukan 
keberanian membersihkan GLC's dari pejabat-pejabat yang tidak memiliki kinerja 
dan menggantinya segera dengan kelompok darah baru, mengurangi inefisiensi, 
meningkatkan produktivitas dan mutu produk maupun jasa layanannya, serta 
meningkatkan kemampuannya bersaing di pasar global.

      Langkah-langkah mengamankan hajat hidup rakyat dan yang penting bagi 
negara, salah satunya adalah menempatkan kru profesional yang memiliki 
strategi, visi, ketrampilan dan kompetensi, memiliki nilai-nilai antikorupsi 
dan pengabdian kepada negara. Mereka juga harus siap dalam irama perubahan 
untuk kemaslahatan Indonesia. The New Kids on The Block cukup tersedia di 
negeri ini. Mereka energi masa depan Indonesia. 

      Seiring dengan semangat perubahan dan perlunya repositioning Indonesia di 
dunia internasional dan kompetisi terbuka di pasar internasional, saatnya 
pemerintah mengganti para direksi dan komisaris serta jajaran manajemen GLC's, 
pada berbagai sektor dan industri, termasuk perbankan, untuk mendukung agenda 
perubahan dan memberikan kepercayaan kepada generasi profesional baru untuk 
meningkatkan kinerja, manfaat dan reputasi GLC's. Mumpung besi masih panas dan 
momentum perubahan masih terasa. It's Now or Never, Mr President!

      Good Governance
      Banyak hal yang telah dijanjikan pemerintahan baru dalam meningkatkan 
kinerja ekonomi, untuk memenuhi apa yang disebut agenda perubahan. Penunjukkan 
Sugiharto CFO Medco sebagai Menteri Negara BUMN tentunya diharapkan menjadi 
salah satu penggerak perubahan dalam tata kelola BUMN, termasuk mengupayakan 
agar cerita dan berita simpang siur tentang ''penjarahan'' BUMN dapat ditepis 
melalui penyelenggaraan good corporate governance (GCC) atau penerapan tata 
kelola perseroan yang lebih baik, terutama pelaksanaan transparansi dan 
akuntabilitas manajemen BUMN.

      Pernyataan Presiden, bahwa kalau ada orang yang mengaku menitipkan 
direksi dengan menyebutkan dekat dengan Pak SBY maka itu tidak benar, memberi 
sinyal akan kesungguhan SBY sekaligus energi bagi revitalisasi BUMN dan 
penegakkan GCG. Pernyataan Presiden bahwa pihaknya maupun para menteri tidak 
akan melakukan intervensi politik dalam penentuan pimpinan BUMN patut 
diterjemahkan dengan tepat, agar tidak mengurangi kewenangan negara sebagai 
shareholder dalam menentukan pilihan orang-orang terbaiknya dalam mengisi 
posisi strategis di BUMN atau GLC's. 

      Upaya menegakkan GCG begitu strategis, mengingat berita penyelewengan 
uang negara pada berbagai media di negeri ini begitu sering muncul. Bahkan 
berkali-kali dalam bentuk headline. Belum lagi ekspose televisi, seliweran isue 
di pusat-pusat kegiatan ekonomi. Berbagai bentuk korupsi telah dikenal 
masyarakat dan para penegak hukum. Pada saat yang sama, upaya antikorupsi pun 
sering gagal karena berbagai permasalahan akut, termasuk kecenderungan 
penyalahgunaan kekuasaan yang merugikan asset negara dan menguras kekayaan 
perbendaharaan negara.

      Berbagai media mencatat, begitu banyak dan begitu mudah uang negara 
menguap. Dari sejumlah besar kasus ini, diduga terjadi dan melibatkan uang 
negara pada BUMN. Dalam hal ini, aspek tatanan hukum dan kelembagaan bukanlah 
faktor utama. Yang mendasar adalah adanya ketidak-keberanian menindak para 
penyeleweng, rendahnya tingkat kebersihan aparat dan lemahnya moralitas aparat 
pemerintahan. 

      Mencermati tingkat pendidikan dan pengalaman para penyelenggara negara 
dan pemerintahan dan begitu regulernya kasus korupsi, kemungkinan besar korupsi 
bukanlah gejala mismanagement, tapi mengutip pernyataan A Riawan Amin dalam The 
Celestial Management, lebih merupakan cerminan tindakan misconduct para 
penyelenggara negara dan pemerintahan yang terlibat, yaitu suatu tindakan yang 
disadari dengan tujuan yang difahami untuk memanfaatkan kesempatan bagi 
kepentingan diri. Artinya, kesalahan terjadi karena disengaja salah, karena 
kesalahan itu bisa mendatangkan rezeki bagi segelintir orang. 

      Untuk mengurangi korupsi dan inefisiensi karena sulit menghilangkannya 
pemerintah harus memiliki keberanian bertindak dan mengoordinasikan seluruh 
kekuatan baik antikorupsi untuk melawan kekuatan jahat pro-korupsi pada 
berbagai tingkatan. Tindakan hukum melalui proses pengadilan, transparansi 
laporan keuangan yang diumumkan melalui media massa secara regular akan menjadi 
instrumen penting, selain pelaporan kekayaan penyelenggara negara yang saat ini 
sudah dilakukan. 

      Upaya menegakkan good governance pada GLC's harus sepenuhnya dilakukan. 
Pada saat yang sama moralitas baru pemerintahan yang bersih harus 
dikampanyekan. Bagi Indonesia yang religius, sesungguhnya amat ironis jika 
korupsi dan pencurian asset negara dalam GLC's terus berlangsung tanpa dapat 
dihentikan. Ini saatnya, meningkatkan amal sosial dalam pemerintahan untuk 
mewujudkan nilai-nilai god governance melalui peningkatan prestsai, presisi 
transparansi dan akuntabilitas yang tinggi. Sehingga pendapatan negara, 
termasuk pajak yang diambil dari rakyat dan usaha-usaha produktif GLC's maupun 
masyarakat dalam menunjang kebijakan ekonomi nasional dapat diselamatkan dari 
gerogotan korupsi. Salut untuk Bung Sugiharto. It is your time, Minister!
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke