http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=154487
Senin, 31 Jan 2005, Termakan Janji, Buahkan Pesimistis Oleh Moh. Salman Hamdani Pada 28 Januari 2005, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK) genap berumur 100 hari. Pelbagai penilaian perihal gagal atau berhasilnya pemerintahan SBY dalam waktu 100 hari turut mewarnai pelbagai media massa, forum diskusi, seminar, bahkan sampai di kedai kopi. Banyak di antara mereka yang menilai bahwa pemerintahan SBY-JK tidak sejalan dan semulus dengan progam 100 hari. Di sana-sini, banyak kendala dan persoalan untuk mewujudkannya. Karena itu, SBY-JK dinilai gagal dalam menjalankan pemerintahan. Sebenarnya, terlalu cepat dan prematur menilai berhasil atau tidaknya pemerintah SBY-JK hanya dalam kurun waktu 100 hari. Masa itu sungguh sangat pendek jika dibandingkan dengan intensnya ekspektasi rakyat serta semangat komitmen dan janji pemerintah. Sebab, persoalan yang dihadapi pemerintah SBY-JK begitu kompleks dan multidimensional, yang tidak hanya memerlukan waktu 100 hari untuk diselesaikan. Pemerintah SBY-JK masih memiliki waktu cukup panjang untuk menyelesaikan dan menuntaskan agenda-agenda pemerintah. Lima tahun masa jabatan kepresidenan sangatlah tidak arif manakala direduksi menjadi 100 hari. Karena itu, kita perlu mencermati secara komprehensif, tidak keburu-buru menyimpulkan atas berhasil atau gagalnya pemerintahan SBY-JK. Tetapi, persoalan di lapangan berbeda. Rakyat begitu antusias dan optimistis dengan janji therapy shock selama 100 hari. Janji-janji yang tertuang dalam program 100 hari pemerintah SBY itu membuat sebagai rakyat pesimistis dengan masa depan pemerintah SBY. Ada lima janji pemerintah SBY selama 100 hari pertama, yaitu penangkapan dalang pengeboman (teroris) Dr Azhari dan Noordin Mohd Top, pengamanan serta kelancaran pendistribusian BBM dan sembako pada Lebaran dan tahun baru, penanganan ilegal logging (pencurian dan perdagangan kayu gelondongan ilegal), membawa ke meja hijau kasus-kasus hukum yang selama ini tak bisa dibawa ke pengadilan, terakhir, semua pejabat negara harus menyerahkan daftar kekayaan seminggu setelah menjabat. Program 100 hari itu -dalam banyak kesempatan- disampaikan SBY secara antusias dan mampu menanamkan keyakinan dalam benak bangsa Indonesia. Dalam kurun waktu 100 hari, pemerintah akan melakukan hal-hal yang mengejutkan, berpihak kepada rakyat, dan membawa perubahan yang sangat mendasar. Image building yang dibangun pemerintah melalui program 100 hari tersebut, dalam banyak hal, justru menjadi bumerang bagi pemerintah SBY sendiri. Karena itulah, SBY bersama timnya kini hendak merebut dan membangun kembali kepercayaan rakyat yang mulai surut. Mereka menyatakan bahwa program 100 hari tidaklah berdiri sendiri dan harus dilihat sebagai bagian dari tiga atau lima tahun ke depan. Pada prinsipnya, saya setuju dengan pernyataan pemerintah tersebut. Sebab, pemerintah SBY tidak hanya berjangka 100 hari, tetapi tiga atau lima tahun ke depan. Namun, jika program 100 hari yang telah dicanangkan pemerintah tidak dijadikan standar keberhasilan atau gagalnya pemerintah, lalu akan dijadikan apa? Apakah program 100 hari itu hanya untuk menyakinkan dan menghipnotis kesadaran bangsa Indonesia bahwa persoalan multidimensi yang dihadapi bangsa Indonesia akan cepat terselesaikan? Standar Jangka Pendek Program 100 hari tetap dijadikan sebagai standar untuk mengukur, mengevaluasi keberhasilan atau kegagalan pemerintah SBY. Hanya, itu bukan standar atas keberhasilan atau kegagalan pemerintah selama lima tahun ke depan. Tetapi, menjadi sebuah indikator tentang masa depan SBY dan keberpihakannya kepada rakyat yang telah memilihnya secara langsung. Karena itulah, bagi penulis, penilaian terhadap pemerintah SBY bukan diukur dari tiga atau lima tahun pertama, tetapi 100 hari yang telah berlalu. Sebab, sangatlah tidak masuk akal jika kita menilai dan mengevaluasi waktu dan masa yang akan datang, yakni lima tahun ke depan. Maka, melalui program 100 hari itu, rakyat Indonesia diharapkan bisa menilai keberhasilan dan kegagalan dalam merealisasikan janji-janji dan agenda pemerintah. Jika perlu, kita memberi batasan bahwa setiap 100 hari pemerintah SBY-JK harus dievaluasi dan dinilai sebagai salah satu bentuk kontrol terhadap pemerintah. Setelah program 100 hari tersebut berlalu, pengamatan dan kontrol terhadap negara bukan berarti selesai. Banyak rakyat Indonesia yang tidak memahami bahwa masih banyak agenda yang harus diselesaikan pasca-100 hari itu. Penilaian dan pengamatan yang serta-merta bertumpu pada program 100 hari akan membuat kita lalai dalam mengontrol dan mengevaluasi pemerintah ke depan. Karena itulah, agar agenda pemerintah berjalan secara sistemik dan terukur, pemerintah diharapkan membuat agenda-agenda dalam batas waktu tertentu. Hal tersebut terasa sangat penting di tengah situasi bangsa dan negara yang belum bangkit dari pelbagai persoalan multidimensi itu. Siapa pun yang memimpin pemerintah di tengah keterpurukan ini, dia memerlukan energi yang tidak sedikit. Mengungkap suatu persoalan di negara demokratis, terlebih transisi demokrasi, tidak semudah dan sesederhana sistem otokrasi. Karena itu, kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang problematis, tidak bisa hitam-putih dalam memecahkan pelbagai persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia. Komunikasi, dialog, tindakan serbacepat dalam menyelesaikan persoalan yang sangat kompleks tersebut menjadi sebuah harapan bagi kita semua. * Moh. Salman Hamdani, koordinator Studi Kelompok Lentera Merah Surabaya [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Has someone you know been affected by illness or disease? Network for Good is THE place to support health awareness efforts! http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
